KESAH.IDMenyebut kebudayaan kerap kali menjadi bias karena yang dipahami atau lebih menonjol disebut sebagai budaya adalah kesenian. Lembaga-lembaga kebudayaan sekalipun juga sering jatuh dalam anggapan semacam itu, sekurangnya tercermin pada kegiatan-kegiatan mereka. Kesenian memang terbukti mampu mempertahankan dan meneruskan ciri-ciri khas masyarakat setempat atau lokalitas. Namun kesenian juga berpotensi menjerumuskan kebudayaan hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan apalagi tuntutan.

Membincang kebudayaan itu selalu menarik, terlebih jika ruang untuk memperbincangkannya adalah monumen tempat dipertontonkannya ‘kebudayaan’ yang mati, usur dan tergilas oleh geliat kebijakan, persaingan ekonomi dan juga politik kebudayaan.

Pangkalan Pungut GMSS SKM yang berada di Jalan Abdul Muthalib, bersebelahan dengan Masjid Al Misbach menjadi tempat paling tepat untuk membincang matinya budaya air di Kalimantan Timur.

Kalimantan Timur terbilang jarang dibincang diluar konteks hutan dan ekploitasi sumber daya alam. Kaltim identik dengan hutan hujan tropis, minyak, gas dan batubara, serta orang hutan dan orang utan.

Teramat jarang Kaltim disorot dari sisi airnya, kebudayaan air, orang-orang air. Padahal kawasan perairan Kalimantan Timur juga terbilang amat luas, baik perairan laut maupun perairan darat berupa sungai, danau dan rawa-rawa {SADAR}.

Padahal Kota-Kota di Kalimantan Timur umumnya tumbuh di tepian air atau Kota Di Tepian Aliran Sungai {KITAS}. Tapi budaya air jarang diperbincangkan, semakin hari air bahkan semakin dipandang sebagai daya rusak.

Merujuk pada kosmologi yang terekam lewat berbagai kisah legenda dan kepercayaan tradisional akan teramat jelas bahwa puncak peradaban masyarakat Kalimantan Timur di masa lalu ada pada hutan dan pesisir {air asin dan air tawar}.

Upacara-upacara adat mengkonfirmasi realitas itu dimana pernak-pernik yang dipakai mempertemukan unsur daratan dan air. Kesadaran bahwa air adalah sumber penghidupan, bukan hanya karena merupakan sumber air bersih belaka nampak dalam ‘penghormatan’ pada banjir.

Ya banjir, dimasa lalu adalah cara alam menyebarkan kesuburan dari rimba pada perlembahan. Sehingga begitu banjir surut akan tersedia lahan besar untuk bertanam tanaman pangan.

Bagi masyarakat danau dan rawa, banjir juga merupakan masa panen ikan. Air yang mengenang sejauh mata memandang akan mengeluarkan ikan dari rawa-wara, danau dan sungai dipenuhi oleh ikan.

Menjelang tahun 70-an, banjir bahkan ikonik lewat istilah Banjir Kap. Masa dimana masyarakat dengan alat tradisional boleh menebang hutan. Saat banjir itulah kayu-kayu gelondongan yang maha berat dihanyutkan dari anak-anak sungai menuju Sungai Mahakam.

Semenjak saat itu, Sungai Mahakam yang merupakan anugerah kehidupan yang maha besar kemudian identik dengan pameran ekploitasi atau ekstraksi sumber daya alam besar-besaran. Yang melintas di Sungai Mahakam serba besar dan panjang.

Hingga menjelang tahun 2000-an masih bisa disaksikan rakit kayu yang panjang dan ponton-ponton pengangkut log kayu. Sementara yang kini ramai melintas adalah ponton pengangkut batubara. Sepintas di kejauhan mirip iringan gunung hitam berjalan pelan.

Lalu lalang ponton pengangkut batubara itu menjadi pertanda bahwa selama kurang lebih 78 tahun, kebudayaan Kalimantan Timur secara sistematik dimatikan. Pola eksploitasi sumber daya alam di masa lalu yang berbasis pada hasil hutan non kayu, kemudian berubah menjadi ekstraksi yang tidak berkelanjutan.

