KESAH.ID – Dunia memang dipenuhi dengan hal-hal yang palsu. Sebagai sebuah proses belajar membuat tiruan bisa dimaklumi, atau bahkan menjadi sebuah kemestian untuk pengembangan atau inovasi. Namun jika yang palsu-palsu dipakai untuk keuntungan diri dan sekaligus menyebabkan kerugian untuk orang lain maka itu adalah sebuah kejahatan. Terlebih jika yang palsu itu dihasilkan di jantung pendidikan yakni perpustakaan.
“Biarpun asli, yang namanya produk China itu palsu,”
Begitu kesimpulan kejam dan vulgar salah seorang teman yang saya kenal tak punya persoalan dengan orang China.
Saya jadi ingat ketika Motor China yang disingkat Mocin merajalela mencoba mengalahkan dominasi Honda dan Yamaha.
Yang namanya konsumen di Indonesia memang sensitif harga. Begitu ada yang murah tanpa pertimbangan jangka panjang langsung membelinya.
Dan karena harga yang murah itu pula, saat menjelang pemilihan kepala daerah banyak calon yang kemudian membagi-bagikan Mocin itu untuk tim suksesnya.
Seingat saya ada seorang teman mendapat pembagian motor itu. Mereknya JRD entah apa kepanjangannya. Sekilas bentuknya mirip Supra X, mirip sekali sehingga kalau merek dan livery-nya dilepas semua maka sulit untuk membedakan mana Supra X mana JRD.
Karena masih baru, motornya baik-baik dan lancar-lancar saja.
Namun watak JRD mulai kelihatan berbeda ketika mulai bermasalah. Ekosistem pendukung untuk mengatasi masalahnya ternyata tak mendukung. Layanan purna jualnya tak ada.
Hingga kemudian teman yang memakai Mocin itu menemukan ternyata kepanjangan JRD adalah Jika Rusak Dorong.
Dari kepanjangan itu sayapun kemudian mulai memahami yang dikatakan teman saya terdahulu yakni asli tapi palsu.
Terbukti Mocin memang asli tapi sebenarnya tiruan. Nampak JRD ditiru mentah-mentah dari motor Jepang. Tiruan artinya palsu.
Walau bukan pengamat yang sahih soal China, sebagai pemakai Handphone China semenjak Xiomi memasarkan produknya di Indonesia, bukanlah fitnah kalau road map industri China dimulai dari meniru. Industriawan China tak sungkan-sungkan meniru persis, nggak sembunyi-sembunyi.
Tapi itu dulu karena kini China telah berkembang menjadi negara industri terkemuka dengan temuan-temuan yang bahkan bisa mengalahkan negara industri sekelas Amerika Serikat.
Kehebatan China diuji ketika terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan China diboikot dan dilarang memakai sistem teknologi Amerika Serikat pada Smartphone.
Huawei yang menemukan sistem 5G dilarang untuk menyematkan Google Mobile System di Smartphonenya. Dan ternyata Huawei tidak tumbang, mereka bahkan bisa menemukan operating system sendiri. Produk Huawei dengan operating systemnya sendiri ternyata justru mengancam popularitas Iphone di China.
Dan situasi yang terbaru, China berhasil membalikkan keadaan dengan menguasai pasar mobil listrik yang popularitasnya dimulai oleh Tesla dari Amerika Serikat.
Tesla yang mempunyai Giga Factory di China mulai terancam dengan perkembangan industri mobil listrik hasil dari produsen China sendiri.
Dari 23 jenis mobil listrik yang dijual di Indonesia pada tahun 2024 ini, 5 mobil listrik yang penjualannya paling banyak diraih oleh mobil-mobil listrik produksi China. Wuling, Chery dan MG menjadi merek mobil listrik paling terkemuka di Indonesia, mengalahkan Hyundai, Citroen, KIA, BMW dan Mercedes Benz. Tesla jauh tertinggal di belakang.
BACA JUGA : Over Klaim
Kata ahli neourosains, salah satu cara belajar yang umum adalah meniru.
Jadi meniru adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang haram bahkan menjadi sebuah kemestian.
Sewaktu ikut sebuah sanggar untuk belajar mengambar terutama karikatur, mentor saya mengatakan tiru saja yang sudah ada baru pelan-pelan mencari karakter sendiri.
Tapi karena gagal mengembangkan karakter sendiri akhirnya saya gagal menjadi karikaturis.
Soal tiru meniru bahkan ada semacam mantra dalam pengembangan industri kreatif. Para pegiatnya akrab betul dengan istilah ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi.
Mantra ini memang terbukti, salah satunya di China.
Keberhasilan serupa juga ditorehkan oleh Korea Selatan. Industri di Korea Selatan dimulai dengan meniru Jepang. Korea Selatan mulai mengembangkan industrinya dengan menghasilkan barang-barang yang serupa dengan produk-produk terkenal dari Jepang.
Korea Selatan yang awalnya kita kenal dengan produk penyedap rasa Miwon, kemudian terkenal karena produk elektroniknya mulai dari mesin cuci, televisi, ac, smarphone hingga mobil.
Meski begitu Korea Selatan tidak terlalu dikenal sebagai peniru yang vulgar seperti China. Mereka melakukan modifikasi sejak awal terutama dari desain dan kemasan. Produk Korea Selatan kemudian melahirkan kesegaran karena lebih stylish dari Jepang.
Nampaknya Korea Selatan belajar dari kelemahan manajemen usaha di Jepang. Orang Jepang dikenal sangat menghormati senior, keputusan penting ada di tangan para pimpinan tertinggi. Korea Selatan merubah itu dengan memberi ruang pada gagasan-gagasan orang muda yang gagasan dan pemikirannya lebih kekinian.
