KESAH.ID – Suka-suka lah orang minum kopi dengan atau tanpa gula. Tak ada yang benar atau salah diantara keduanya. Bahwa yang suka meminum kopi tanpa gula kerap mengatai peminum kopi dengan gula adalah perusak cita rasa kopi sejati, biarkan saja. Mungkin mereka takut kena diabet sehingga begitu membenci gula. Pendeknya soal rasa, yang paling benar itu ada orang yang suka citarasa original namun ada pula yang suka rasa mix atau campuran. Atas kesukaan itu masing-masing punya alasan sendiri dan tidak bisa saling menafikan. Meski begitu ada kesukaan yang harus kita lawan yakni suka korupsi dan mempertahankan kekuasaan secara brutaldalam lingkarannya sendiri.
“Jangan pakai air termos,” begitu pesan teman saya pada Mbok Warung langganannya.
Karena sering membayar lebih dari seharusnya, perintah teman saya yang jauh lebih muda dari empunya warung, selalu diturutinya.
Teman saya itu jenis manusia yang percaya bahwa kopi harus diseduh dengan air panas mendidih yang baru diangkat dari kompor.
“Biar masak,” katanya.
Memang benar kalau air untuk menjerang kopi kurang panas, serbuk kopi akan lama mengambang di permukaan gelas, kalau diseruput yang masuk ke mulut bukan air kopi yang nikmat melainkan butiran kopi yang mengotori mulut.
Konvensi menjerang kopi mesti dengan air panas mendidih di tengah masyarakat Jawa dikenal dengan istilah Nasgitel. Kopi itu mesti panas, legi dan kental.
Saking mengagungkan panas untuk menjerang kopi, kemudian memunculkan praktek dan istilah Kopi Joss. Kopi ditaruh arang membara untuk toping-nya. Begitu arang membara menyentuh kopi aka nada bunyi jess dan kopi rasanya joss.
Betulkah begitu?. Entahlah, walau menurut saya dengan ditambahkan arang akan menimbulkan rasa baru, tergantung kayunya. Apapun itu yang jelas kopinya kemudian akan menyerap rasa kayu.
Soal kepercayaan bahwa kopi mesti dijerang dengan air panas yang baru diangkat dari kompor atau tungku sebenarnya berhubungan dengan kecepatan menjerang. Bubuk yang disiram air mendidih akan segera terekstraksi, tak butuh waktu perendaman yang lama.
Maka bukan berarti kopi yang tak diseduh dengan air panas yang masih mengeluarkan asap tidak akan masak. Tentu saja tetap akan terseduh tapi waktunya lebih lama. Sebab pada dasarnya kopi bisa diseduh dengan air dalam suhu normal, air biasa. Hanya saja waktu untuk menyeduhnya bisa berjam-jam. Kopi yang diseduh dengan air biasa disebut cold brew.
Para penyeduh kopi atau barista hampir tak pernah menyeduh kopi dari air mendidih yang baru diangkat dari kompor. Suhu air pasti akan diturunkan lebih dahulu. Bagi para barista, kopi yang diseduh dengan air panas mendidih akan menghasilkan rasa kopi yang gosong atau burn. Kopi tidak akan keluar rasa dan aroma yang sesungguhnya.
Di kalangan barista, rasa atau sensasi kopi merupakan paduan antara gramasi, panas dan waktu seduh. Penyeduhan harus presisi sehingga mereka dilengkapi dengan timbangan dengan timer dan pengukur suhu. Hasilnya adalah kopi yang sophisticated.
Maka orang yang marem dengan kopi nasgitel, secara teori oleh para barista dianggap meminum kopi yang tidak proper.
Nggak proper terutama soal gula. Bagi penikmat kopi sejati, menambahkan gula ke dalam kopi dianggap menciderai rasa dan aroma kopi. Kopi akan kehilangan originalitasnya.
