KESAH.IDSekasar apapun kata-kata yang dilontarkan selama yang dihina/dinista atau direndahkan tak membuat pengaduan ke polisi maka yang ikut merasa tersinggung hanya bisa mengelus dada. Namun buat mereka yang gigih masih ada jalan untuk mencari-cari kontruksi kasus agar penghinaan yang tidak dilaporkan oleh yang dihina bisa menjadi sebuah perkara.

Ketika Rocky Gerung mulai terkenal di publik, saya tak mengambil posisi untuk ikut menjadi pengembira yang kerap meneriakkan jargon atau ujaran gonol  “No Rocky, No Party,”.

Saya lebih tertarik untuk menelusuri omongan Rocky di luar panggung Indonesia Lawyer Club.

Untung di YouTube bisa ditemukan video-video Rocky Gerung mengajar pada kelas-kelas pemikiran, baik di UI maupun di tempat lainnya.

Dan yang terbaru, saya menemukan video yang diupload oleh Pusdiklat MA atau Corporate University MA dimana Rocky Gerung menjadi salah satu pengajarnya.

Dari video-video itu saya bisa mengenali Rocky yang kalau mengajar tak pernah membawa catatan, buku dan presentasi power point.

Buat Rocky seorang pengajar mesti menyiapkan diri sebelumnya, bahannya ada dalam kepala.

Dan tanpa alat bantu ternyata Rocky bisa nyerocos berjam-jam, menyebut banyak literatur dan membeber berbagai metodologi cara bernalar.

Terlihat sekali dia menguasai logika, membaca banyak buku dan menguasai pengetahuan dalam berbagai bidang. Amat jarang keluar nasehat dari mulutnya, juga trik dan tip yang membuat orang beroleh jawaban. 

Rocky lebih memilih untuk mengajak berpikir, mencari jawab sendiri dan tak mudah untmenyimpulkan yang benar begini dan yang salah begitu. 

Jujur saja Rocky tak pintar melakukan publik speaking, uraiannya meski berisi serasa agak datar. Dia serius setiap berbicara hingga yang tak tahan pasti akan cenderung bosan atau lelah. Sense of humor Rocky memang agak kurang.

Apa yang ditampilkan Rocky Gerung di dalam kelas berbeda jauh ketika dirinya tampil dalam talk show di televis, dialog publik atau podcast di YouTube.

Dalam ruang publik atau media Rocky Gerung cenderung mengobral kata-kata yang memanaskan situasi. Pernyataannya cenderung provokatif dan agitatif. Bahkan banyak yang menilainya sebagai kasar dan tak pantas.

Jika ditarik garis merah, kegelisahan atau keprihatinan Rocky Gerung dalam politik adalah kecenderungan para politisi terutama yang menduduki jabatan publik tidak memakai nalar dalam melahirkan dan mengeksekusi kebijakan.

Logika di balik kebijakan publik jungkir balik. Kerap terjadi jumping conclussion, antara masalah dan jalan keluar tidak nyambung.

Dimata Rocky, praktek politik pemerintahan tidak didasarkan pada etik politik yang kuat. 

BACA JUGA : Pokrol Temukan Energi Kentut Setara Nuklir

Puluhan tahun Rocky Gerung berada dalam jalan sunyi sebagai pengajar dan aktivis sosial demokrasi serta HAM.

Selain pernah tercatat sebagai pengajar di UI, Rocky Gerung juga aktiv dalam berbagai organisasi dan perhimpunan.

Rocky tercatat sebagai pendiri Setara Institut, aktif di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi dan Sekolah Ilmu Sosial.

Bersama Gus Dur dan Marsilam Simanjuntak, Rocky Gerung ikut mendirikan Forum Demokrasi yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru.

Kelak ketika Gus Dur jadi Presiden ada yang menyebut Rocky adalah penulis pidato Gus Dur. Yang terjadi sebenarnya adalah Rocky sering menuliskan catatan-catatan untuk rilis pers.

Dalam bidang politik, Rocky ikut serta dalam pendirian Partai Indonesia Baru bersama Sjahrir. Namun Rocky tak aktif dalam kepengurusan dan kemudian keluar untuk bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen yang didirikan untuk mencalonkan Diri Mulyani pada pemilu 2014.

Selain dalam kursus atau kelas yang diselenggarakan berbagai lembaga, pemikiran Rocky Gerung dapat dijumpai pada Jurnal Perempuan dan Majalah Prisma serta jurnal-jurnal lainnya.

Rocky juga cukup aktif menuliskan opininya di Majalah Tempo. 

