KESAH.ID – Kehidupan kota yang dinamis dan mengutamakan pencapaian individu membuat banyak orang merasa tenggelam ditengah keriuhan. Gagal memenuhi ekpetasi diri, keluarga dan lingkungan menjadi penyebab timbulnya rasa sepi, merasa tak berarti hingga kesehatan mentalnya terganggu. Bunyi-bunyian sering menjadi pilihan untuk melarikan diri dari rasa sepi itu, kota kemudian dipenuhi dengan suara hiruk pikuk yang disemburkan oleh speaker aktif portable.Kini speaker aktif menjadi salah satu peralatan elektronik yang paling laku dan dicari oleh masyarakat yang tenggelam dalam kesepian di perkotaan.
Menyusuri kawasan urban di sebagian wilayah Kota Samarinda terutama yang berada di area kanan kiri Sungai Karangmumus ada sebuah fenomena menarik.
Kahar Al Bahri yang kini lebih sering disapa Haji Ocha mengatakan “Fix, rumah-rumah yang kita lewati suka menumpuk speaker di ruang tamunya,”
Yang dimaksudkan dengan speaker tentu saja speaker aktif.
Tren ini nampaknya melanjutkan kecenderungan sebelumnya dimana ada banyak warga kesana kemari membawa mike yang sekaligus pengeras suara. Setelah itu muncul speaker-speaker aktif yang disambung dengan bluetooth ke hp, tapi bentuknya masih mungil.
Dan kini mulai bermunculan speaker aktif portabel yang lebih besar. Seperti ukuran dos, mulai dari dos mie instan, air mineral kemasan sampai dos kulkas mini.
Awalnya speaker aktif portabel ini populer di kalangan pengamen. Mereka berkeliling menenteng atau menyeretnya karena punya roda. Speaker difungsikan sebagai pengiring minus one. Pengamen menyanyi layaknya orang berkaraoke.
Program Pro Bebaya termasuk salah satu yang meng-endorse popularitas speaker aktif portabel di Samarinda. Salah satu mata kegiatan dalam program Pro Bebaya adalah senam atau olahraga terutama bagi kaum wanita atau ibu-ibu.
Selain mirror convex dan cctv sepertinya speaker aktif portabel merupakan bagian pembelajaan terbanyak dari dana Pro Bebaya di setiap RT. Tentu saja ditambah tripod hp untuk live yang berolahraga senam.
Kemampuan speaker portabel untuk menghasilkan suara yang keras tapi enak didengar telinga sepertinya mengelitik banyak orang. Mungkin ini yang kemudian mendorong banyak warga untuk membeli. Popularitas speaker portabel bisa dilihat di toko-toko elektronik seputaran Citra Niaga. Di toko-toko itu berjubel speaker portabel aneka merek dan aneka ukuran. Masing-masing toko bersaing memberikan harga yang termurah.
Untuk memberikan layanan yang terbaik, beberapa toko ini buka sampai malam.
Gang-gang di beberapa titik sepanjang kanan-kiri Sungai Karangmumus jadi ramai. Bunyi musik dimana-mana, diselingi oleh suara warga bernyanyi dengan iringan musik yang disemburkan oleh speaker aktif portabel.
Di sebuah warung yang tak telalu ramai pembeli, ada keriuhan. Beberapa orang duduk melingkari salah satu meja, bukan belanja tetapi berkaraoke dengan speaker aktif.
Dan dari pinggir jalan besar lamat-lamat terdengar suara jedag-jedug, di kejauhan terlihat sekelompok wanita yang sebagian besar adalah ibu-ibu tengah mengerakkan badan diiringi musik dari speaker aktif.
Yang lebih ajaib pada sebuah sekolah seperti sedang ada kerja bakti untuk bersih-bersih sekolah. Yang terdengar bukan suara gesekan sapu di lantai melainkan lagu yang diputar dengan volume maksimal.
Dimana-mana seperti sedang ada acara hajatan, padahal tidak.
Riuh di acara senam mungkin bisa dipahami. Tapi yang lainnya menimbulkan tanya, ada apa dengan masyarakat kita?. Apakah kini ditengah keramaian masyarakat kita menjadi mudah kesepian sehingga perlu membunyi-bunyikan sesuatu untuk mengusirnya.
