KESAH.IDKopi dulu distigma sebagai minuman para tetua. Kopi panas, legi dan kentel dilarang untuk diminum oleh anak-anak, bikin rambut cepat putih ujar mereka. Namun gelombang kopi espresso base dan manual brewing yang hadir sebagai konvensi seduh baru di Indonesia mampu meraup peminum-peminum kopi baru. Buat mereka kopi adalah arabika, namun seiring dengan waktu kebutuhan asupan kafein makin meningkat. Mereka perlu kopi yang lebih nendang dan robusta jawabannya. Harga robustapun menanjak konstan, hingga mencapai rekor tertinggi dalam sejarah. Kini muncul kekhawatiran baru, produksi kopi kita tak cukup untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Bukan tak mungkin kopi seperti halnya minyak bumi, Indonesia akan bertransformasi dari pengekpor menjadi pengimpor. Tanda-tanda kearah itu sudah ada seperti kenaikan harga kopi robusta yang mencapai harga tertinggi dalam sejarahnya.

Kenapa kopi robusta menanjak tak tertahankan, tentu saja karena permintaan meninggi sementara produksi bisa jadi turun atau tetap.

Rasanya empat atau lima tahun lalu saya pernah membincang hal itu. Di tepi Bendungan Lempake sambil menikmati ambiens air yang jatuh melalui spillway, seorang kawan mengajak untuk bertanam kopi.

Dia melihat pertumbuhan kedai kopi tiada henti. Dan dia mulai berhitung soal luas lahan kopi yang menurutnya tidak bertambah.

“Tanam kopi ini peluang,” ujarnya meyakinkan.

Saya suka bertanam karena menanam, merawat dan melihat pertumbuhan tanaman itu menyenangkan. Masalahnya saya tak punya lahan.

“Banyak lahan bekas tambang,” lanjutnya.

Saya ingat almarhum Pak Hendri yang berhasil mengembangkan hutan di Tenggarong. Dia memastikan menanami lahan bekas tambang itu sulit, butuh waktu yang lama untuk memulihkan iklim mikronya. Unsur-unsur tanahnya harus diseimbangkan lebih dahulu.

Tapi saya tak ingin membantah apa yang dipikirkan oleh kawan itu.

Dan pada akhirnya rencana atau keinginan untuk menanam kopi itu hanya akan bertahan sebagai hasil omong-omong saja, karena dia sendiri bukan petani.

Beberapa tahun kemudian memang ada endorsan untuk memanfaatkan lahan bekas tambang sebagai lahan pertanian. Dan yang ditanam lebih ambisius lagi, tanaman pangan.

Yang mengendorse juga bukan orang main-main, Pejabat Gubernur Kalimantan Timur.

Rasanya gagasan untuk memanfaatkan lahan eks tambang sebagai lahan pangan muncul setelah PJ Gubernur Kaltim bertemu dengan Jaringan Advokasi Tambang Kaltim dan Wahana Lingkungan Hidup Kaltim. Saya yakin pemanfaatan lahan bekas tambang untuk pertanian pangan bukan merupakan hasil kesimpulan dari pertemuan itu.

Bisa jadi kalau PJ Gubernur Kaltim bertemu dengan teman saya yang pingin bertanam kopi, mungkin lahan bekas tambang akan ditanami kopi. Walau kemungkinannya kecil karena jika ditanami kopi, PJ Gubernur Kaltim hanya akan ikut selebrasi tanam perdana, tapi tak akan ikut selebrasi panen raya. Beda kalau memanam jagung, dia akan bisa ikut mulai dari menanam sampai memanen. Nilai rapornya akan lebih tinggi karena sudah bisa menunjukkan hasil.

Kembali ke kopi, ternyata setelah 10 tahun bisnis kopi masih terus berkembang belum ada tanda-tanda surut. Inovasi dalam penyajian kopi, aneka resep minuman berbasis kopi membuat peminum kopi menjadi semakin banyak.