Hutan, kayu alami ditebangi dan kemudian tanahnya digali untuk diambil emas hitamnya.

Ekploitasi sumber daya alam besar-besaran dengan jumlah penduduk Kalimantan Timur yang sedikit kemudian memancing bom demografi. Trend ekstraksi sumber daya alam mendatangkan ledakan jumlah penduduk Kaltim berkali-kali, hingga kemudian terjadi ketidakseimbangan demografi antara masyarakat lokal dan pendatang.

Masyarakat pendatang yang membawa kebudayaannya sendiri dan jumlahnya lebih banyak kemudian menjadi dominan. Kebudayaan Kalimantan Timur kemudian terepresi, pelan-pelan luntur hingga tidak menjadi tuntunan dan tuntutan, yang tersisa kini lebih bernuansa tontonan.

BACA JUGA : Hujan Datang, Ayo Tanam Pohon Lagi

Perubahan adalah keniscayaan, pun demikian juga dengan kebudayaan. Dalam kurun waktu tertentu kebudayaan pasti akan berubah, karena pada dasarnya manusia juga akan selalu berubah, berkembang seiring berjalannya kehidupan.

Secara global, perubahan kebudayaan kerap dipicu oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak merubah pola dan perilaku kehidupan.

Namun dalam skala mikro, dinamika kebudayaan kerap dipengaruhi oleh perubahan pola kehidupan manusia dalam lingkungan masyarakat. Perubahan demografi misalnya akan dengan cepat merubah pola atau kebiasaan masyarakat setempat dalam berbagai hal.

Secara demografis, Orde Baru melakukan rekayasa kebudayaan lewat program transmigrasi. Penduduk dari Jawa dipindahkan ke pulau-pulau lain yang jarang penduduknya. Salah satu tujuannya adalah merubah pola cocok tanam masyarakat tradisional dengan pola pertanian yang dipraktekkan oleh masyarakat Jawa, yakni persawahan atau budidaya tanaman pangan utamanya padi.

Program Transmigrasi kemudian menjadi tulang punggung dari ekstensifikasi dan intensifikasi tanaman pangan lewat revolusi hijau, garis kebijakan pangan Suharto untuk menuju swasembada pangan.

Dengan alas kebijakan ini, Suharto kemudian menerapkan praktek pertanian di pulau Jawa sebagai standar pertanian bagi seluruh wilayah Indonesia. Pertanian pangan kemudian identik dengan padi. Padi yang ditanampun juga padi yang tersertifikasi sebagai padi varietas unggul. Namun walau unggul, bulirnya tidak bisa lagi ditanam, petani tidak bisa menghasilkan bibit sendiri.

Demi meningkatkan hasil atau intensifikasi, padi kemudian dipupuk dengan pupuk buatan pabrik. Asupan pupuk dari pabrik membuat petani atau masyarakat lokal kehilangan cara dan kebiasaan memproduksi kesuburan dari sumber-sumber alamiah {organik}.

Infrastuktur atau sarana pendukung pertanian yang dibangun juga bernuansa Jawa. Suharto membangun bendungan-bendungan dan jaringan irigasi untuk pertanian tanaman pangan. Kebijakan ini tidak mempertimbangkan bahwa sungai adalah alur transportasi bagi banyak masyarakat di luar Jawa.

Pembangunan bendungan secara ekologis juga merubah ekosistem sungai, sehingga terjadi perbedaan biota air antara wilayah sebelum dan sesudah bendungan. Sungai yang tidak terkoneksi itu kemudian memunahkan berbagai jenis ikan, karena ikan dari hilir tidak bisa lagi kembali ke hulu akibat terhalang oleh pintu air atau spill way.

Di Jawa sebutan nelayan umumnya berlaku untuk pencari ikan di pesisir atau laut, sementara di Kalimantan Timur sebagian nelayan adalah pencari ikan di sungai, danau dan rawa. Rekayasa air di sungai dan lainnya akan membuat nelayan kesulitan mencari penghasilan.

Pun demikian dengan sungai-sungai di Jawa yang mempunyai sumber air di hulu cukup besar, sementara di Kalimantan Timur umumnya sungai-sungai sumber airnya berasal dari air permukaan atau air hujan. Pembendungan sungai bisa mengakibatkan ketidak seimbangan air antara hulu dan hilir.