BACA JUGA : Kopi Impor
Sepertinya kesepian mulai harus dianggap sebagai salah satu persoalan serius seiring dengan pertumbuhan kota yang semakin metropolis. Para ahli kesehatan masyarakat seharusnya mulai bersuara kencang, agar persoalan ini tak dianggap sebagai perkara sepele. Jangan-jangan dalam beberapa tahun kedepan kesepian akan menjadi salah satu krisis kesehatan dalam masyarakat.
Kota dengan segala dinamika dan perkembangannya memang dengan cepat membuat orang akan merasa terisolasi, mengalami kesendirian karena lingkaran sosialnya sibuk bukan kepayang.
Memang belum ada data yang diperoleh dari survey terhadap warga kota Samarinda perihal perasaan kesepian. Bisa jadi Badan Riset Daerah belum menganggap penting sehingga tak tertarik untuk mencari tahu.
Padahal kesepian sangat berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.
Yang disebut kesepian bukan tentang berada sendiri secara fisik melainkan pengalaman emosional atau perasaan diri yang menganggap dirinya tidak terkoneksi dengan lingkungannya, merasa tidak berarti, tidak penting atau tak kelihatan.
Perasaan semacam ini dengan mudah menimpa siapapun sekarang ini ditengah kecenderungan masyarakat mengutamakan sukses atau pencapaian individu. Keberhasilan atau kesejahteraan kolektif bukan lagi menjadi yang utama di masyarakat. Dalam kondisi seperti ini teramat mudah bagi seseorang merasa teralienasi.
Faktanya semakin bertambah umur semakin seseorang berpotensi untuk kesepian. Seseorang yang lulus SMA kemudian tak melanjutkan kuliah dan belum segera memperoleh pekerjaan biasanya akan kehilangan lingkungan pergaulan sosialnya. Juga yang kuliah lalu lulus sarjana tapi tidak segera bekerja, lingkungan pergaulannya juga bisa hilang dan beban malah bertambah karena tekanan tanggungjawab pertumbuhan. Sudah sarjana tentu dituntut untuk segera bekerja.
Seiring dengan bertambahnya umur dan menurunnya kemampuan fisik, lingkungan pergaulan sosial juga terancam makin mengecil. Bapak-bapak yang mulai memasuki usia lima puluhan tak lagi bisa nongkrong sembarangan. Karena nanti bisa masuk angin atau tak enak badan.
Tinggal di kawasan urban dengan semua keramaian sementara koneksi sosialnya makin terbatas membuat seseorang dengan mudah merasa tenggelam.
Menciptakan keriuhan, suara-suara termasuk yang dihasilkan oleh speaker aktif bisa jadi merupakan cara untuk melepaskan diri dari rasa sepi itu. Dengan mengikuti irama lagu, ikut menyanyikannya atau bergoyang maka dengan sendirinya rasa sepi itu bisa menghilang.
Keriuhan mungkin juga bisa memanggil orang datang, turut bergabung menambah besar kumpulan dan koneksi sosial. Berada dalam kumpulan yang cukup besar dan saling berinteraksi akan membuat orang kembali merasa berarti.
Namun jika masing-masing rumah, masing-masing gang dan masing-masing kumpulan membunyikan speaker aktifnya keras-keras maka kota akan menjadi riuh. Suara-suara lain akan tertelan oleh ambience dentuman dan getaran yang keluar dari speaker.
Membuat keriuhan bukan cara yang tepat untuk mengusir kesepian.
Dalam keriuhan sekalipun orang bisa merasa kesepian. Dan jika sepi itu berkepanjangan maka akan berdampak pada kesehatan mental. Seseorang menjadi mudah cemas dan depresi atau merasa khawatir berlebihan. Dan secara fisik, rasa sepi bisa meningkatkan tekanan darah, menurunkan imunitas dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kronis.
BACA JUGA : Efisiensi Anggaran
Masyarakat Jepang merupakan salah satu yang menyadari efek kesepian. Dan faktanya di Jepang ada banyak kejadian bunuh diri karena rasa sepi ini.
