KESAH.ID – Platform media sosial sering kali mempunyai kebijakan tersendiri terhadap isu-isu, peristiwa atau kondisi yang sedang terjadi di tingkatan global. Atas isu tertentu mereka bisa punya kebijakan untuk menghapus konten, membekukan akun atau melakukan pembatasan tanpa persetujuan pemilik akun. Isu konflik antara Israel dan Palestina termasuk salah satu yang mengalami pembatasan konten.
Coba ketik kata kunci ‘semangka’ di kolom pencarian google dan apa yang muncul. Laman yang akan muncul di hasil pencarian teratas bukan berisi tentang bagaimana budidaya semangka atau apa manfaat semangka melainkan judul-judul yang mengkaitkan semangka sebagai simbol perlawanan Palestina pada Israel, atau bentuk dukungan dan solidaritas pada perjuangan Palestina.
Sejak serangan Hamas pada Israel pada 7 Oktober 2023, serangan yang kemudian dibalas dengan membabi-buta oleh Israel dalam opini masyarakat Internasional kemudian disebut sebagai ‘genosida terhadap warga sipil Palestina’.
Serangan balasan Israel kemudian memunculkan sentimen peningkatan aktivitas di media sosial yang signifikan terhadap apa yang terjadi di Gaza. Postingan di media sosial banyak menyertakan tagar #gazaunderattack dan #freepalestine.
Namun media sosial juga tidak hanya dipenuhi dengan mereka yang bersimpati pada masyarakat Palestina. Propaganda dari Israel yang mengalang dukungan dari dunia Internasional juga bermunculan. Tagar #standwithisrael dan #standwithpalestine berperang di udara.
Media sosial memang memainkan peranan penting dalam berbagai situasi, termasuk situasi perang. Yang berperang saling melakukan proganda untuk mempengaruhi publik dunia. Secara kecenderungan umumnya pemakai media sosial di Indonesia lebih memilih menunjukkan solidaritas pada masyarakat Palestina. Dan sebagian dari antaranya melakukan advokasi untuk meningkatkan kesadaran akan krisis kemanusian di Palestina guna mendorongkan desakan agar Israel menghentikan agresi dan kejahatan kemanusiaan di Gaza.
Hanya saja dengan berbagai alasan termasuk alasan melanggar standar komunitas, penyelenggara media sosial melakukan moderasi terhadap berbagai konten terkait advokasi pada masyarakat sipil Palestina.
Israel konon juga aktif untuk melakukan propaganda dan aksi guna menghapus dan menghilangkan jejak digital terkait Palestina. Meta sebagai pemilik facebook dan instagram melakukan ribuan tindakan pembatasan terhadap konten Palestina, menutup akun dan melakukan shadowbanning atau pembatasan penyebaran konten tanpa pemberitahuan dan persetujuan dari pemilik akun.
Kebijakan dari beberapa penyedia jasa layanan media sosial ini kemudian memunculkan berbagai postingan di media sosial untuk menghindari sensor atau pembatasan. Kampanye pro-Palestina kemudian diwarnai dengan berbagai macam jenis ilustrasi dengan memakai buah semangka. Foto, karya seni, kolase hingga emoji buah semangka tersebar luas di media sosial.
Apa sebenarnya makna buah semangka dalam perjuangan kemerdekaan Palestina?.
BACA JUGA : Banjir Kemestian Yang Menjadi Bencana
Kampanye watermelon resistance sebenarnya bermula lebih dari lima puluh tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1967 setelah Perang Enam Hari yang membuat Israel menguasai Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur.
Pada waktu itu pemerintah Israel melarang pengibaran bendera Palestina di tempat umum, yang nekat akan dikenakan tuduhan melakukan aksi kriminal.
Untuk melawan kriminalisasi oleh Israel itu, masyarakat Palestina dan pendukungnya kemudian melakukan intepretasi visual sehingga ditemukan bahwa buah semangka yang daging buahnya berwarna merah, bijinya hitam dan kulitnya berwarna putih hijau dianggap merepresentasikan warna bendera dan identitas nasional Palestina.
Sejak itu semangat perlawanan melalui semangka dikobarkan. Dalam setiap aksinya masyarakat Palestina kemudian mengibarkan bendera bergambar buah semangka.
