KESAH.IDAda ratusan desa yang mendeklarasikan sebagai desa wisata di Kalimantan Timur. Hampir setiap desa mempunyai permasalahan yang sama yakni akses. Perjalanan yang melelahkan dan mahal kerap kali juga hanya dibalas dengan daya tarik wisata tunggal dan hal itu sungguh tak sepadan dengan perjuangan untuk mencapai desa itu.

Semingguan telah berselang.

Ini rasanya kali kedua saya mendatangi sebuah pulau kecil berbeda diluar pulau utama Kalimantan. Ada banyak pulau kecil di wilayah Kalimantan Timur, nama-namanya kerap saya dengar tapi belum satupun saya jejaki selain Pulau Kumala yang ada di tengah Mahakam.

Pulau Miang, nama itu terngiang ketika semalam sebelumnya saya diajak untuk pergi kesana. Dalam kepala sesungguhnya tak asing karena saya pernah berbincang cukup lama dengan dua mahasiswa yang berasal dari sana.

Ada banyak hal terutama keindahan pulau itu yang disampaikan oleh keduanya.

Dan mereka tak bohong. Ketika kapal yang digerakkan oleh dua mesin Dongfeng merapat ke dermaga depan gapura Pulau Miang segera terlihat pemandangan menawan.

Tepi pulau diluar permukiman ditumbuhi oleh pohon mangrove yang rapat. Namun setelah permukiman terlihat pemandangan bukit menghijau, ditumbuhi pohon kelapa salah satunya.

Kawasan permukimannya tidak besar, berada di pesisir bukan daratan sehingga rumahnya adalah rumah panggung dengan jalan penghubung dari jembatan ulin yang panjang.Mirip kampung air di Bontang Koala.

Namun suasananya tidak bising akibat bunyi jalanan kayu yang dilewati kendaraan, gemeretak.

Jalan dari kayu ulinnya terasa kokoh, hampir tak meninggalkan bunyi ketika bertemu dengan injakan dan langkah kaki.

Melihat bawah-bawah kolong rumah relatif bersih. Dan jalanan kayunya lebih bersih lagi sehingga jalan tidak memakai alas kakipun serasa tak risih.

Di dekat dermaga ada dua atau tiga warung besar yang menjual makanan dan sembako.

Namun karena salah seorang dari teman perjalanan saya menghubungi anggota Pokdarwis, begitu turun dari perahu kami langsung dijemput dan kemudian diantar ke salah satu rumah persingahan untuk makan.

Sambil duduk menunggu di depan rumah, saya menyaksikan ikan yang hendak disajikan tengah dibakar.

Jelas sekali pengalaman pertama makan di Pulau Miang tak bakal mengecewakan.

Ikan yang dibakar adalah jenis ikan pancing dan masih segar.

Ketika dipersilahkan makan, tak perlu basa-basi lagi untuk memulai.

Nasi hangat, ikan bakar dan sambal blimbing telunjuk serasa berpadu rasanya di rongga mulut. NIkmat terasa dari suapan pertama hingga terakhir.

Kalau ada catatan sampai dengan selesai bersantap siang adalah tak ada yang menawari untuk minum kopi.

Dan ketika perjalanan dari dermaga penyeberangan Pulau Miang daratan ke pulau Miang Besar tak ada life jacket di perahunya. Padahal perjalanannya cukup terhentak-hentak karena gelombang.

Bagaimanapun menyeberangi lautan walau tak jauh tetap merupakan perjalanan beresiko. Jadi salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh operator layanan penyeberangan adalah jaket atau pelampung penyelamat.

Destinasi wisata hutan bakau di Desa Sekerat, Benggalon

BACA JUGA : Indonesia Emas

Beberapa hari sebelum ke Pulau Miang Besar, saya juga sempat singgah ke desa yang mempunyai destinasi wisata pantai.

Pantainya berpasir dan bersih disertai dengan pemandangan deretan pohon cemara udang dan nyiur melambai. Di pinggir pantainya ada peringatan “Awas buaya”.

Selama tiga malam saya tinggal di Desa Sekerat, di sebuah rumah yang persis menghadap pantai.

Pantainya cukup ramai, di siang hari sering kali banyak pekerja perusahaan makan siang di tepi pantai. Di warung atau gazebo yang dibangun oleh pemerintah desa di sepanjang pinggir pantai.

Sepanjang hari dari pagi ada warung-warung yang buka hingga malam hari, menjual minuman dan makanan kecil, camilan dan roti-rotian. Kalau ingin lebih kenyang bisa juga memesan mie instan.

Di malam hari terutama malam minggu kerap ada sekelompok orang, rombongan keluarga atau kelompok lainnya datang sore hari untuk menginap semalam dengan membawa tenda. Ada yang dipasang di pasir pantai ada pula yang digelar di dalam gazebo besar.

Malam harinya mereka bernyanyi-nyanyi dengan sound yang dibawa sendiri. Yang lainnya memancing atau merenung duduk diatas pasir atau bangku di pinggir pantai dalam kegelapan.

Dari bincang-bincang dengan warga, Pantai Sekerat ini akan ramai di hari libur besar seperti Hari Raya Idulfitri atau saat musim liburan panjang.

Memang perjalanan dari jalan poros Benggalon – Kaliorang atau Sangkulirang agak menantang karena melewati jalan tanah yang dilalui oleh truk pengangkut bahan tambang dan semen kemasan.

