KESAH.ID Relasi antara manusia dengan sungai berubah dari waktu ke waktu. Dan semakin hari pola relasinya menjadi semakin ekploitatif. Dan sungai yang kemudian bermasalah dipulihkan dengan cara yang tidak berkesesuaian air. Masih butuh waktu yang panjang untuk menanamkan konsep restorasi ekosistem yang bertujuan mengembalikan keseimbangan siklus hidrologi sungai dan fungsi esensialnya sebagai habitat bagi mahkluk hidup yang membutuhkan jasa atau layanan ekologi ekosistem sungai.

Cuaca panas yang membakar Samarinda dalam beberapa bulan terakhir mulai mencemaskan. Pasalnya jika hujan tak segera turun, air Sungai Mahakam akan turun debitnya. Akibatnya saat air laut pasang, instrusi air laut akan menyebabkan kandungan garam dalam air sungai akan meningkat. Jika kadar garam meningkat maka perusahaan daerah air minum Samarinda yang bahan bakunya berasal dari Sungai Mahakam akan berhenti berproduksi. Masyarakat Kota Samarinda bakal kesulitan air bersih, biaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih akan meningkat karena warga terpaksa harus memberi air tangki.

Sebenarnya meski Perumdam masih berproduksi, warga beberapa wilayah Kota Samarinda sudah mengalami kesulitan air. Warga yang didaerahnya belum dialiri air ledeng mesti harus mulai membeli air karena tak bisa lagi menampung air hujan dan sumber airnya mengering.

Petani di beberapa wilayah Kota Samarinda juga mulai kesulitan air, ada yang mulai menyedot air sungai untuk menyiram tanamannya walau dampaknya buruk untuk tanaman karena air sungainya telah tercemar.

Lahan pertanian yang mengering karena kekurangan air bahkan sampai menyebabkan fenomena unik yang terbilang langka. Kota Samarinda mengalami kejadian unik dimana Kangkung disebut sebagai salah satu penyebab inflasi.

Padahal biasanya inflasi disebabkan oleh beras, ikan dan cabai.

Inflasi dipicu oleh Kangkung karena fenomena panas dan kekeringan. Kangkung yang masa tanamnya pendek kemudian mengalami jeda tanam karena petani kekurangan air. Kangkung adalah sejenis tanaman yang pertumbuhannya amat tergantung pada ketersediaan air.

Semenjak pandemi Covid 19, konsumsi Kangkung di Samarinda memang meningkat karena trend “Ayam Ganja”, ayam ungkep goreng yang ditemani kondimen Kangkung Goreng.

Kenaikan konsumsi dan kekurangan pasokan menyebabkan harga Kangkung meningkat hingga 12 ribu rupiah per kilogramnya.

Untungnya seperti judul lagu, bulan November ternyata mulai disirami oleh hujan. November ternyata benar-benar saat nom nome sumber atau muda-mudanya {mata} air. Hujan yang cukup deras, merata dan bertahan dalam waktu yang cukup lama mulai menguyur Kota Samarinda.

Bau yang lama tak tercium yakni uap tanah yang lembab mulai dirasakan menganti bau debu yang kerap terasa gatal jika menerpa permukaan kulit.

Maka adalah tepat jika kemudian anak-anak muda yang tergabung dalam Ganjar Milenial Centre atau GMC kemudian berencana melakukan kegiatan penanaman pohon di area restorasi ekosistem Sungai Karang Mumus yang berada di kompleks Sekolah Sungai Karang Mumus {Sesukamu} di Muang Ilir, Lempake, Samarinda Utara.

Kegiatan tanam pohon yang dilakukan oleh GMC menjadi pembuka seri restorasi Sungai Karang Mumus yang untuk sementara terhenti karena cuaca panas dan kegiatan proyek normalisasi Sungai Karang Mumus.

Dalam kegiatan ini peserta tanam pohon yang diselenggarakan oleh GMC ini menanam salah satu tumbuhan native species Sungai Karang Mumus yakni Pohon Bayur.

Ganjar Milenial Centre {GMC} Kaltim melakukan penanaman pohon spesies lokal Sungai Karang Mumus di area restorasi ekosistem SKM Muang Ilir, Lempake, Samarinda Utara.

