KESAH.IDRocky Gerung dan Benny Rhamdani sama-sama dari utara, maksudnya Sulawesi Utara. Sama-sama berlatar aktivis dan politisi perjalanan mereka ke Jakarta berbeda. Rocky ke Jakarta meneruskan studi dan kemudian berkiprah. Benny ke Jakarta untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah mewakili daerah Sulawesi Utara. Pilihan politik yang berbeda membuat mereka berdua berseteru karena kata bajingan. Padahal orang Manado mungkin sering bilang bahwa keduanya adalah bajingan, karena sama-sama hebat, sama-sama mengagumkan. 

Seperti artis, walau terkenal tak banyak orang mengenal nama aslinya. Sama dengan sesosok orang yang badannya tinggi dan kurus yang oleh orang sekampung disapa dengan sebutan Om Barol. Orangnya ramah, menyapa siapa saja yang ditemui di jalanan. Rumahnya juga sering menjadi tempat berkumpul, bukan hanya bapak dan emak-emak, tapi juga nyong dan nona-nona.

Dari berbagai cerita, sebutan Barol konon muncul karena Si Om sejak nyong-nyong sudah jagoan. Jagoan memperbaiki mesin motor sekaligus jagoan menunggangi motor.

“Bajingan memang dari muda,” begitu kata banyak orang.

Om Barol memang jago, termasuk jago minung cap tikus.

Jika tak ada kesibukan Om Barol mengisi hari-harinya pergi ke kobong. Tempat dia bertanam dan memelihara ayam kampung.

Jarak antara rumah dan kebunnya sekitar 2 kiloan, berangkat dengan jalan kaki sambil menenteng peda setiap kali melewati warung Om Barol akan singgah untuk menenggak satu sloki cap tikus.

Beberapa warung akan dilewati sebelum sampai ke kebunnya. Dan tentu saja sesampai di kebun, Om Barol sudah ayam-ayam, gara-gara beberapa sloki cap tikus di pagi hari.

“Pambae, Om Barol kalo so mabo,” ujar orang-orang yang hari-hari jalan depan rumahnya dilewati olehnya.

Disebut baik hati karena saat pulang dari kebun, Om Barol yang makin ramah dengan wajah memerah sedikit oleng sering membagi-bagikan bawaan. Entah pisang,rambutan, mangga telur ataumangga cakalang, ubi atau sayur kangkung, gedi dan daun pepaya. Kadang belum sampai rumah tentengan yang dibawa dari kebun sudah tak tersisa.

Sejauh saya ingat kata barol dalam bahasa Manado sering dipakai untuk menunjukkan seseorang yang memegang peranan dalam film, aktor yang menjadi jagoan. Namun dalam perbincangan sehari-hari kata barol juga kerap dipakai untuk menyebut orang-orang dengan kehebatan tertentu, melakukan hal-hal yang mengagumkan.

Barol kemudian senada dengan kata bajingan. Kata sifat yang dalam bahasa Manado sebagaimana ditulis oleh Yapi Tambayong {Remi Silado} dalam buku Kamus Bahasa dan Budaya Manado {Gramedia,2007} punya arti hebat, luar biasa, mengagumkan.

Di Manado hampir tak ada orang yang marah jika disebut bajingan atau barol. Kebanyakan malah senang, serasa dipuji walau dia hanya jagoan soal minum cap tikus. Meski nuansanya negatif dalam kondisi atau hal tertentu namun kata itu tetap diterima dengan lapang dada, terutama untuk mereka yang doyan makang puji.

Seorang teman membagikan cerita lucu perihal makna kata bajingan. Sahabatnya yang bercita-cita menjadi pelayan gereja, pergi meninggalkan Manado ke tanah Jawa untuk menjalani pendidikan rohani.

Karena sama sekali belum pernah pergi keluar dari Manado apalagi ke pulau seberang di kepalanya tak punya referensi tentang perbedaan makna kata di satu tempat dengan tempat lainnya.

Hingga di tempat pendidikan rohani yang kapelnya sering juga dipakai untuk beribadah bersama dengan umat setempat, sang calon pelayan gereja ini mengagumi seorang Oma-Oma yang sangat rajin datang ke kapel.

Hampir setiap hari Oma itu datang ikut misa dan doa harian, bukan hanya berdoa tetapi juga ikut membersihkan dan menata kapel. Karena kagum, dia kemudian memberanikan diri untuk menyapa dan berbincang. Dan di depan pintu kapel sebelum Oma itu pulang, sang calon pelayan gereja ini menyampaikan pujian.

“Oma ini memang bajingan,” ucapnya.

Oma itu kemudian segera melangkahkan kakinya pulang tanpa tenggak-tenggok menebar senyum, sang calon pelayan gereja masuk dan menutup pintu kapel dengan rasa lega karena sudah menyampaikan kekagumannya.