Tapi jangan khawatir karena Desa Sekerat siap menyambut wisatawan. Sebab walau serasa terpencil tapi di dalam permukimannya banyak toko dan warung. Yang datang tak akan kesulitan untuk mencari kebutuhan.

Selain itu di sekitar pantai ada penginapan berbentuk resort dan glamping yang dibangun oleh warga. Ada juga glamping bantuan dari Dinas Pariwisata yang nantinya akan dikelola oleh Pokdarwis.

Air bersih di desa ini juga melimpah. Karena perbukitannya merupakan kawasan penangkap dan penampung air. Ada beberapa mata air mengalir dari sana.

Soal kesegarannya jangan ditanya karena air bersih yang bersumber dari mata air itu disaring oleh batuan kapur dan karst.

Sayangnya di sekitar pantai tidak ada shower untuk berbilas atau bersih-bersih setelah bermain di pantai. Padahal jika ada bakal menimbulkan sensasi tersendiri. Percayalah guyuran air bersih dari sekerat rasanya nyaman di badan sehingga jadi pingin mandi lama-lama.

Sebagian besar warga Desa Sekerat adalah masyarakat Kutai. Sehingga desa ini mempunyai upacara adat yang dilakukan setahun sekali. Mereka menyebut acara adatnya adalah Erau atau Pelas Laut.

Selain wisata pantai, Desa Sekerat juga mempunyai destinasi wisata hutan mangrove. Dan di perbukitan yang berada di dusun mampang telah dibangun pula lokasi untuk olahraga paralayang.

Potensi wisatawan di desa ini besar karena ada banyak perusahaan besar disana, mulai dari perusahaan tambang hingga perkebunan sawit. Tak jauh dari Kantor Kepala Desa, ada juga pabrik semen yang besar meski berada di wilayah desa tetangga.

Dari pantai sekerat memandang sisi kanan dan kiri akan lerlihat jalur conveyor dari pinggir menuju keagak tengah laut. Disisi kiri menghadap laut Makassar ada conveyor milik pabrik semen kobexindo. Disisi kiri menghadap laut ada 2 conveyor perusahaan batubara.

Ikan kakap dan ikan putih bakar menyambut kedatangan ke Pulau Miang Besar

BACA JUGA : Asian Value

Mungkin ada ratusan desa wisata di Kalimantan Timur. Namun hanya beberapa yang sempat saya kunjungi. Tentu menyenangkan mengunjungi desa-desa itu walau rata-rata perjalanannya kesana bikin pegal-pegal badan.

Akses memang jadi persoalan. Rata-rata untuk menuju desa wisata tidak ada transportasi umum. Yang ingin berkunjung mesti punya atau sewa kendaraan tersendiri. Makanya untuk warga Kota Samarinda misalnya, wisata pantai di badak atau pangempang menjadi salah satu destinasi faovirt. Pantai disana bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua.

Tapi rata-rata desa wisata lainnya tidak demikian.

Maka transportasi terasa menjadi salah satu elemen yang mahal untuk piknik ke desa-desa wisata di Kalimantan Timur.

Kalau untuk urusan menginap tak terlalu jadi masalah. Umumnya desa-desa wisata mempunyai penginapan. Paling tidak ada homestay yang diusahakan oleh warganya.

Meski demikian untuk pergi pastikan mempunyai kontak pokdarwis atau masyarakat disana. Karena beberapa desa hanya bisa dicapai dengan transportasi air. Jika tak ada kontak yang bisa menjemput, mungkin kita tak akan pernah sampai.

Dan selalu persiapkan cadangan makan, siapa tahu begitu sampai sudah kelaparan. Karena tak semua desa wisata mempunyai warung yang menyajikan makan besar.

Masalah lainnya desa-desa yang jauh dan butuh effort untuk mencapainya terkadang hanya mempunyai daya tarik tunggal. Sehingga begitu sampai disana kita seperti menunggu saat untuk pulang.

Desa-desa wisata kurang menyiapkan paket wisata untuk pengunjung yang datang menginap. Jadi yang pingin healing kadang malah melamun karena tidak tahu hendak kemana dan berbuat apa.

Sebenarnya untuk mereka yang datang dari luar daerah sudah cukup senang diajak keliling-keliling desa untuk mengenal kehidupan den berkenalan dengan warganya. Menikmati kehidupan yang penuh keramahan dari warga desa sudah merupakan hiburan yang menyegarkan jiwa.

Banyak desa begitu mudah mendeklarasikan dirinya jadi desa wisata. Namun masih banyak pekerjaan rumah untuk mampu mendatangkan wisatawan dan kemudian datang kembali setelah kedatangannya yang pertama kali.

Dan desa-desa yang berdekatan terkadang mempunyai daya tarik unggulan yang sama. Seperti Sekerat di Kecamatan Benggalon dan Selangkau di Kecamatan Kaliorang. Dua desa yang berdekatan ini sama-sama punya pantai yang terkenal. Sekerat punya Pantai Sekerat dan Selangkau punya Pantai Jepu Jepu.

Bagaimana desa yang berada dalam satu kawasan mampu bekerja sama untuk mendatangkan wisatawan menjadi bagian lain yang perlu dipikirkan ke depan. Konon menurut para ahli, ekonomi yang paling bisa memberi keuntungan bagi beberapa pihak adalah ekonomi kolaboratif.