KESAH.IDBanyak daerah berlomba-lomba membangun bandar udara. Di mata banyak orang bandar udara adalah lambang kemajuan sebuah daerah, punya bandara yang representatif dianggap mendongkrak gengsi daerah. Namun ternyata banyak bandara yang sesungguhnya mati, maskapai komersial tak mau menerbangi. Pun juga penumpangnya yang lebih memilih terbang dari bandara lain yang dianggap punya banyak kelebihan. Setelah terminal penumpang atau terminal barang yang mangkrak, kini mulai banyak bandara yang terancam mangkrak, termasuk bandara VIP IKN.

Dulu mungkin banyak perencana pembangunan berpikir kalau membangun terminal maka otomatis mobil angkutan akan ada, datang dan ngetem di terminal untuk melayani penumpang.

Tapi nyatanya tidak. Ada banyak terminal angkutan antar kota atau antar daerah yang sejak diresmikan tak ada kendaraan penumpang umum yang mau singgah.

Mungkin banyak yang sudah lupa kalau Kota Samarinda pernah membangun dua terminal yang kemudian sia-sia.

Yang pertama adalah Terminal Barang, di Jalan HM. Riffadin depan Stadion Utama Palaran. Dan yang kedua penumpang di Kelurahan Bukit Pinang.

Terminal Barang gagal fungsi karena akses keluar dan masuk sulit untuk truk-truk besar. Sudutnya hampir 45 derajat sehingga kendaraan akan nyangkut.

Aneh bin ajaib. Berarti sejak perencanaannya pembangunan ini memang dirancang untuk sia-sia. Apa gunanya terminal kalau akses keluar masuknya sulit?.

Entah apa alasan Terminal Penumpang di Bukit Pinang gagal beroperasi. Mungkin saja pengusaha angkutan umum enggan, karena dulu angkutan penumpang ke Tenggarong melewati Samarinda Seberang.

Tapi tenang saja, terminal gagal fungsi bukan merupakan kekhasan Kota Samarinda, ada banyak kota di Indonesia yang punya fenomena yang sama.

Bahkan bukan hanya Terminal Barang dan Terminal Penumpang yang sia-sia, melainkan juga Bandar Udara.

Bandara atau Terminal Udara dulu dianggap sebagai ukuran kemajuan sebuah kota. Kota dianggap tak sah sebagai kota kalau tak punya bandara.

Kota-kota pun berlomba membangun bandar udara. Walau hasilnya hanya menjadi bandara yang sepi. Bahkan ada sebuah daerah yang berencana untuk membangun bandara, belum terbangun tapi sudah ada yang kena kasus korupsi.

Beberapa kota menyandarkan hubungan udara lewat pangkalan udara milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Seperti Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, Bandara Husein Sastranegara Bandung dan lain-lain.

Operasi bandar udara yang berada di fasilitas pertahanan ini menjadi kurang maksimal. Dan umumnya terlalu dekat dengan kota sehingga punya resiko tinggi pada permukiman.

Bandara Adi Sutjipto kemudian dipindah, cukup jauh dari bandara semula yang berada disisi timur Kota Yogyakarta. Yogyakarta Internasional Airport kini berada di sisi barat Kota Yogyakarta.

Pun juga dengan Bandara Ahmad Yani Semarang yang kemudian dipindah ke pesisir utara Semarang.

Jauh sebelumnya, Bandara Polinia Medan juga dipindah ke Kualanamu, di Kabupaten Deli Sedang.

Pun demikian dengan Bandara Temindung Samarinda yang kemudian dipindah ke Sungai Siring, lebih keluar kota.

Pemindahan Bandara Adisutjipto, Ahmad Yani dan Polonia terbilang berhasil. Bandaranya berkembang dengan baik karena makin luas dan bisa dikelola maksimal karena terpisah dari pangkalan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Tapi tak semua bandara yang dipindah atau dibangun baru sukses.

BACA JUGA : Selamat Natal

Bandara Kertajati menjadi kisah yang memiriskan tentang pemindahan terminal udara yang dianggap amat dibutuhkan oleh masyarakat dimana saja.

Bandara yang terletak di Kertajati, Kabupaten Majalengka ini dimaksudkan untuk mengganti operasi penumpang umum yang berada di Bandara Husin Sastranegara di Bandung. Jarak antara bandara lama dan bandara baru kurang lebih 65 km dan sudah dibangunkan jalan tol antara Bandung – Kertajati.