Semangka kemudian menjadi bagian dari perjuangan rakyat Palestina karena pada tahun 1987 – 1993 pemerintah Israel melarang rakyat Palestina menanam beberapa jenis tanaman pangan varietas asli Palestina, termasuk salah satunya semangka.
Tindakan pemerintah Israel ini mengusik aspek kedaulatan pangan masyarakat Palestina karena diintervensi agar menanam bibit-bibit atau varietas hibrida.
Kebijakan Israel ini hampir memunahkan varietas semangka Palestina yang dikenal dengan nama Jadu’i. Maka selain merepresentasikan warna bendera dan identitas nasional, semangka juga menjadi simbol dari semangat rakyat Palestina untuk mempertahankan kedaulatan atas lahan atau tanah mereka.
Tahun 2021 lalu, pemakaian simbol semangka juga marak ketika pemerintah Israel mengancam dan mengusir penduduk Palestina di Syeikh Jarrah karena hendak mengembangkan fasilitas umum bagi Yahudi Israel. Simbol semangka muncul dalam kampanye media sosial juga aksi-aksi di jalanan.
BACA JUGA : Smart Farming Resep Anak Muda Mau Bertani
Maraknya penggunaan kampanye semangka untuk menghindari sensor dan pembatasan konten juga diikuti dengan trik lain yang disebut algospeak. Sebuah cara untuk mengelabui algoritma yang dipakai oleh platform media sosial.
Para pemakai media sosial yang bersimpati pada masyarakat Palestina menciptakan kata-kata baru atau menggunakan kode untuk menganti kata asli dalam postingan atau percakapan di media sosial agar tak dideteksi atau dikenali oleh algoritma sehingga dibatasi penyebaran kontennya. P4le5+ina, i5r4el, G4z@ adalah salah satu contoh algospeak untuk menyebut Palestina, Israel dan Gaza.
Kebijakan shadow banning, pembatasan konten hingga pembekuan akun oleh pemilik platform media sosial memang efektif. Banyak pemakai akun aktif yang telah punya pengikut yang banyak kemudian enggan mengekpresikan keprihatinan atau pembelaan, karena resiko kehilangan akun atau akunnya menjadi tidak berkembang akibat intervensi algoritma yang diterapkan oleh platform media sosial.
Meski begitu selalu ada cara agar kemudian ekpresi pembelaan dan keprihatinan serta berbagai bentuk advokasi untuk masyarakat Palestina tetap bisa dilakukan dengan cara-cara yang kreatif dan tidak terdeteksi oleh algoritma platform.
Sampai dengan hari ini buah semangka nampaknya masih bebas atau belum termasuk dalam daftar sensor. Pemakai media sosialpun juga semakin kreatif dalam menampilkan semangka.
Disisi lain water melon resistance memang lebih bisa diterima karena pesannya yang cenderung damai, ramah, segar dan universal. Semangka dengan semua warnanya mempunyai pesan bahwa konflik antara Israel dan Palestina melampaui isu agama atau kelompok tertentu. Semangka merupakan representasi warna yang beragam, panggilan pada kemanusiaan dan berlaku universal.
Karena ciri itu kampanye semangka lebih menarik banyak pihak. Dengan mengetikkan #freepalestine maka segera akan muncul gambar atau link-link yang berisi postingan buah semangka.
Dalam bahasa aktivisme, partisipasi kita dalam menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Palestina lewat internet disebut dengan slacktivism. Sebuah aktivitas selemah-lemahnya iman dalam bahasa religius.
Peranan di media sosial adalah partisipasi minimal yang kemudian mesti diperluas dan didalami agar kita tidak menjadi aktivis gabut, berteriak kencang namun sesungguhnya tidur-tiduran saja di sofa.
Karena media sosial merupakan medan pertempuran informasi dan propaganda, maka sebelum turut serta ‘bertempur’ kita mestinya mencari dan memahami konteks serta informasi yang benar serta akurat tentang konflik antara Israel dan Palestina.
Dengan penguasaan informasi yang baik, pesan yang kita sebarkan akan menjadi lebih bermakna.
note : sumber gambar ilustrasi – THENATIONALNEWS.COM