BACA JUGA : Slacktivism, Shadowbanning Dan Semangka

Sebanyak 30-an peserta kegiatan, sebelum melakukan penanaman mengikuti sesi sekolah sungai sebagai bekal agar mereka mengerti tujuan utama penanaman pohon untuk memulihkan ekosistem sungai.

Materi restorasi ekosistem sungai diberikan oleh Yustinus Sapto Hardjanto, co-founder Sesukamu yang kini aktif di Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kaltim.

Dalam paparannya disampaikan kepada peserta bahwa salah satu fungsi Sungai Karang Mumus yang masih bertahan hingga saat ini adalah sebagai sumber air bersih, baik untuk keperluan rumah tangga, industri kecil maupun pertanian.

Dengan semua permasalahan yang menimpa Sungai Karang Mumus pada saat ini maka yang dibutuhkan oleh Sungai Karang Mumus adalah pemulihan kualitas, kuantitas dan kontinuitas airnya.

Air Sungai Karang Mumus saat ini merupakan salah satu dari air sungai yang kualitasnya terburuk di Kalimantan Timur akibat cemaran limbah rumah tangga, limbah pertanian dan erosi lahan akibat bukaan atau konversi lahan yang tidak berkesesuaian dengan air.

Kuantitas air Sungai Karang Mumus juga bermasalah karena amat berlimpah air di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Dua kondisi ekstrim ini membuat kontinuitas atau ketersediaan air sepanjang musim menjadi terganggu. Masyarakat sekitar Sungai Karang Mumus yang memanfaatkan airnya secara langsung akan kekurangan pasokan air di musim kemarau.

Permasalahan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air kemudian semakin diperparah oleh kebijakan pemerintah yang menempatkan Sungai Karang Mumus bukan sebagai sistem keairan/pengairan melainkan hanya sebagai sistem pengaliran.

Intervensi pemerintah terhadap Sungai Karang Mumus dengan skema pembangunan sungai yang dinamai normalisasi, lebih dimaksudkan untuk meningkatkan daya tampung sungai dan memperlancar aliran air sungai agar Sungai Karang Mumus lebih berfungsi sebagai sarana mengatasi banjir di Kota Samarinda.

Masalah yang coba diatasi lewat kegiatan normalisasi lebih berpihak kepada masalah di hilir daripada di hulunya. Memang tak bisa disangkal, Sungai Karang Mumus di wilayah hilir memang mengalami masalah dengan okupasi ruang sungai oleh masyarakat sehingga menyebabkan ruang air hilang atau terganggu fungsinya.

Okupasi juga menyebabkan pemandangan tidak sedap karena pinggiran sungai kemudian menjadi wilayah slum area atau wilayah kumuh. Keberadaan permukiman tepian sungai yang tidak tertata selain menganggu aliran air juga menimbulkan pemandangan yang tidak sedap untuk sebuah kota.

Dan Pemerintah Kota Samarinda memilih untuk mengusur permukiman pinggiran sungai ketimbang menatanya. Namun ruang sungai yang bisa dibebaskan dari permukiman itu kemudian tidak dikembalikan ke kondisi asalinya, melainkan direkayasa menjadi ekosistem baru yang dimaksudkan untuk mendukung eksistensi sungai.

Hanya saja ekosistem baru yang dibentuk berupa taman atau ruang terbuka hijau kemudian terpisah oleh batas berupa sheet pile yang terbuat dari semen. Normalisasi yang ditandai dengan turap dan tanggul sungai membuat ekosistem air tidak terhubung dengan ekosistem daratan. Sungai kehilangan ekosistem antara yang sebenarnya kaya dengan keragaman flora dan fauna.

Bisa disimpulkan kegiatan normalisasi sungai yang menelan biaya sangat besar secara konsepsual maupun praksis tidak menjawab permasalahan esensial dari Sungai Karang Mumus. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas air tidak membaik setelah dilakukan normalisasi sungai.

Peserta tanam pohon Ganjar Milenial Centre berfoto seusai menanam pohon spesies lokal di area restorasi ekosistem Sungai Karang Mumus, Sesukamu, Muang Ilir, Lempake, Samarinda Utara.

BACA JUGA : Banjir Kemestian Yang Jadi Bencana

Dengan slogan ‘Memulihkan, Menjaga dan Merawat’ Sungai Karang Mumus, GMSS SKM lewat Sesukamu ‘mengokupasi’ segmen antara Jembatan Muang – Jembatan Betapus/Belimau kegiatan restorasi ekosistem Sungai Karang Mumus.

