KESAH.IDSamarinda, nama itu tumbuh dari kesadaran tentang permukaan air Sungai Mahakam yang sama tinggi dan sama rendah dengan permukaan tanah permukiman sekitarnya. Kota Samarinda tumbuh dari dataran banjir atau flood plain, tempat air sungai meluap atau air hujan tergenang sebelum bergiliran masuk ke sungai. Banjir atau genangan air adalah kemestian di kota ini. Namun kemudian menjadi bencana karena ruang airnya hilang.

“Tenang Pak Tani, saya sudah ada disini,” ucapan sang hujan itu melegakan para petani yang sudah beberapa bulan ini berada dalam kekhawatiran karena bibit yang ditanamnya kekurangan air. Ada banyak petani yang sia-sia bertanam, bibit semula tumbuh subur kemudian merana, kurus bahkan mati sia-sia.

Ternyata November Rain memang benar. Samarinda diguyur hujan deras, cukup lama dan merata.

Saya merayakan hujan deras pertama bukan dengan main hujan-hujanan melainkan berteduh di sebuah kedai kopi yang ada tak jauh dari tepian Sungai Karang Mumus. Hujan deras, kopi panas, gorengan hangat dan hembusan asap rokok menjadi orkestra sempurna untuk menyambut hujan meski ada sedikit kekhawatiran kalau di rumah ada bocor disana-sini.

Tapi kekhawatiran itu sirna karena tertimpa oleh keasyikan bercengkrama. Di warung kopi itu saya tak sengaja bertemu dengan Pak Awang Darma Bakti, salah seorang pejabat penting di Kalimantan Timur pada masa lalu yang tumbuh dari tepian Sungai Karang Mumus.

“Saya dulu tinggal disitu,” ujarnya sambil menunjuk kearah Masjid Al Misbach yang sekarang amat megah. Dulu masjid itu adalah Mushola di tepian Sungai Karang Mumus.

“Istri saya tinggal disini,” maksudnya di tempat yang sekarang menjadi warung gorengan dan kedai kopi.

Sambil melanjutkan bahwa rumah mertuanya waktu itu merupakan salah satu dari 3 rumah yang bagus di tepian Karang Mumus. “Sekarang nggak kelihatan lagi,” lanjutnya sambil menunjukkan bekas-bekas yang tersisa.

Nostalgia berlanjut dengan nama-nama di sepanjang jalan Muso Salim, Abdul Muthalib dan Tarmidi pada saat ini. Dulu simpangan, pertigaan dan perempatan atau gang dinamai dengan sesuatu yang menonjol disitu.

Pak Awang kemudian menyebut nama Pertigaan Ipit sambil tertawa. “Tahukah kenapa?” tanyanya.

Tanpa saya jawab kemudian dia mengisahkan bahwa di pertigaan itu dulu ada warung besar, warungnya Haji Ipit.

Ingatan Pak ADB sebutan populer Pak Awang Darma Bakti ternyata masih kuat. Dia menyebutkan bahwa di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus ada 7 warung yang populer untuk bahelam, warung tempat orang berkumpul minum kopi sambil ngobrol kanan kiri.

Sayapun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menanyakan wajah Karang Mumus pada masa itu.

Ternyata yang diceritakannya hampir tak terbayangkan oleh saya pada saat ini.

“Dulu disini dipenuhi pohon Rumbia, pohon yang bisa diolah jadi sagu,” ujarnya.

Istrinya pun ikut menimpali.

“Kalau dipinggir sungai yang tumbuh rumbia, tapi disini di belakang rumah banyak pohon langsat, tarap dan lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa buah itu bisa diambil dari beranda rumah panggungnya.

Ingatan saya melayang ke masa beberapa tahun lalu saat segmen aliran Sungai Karang Mumus kearah hulu setelah Universitas Mulawarman yang masih ditumbuhi pohon rumbia cukup lebat. Kini sudah hilang karena sungai dikeruk dan dilebarkan.

BACA JUGA : Smart Farming, Resep Anak Muda Mau Bertani

Dari sekelumit obrolan yang kerap terganggu oleh riuh bunyi guyuran hujan menerpa atap seng, Bapak dan Ibu Awang Darma Bakti mengonfirmasi bahwa Kota Samarinda banyak kehilangan anak-anak sungainya.

“Dulu di depan rumah ini dan disamping sana ada sungai besar,” ujar ADB.