Kini nongkrong-nongkrong untuk bertemu dimulai dengan ajakan “Ayo, ngopi,” walau nanti saat berkumpul tidak semuanya minum kopi.

Mitos atau stigma kopi adalah minuman orang tua, atau minuman yang cepat membuat orang menjadi tua telah menghilang.

BACA JUGA : Ruang Kota

Kopi memang punya sejarah panjang di Indonesia, ceritanya tidak selalu manis. Yang mungkin diingat orang adalah Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil terbesar kopi di dunia. Maka wajar jika ada yang sewot jika dibilang kopi bukan tanaman asli Indonesia.

Nyatanya kopi seperti banyak jenis tanaman lainnya memang bukan asli Indonesia. Kopi masuk ke wilayah nusantara dibawa oleh kaum kolonial.

Tanaman yang awalnya lebih difungsikan sebagai obat ini kemudian mulai populer sebagai minuman di Turki, lalu makin populer ketika dibawa ke Eropa. Lahir berbagai jenis minuman kopi yang legendaris di Eropa, yang paling ternama adalah espresso. Kebanyakan pengembangan minuman kopi berbasis pada espresso.

Kopi arabika ini yang kemudian dibawa oleh kolonial Belanda untuk ditanam di Hindia Belanda. Mulanya di Jawa, dengan wilayah pengembangan utama di tanah Pasundan. Kopi Java Preangers kemudian menjadi tambang emas hijau bagi kaum kolonial. Kopi diekpor ke Eropa dan menjadi raja disana.

Tapi ada masanya kopi arabika diserang oleh penyakit, hingga didatangkan kopi jenis lain yakni Liberika dan Robusta. Selain itu kabarnya ada juga kopi Excelsa yang kelak oleh para ahli kopi tidak dianggap sebagai spesies sendiri melainkan hanya merupakan salah satu varietas dari Liberika.

Pada akhirnya yang kemudian paling populer adalah arabika dan robusta. Akhir-akhir ini Liberika mulai dilirik, dijadikan alternatif ketika robusta dan arabika langka.

Kini Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil kopi Robusta terbesar di dunia. Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia. Sementara kopi Arabika menduduki peringkat ke 11.

Tentang konsumsi, peminum kopi Robusta adalah yang terbesar. Karena pada umumnya kopi bubuk yang dijual di pasaran berasal dari biji kopi Robusta.

Karakter kopi Robusta memang lebih nendang untuk kalangan peminum kopi yang doyan kopi kentel dan kopi joss.

Lidah kaum peminum kopi ini kalau diberi seduhan kopi arabika bakal merasa seperti minum teh.

Kopi terbaik di Indonesia sebelum istilah single origin, specialty coffee dan lain-lain populer memang lebih dikenal dengan sebutan Kopi Aceh, Kopi Bali, Kopi Toraja, Kopi Flores, Kopi Pasundan dan lain-lain.

Baru ketika gelombang kopi manual brewing mulai menerpa, sebutannya menjadi makin spesifik. Kedai-kedai manual brewing generasi awal memang sangat fanatik dengan arabika. Buat sebagian besar mereka kopi adalah arabika.

Sebutan penanda geografi pada biji-biji kopi yang mereka sajikan menjadi lebih spesifik. Arabika Gayo, Arabika Mandailing, Arabika Sidikalang, Arabika Takengon, Arabika Kalosi, Arabika Sapan, Arabika Minanga, Arabika Bali Kintamani, Arabika Flores Bajawa, Arabika Ciwidey, Arabika Malabar, Arabika Ijen dan lain-lain. Bahkan kini sudah sering merujuk pada kebun atau petaninya.

Berusaha menyajikan kopi terbaik, masing-masing kedai berupaya menunjukkan eklusifitasnya. Kopi bukan hanya dinilai dari daerah asal, cara pengolahan, tetapi juga sampai penyanggrainya. Muncul nama-nama roastery terdepan, baik perorangan maupun perusahaan.