Upaya ini dilakukan sejak tahun 2016 lewat studi vegetasi yang dulunya tumbuh di kanan kiri Sungai Karang Mumus di bagian tengah alirannya. Studi dilakukan lewat susur sungai baik lewat sisi daratan maupun sisi air dan dialog atau berbagai cerita dengan warga yang tinggal di sekitar Sungai Karang Mumus.

Dari studi ini ditemukan komposisi vegetasi pada zona aquatic, zona pasang surut {amphibi} dan zona kering. Beberapa pohon yang banyak diceritakan oleh warga masih bisa ditemui, beberapa lainnya tinggal tersisa satu atau dua pohon dan beberapa lainnya punah.

Dari informasi dan temuan jenis-jenis pohon yang masih ada di tapak, Sesukamu kemudian mengembangkan rumah bibit untuk mempersiapkan berbagai jenis pohon spesies lokal Sungai Karang Mumus.

Pembibitan dilakukan dengan mengambil bibit dari alam dan menyemai biji yang diambil dari pohon-pohon di sekitar Sungai Karang Mumus. Tidak semuanya bisa dibibitkan karena ada beberapa jenis pohon yang hanya bisa bertunas jika buahnya dimakan oleh binatang dan kemudian bijinya dikeluarkan sebagai kotoran.

Hampir satu tahun Sesukamu menyiapkan bibit spesies lokal Sungai Karang Mumus untuk pengayaan vegetasi di area restorasi ekosistem sungai. Ribuan pohon telah ditanam dan dijaga selama kurang lebih 6 tahun.

Kini riparian atau hutan tepi Sungai Karang Mumus di Muang Ilir telah terbentuk dan akan diteruskan hingga Jembatan Betapus – Belimau. Agar masyarakat Kota Samarinda mempunyai oase sungai yang menyejukkan.

Riparian Sungai Karang Mumus di area Sesukamu kini telah menjadi pustaka alam, tempat belajar bagi siapapun yang peduli pada sungai untuk memulihkan, menjaga dan merawat sungainya.

Dengan memperlakukan sungai bukan semata sebagai saluran untuk membuang air secepat mungkin kelaut, kita akan mengembalikan fungsi essensial sungai sebagai habitat bagi mahkluk hidup. Tempat manusia dan mahkluk lainnya memperoleh layanan ekosistem berupa air bersih dan sumber nutrisi serta protein yang sehat.

Sayangnya merubah paradigma atau cara berpikir terutama mereka yang diberi mandat untuk membelanjakan uang negara tidaklah mudah. Dan GMSS SKM serta Sesukamu mengambil jalan sunyi dengan cara merubah isi kepala siapapun yang bersedia belajar memperlakukan sungai dengan benar.

Generasi muda adalah bagian penting dari pendidikan dan komunikasi untuk perubahan perilaku karena kelak mereka yang akan menjadi pemimpin pemerintah di masa mendatang. Jika isi kepala mereka sudah benar maka kelak mereka bisa melakukan perubahan pada perilaku kebijakan, orientasi dan laku pembangunannya akan seimbang karena bukan hanya berpihak pada kepentingan manusia atau warga semata melainkan juga mahkluk hidup penghuni alam lainnya.

Konsep pembangunan yang menyingkirkan mahkluk lain dari habitatnya pada akhirnya akan mengundang bencana yang sulit untuk dipulihkan.

Disadari atau tidak, cara mengatasi banjir dengan melakukan normalisasi sungai seperti yang dipraktekkan di Sungai Karang Mumus selama ini, belum bisa dibuktikan efektif membebaskan sebagian wilayah Samarinda dari banjir, namun bisa dipastikan normalisasi akan mengundang bencana lain yakni kekeringan.

Jika semua air hujan yang menjadi air permukaan dengan cepat dibuang lewat sungai, kita tak punya kesempatan untuk menanam atau meresapkan air ke dalam tanah, mengisi kantong-kantong air atau lumbung air yang akan menjadi sumber ketika musim kemarau tiba.

Mengatasi banjir dengan cara membuang air, sama halnya tengah dengan sengaja memanggil kekeringan datang di musim kemarau.

note : video kegiatan tanam pohon Ganjar Milenial Centre {GMC} bisa disaksikan di tautan berikut ini 

Ayuk Tanam Pohon