KESAH.IDYogyakarta memang selalu punya gaya dibanding kota-kota lainnya. Di kota ini orang bisa berekpresi memadupadankan pakaian dengan penuh percaya diri. Kota ini juga mempunyai banyak produsen pakaian yang bisa memenuhi keinginan jiwa untuk bergaya tanpa membuat kantong meronta-ronta. Tapi jika kantong mampu, banyak juga outlet yang menjual baju-baju bermerek yang harganya bisa bikin mata melebar selebar jalan tol.

Tentang pakaian selera saya biasa-biasa saja yang penting nyaman di badan. Outfit harian saya hanya kaos dan celana pendek, lebih dari separuh umur demikian.

Gara-gara gaya ini hampir paten, sampai sekarang saya tak punya sabuk karena tak pernah memasukkan baju dalam celana.

Kemeja dan celana panjang hanya saya pakai dalam kesempatan khusus. Karena jarang memakainya sampai ada yang bilang “Weh, sudah kelihatan seperti manusia,”, saat seorang teman melihat saya berhari-hari dengan setelan normal.

Gara-gara tampilan yang kurang meyakinkan, sewaktu saya menjadi host talk show Forum Basudara di TVRI Manado, seorang narasumber berbisik kepada teman saya “Yus itu nanti pakai baju itu kah?”

Narasumber yang dikenal modis dan stylis itu khawatir penampilannya di layar kaca bakal turun kelas karena saya kaosan dan pakai celana pendek.

Kekhawatirannya jadi hilang ketika teman saya bilang “Ndak, belum ganti baju dia,”

Saya memang membawa baju dan celana ganti tapi setrikaannya tak selicin lantai marmer, baunya juga tak seharum melati kuburan.

Di Manado memang ada pameo satiris yang terkenal yakni biar kalah naksi mar jangan kalah aksi. Intinya penampilan menjadi utama, biarpun dapur sulit.

Makanya gara-gara nggak punya sepatu dan baju gereja, orang bisa batal pergi beribadat di hari Minggu. Urusan religi sekalipun baju dan sepatu menjadi sangat penting.

Memang menghadap Tuhan mesti memakai yang terbaik, tapi mestinya jangan sampai kalau tidak punya maka tak percaya diri untuk pergi ke rumah Tuhan.

Tapi makin kesini kadang-kadang muncul keinginan untuk bergaya. Memakai outfit kekinian agar tak dibilang ketinggalan jaman alias bapack-bapack banget.

Masalahnya memang sulit menangkis serangan ke-fomo-an, karena dunia fashion berkembang sangat cepat istilah fast fashion.

Di media sosial berseliweran konten OOTD, outfit of the day yang walau sebagian isinya sering bikin terpingkal-pingkal dan geregetan tapi tetap saja menggoda.

Kalau dipikir-pikir yang branded memang keren. Bahannya bagus, desainnya juga sip dan mungkin enak dipakai di badan.

Tapi ya itu harganya mahal, bahkan sering kelewat mahal seperti nggak masuk akal.

Saya tentu tak mau menang aksi tapi kalah nasi. Atau membeli pakaian yang harganya jauh diluar kemampuan sehingga mengorbankan kepentingan lainnya. Gaya sih oke tapi bukan begayaan kata orang Banjar.

Semesta memang selalu mendukung.

Muncul gerakan slow fashion sebagai antitesis fast fahion. Trend thrifting muncul dimana-mana.

Gejala memakai barang lama, barang bekas atau barang out of date sebenarnya bukan gejala baru. Dulu dikenal istilah rombeng, pasar atau kios yang menjual barang bekas yang masih layak pakai.

Di pasar-pasar tradisional selalu ada los atau kios yang menjual barang rombeng termasuk di dalamnya pakaian, kain dan produk fashion lainnya.

Tapi konteks pasar rombeng berbeda dengan thrifting.

BACA JUGA : Marc Mandalika

Dulu penjualan pakaian bekas juga kerap dilakukan dalam konteks charity. Pada hari minggu di gereja atau susteran, para suster sering menjual baju-baju sumbangan dari luar negeri. Harganya murah dan pakaian berbeda dari yang umumnya.

Masyarakat di Eropa dan Amerika memang sering menyumbangkan baju-baju layak pakai yang tak mereka pakai lagi. Pun juga dengan masyarakat Jepang yang konon punya kebiasaan sangat baik dalam manajemen barang. Masyarakatnya tak akan menyimpan pakaian dan perkakas lainnya yang tak dipakai lagi.

Awalnya pakaian dari laur negeri ini biasanya disumbangkan untuk korban bencana, pengungsi dan lain-lain. Tapi lama kelamaan menjadi komiditas dengan kemunculan kios dan pasar cakar bongkar atau  awul-awul.

Awal tahun 2000-an pasar cabo ini muncul dimana-mana. Saya masih di Manado dan Pasar 45 menjadi pusat dari aktivitas jualan baju bekas ini. Pasarnya berada diatas jalan yang dimatikan.

Di tiap kota kemudian terkenal kios-kios favorit yang menjadi buruan para pencari pakaian bekas saat membuka bal.

Trend Thrifting salah satunya muncul dari para pemburu pakaian bekas bermerek yang kemudian menjual kembali hasil buruannya dari kedai atau kios yang mendatangkan pakaian dalam bentuk bal-balan.