Jangan ada gula diantara kopi kita, mungkin begitu narasi utama dari pecinta kopi fanatik. Bahkan ada lagi yang lebih fanatik dimana yang dianggap kopi hanyalah kopi arabica, robusta, liberica dan exelsa dianggap bukan kopi sejati.
Jadi persoalan merasa diri paling benar, paling asli bukan hanya urusan agama, suku dan bangsa melainkan juga kopi. Saking rigidnya sampai memunculkan istilah coffee specialty untuk arabica dan fine robusta untuk robusta.
BACA JUGA : Membincang Kebudayaan Dari Mana Mau Kemana?
Mulai sekitar tahun 2013 – an ketika muncul gelombang kopi manual brewing, saya mulai keranjingan minum kopi tanpa gula. Muasalnya sederhana saja karena kopi yang diseduh dengan Aeropress, V60, Vietnam Drip, Rockpresso atau bahkan hanya ditubruk itu rasa dan aromanya akan terganggu jika diberi gula.
Walau begitu saya tak menolak untuk minum kopi dengan gula dan merasa enak juga. Minum kopi tanpa gula bukan satu-satunya cara bagi saya untuk menikmati kopi. Hanya saja jika diminta memilih maka saya akan lebih memilih kopi tanpa gula, terutama jika bubuknya dihasilkan dari bean yang baru digiling.
Di luar kebiasaan pada umumnya, cara minum kopi yang saya tidak suka justru ketika dicampur dengan kental manis atau susu. Jika karena tidak terpaksa, saya tak akan meminum apalagi memesan Kopi Susu Gula Aren yang sangat nge-hits itu.
Dan mencampur kopi dengan bahan atau elemen lain sebenarnya bukan barang baru, karena sejak lama kita mengenal kopi mix. Di warung kelontong banyak kopi mix, kopi yang dicampur dengan krim. Sedangkan di kafe atau kedai kopi selain kopi susu ada juga cappuccino, caffee latte, frapuccino, avocado coffee dan lain-lain.
Kebiasaan mencampur kopi dengan bahan lainnya memang sudah lama, tumbuh beriring dengan perkembangan kopi mulai dari Etiphia, Yaman, Turki dan seterusnya.
Di jazirah Arab, dulu kopi dikenal sebagai obat. Maka kopi sering disajikan dengan campuran rempah. Kopi yang di Arab disebut dengan qahwa atau kahwa biasanya beraroma kapulaga. Kopi diseduh dengan cara direbus.
Masyarakat Nusantara juga mempunyai kebiasaan mencampur kopi dengan bahan-bahan lainnya, bahkan mungkin lebih beragam dari budaya kopi di negeri-negeri jazirah lainnya karena Nusantara kaya dengan rempah dan berbagai macam jenis empon-empon.
Dalam wadah untuk menyimpan kopi yang telah digiling, masyarakat Nusantara terbiasa memasukkan panili, kayu manis atau cengkeh, kopi pun kemudian akan beraroma dan berasa rempah karena kopi terkenal menyerap aroma serta rasa disekitarnya.
Makanya Starbuck sangat ketat menjaga rasa dan aroma kopinya. Kedai Starbuck akan melarang perokok mengebulkan asap di dalam ruangan dimana biji kopi disimpan atau di-display. Kopi yang di dalam kebudayaan Nusantara identik dengan rokok, ditolak mentah-mentah oleh Starbuck. Perokok yang ingin ngopi biasanya akan diminta duduk di beranda atau di bagian luar kedai.
Masyarakat Nusantara juga akrab dengan kopi rempah, misalnya kopi jahe, kopi serai atau kombinasi antara keduanya. Kopi diseduh dengan jahe bakar yang sudah digeprek dan kemudian ditambahkan batang serai yang sudah digeprek.
Kopi rempah mempunyai sensasi menghangatkan dan aromanya juga menenangkan. Minum kopi rempah selain membuat perut nyaman juga akan membangkitkan semangat.
