KESAH.ID – Digosipkan dan dipanas-panasi untuk meninggalkan Honda agar bisa kembali berprestasi, Marc Marquez menjelang balapan di Sirkuit Silverstone Inggris justru memperlihatkan niat yang berbeda dalam mengikuti balapan. Merasa tak mungkin lagi mengejar poin untuk menjadi juara dunia, Marquez lebih memilih untuk memakai sisa balapan musim 2023 untuk lebih mencari data yang akan dipakai oleh Honda untuk mengembangkan motor balap yang akan dipakai pada musim 2024 nanti. Marc Marquez tak lagi ngotot mengeber motornya kelewat batas. Start atau finish di belakang tidak lagi menjadi persoalan untuknya.
Penampilan apik Marc Marquez saat pindah dari Moto 2 ke Moto GP membuatnya dijuluki The Baby Alien atau Supermac. Sebagai rookie, Marc langsung meraih gelar pertama di seri Moto GP pada tahun pertama kedatangannya.
Dan setelah itu Marc Marquez terus mendominasi balapan Moto GP mempecundangi pembalap legendari Valentino Rossi dan pembalap-pembalap terkenal lainnya seperti Jorge Lorenzo, Maverick Vinalles, Dani Pedrosa dan Dovisioso.
Untung selalu bisa diraih tapi malang sulit ditolak. Selalu membalap dengan agresif, Marc Marquez sering memacu motornya kelewat batas hingga banyak mengalami kecelakaan. Memasuki seri tahun 2020, Marquez kerap beristirahat karena cidera parah. Mulai dari cidera mata, bahu hingga tangan.
Pulih dari cidera, kembalinya Marc Marquez ke lintasan tidak mulus. Pengembangan motor tanpa arah ketika dirinya tidak membalap membuat Marquez tak menguasai motornya. Dan tetap membalap dalam mode attacking, Marquez kembali jatuh bangun dan kerap istirahat karena cidera.
Masih terus diunggulkan, Marc Marquez terus berupaya untuk merebut posisi agar bisa kembali menjadi juara dunia setelah dikudeta oleh Johan Mir, Fabio Quartararo dan Francesco Bagnaia.
Namun setelah berupaya sedemikian keras, Marc Marquez kembali mencatat rekor sebagai pembalap yang kerap jatuh di lintasan dan gagal finish. Selain membahayakan dirinya sendiri, cara membalap Marc Marquez juga kerap dikomentari sebagai membahayakan balapan oleh pembalap dan petinggi tim lainnya.
Peluang Marc Marquez untuk merebut kursi juara dunia Moto GP 2023 juga sudah tertutup. Motor tunggangannya tak bisa dipakai untuk bersaing. Kalah segala-galanya dengan Ducati, KTM dan Aprillia.
Melihat potensi dirinya yang tidak klop dengan kekuatan motornya, banyak pihak menyarankan dan mengosipkan Marc Marquez akan cabut dari Honda untuk mencari motor yang lebih cocok baginya. Marc kemudian dihubung-hubungkan kembali dengan KTM.
Namun spekulasi Marc Marquez akan mengakhiri kontraknya dengan Honda sirna. Paska Summer Break, Marc Marquez tetap tampil semangat dengan Honda dengan keyakinan baru. Marquez tidak akan mengejar lagi peluang untuk mendulang poin besar apalagi memenangkan kejuaraan. Sisa musim 2023 akan dipakai oleh Marc Marquez untuk mengembangkan Honda agar kembali digdaya pada balapan di tahun 2024.
Pada balapan pertama setelah istirahat paruh musim di Sirkuit Silverstone Inggris, Marquez nampak tidak lagi membalap dengan attacking mode. Sebagai pembalap top, paling banyak menjadi juara dunia daripada pembalap lain yang masih berlaga di lintasan, Marquez tidak lagi memaksa untuk masuk dalam kualifikasi ke 2 agar bisa start di garis depan.
Padahal amat jarang dalam kondisi waras dan sehat, Marquez tidak memaksa motornya untuk masuk dalam persaingan merebut pole position.