Karakter ini membuat produk-produk dari Korea Selatan lebih cepat melakukan penyegaran dibandingkan dengan Jepang yang cenderung menghasilkan produk long lasting.
Keberhasilan lain yang ditiru oleh Korea Selatan dari Jepang adalah komodifikasi kebudayaan. Korea seperti Jepang juga berhasil menjadikan kebudayaan sebagai jalan untuk kemajuan ekonomi. Jepang dikenal dengan kulinernya, fashion, anime dan manga atau J-Pop. Korea Selatan kemudian juga berhasil mempopulerkan K-Pop, lewat musik, kuliner, drama/film dan juga fashion.
Tiga puluh tahun lalu, Indonesia sudah disebut-sebut sebagai Macan Asia. Indonesia dipandang punya potensi untuk menyaingi Jepang dan Singapura, bersama dengan Korea Selatan, India dan China.
Tapi menjelang perayaan Indonesia Emas, seratus tahun kemerdekaan tanda-tanda menjadi Macan Asia belum juga kelihatan. Presiden terpilih yang dianggap paling garang dari antara presiden-presiden sebelumnya ternyata justru dicitrakan gemoy dan senang kucing.
Jangankan membandingkan diri dengan China, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan Jepang, dihadapkan dengan Vietnam saja Indonesia mulai kedodoran.
Indonesia masih terus dikenal sebagai ekportir barang mentah atau sekurangnya setengah jadi setelah diterapkan kebijakan smelter. Tapi produk-produk jadi dari luar negeri makin membanjiri, bahkan termasuk produk bekas yang dilabeli second brand.
Mantra ATM yang terus dikumandangkan dalam berbagai kesempatan belum terbukti memberikan hasil. Kita terjebak dalam logika media sosial, viralitas yang seperti penyakit cepat menular tapi tak lama kemudian ditemukan vaksinnya.
BACA JUGA : Bandara Mati
Kembali ke soal tiru meniru, sebenarnya bangsa kita adalah bangsa pakar meniru. Masalahnya kita bukan peniru yang tekun. Mungkin karena kegemaran makanan serba instan, para peniru di negeri ini pingin segera menghasilkan cuan secara cepat. Akhirnya yang marak adalah hal-hal yang palsu.
Semua hal di negeri ini dipalsukan. Bahkan banyak keputusan resmi atau dokumen juga palsu.
Dan yang paling menyedihkan institusi yang mestinya menghindari kepalsuan ternyata justru paling rajin menghasilkan yang palsu-palsu.
Sebut saja institusi pendidikan.
Institusi ini mestinya menjadi yang paling depan menjaga originalitas, haram hukumnya untuk bohong.
Tapi yang namanya ijazah atau gelar palsu selalu menjadi pemberitaan. Sarjana, Master, Doktor bahkan Profesor banyak yang palsu. Alhasil banyak pula penelitian yang tidak kurang palsunya.
Saking banyaknya yang palsu-palsu sampai ada yang menyimpulkan kalau kebanyakan otak kita memang otak palsu.
Saya tentu keberatan dengan ini. Karena tidak mungkin otak palsu bisa menghasilkan aneka kepalsuan. Butuh kecerdasan yang tinggi untuk menghasilkan yang palsu-palsu.
Puncak dari kepalsuan ini adalah uang palsu yang diproduksi di sebuah perpustakaan perguruan tinggi.
Jantung perguruan tinggi yakni perpustakaan justru menghasilkan kepalsuan.
Gelar atau ijazah palsu mungkin masih relevan dengan dunia pendidikan karena masih sesuai dengan bisnis utama mereka. Tapi uang palsu jelas sudah melampaui tujuan pendidikan.
Dunia pendidikan dipercayai akan meningkatkan sumberdaya manusia dan dengan sumberdaya yang mumpuni seseorang punya kemungkinan untuk beroleh pendapatan atau uang yang lebih baik. Ijazah atau gelar palsu adalah jalan pintas karena seseorang tak mau menempuh pendidikan dalam waktu dan tanggungjawab yang ditentukan.
Uang palsu yang dicetak di sebuah perpustakaan perguruan tinggi adalah lompatan tujuan. Dari tujuan langsung ke tujuan tidak langsung. Jalan pintas yang berlapis.
Ijazah palsu atau gelar palsu mungkin masih bisa ditutup-tutupi, tapi uang palsu jelas sulit. Para pemalsu terlalu percaya diri sebab mereka seharusnya tahu teknologi dan bahan uang itu amat spesial.
Memalsukan uang dalam jumlah besar adalah bunuh diri, karena amat mudah untuk ketahuan. Mesin cetak yang dalam ukuran awam berharga mahal, sebenarnya terlalu murah untuk harga mesin cetak uang. Teknologi yang dipunyai oleh mesin yang berharga 600 juta buatan China itu jauh dari prasyarat mesin cetak uang.
Jadi mesti dicetak di jantung perguruan tinggi, para pemalsu uang ini sungguh amatiran.
Dan konon watak amatir ini terlihat ketika uang hasil cetakan dari mesin murahan ini dipakai untuk ‘uang politik’. Salah satu pemalsu ingin maju dalam kontestasi kepala daerah.
Sang pemalsu lupa, kalau politisi adalah mahkluk paling ahli soal uang. Tak perlu mereka melihat atau memegang, dari bau saja mereka sudah tahu mana uang asli dan mana uang palsu.
note : sumber gambar – AKURASI








