KESAH.ID – Kebahagiaan menjadi cita-cita banyak orang dan banyak bangsa. Padahal hidup itu tak mesti bahagia. Bahkan dalam arti tertentu yang terlalu bahagia justru berbahaya karena orang akan kehilangan semangat survivalnya. Tidak ada yang lebih baik antara yang bahagia dan tidak bahagia. Dua keadaan itu hanya hal yang berbeda. Tapi jika ingin bahagia ada banyak syaratnya karena bahagia itu tidak sederhana.
Setiap pasangan yang telah mencapai angka 25 tahun hidup bersama akan merayakan pesta perak pernikahan. Jika kemudian berhasil mempertahankan hingga 50 tahun maka akan merayakan pesta emas pernikahan.
Yang disebut emas sebagai pencapaian memang beda-beda. Kehidupan berbangsa dan bernegara setelah kemerdekaan di Indonesia akan dirayakan sebagai pesta emas nanti setelah 100 tahun kemerdekaan. Masa itu akan disebut sebagai Indonesia emas. Perayaannya akan dilakukan pada tahun 2045.
Isu Indonesia emas sendiri mulai diperbincangkan pada tahun 1996. Pemerintahan presiden Suharto waktu itu sudah merumuskan visi Indonesia Emas tahun 2045.
Visi misinya adalah mengangkat derajat bangsa Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera pada tahun 2045.
Visi itu buyar karena beberapa tahun kemudian regim Suharto runtuh oleh gerakan reformasi.
Saat periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi, presiden meresmikan monument kapsul waktu. Wadah berisi 238 butir impian masyarakat dari 34 provinsi. Kapsul waktu impian masyarakat Indonesia ini dibawa berjalan dari ujung barat hingga ke ujung timur Indonesia.
Impian masyarakat Indonesia ini akan dibuka pada tahun 2085, saat sebagian yang menuliskannya mungkin tak bisa bermimpi lagi.
Memasuki periode kedua pemerintahannya, Presiden Jokowi mungkin sudah lupa dengan kapsul waktu itu. Yang kemudian sering digembar-gemborkan adalah Indonesia Emas. Segala sesuatunya dihubungkan dengan Indonesia Emas, tahun 2045.
Masa itu tak lama lagi kurang lebih 21 tahun lagi. Tahun 2045 digambarkan akan menjadi masa keemasan Indonesia karena segala sesuatu di Indonesia digerakkan oleh generasi emas.
Isu Indonesia emas dihubungkan dengan bonus demografi. Bonus kependudukan yang akan dinikmati oleh bangsa Indonesia karena jumlah penduduk usia produktif lebih besar.
Generasi milenial adalah dasarnya, namun yang disebut dengan generasi emas kemungkinan besar adalah generasi z.
Mereka inilah yang akan menjadi generasi pengisi jaman pada tahun 2045 nanti.
Lalu apa yang dipersiapkan oleh mereka yang gemar pidato dan mungkin juga sudah merumuskan apa yang disebut dengan Indonesia Emas 2045 itu?.
Entahlah. Rasanya tak ada sebuah perubahan besar di sebuah bangsa bisa terjadi dalam 21 tahun tanpa benar-benar ada langkah radikal.
Jepang pernah melakukan perubahan peradaban besar setelah perang dunia kedua dan berhasil. Yang dirubah adalah pandangan tentang dunia dan kehidupan. Sebelum perang dunia, masyarakat Jepang dididik untuk berani mati demi kehormatan. Namun setelah jaman perang, manusia Jepang dididik untuk menghormati milik orang lain.
Dan Jepang berhasil. Masyarakatnya menghormati milik orang lain, tak suka kepo dengan urusan orang. Apa yang tertinggal di jalan, di kendaraan umum dan lainnya tak akan diambil oleh orang lain. Dibiarkan agar yang kehilangan mudah menemukan kalau mencarinya.
Bangsa Nordic dulu dikenal sebagai salah satu bangsa terbrutal. Namun kini selalu masuk dalam kategori negara paling bahagia sedunia.
Dalam waktu sekitar 12 tahun Finlandia mampu melakukan perubahan besar. Perubahan dilakukan lewat pendidikan. Dana besar dialokasikan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan diberikan secara gratis, sekolah ditingkatkan mutunya dengan guru-guru terbaik. Mereka yang berkekurangan dibantu bukan hanya biaya pendidikan melainkan juga biaya hidup.
BACA JUGA : Hutan Aren
Apa yang kita lakukan 21 tahun menjelang Indonesia Emas?.
Generasi yang kita harapkan jadi pondasi menopang jaman keemasan justru lebih banyak berkutat dengan mental health issue.
Politik ketatanegaraan dan hukum kita justru semakin buruk. Praktek demokrasi dimanipulasi. Yang mengental dalam politik justru Asian Value, bukan soal kerjasama atau kerja keras melainkan lebih memilih untuk mengagungkan dan membesarkan pengaruh keluarga.
Partai sebagai pondasi politik dan demokrasi makin hari makin berantakan. Banyaknya jumlah partai tak merupakan penanda penghormatan pada keberagaman atau pluralitas gagasan serta pikiran.
Sebagai organ demokratis banyak partai justru tak menampakkan watak demokrasi. Partai justru menjadi paradok demokrasi itu sendiri.