Di Silverstone mulai dari latihan bebas, kualifikasi hingga sprint race, Marquez seperti memulai dari nol, membangun lagi kemampuannya untuk bersaing tanpa ngotot. Seperti seorang yang tahu diri walau berusaha lebih dari 100% tetap saja hasilnya tak akan didepan.
Saat sprint race, Marquez yang memulai balapan dari posisi 14 akhirnya finish di posisi 18. Tidak nampak kekecewaan di wajahnya.
BACA JUGA : Dari Yogyakarta Untuk Nusantara
Sampai dengan sprint race semakin kelihatan Honda dan Yamaha menderita. Namun nampaknya kekalahan atau ketinggalan dalam pengembangan motornya sudah diterima. Dan mulai berupaya sejak dini mengejar ketinggalan dibanding motor-motor Eropa.
Ada perubahan penampilan motor yang dipakai oleh Taka Nakagami dan Fabio Quartararo. Honda dan Yamaha mulai mengetes aero baru pada motornya.
Para pengembang motor Honda dan Yamaha nampaknya mulai menerima bahwa aero mereka ketinggalan. Sehingga power dan kecepatan motor tidak menghasilkan prestasi yang baik di lintasan. Motor susah dikendalikan, traksi depan dan belakang kurang. Honda dan Yamaha terlihat kalah dalam cornering speed. Masuk tikungannya mesti pelan dan keluar tikungan tidak segera bisa berakselerasi.
Kehilangan banyak waktu di tikungan membuat Honda dan Yamaha kehilangan banyak waktu setiap lapnya dan susah untuk mendapat kecepatan tertinggi dalam lintasan {laps time}.
Di sirkuit Silverstone, pembalap LCR Honda Taka Nakagami mengetes aero baru yang terpasang di muka motor Honda. Sekilas bentuknya membuat wajah motor balap Honda menjadi semakin aneh. Wingletnya lebar dan besar, sekilas seperti kombinasi antara yang dipakai Aprillia dan Ducati.
Tampak dari muka, gara-gara winglet yang besar dan lebar terlihat wajah motor Honda seperti hiu martil, makin tidak menarik untuk dilihat. Namun hal itu nampaknya terpaksa dilakukan agar Honda bisa mendapat down force bagian depan agar traksi ban depannya makin baik. Dengan bentuk winglet yang diujicoba oleh Nakagami, Honda nampaknya juga ingin bisa keluar dari tikungan dengan lebih mudah. Motor lebih mudah dikendalikan pada saat hard breaking untuk menikung.
Honda juga masih menambahkan side board di bagian sampingnya untuk memaksimalkan down forcenya, membuat aliran angin menjadi semakin lancar saat motor dalam posisi rebah di belokan.
Meski tak seektrim Honda, Yamaha juga melakukan sedikit perubahan pada wingletnya. Ada yang berbeda dengan motor yang dipakai oleh Fabio Quartararo. Yamaha juga memasang side board namun jauh lebih kecil dari Honda.
Yang menguji coba aero baru ternyata bukan hanya Honda dan Yamaha, Ducati juga melakukan penyempurnaan. Motor Pramac Ducati menambahkan sayap pada fendernya. Yang dikejar tentu saja traksi sebanyak-banyaknya agar motor semakin stabil hingga mudah dikendalikan. Model sayap seperti itu pernah dicoba oleh Aprillia.
Dengan kekuatan mesin sekarang ini dan berbagai macam peralatan elektronik, kestabilan saat melakukan pengereman mendadak dan dalam {late break} menjadi penting. Dan begitu keluar tikungan, dengan traksi yang baik motor tak akan bergoyang jika langsung digeber.
Ducati dan Aprillia memang dikenal mempunyai kemampuan yang baik dalam mengembangkan aero, sehingga menjadi patokan bagi tim-tim lainnya untuk saling tiru.
Meski demikian persaingan untuk menghasilkan aero terbaik membuat tampilan wajah moto balapnya menjadi agak aneh, karena banyak pernak-pernik yang nyeleneh.