Ibu ADB bahkan menceritakan bahwa dulu dirinya belajar berenang di sungai itu, bukan Sungai Karang Mumus.

Sembari menceritakan kisah itu disebut tentang anak-anak seusia mereka dulu yang mengalami celaka hingga ada yang meninggal, mati lemas di sungai.

Dan sekarang, bocah yang dahulu kerap ramai-ramai ikut mandi-mandi di sungai itu masih ada yang duduku sebagai petinggi di sebuah rumah sakit besar di Kota Samarinda.

Saya dahulu mengamini sebuah pernyataan bahwa Karang Mumus adalah kolam renang pertama bagi anak-anak Samarinda, keyakinan itu nampaknya mesti saya koreksi karena berdasarkan kesaksian Bapak Ibu ADB ternyata kebanyakan bukan belajar berenang di Sungai Karang Mumus melainkan anak-anak sungainya, atau sungai yang menghubungan antara Karang Mumus dengan Mahakam.

“Dulu sungai-sungai itu bisa dilalui perahu yang membawa kelapa dari Sulawesi,” tutur ADB untuk mengambarkan lebarnya sungai yang menghubungkan antara Karang Mumus dan Mahakam.

Ada banyak jalur sungai yang diceritakan olehnya. Saya tak ingat persis karena sembari mendengar cerita, saya teringat pada tulisan tentang Amsterdam Mini atau de klein Amsterdam. Di masa kolonial Belanda, Kota Samarinda yang merupakan pusat perdagangan ditetapkan sebagai vierkantee-paal atau tempat kedudukan asisten residen Afdeeling Oost Borneo atau Pemerintahan Hindia Belanda di Borneo Timur.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda waktu itu segera menyadari bahwa Samarinda datarannya sama rendah dan sama tinggi dengan permukaan air Sungai Mahakam. Merekapun kemudian menata Kota Samarinda seperti kota-kota di Eropa, dilengkapi dengan kanal-kanal besar yang bisa dilewati oleh perahu dan kapal yang cukup besar.

Masyarakat waktu itu kemudian mengenal kanal itu sebagai sungai karena mungkin saja sebagian diantaranya adalah anak, cabang atau ranting Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus. Dalam ingatan masyarakat Samarinda kanal itu cukup luas, perahu bisa berpapasan dari dua arah, dan juga cukup dalam sehingga ketika Sungai Mahakam atau Karang Mumus surut perahu tidak kandas.

Selain sebagai sarana transportasi, kanal-kanal itu juga dimaksudkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menampung air permukaan atau run off di musim penghujan. Kanal dijadikan ruang penampung air sementara sebelum mengalirkan ke Sungai Mahakam agar hujan yang tidak menimbulkan genangan di permukiman.

Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu menyadari tentang resiko banjir yang merupakan bawaan alam Kota Samarinda. Maka air kemudian diberi ruang yang sekaligus juga bisa dimanfaatkan sebagai alur atau jalur transportasi untuk mengantar komoditas dan barang menuju pasar yang ada di beberapa titik tepian Sungai Karang Mumus. Salah satunya yang bertahan hingga sekarang adalah Pasar Segiri. Wilayah yang sampai tahun 70-an masih dianggap bagian pedalaman Kota Samarinda.

“Rasanya setelah jaman Pak Kadrie Oening, kita kemudian kehilangan sungai-sungai itu,” ujar Pak ADB sambil menerawang menyayangkan kondisi itu.

Seiring dengan bertumbuhnya regim pembangunan orde baru, Kota Samarinda juga mengalami perubahan. Konstruksi rumah di Kota Samarinda yang pada umumnya adalah rumah panggung kemudian mengalami pergeseran menjadi rumah berpondasi. Samarinda dibangun dengan konsepsi daratan, ancaman banjir atau ruang lebar air diabaikan.

“Makanya sekarang banjir dimana-mana,” tegas Pak ADB yang pernah memimpin dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kalimantan Timur.

Pak ADB tahu persis bahwa penyebab banjir yang menjadi semakin parah di Kota Samarinda adalah kehilangan ruang air, salah satunya adalah kanal-kanal yang dulu saling terhubung sehingga bisa menampung air sambil menunggu giliran untuk dialirkan ke Sungai Mahakam.

BACA JUGA : Gibran Korban Atau Dikorbankan?

Bisa dipastikan Samarinda terlahir sebagai wilayah yang kerap tergenang air. Tentu saja yang dimaksudkan dengan Samarinda pada waktu itu adalah daerah perlembahan yang dekat dengan badan air alami, Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus serta Sungai Karang Asam.