Dengan keunggulan marketing serta sumberdaya lainnya, roastery ternama justru muncul di daerah yang bukan penghasil kopi. Salah satu yang menjadi kiblatnya adalah Jakarta.

BACA JUGA : PWI Kembar

Jakarta sentris ternyata bukan hanya untuk urusan pembangunan, ekonomi dan pemerintahan. Kopi juga Jakarta sentris. Memang dulu kopi pertama ditanam di Batavia yang kemudian menjadi Jakarta. Konon kopi oleh kolonial Belanda di tanam pada daerah yang kini dikenal dengan nama Kebon Kopi.

Tapi setelah itu tanaman kopi bukan lagi tanaman di Kota Jakarta. Jakarta jadi ladang untuk menanam pondasi yang bertumbuh gedung-gedung beton.

Tapi urusan kopi ternyata Jakarta memimpin.

Sampai-sampai ketika saya mencoba ngopi di salah satu kedai kopi yang ada di Jalan Siradj Salman Samarinda, saat saya bertanya ada manual brew atau tidak dan kemudian dijawab ada. Saya kemudian bertanya jenis-jenis bean-nya.

Dan seperti disambar geledek yang berjaga menunjuk deretan coffee bean dengan kemasan imut dan cantik sambil mengatakan “Ini bean kami, kopi Jaksel,”.

Kopi Jaksel?. Saya baru sekali mendengar itu. Dari berita memang saya tahu Jaksel adalah salah satu tempat tongkrongan anak-anak muda yang terkenal di Jakarta. Tapi saya tak tahu kalau menjadi salah satu skena kopi yang kemudian menular hingga keluar daerah.

Dan setelah menunjukkan Kopi Jaksel, yang berjaga di kedai itu kemudian menunjuk lagi pada deretan biji kopi dalam kemasan yang dipajang di rak panjang yang menempel di dinding. “Yang itu kopi dari luar negeri,” ujarnya.

Ah, makin pusing kepala saya. Melihat deretan panjang kopi dalam kemasan kertas dan kaleng itu dalam batin saya terbersit kata “Paling sudah apek,”

Iseng saya bertanya “Nda ada kopi lokal kah?” Maksud saya kopi yang di-roasting di Samarinda. Sebab seingat saya ada coffee roastery di jalan Siradj Salman. Dulu di masa-masa awal gelombang manual brew juga pernah dikenal Kopi Salman, sebuah roastery yang diklaim berada di salah satu ruko jalan Siradj Salman.

Jangan salah meski bukan daerah penghasil biji kopi, di Samarinda ada beberapa coffee roastery. Dan setahu saya ada salah seorang pebisnis coffee roastery yang masih muda sangat agresif dalam melakukan pemasaran.

Sepertinya kedai yang saya datangi ini gagal ditembus olehnya, sehingga di meja dan rak isinya Kopi Jaksel dan Kopi Luar Negeri.

Sayapun sembarang saja menunjuk salah satunya.

Dan iseng lagi bertanya “Arabika atau Robusta ini?”

“Disini semua arabika,” ujarnya.

“Arabika mana?”

Tak segera dijawab.

“Arabika Gayo kah?”

“Iya Arabika Gayo,”

Saya nggak yakin, karena bisa jadi yang diseduh olehnya itu adalah Arabika Jaksel.

Ah, sudahlah penjual kopi seperti itu pasti nggak mikir kejauhan. Dan mungkin saya memang bukan sasaran pasarnya.

Pembeli kopi yang cerewet seperti saya ini jelas tak mereka sukai. Bikin ribet saja, apalagi sampai mengajak diskusi soal masa depan kopi.

Bikin insecure aja, kalau sampai mikirin kekhawatiran kelak kopi produksi Indonesia tak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Dalam hati pasti mereka bilang “Elu aja yang mikirin sendiri,”

note : sumber gambar – AMANKUBACOFFEE