Tapi wajah barangkali menjadi tidak penting. Bagi pabrikan, motor yang sempurna adalah motor yang cepat sekaligus mudah dikendalikan oleh pembalapnya. Apa yang awalnya terlihat asing seperti sirip belakang yang bentuknya mirip dingklik, lama-lama juga akan kelihatan biasa.
BACA JUGA : Estetika Politik – Mulut Rocky Gerung Seperti Knalpot Brong
Setiap tim bisa mengembangkan kreasinya masing-masing namun apakah efektif atau tidak, ujiannya ada dalam balapan. Dan sejauh ini tim balap Ducati, KTM dan Aprillia yang terbaik, Honda dan Yamaha masih harus berjuang.
Pada race moto GP di Sirkuit Silverstone, Ducati memperlihatkan kembali potensinya untuk menguasai balapan. Setelah Alex Marquez dan Marco Bezzecchi berhasil memenangi sprint race, bersama dengan Francesco Bagnaia mereka kembali diunggulkan untuk menang dalam race utama.
Bezzecchi yang start menduduki pole position kurang bagus startnya sehingga Miller menyodok ke depan. Sempat bersenggolan dengan Alex Marquez akhirnya Bagnaia bisa merebut posisi terdepan. Memimpin di depan dengan nyaman, Bagnaia mendapat tekanan dari Bezzecchi. Namun Bagnaia tetap bisa memimpin jalannya balapan.
Bezzecchi berkali-kali berusaha menyalip Bagnaia dengan melakukan late brake. Namun pada usaha yang terakhir, pengereman yang sangat dalam sambil merebahkan motornya membuat ban depan kehilangan cengkraman. Marco Bezzecchi terjatuh.
Bagnaia merasa aman didepan seolah tak terkejar lagi. Namun Alex Espagaro yang berada di belakangnya bersama Brad Binder dan Maverick Vinnales terus memberikan tekanan.
Delapan putaran terakhir bendera putih dikibarkan, pembalap boleh menganti motornya dengan ban basah. Beberapa pembalap melakukan flag to flag, namun 5 pembalap di depan yakni Bagnaia, Alex Espagaro, Vinalles dan juga Miquel Olivera tidak melakukannya.
Saat mulai hujan, Marc Marquez yang berada di belakang jatuh dan menyenggol Enea Bastianini. Kakak beradik Marquez sama-sama tidak menyelesaikan balapan. Alex Marquez masuk ke pit karena motornya kehilangan winglet saat bersentuhan dengan Bagnaia.
Tandem Marc Marquez, Johan Mir juga terjatuh. Fabio Quartararo juga mengalami nasib sial, bersenggolan dengan Luca Marini, penutup badan motornya bagian depan tercabut. Fabio masuk ke pit untuk ganti motor.
Persaingan lima pembalap ke depan dalam kondisi hujan akhirnya dimenangkan oleh Alex Espargaro. Beberapa tikungan menjelang finish, Alex berhasil mendahului Bagnaia. Takut terjatuh Bagnaia tidak memaksa untuk merebut kembali posisinya.
Ducati yang perkasa, urung menguasai Sirkuit Silverstone. Dua pabrikan Eropa lainnya yakni Aprillia dan KTM justru menempatkan lebih banyak pembalap di posisi depan.
Lagi-lagi Yamaha dan Honda menderita. Untuk finish saja sulit apalagi memenangi balapan. Nampaknya sisa balapan musim 2023 ini bagi Honda dan Yamaha tak lagi bisa dipakai untuk mendulang prestasi. Mereka akan lebih mengumpulkan data untuk memperbaiki kinerja motornya. Mereka bukan menyerah melainkan lebih memilih untuk melakukan hal yang paling masuk akal. Sebab memaksa diri malah bisa membahayakan pembalapnya. Seperti Marc Marquez yang hampir selalu jatuh, meskipun dalam balapan di Sirkuit Silverstone jelas-jelas tak memakai mode brutal dan ugal-ugalan lagi.
note : sumber gambar ilustrasi – DETIK.COM