Sebelum Thrift semarak, ada juga trend menjual baju vintage. Berbagai merchandise yang dikeluarkan oleh grup musik ternama untuk menandai peluncuran album atau tour musiknya. Tapi harganya mahal karena kaos dan aksessories lainnya merupakan jenis barang koleksi.

Yang diburu memang juga bukan hanya kaos melainkan juga sepatu terutama seri sepatu yang dibuat terbatas, atau seri kolaborasi yang umumnya juga diproduksi dalam jumlah sedikit. Selain itu juga topi dan aneka tas.

Pasar rombeng dan pasar awul-awul kini mulai surut digusur oleh gerai-gerai thrifshop yang inovatif dan menyasar kelompok anak-anak muda. Yang dikedepankan adalah barang secondbrand, barang-barang bekas bermerek.

Tidak semuanya bekas pakai, karena ada diantaranya yang merupakan barang buangan dari toko-toko yang dianggap telah lewat jaman. Trend fast fashion dalam industri pakaian membuat masa pajang atau pamer barang di toko resmi menjadi lebih pendek.

Thriftshop kemudian sama bergengsinya dengan toko-toko fashion. Tidak lagi berada di lokasi yang seadanya. Baju yang dijualpun sudah siap pakai, sudah dicuci, disetrika dan diberi pewangi, mirip baju atau pakaian baru.

Di outletnya juga disusun seperti toko pakaian pada umumnya, tidak lagi ditumpuk dan diawul-awul oleh pembelinya untuk mencari barang yang sesuai dengan keinginannya.

Harganya juga tak selalu murah. Masih ada item-item tertentu yang harganya bisa lebih tinggi dibanding pakaian baru pada umumnya.

BACA JUGA : Ketiban Sial 

Baju atau pakaian bermerek memang mempunyai kualitas kain, jahitan dan cetakan yang bagus. Namun harganya kerap kelewatan mahalnya. Kaos sekalipun bisa berharga jutaan.

Membeli kaos dengan harga jutaan untuk kebanyakan masyarakat Indonesia jelas tidak etis. Harga satu kaos bisa menghabiskan separuh atau bahkan seluruh gajinya.

Tapi entah itu masyarakat miskin, masyarakat rata-rata maupun masyarakat kaya raya tetap punya DNA yang sama yakni ingin bergaya.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk bergaya karena setiap orang suka diperhatikan. Pakaian yang proper juga bisa meningkatkan kepercayaan diri sehingga relasi atau hubungan sosialnya akan terbantu.

Hanya saja bergaya mesti dilakukan dengan mengukur diri, menyesuaikan dengan kemampuan terutama ekonomi. Agar kata orang Manado tidak terjadi menang aksi tapi kalah nasi.

Dan fenomena thrifting membantu orang-orang bisa beraksi atau bergaya tapi tak mengorbankan nasi. Kalaupun mengurangi nasi itu dilakukan karena punya body goals, ingin diet agar penampilannya ideal.

Thrifting terutama yang berbasis kurasi baju-baju secondbrand atau preloved memang membuat banyak orang bisa bergaya tanpa menguras terlalu dalam isi dompetnya.

Setiap kota kemudian muncul pusat-pusat pakaian thrifting.

Di Yogya pusat thrifting ada di XT Square, ada dua lantai yang dipenuhi dengan pakaian-pakaian bekas bermerek.

Hanya saja gerai ini cenderung tidak ramai, bahkan terkesan sepi sekali. Padahal konon pakaian yang dijual di salah satu lantainya telah dikurasi keasliannya.

Bisa jadi Yogya punya gaya yang lain karena kota ini tidak kekurangan kreator yang bisa menghasilkan pakaian-pakaian nan unik dan menarik walau tidak dilabeli brand global.

Di Yogyakarta dengan mudah ditemukan orang lalu lalang dengan pakaian yang penuh gaya.

Jika jeli, pakaian bermerek dan masih baru tidak hanya bisa diperoleh di mall-mall besar yang harganya bisa bikin mata melebar.

Ada sebuah toko kecil yang lokasinya tak jauh dari UGM dan UNY untuk menyiram dahaga ingin bergaya dengan pakaian branded.

Namanya Jiwagaya.

Cara kerjanya mirip penjual majalah atau koran ternama tempo dulu. Dimana koran atau majalan baru dijual dengan harga yang sangat miring, karena koran atau majalah yang telah lewat hari itu tidak dikembalikan ke publisernya.

Yang dipulangkan oleh agen hanya sobekan cover majalan atau bagian healine berita pada halaman pertama koran. Yang tidak dipulangkan itu kemudian dijual dengan harga murah. Pembeli beruntung karena tak kehilangan isi koran dan majalah.

Begitu juga dengan Jiwagaya, pakaian baru yang dijualnya hanya dilepas beberapa tag-nya. Mungkin itu yang dikembalikan ke produsennya.

Apalah artinya tag toh itu tak kelihatan karena ada di dalam.

Dan dengan harga yang bisa sepertiga dari harga aslinya, jiwa yang ingin bergaya pun tak bakal bikin kantong meronta-ronta.

note : sumber gambar – OKEZONE