Ketika masyarakat Nusantara pada umumnya masih menghasilkan bubuk kopi untuk dikonsumsi sendiri, kopi juga sering disangrai dan digiling dengan campuran jagung, beras, kacang hijau dan lainnya. Penambahan bahan lain ini tidak semata merupakan bentuk ‘kecurangan’ saat kopi didagangkan, melainkan demi menghasilkan kopi yang punya rasa dan sensasi yang berbeda dengan kopi pada umumnya.
Bubuk kopi hasil campuran dengan kacang hijau misalnya, dimaksudkan untuk mendukung kebiasaan kopi cethe. Para penyuka kopi biasanya akan mengoleskan ampas kopi pada rokok. Ampas kopi yang yang berasal dari campuran kopi dan kacang hijau akan lebih menempel di kertas rokok. Kopi campuran dengan kacang hijau bahkan bisa dipakai untuk mem ‘batik’ batang rokok. Ampas kopi menjadi media untuk melukis motif dengan bantuan lidi atau batang korek api.
BACA JUGA : Hujan Datang, Ayo Tanam Pohon Lagi.
Para pengkritik pengibar bendera kopi tanpa gula menganggap pasukan KTG tidak adil. Karena mereka hanya ribut ketika kopi dicampur dengan gula, namun ketika dicampur dengan bahan lainnya justru diam saja atau bahkan kadang ikut menikmatinya, walau kemudian ada sensasi manis-manisnya.
Mereka juga diam saja ketika industri kopi kemudian kerap menghadirkan kepalsuan dengan menyertakan penguat aroma dalam kemasan kopi. Kemasan kopi bean begitu dibuka akan segera menebar aroma kopi yang kuat, walau tak bertahan lama.
Kopi mungkin saja akan berkembang seperti tembakau, yang saat ini banyak sekali jenis flavour, aroma rasanya. Dulu variasi rokok umumnya hanya berasa mentol atau mint, yang inovasinya kemudian memunculkan varian cold atau ice. Namun kini ada rokok rasa teh, rasa buah, rasa kopi, rasa cappucino, moccacino dan lainnya.
Perusahaan yang teguh dengan citarasa kretek seperti Djarum Kudus pun ikut-ikutan trend itu dengan mengeluarkan Djarum 76 Mangga.
Akankah kopi yang sensasi rasanya seperti nangka, jeruk, coklat, almond dan lain-lain karena diberi perasa akan menjadi ‘kopi salah’ sebagaimana kopi yang dicampur gula?.
Saya tak akan menyalahkan, seperti halnya Pak Tino Sidin yang mengasuh acara Gemar Mengambar di TVRI jaman baheula dulu. Pak Tino selalu memuji semua gambar sebagai bagus. Ya semua gambar memang bagus karena mau dipaksa bagaimanapun setiap orang akan mempunyai coretan yang berbeda walau obyek yang digambar sama.
Jadi tak ada istilah benar atau salah dalam urusan menikmati kopi. Mau dikasih gula atau tidak ya sama saja, suka-suka setiap orang. Yang salah itu kalau kopi murah tapi dijual mahal, atau dicampur dengan bahan yang berbahaya sehingga bisa menghasilkan bencana bagi yang mengkonsumsinya.
Mungkin yang lebih benar adalah suka dan tidak suka. Ada yang suka minum kopi tanpa gula tapi ada pula yang keranjingan minum kopi dengan pemanis yang super manis.
Menganggap yang disukai sebagai paling benar dan yang tidak disukai sebagai paling salah tentu bukan sikap yang bijaksana.
Tak perlu menghakimi soal kesukaan atau ketidaksukaan, selama itu bukan soal korupsi dan kekuasaan.
Jadi silahkan saja tetap minum kopi dengan gula, kopi susu gula aren, kopi jahe, kopi serai atau apa saja yang menyenangkan.
Tapi tolong pahami dan mengerti juga jika saya tetap akan memilih americano tanpa gula. Sebab terlalu mahal harga americano jika diberi gula, karena rasanya bakal sama dengan Nescafe atau kopi sachetan lainnya belaka.
note : sumber gambar ilustrasi – ALLISON.ID