Sebagai negara dengan sumberdaya alam yang luar biasa, Indonesia sejatinya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sistem kehidupan dan sumber daya Indonesia tidak perlu membuat cemas akan masa depannya.
Namun paradigma pengelolaan sumberdaya alam justru membuat kondisi kehidupan Indonesia mencemaskan. Kerusakan lingkungan dan ketidakseimbangan alam terjadi dimana-mana, bencana ekologis adalah ancaman besar untuk kehidupan.
Mengirim hasil terbaik ke luar negeri, Indonesia justru mengirim balik ‘entropi’ ke dalam negeri. Negeri ini masih menerima sampah dari luar negeri. Negeri yang membuat bersih dan terang di negara lainnya justru memanen sampah dan gelap di negeri sendiri.
Dalam banyak hal Indonesia bisa dibilang salah satu termaju. Kita maju dalam pemanfaatan dan konsumsi teknologi. Pendidikan kita belum berhasil menjadikan bangsa ini sebagai bangsa penghasil teknologi. Bahkan dalam teknologi tepat guna sekalipun, kita hanya gemar mengadakan lombanya saja.
Penyuluh pertanian gemar sekali mengajak petani meneriakkan slogan “Petani, Maju, Modern dan Mandiri”. Tapi kebijakan pertanian kita terutama dalam mekanisasi tak dilandasi oleh kesesuaian lahan.
Model lahan pertanian yang sejak semula dipersiapkan untuk dikerjakan dengan cangkul tidak dirubah. Lahannya tidak ditata berdasarkan kebutuhan mesin-mesin pertanian.
Salah kaprah memang jadi kebiasaan negara ini. Ketika pemerintah gemar membanggakan soal kepeduliannya pada pendidikan lewat alokasi dana yang besar. Peningkatan kapasitas atau sumberdaya masyarakat lainnya diluar pendidikan selalu dilakukan dengan studi tiru.
Dalam pengembangan ekonomi kreatif, matra terkenal yang sering dirapalkan adalah ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Anjuran yang kemudian bangsa ini kekurangan penemu, tapi kelebihan peniru.
BACA JUGA
Meski mencari-cari, saya belum menemukan apa sesungguhnya Indonesia Emas tahun 2024. Jangan-jangan itu hanya persiapan besar untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan dan kemudian berlalu begitu saja, kembali jadi momentum yang hilang.
Tapi mari sederhanakan saja. Mungkin Indonesia Emas 2024 adalah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bahagia.
Mungkin ini jadi hal yang tak sulit untuk dicapai.
Toh kata kebanyakan netizen di postingan media sosialnya, bahagia itu sederhana saja.
Yang disebut bahagia sederhana itu misalnya makan bakso, nongkrong di café, piknik di pantai dan lainnya. Sederhana sekali bukan.
Tapi bahagia versi ini tentu berbahaya. Sebab netizen terlihat tak bisa membedakan antara happines dan pleasure. Tak jelas batas antara bahagia dan senang.
Dalam penelitian pada binatang, umumnya binatang akan memancarkan hormon bahagia ketika menemukan makanan, bukan saat memakannya. Maka mencari makanan dan kemudian menemukan makanan menjadi sesuatu yang membahagiakan.
Dan sebenarnya manusia juga demikian, menemukan sesuatu adalah sebuah kebahagiaan. Dalam makanan kebahagiaan itu mulai hilang ketika makanan mulai disantap.
Hanya saja kebahagiaan kemudian menjadi lebih rumit untuk manusia. Karena kemampuan berbahasa faktor penentu kebahagiaan menjadi lebih banyak.
Tapi syarat untuk bahagia tidak berubah, manusia akan mampu bahagia jika mempunyai empati atau kepedulian pada orang lain. Bahagia adalah tentang kolaborasi, bekerja sama dengan orang lain untuk memastikan kehidupan ke depan bebas dari ancaman, kekacauan atau entropi.
Tapi haruskah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbahagia di tahun 2045 nanti?. Tidak ada yang mengharuskan. Tak bahagiapun bangsa Indonesia bisa maju dan sejahtera.
Bahkan kalau bangsa Indonesia terlalu bahagia, semangatnya sebagai bangsa pejuang atau petarung akan luruh.
Toh tak bahagiapun orang tetap bisa senang. Bukankah bangsa ini adalah bangsa yang senang. Makanya sebagian netizen suka pamer, karena kesenangan akan muncul jika dirinya merasa lebih dari orang lain. Kesenangan di bangsa ini juga kerap muncul jika melihat orang lain menderita atau sial. Kesialan sering menjadi bahan energi kesenangan bangsa ini.
Sekali lagi bahagia tak sederhana. Sebab bangsa yang bahagia umumnya adalah bangsa yang kolaboratif, bangsa yang tak gemar bersaing untuk menunjukkan kelebihan.
Lihat saja Finlandia, masyarakat tak bersaing membuka toko 24 jam, tempat hiburan sampai pagi atau bandara yang beroperasi terus menerus tanpa henti.
Bangsa itu menjaga kehidupan tak terlalu banyak godaan atau distraksi yang bisa membelokkan pekerja yang pulang kantor untuk tak segera pulang ke rumahnya, bertemu anak istri dan menikmati kebahagiaan dalam rumah.
note : sumber gambar – NETRALNEWS