Tapi sejak pembukaan, bandara ini seperti hidup segan mati tak mau. Walau Bandara Husin Sastranegara telah ditutup untuk penerbangan umum atau pesawat angkut penumpang jet, ternyata Bandara Kertajati tetap sepi. Satu persatu maskapai yang menerbangi berhenti beroperasi.

Orang Bandung kabarnya lebih suka terbang dari Halim Perdanakusuma, jurusannya lebih banyak.

Waktu tempuh ke Halim juga lebih cepat karena sudah tersedia kereta cepat.

Pembangunan bandara ternyata pelik. Tak bisa lagi diandaikan bahwa bandar udara akan selalu berhasil atau ramai.

Dulu mungkin orang bangga dengan bandara di daerahnya. Tapi kini urusan bandara adalah kepraktisan. Jika bandara di daerah sendiri kurang layanannya, maka memilih bandara yang ada di daerah lain tak apa.

Bandara Yogyakarta, Semarang atau Kualanamu mungkin tetap ramai karena penumpang tak punya pilihan bandara lain yang relatif dekat. Lain halnya dengan Bandara Samarinda,  walau telah dibangun bandara baru yang cukup besar sebagian warga Samarinda masih terbang lewat Balikpapan. Apalagi jarak tempuh Samarinda – Balikpapan bisa dipangkas karena Tol Balsam telah beroperasi.

Untung Kabupaten Kutai Kartanegara yang dulu ingin membangun bandar udaranya sendiri urung dilaksanakan. Andai Kutai Kartanegara juga punya bandara sendiri, entah apa yang bakal terjadi. Mungkin juga jadi bandara sepi.

Membangun infrastruktur yang besar sesungguhnya mudah asal ada biayanya. Jika uang tersedia semua bakal beres.

Tapi apa yang direncanakan bakal mengakselerasi kemajuan atau perkembangan ekonomi sebuah daerah tak otomatis akan terjadi walau infrastrukturnya telah diresmikan.

Konon salah satu alasan Ignatius Jonan tak setuju dengan arah pengembangan kereta api cepat dari Jakarta ke Bandung adalah soal itu. Dia lebih setuju kereta api cepat dikembangkan dari Jakarta ke Jawa Timur karena jalur ini merupakan jalur gemuk. Pengembangan kereta api cepat tidak akan memakan pangsa moda angkutan lainnya.

Dengan kereta api cepat orang Bandung akan lebih mudah dan cepat ke Jakarta. Fasilitas yang ada di Jakarta jelas lebih baik. Maka lebih menguntungkan terbang dari Jakarta ketimbang terbang dari Kertajati.

BACA JUGA : Over Klaim

Nampaknya Kalimantan Timur juga akan ‘kelebihan’ bandar udara. Dengan dipindahkannya Ibu Kota Negara ke Sepaku, Kota Nusantara juga akan punya bandara sendiri. Awalnya disebut sebagai Bandara VIP.

Kabarnya bandara sudahj adi dan siap beroperasi. Hanya saja lalu lintas udaranya sungguh terbatas sehingga yang menunggu bandara seperti sedang menunggu malaikat lewat.

Kalau tak salah, Presiden Jokowi sebelum mengakhiri masa jabatannya pernah mengatakan bandar udara di Ibu Kota Nusantara bisa dioperasikan untuk penumpang umum. Mungkin Presiden melihat bandar udaranya merana jika hanya akan didarati oleh tamu-tamu VIP.

Masalahnya maskapai apa yang akan menerbangi.

Bagaimanapun maskapai akan selalu memilih bandar udara yang layanannya paling baik dan paling murah untuk pengisian bahan bakarnya. Dan bandar udara yang kurang ramai, bahan bakarnya cenderung lebih mahal.

Bandara yang jarang-jarang di darati oleh pesawat jelas tak menarik perhatian maskapai baru untuk melayaninya.

Industri penerbangan sedang dalam masa susah karena pandemi Covid 19 yang lalu. Banyak maskapai kekurangan pesawat dan belum mampu mengadakan armada yang baru. Mereka cenderung memilih jalur-jalur gemuk.

Pemerintahpun tak bisa memaksa maskapai untuk terbang dari bandara tertentu. Yang bisa ‘dipaksa’ adalah pesawat perintis karena disubsisi atau dikontrak oleh pemerintah.

Setelah banyak kisah tentang halte yang mangkrak, terminal angkutan darat yang berubah menjadi kandang kambing dan kebun, kita mesti bersiap untuk tak mengurut dada ketika mendengar ada bandar udara yang mati karena tak ada pesawat yang mendaratinya.

note : sumber gambar – KATADATA