BACA JUGA : Slacktivism, Shadowbanning Dan Semangka

Di tepi Sungai Karang Mumus, pertanyaan “Seperti apa wajah kebudayaan di Kalimantan Timur?” membuat saya, Roedy Haryo yang akrab dipanggil Romo Rudi dan Maulana Yudhistira yang kini dikenal sebagai Lelaki Dapur itu tak mudah untuk menjawab.

Yang pasti istilah kebudayaan kerap kali dimerosotkan hanya menjadi kesenian. Dan bicara kesenian, utamanya seni pertunjukan tak bisa dibilang sepi. Atas nama regim pariwisata, Calendar of event Kalimantan Timur banyak diisi oleh kegiatan berlabel kebudayaan. Kaltim terbilang rajin menyelenggarakan acara baik di daerah maupun diluar daerah untuk mempertontonkan ‘kebudayaan’ nya, terlebih lagi ketika IKN kemudian dipindahkan dari DKI Jakarta, ke wilayah Kalimantan Timur.

Kriya, wastra dan tari menjadi unggulan yang mewakili kebudayaan Kalimantan Timur dalam event-event yang megah. Namun di akar rumput apa yang terjadi, pertunjukan tari atau kesenian yang dibiayai sendiri oleh masyarakat terbilang langka. Yang terkenal malah seni tari dari Jawa, Jaranan. Tak perlu bikin proposal atau usulan ke pemerintah, pertunjukan Jaranan hampir setiap minggunya selalu ada dan ramai.

Pun upacara-upacara adat, semakin hari bisa terselenggara karena integrasi dengan calendar of event, nuansanya menjadi sangat seremonial, kehilangan sentuhan magis dan spiritual. Sebagian penonton dan pesertanya adalah undangan, bukan orang-orang yang ingin merayakan kebudayaan. Dan diselenggarakan sebagai acara pariwisata namun sesungguhnya wisatawan yang datang datanya juga anekdotal.

Tidak ada jawaban yang benar-benar terang dan juga benar perihal wajah kebudayaan di Kalimantan Timur. Sebab dinamikanya sungguh kompleks. Satu hal yang pasti apa yang dulu merupakan kekuatan penyangga kebudayaan kini tinggal menjadi puing-puing. Budaya yang tumbuh dari interaksi masyarakat dengan lingkungannya kini sirna karena lingkungan yang berubah dengan cepat.

Baik kawasan hutan dan air semua seperti diarahkan menjadi daratan. Kebudayaan menjadi diskontinu karena sumber penyangganya mengalami defisit. Meski beroleh banyak uang dari bagi hasil ekploitasi sumber daya alam, Kalimantan Timur punya hutang besar yakni hutang ekologi.

Pemerintah daerah provinsi Kalimantan Timur pada masa pemerintahan Gubernur Awang Faroek Ishak berupaya ‘membayar’ hutang ekologis, mencegah kerusakan dan pengrusakan alam secara massif lewat deklarasi Kaltim Hijau.

Kaltim mendeklarasikan diri sebagai provinsi yang akan menyandarkan pada pertumbuhan ekonomi rendah karbon. AFI melakukan moratorium tambang dan juga perkebunan sawit.

Namun dengan kewenangan yang semakin terbatas, moratorium itu tak efektif di lapangan. Sampai hari ini Kaltim masih terus ditambang besar-besaran oleh penambang legal dan ilegal. Konversi lahan menjadi kebun sawit juga terus dilakukan.

Hutang ekologis itu belum terbayar, revitalisasi kebudayaan berdasarkan kearifan lokal sulit untuk dilakukan karena kearifan lokal selalu merupakan saripati dari relasi masyarakat dengan lingkungannya.

Maka kebudayaan kontemporer atau terkini dari Kalimantan Timur sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh faktor ekstenal. Faktor kebijakan pemerintah, politik ekonomi, demografi dengan segala turunannya.

Dan guncangan kebudayaan mungkin akan terus mengiringi Kalimantan Timur seiring dengan perkembangan proyek Ibu Kota Negara baru yakni Kota Nusantara.