Esok hari ternyata Oma itu tidak muncul, hari berikutnya juga. Dan tak ada kabar kalau Oma itu sakit atau apa.

Dan calon pelayan gereja yang penasaran kemudian bertanya kepada teman lainnya.

Tak ada jawaban. Diapun kemudian bercerita kalau beberapa hari lalu menyebut Oma itu sebagai bajingan.

Mendengar cerita itu temannya berkata “Kamu yang bajingan,” dengan wajah tidak senang.

Melihat wajah yang tidak senang itu, sang calon pelayanan gereja bertanya “Memangnya kenapa dengan bajingan?”.

“Tahu nggak, disini bajingan itu sebutan untuk penjahat, orang brengsek,”

BACA JUGA : The Baby Allien Sudah Menyerah

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitu juga dengan kata, sebuah kata yang sama bisa punya arti berbeda disatu tempat dengan tempat lainnya. Apa yang dianggap sebagai hinaan atau makian di satu tempat bisa jadi sebuah pujian atau tanda keakraban jika disebut oleh satu orang pada orang lainnya.

Hal semacam ini sering menjadi persoalan di ruang publik. Salah menempatkan kata-kata dalam kondisi atau konteks tertentu bisa membuat kegaduhan, silang pendapat bahkan perseteruan yang berakhir dengan laporan di kepolisian.

Seperti kasus yang menimpa Rocky Gerung yang menyebut Presiden Jokowi sebagai bajingan tolol.

Kasus ini ramai karena melibatkan dua orang dari Manado yang saya yakini paham arti dan makna kata bajingan dalam bahasa dan budaya Manado.

Rocky Gerung, meski lama di Jakarta namun lahir dan hingga tamat SMA di Kota Manado. Sedangkan Benny Rhamdani, walau lahir di Bandung tapi menghabiskan sebagian hidupnya untuk menempuh ilmu dan beraktivitas politik di Manado.

Benny Rhamdani yang kini menduduki jabatan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia {BP2MI}, yang kinerjanya tak terlalu diketahui publik karena lebih dikenal sebagai pembela terdepan Joko Widodo.

Kalau Rocky ke Jakarta karena meneruskan studi, Benny ke Jakarta karena mewakili Sulawesi Utara sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Benny memasuki politik dari lapangan aktivis mahasiswa di lingkungan Nahdatul Ulama. Benny pernah memimpin PMII Manado. Jejaknya di PMII Manado atau Sulawesi Utara adalah pendampingan pada masyarakat marjinal terkait dengan tanah atau lahan.

Aktivis 98 ini kemudian masuk ke PDIP dan duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Utara selama 3 periode. Benny pernah mencoba peruntungan masuk ke wilayah eksekutif namun gagal. Dan kemudian aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor lalu terpilih sebagai anggota DPD. Mulai dikenal secara nasional saat ikut ribut-ribut kedudukan DPD dalam MPR. Setelah itu bergabung dengan Hanura dan kemudian menjadi Tim Kampanye Jokowi. Benny Rhamdani kemudian ditunjuk menjadi Kepala BP2MI setelah Jokowi terpilih menjadi presiden untuk kedua kalinya.

Sedangkan Rocky Gerung memulai aktivitas intelektual dan aktivisme di Jakarta setelah menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia. Sama-sama melawan regim Suharto dengan cara yang berbeda, di masa pemerintahan Presiden Jokowi dua orang utara ini berbeda posisi.

Benny adalah pendukung garis keras Jokowi, sementara Rocky adalah oposan paling keras pada Jokowi.

Dan ucapan “Bajingan Tolol” pada Presiden Jokowi yang keluar dari mulut Rocky membuat Benny Rhamdani mendidih. Benny sudah lama memendam keinginan untuk menghajar para pengkritik Presiden Joko Widodo yang dianggap telah masuk taraf kurang ajar.

Dalam pandangan Benny Rhamdani, para pengkritik Presiden lebih banyak mengeluarkan kata-kaa hinaan ketimbang pikiran kritis. Hingga amplifikasinya ke publik membuat Presiden Joko Widodo selalu terus dilecehkan.

November tahun lalu, saat bertemu Presiden Joko Widodo dalam acara BP2MI, Benny Rhamdani pernah minta ijin pada Presiden untuk bertempur memerangi kaum oposan yang dianggapnya sudah keterlaluan.

Melaporkan Rocky Gerung ke polisi mungkin salah satu cara Benny untuk bertempur melawan para pengkritik Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo sendiri tenang-tenang saja, tak menyoal apa ucapan Rocky dan teman-teman seperjuangannya. Sebagai Presiden, Joko Widodo memandang kerja, kerja dan kerja lebih penting daripada berdebat urusan bajingan yang bisa membuat orang jadi lebih tolol.