Di kaki gunung Fuji, kira-kira 2 jam dari Tokyo ada hutan yang dinamai Aokigahara. Disebut hutan lautan pohon karena gemerisik suara dahan dan rantingnya mirip suara lautan.
Hutan ini kemudian dikenal sebagai hutan yang angker karena merupakan lokasi bunuh diri favorit warga Jepang. Makanya Hutan Aokigahara kerap juga disebut Hutan Bunuh Diri atau tempat yang sempurna untuk mati.
Menghadapi masalah ini pada tahun 2021, Pemerintah Jepang bahkan sampai menunjuk menteri untuk menangani masalah kesepian, Minister of Loneliness.
Tentang bunuh diri, Jepang memang punya persoalan sendiri karena punya pandangan dan tradisi bunuh yang berbeda dengan kebudayaan lainnya.
Secara kebudayaan Jepang juga mempunyai tradisi kuno untuk mengatasi kesepian. Kebiasaan itu disebut sebagai Shinrin-yoku atau artinya kurang lebih “mandi hutan”. Bukan mandi dalam arti harafiah melainkan berada di hutan, dikelilingi pohon, menikmati suara hutan, mencium aroma hutan, menyentuh hutan atau bahkan merasakan buah, dedaunan dan lain-lain dari hutan.
Berada di hutan dikelilingi pohon kemudian membuat tubuh menjadi rileks. Dan kerilekan itu akan memicu produksi hormon atau zat-zat lain yang kemudian akan mengusir kesepian, kekhawatiran dan lain-lain. Orang kemudian tidak terjebak dalam isolasi, mampu keluar dari kungkungan perasaan negatif karena terkoneksi dengan lingkungannya.
Masalahnya kota tidak selalu mempunyai hutan, pun juga ruang terbuka hijau. Bahkan Kota Samarinda yang dipersepsikan oleh orang yang belum pernah datang sebagai kota dikelilingi hutan, jangankan hutan kota, ruang terbuka hijau saja kurang.
Jadi kemana ruang untuk melarikan diri dari ritme kehidupan kota yang tiada henti, kota yang bising, penuh polusi dan lanskap dominasi keriuhan lainnya. Mencari hiden gems, tempat dengan nuansa alami yang tenang hampir-hampir mustahil.
Sebenarnya untuk memperoleh ketenangan tak harus butuh tempat yang tenang, cozzy dan hal-hal sophisticated lainnya. Ketenangan harus didapatkan dari realita kesekitaran kita. Kita menjadi tenang karena terkoneksi.
Membangun koneksi justru yang paling penting untuk mengatasi kesepian, sepi tak harus ditinggalkan dengan cara lari menjauh. Dalam sebuah model pendidikan spiritual ada rumus contra agere. Seorang yang takut hantu untuk menghilangkan ketakutan diminta duduk di kuburan.
Maka sepi karena teralienasi di lingkungan urban bisa dilenyapkan dengan cara jalan-jalan, mengitari kesekitaran.
Susur Gang Samarinda, kegiatan jalan sore menyusuri gang-gang di permukiman Kota Samarinda dan kadang-kadang harus melewati jalan besar bukan hanya bernilai olahraga.
Kegiatan ini pada dasarnya merupakan upaya membangun koneksi, koneksi sosial, koneksi spasial, koneksi kultural, koneksi personal dan komunal dengan cara yang menyenangkan serta bisa dilakukan oleh semua orang.
Berjalan kaki menyusuri gang dengan membuka sembilan indera kita, maka kita akan merasakan kota dengan segala dinamikanya baik di masa lalu, sekarang dan aspirasi ke depan. Koneksi ini akan membuat kita merasa kita ada dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Dengan menyusuri gang-gang di wilayah Kota Samarinda bersama-sama, sensasi yang didapat bukan hanya sensasi fisik melainkan juga sensasi rasional dan emosional. Karena timbul keseimbangan dalam diri maka kitapun akan merasa senang walau lelah. Dan karena lelah kita akan tidur nyenyak. Tidur yang nyenyak akan mengusir rasa sepi dan kesendirian kita.
note : sumber gambar – VICE