Ketika air Sungai Mahakam pasang atau hujan turun, sebagian wilayahnya akan tergenang, sebagian karena air run off yang menunggu giliran masuk ke sungai, sebagian lainnya karena luapan air sungai yang mendapat pasokan air besar dari hulu.

Bekas wilayah rendaman yang relatif basah dalam masa tertentu ini kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk bertanam tanaman pangan. Orang-orang bersawah, menanam padi karena sedimen yang ditinggalkan oleh genangan mengandung kesuburan alami dari material organik yang terdekomposisi di lantai hujan yang kemudian tertransportasi oleh banjir.

Maka tak mengherankan jika ada seorang teman yang paham kondisi geohidrologis Kota Samarinda kemudian memberi insight bahwa banjir atau genangan tak selamanya negatif. Karena salah satu tugas banjir adalah menyebarkan kesuburan ke wilayah yang lebih luas.

Satu tugas atau manfaat banjir lainnya adalah menjadi kesempatan bagi ikan dan binatang air lainnya untuk piknik, berpindah tempat dan menemukan habitat baru, pasangan baru dan lainnya sehingga mutu keturunannya meningkat.

Tapi banjir di masa lalu yang mempunyai nilai anugerah itu kini menjadi masalah. Pembangunan Kota Samarinda yang semakin hari semakin tidak ramah air kemudian membuat banjir murni menjadi bencana. Masyarakat atau bahkan cerdik cendekia di Kota Samarinda sampai berani mengucapkan kata yang seharusnya tabu yakni daya rusak air.

Dengan ruang air yang makin menyempit, perluasan perkerasan lahan yang makin masif, pemerintah Kota Samarinda sekarang ini seperti sedang berperang dengan banjir. Dengan slogan mengatasi banjir, pemerintah seperti tengah balapan liar tanpa wasit dengan air.

Keberhasilan mengatasi banjir di satu titik yang dengan cepat diklaim oleh ‘jubir’ pemerintah kota sesungguhnya bersifat anekdotal. Banjir bisa jadi hilang di sebuah titik, namun tak berarti resiko banjir itu hilang karena bisa jadi dia berpindah ke tempat lain.

Makanya kini mulai lebih sering terdengar ucapan, keluhan atau curhatan di media sosial “Seumur-umur tinggal di Samarinda baru kali ini rumah, jalan, wilayah kami kebanjiran,”.

Wajar kalau sungai, saluran air dan lainnya baru dikeruk kemudian wilayah sekitarnya tidak dihampiri air genangan, tapi tunggu beberapa bulan kemudian atau mungkin tahun depan, air akan kembali ke rumahnya karena saluran-saluran air, anak sungai dan lainnya dengan cepat mendangkal akibat pemakaian atau penggunaan lahan yang tidak berkesesuaian dengan air.

Tantangan Pemerintah Kota Samarinda untuk mengelola air jauh lebih berat dari 10, 20, 30 atau bahkan 50 tahun lalu. Berfokus pada bagaimana membuang genangan air secepat mungkin kelaut akan membuat Samarinda lebih menderita.

Pemanasan global yang dampaknya mulai terasa menuntut daratan Samarinda lebih basah agar kelembaban tanah mampu menahan serangan terik mentari. Namun jika sumber utama air Kota Samarinda yakni air hujan semuanya terbuang ke laut dan tak banyak yang tertampung serta teresapkan ke dalam tanah di wilayah Kota Samarinda niscaya kita akan makin kepanasan bahkan ketika hujan belum lama usai.

Sumber utama air baku atau air bersih kita adalah air permukaan. Maka menahan sebanyak dan selama mungkin air hujan untuk dimanfaatkan, diresapkan atau diparkir sementara justru menjadi tugas utama untuk memastikan Kota Samarinda memperoleh air yang berkualitas, jumlahnya cukup dan tidak terlalu terjadi perbedaan besar antara musim penghujan serta musim kemarau.

Terimakasih Bapak ADB dan Ibu buat perbincangan kecil saat bahelam di warung kopi. Dan ada satu rahasia kecil yang tidak akan saya ceitakan tentang seorang pemimpin yang sampai saat ini masih dikagumi oleh sebagian warga Kota Samarinda terutama senior citizen-nya.

note : sumber gambar ilustrasi – BUSAM.ID