Tapi lain cerita dengan Benny Rhamdani, sebagai aktivis dia jelas paham ada banyak jalan ke Roma. Polisi boleh menolak laporannya, namun Rocky Gerung harus tetap diberi pelajaran. Kalau hukum pidana tak bisa menjeratnya, masih ada jenis hukuman lain yang bisa jadi lebih ganas.

Terbiasa mengerakkan massa, Benny pun mengancam akan ada aksi di seluruh negeri jika aparat hukum tak bertindak bijaksana.

BACA JUGA : Dari Yogyakarta Untuk Nusantara

Ancaman Benny tak main-main, tidak seperti kebanyakan aksi yang selalu mengatakan akan datang lagi dalam jumlah yang lebih besar kalau tak ditanggapi. Reaksi pada Rocky muncul dimana-mana, sampai di tik tok ada emak-emak dari Papua yang mengancam Rocky Gerung bakal pulang namanya saja andai datang ke Papua.

Gelombang penolakan kedatangan Rocky Gerung muncul dimana-mana. Biasanya Rocky mendapat penolakan jika hendak jadi pembicara di Universitas. Namun kali ini bahkan di kafe sekalipun kehadirannya dihadang oleh segerombolan orang. Rocky dipersekusi.

Jengah dengan gangguan atas silaturahmi dengan para pengemarnya, Rocky pun kemudian mulai bersilat lidah. Meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan olehnya di masyarakat, Rocky berusaha memberi penjelasan tentang yang dimaksudkan sebagai bajingan.

Dengan memakai model kerata bahasa, Rocky menerangkan yang dimaksudkan dengan bajingan adalah singkatan dalam bahasa Jawa “Bagusing jiwo angen-angening pangeran” yang berarti Baiknya jiwa adalah harapan Tuhan.

Maka tak ada negatifnya dalam artinya. Lebih lanjut dalam antropologi Jawa, bajingan adalah sebutan untuk pengemudi dokar atau gerobak angkut yang ditarik oleh sapi.

Mungkin dari sini muncul umpatan bajingan. Orang yang menunggu kedatangan dokar atau gerobak jengkel karena tidak datang-datang. Begitu datang maka mereka akan mengumpat pada pengemudinya yang lambat dengan mengucapkan bajingan dalam nada yang negatif.

Dari sebuah group WA saya mendapat kabar bahwa seorang Uskup pernah meminta para pastornya menjadi bajingan. Tentu yang dimaksudkan adalah mengambil sifat atau watak dari bajing yang dianggap sebagai binatang yang gesit. Bajingan artinya menjadi seperti bajing, menjadi orang yang ulet dan gesit.

Bahasa terutama di ruang publik memang bukan hanya soal arti atau makna melainkan juga rasa. Seseorang bisa saja suka disebut bajingan, tetapi tidak sedikit yang murka. Semua tergantung dari rasa bahasanya, konteks dan juga hubungan antara seseorang.

Namun jika tak ingin bermasalah dengan diksi yang makna atau artinya bercabang-cabang, maka dalam berkomunikasi dengan orang lain perlu sadar ruang, membedakan antara komunikasi di ruang privat dan ruang publik. Bahkan kini komunikasi dalam ruang privat sekalipun kerap dibocorkan, percakapannya di-capture dan menjadi perbincangan publik.

Banyak orang lupa terutama mereka yang suka ditepuktangani kalau sedang bicara di depan publik. Saking mengebu-ngebunya kemudian diksinya menjadi tak terkontrol. Tentu yang berada di hadapannya suka karena mungkin mereka ingin memaki juga namun tak berani.

Disinilah pentingnya kecerdasan sosial, memahami apa yang hidup dalam pikiran dan perasaan orang lain, membangun rasa hormat dan saling menghargai untuk menuju kerjasama yang saling menghidupkan. Tak peduli negara demokratis atau tidak, kehormatan orang lain tetaplah penting.

Tanpa kesadaran rasa bahasa dan kecerdasan sosial sebuah masyarakat yang cenderung chaos akan semakin chaos, hari-hari akan diwarnai dengan perseteruan, saling silang pendapat yang berujung pada kekerasan.

Dalam aspek bahasa, memuji atau mengumpat sebenarnya sebuah perilaku yang sama. Sama-sama tidak mengatakan hal yang sebenarnya, menambah fakta dengan realitas sendiri. Yang satu melebih-lebihkan sukanya dan yang satu melebih-lebihkan bencinya. Yang satu menjilat yang satu mengumpat.

Rocky dan Benny sama-sama berlatar aktivis yang kemudian berpolitik. Dunia mereka memang penuh dengan akrobat. Kalau sedang baik-baik mereka akan mengedepankan silaturahmi, namun jika keadaan berbalik mereka segera mengeluarkan jurus silatlidah.

note : sumber gambar ilustrasi – JAMBI.TRIBUNNEWS.COM