Selain itu Rocky Gerung juga merupakan teman dialog, diskusi dan mentor bagi banyak tokoh politik pemerintahan. Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama adalah salah satunya.

Rocky Gerung mulai keluar dari sangkar emas lewat kemunculannya di layar televisi dalam acara Indonesia Lawyer Club pada awal tahun 2017.

Sejak itu nama Rocky Gerung melambung. Dikenal kritis dan berani terang-terangan bersuara keras pada pemerintah, pemikiran Rocky mulai mendapat perhatian publik.

Dalam setiap bahasan tema-tema kontroversial terkait pemerintah terutama presiden, suara Rocky banyak dinantikan.

Ketika masalah hoaks ramai dibahas, Rocky Gerung justru berpendapat bahwa pabrik hoaxs justru ada di pemerintah. Menurutnya yang paling memiliki perangkat untuk berbohong adalah pemerintah.

Di tengah kecenderungan para intelektual yang cenderung mencari aman dan ramai-ramai merapat ke pemerintah, kemunculan Rocky Gerung membawa kesegaran tersendiri. Rocky sibuk diundang kesana kemari. Ada beberapa pihak yang menolak memberi ijin kehadiran dalam lingkungannya membuat nama Rocky Gerung makin melambung.

Beberapa kontroversi terkait pendapat atau kata-kata yang diucapkan olehnya hingga dilaporkan ke polisi namun tak pernah berakhir menjadi perkara, semakin membuat Rocky bebas mengumbar kata-kata. 

Sebuah riset dengan tajuk “Riset 15 Tokoh Berdasarkan Analisa SEO Google” yang dipublikasikan oleh lembaga Publik Relatuon XYZ+ menempatkan Rocky Gerung pada peringkat kedua populer dalam kolom pencarian Google.

Bersama dengan Denny JA dari LSI, Rocky Gerung menembus angka pencarian diatas 1 juta. Denny JA dicari sebanyak 1.830.000 dan Rocky Gerung sebanyak 1.520.000 jumlah berita.

Dalam konteks Presiden 2024, Rocky Gerung mengalahkan banyak tokoh lembaga survey, opinion maker, pengamat politik dan budaya lainnya.

Denny JA berhasil mengungguli Rocky karena sering melakukan konperensi pers dan menyebarkan rilis. Denny juga rajin memberitakan berbagai aktivitasnya di luar survey politik karena dia aktif dalam kegiatan budaya, sastra, literasi, seni lukis, keagamaan dan lainnya.

BACA JUGA : Jawa Adalah Kunci

Setelah berbulan-bulan jagat informasi dan pemberitaan dipenuhi kontroversi Panji Gumilang yang berakhir dengan menjadi tersangka.

Minggu ini atmosfer berubah, nama Rocky Gerung banyak disebut-sebut karena berbagai laporan yang disampaikan ke kepolisian.

Pernyataan Rocky yang menyebut Presiden Jokowi sebagai ‘banjingan tolol’ muncul pada sebuah acara bersama kaum buruh di Bekasi Jawa Barat.

Penyataan Rocky Gerung itu untuk menanggapi kunjungan Presiden Jokowi ke Tiongkok. Yang salah satu agendanya adalah menawarkan investasi di IKN kepada Pemerintah dan Pengusaha Tiongkok.

Video yang berisi ucapan itu menyebar dan Rocky pun dipolisikan oleh berbagai pihak.

Beberapa laporan ditolak oleh Polisi karena tidak ada pernyataan keberatan dari Presiden Jokowi. Pelapor yang berlatar relawan Jokowi dan pihak lainnya dianggap tidak punya hak untuk membuat pelaporan.

Tentu saja mengatakan seseorang sebagai ‘Bajingan tolol’ adalah sangat kasar untuk ukuran komunikasi dan pergaulan di Indonesia.

Namun jika yang dikata-katai tidak tersinggung atau tak merasa terhina, pihak lain hanya bisa mengatakan bahwa kata-kata itu tak pantas. Bisa ikut panas namun tak cukup untuk mengirim seseorang ke penjara.

Dalam politik kata-kata keras atau kasar bisa dianggap melanggar estetika politik,namun secara etik tidak. 

Rocky pasti mempunyai argumen atas pilihan diksinya. Sebagai seorang yang sangat menguasai logika, dia memang piawai menyusun argumentasi.

Kata-kata kasar, kritik yang keras dan cenderung di tepi jurang adalah pilihan passioning-nya. Dia memilih kata-kata keras bahkan kasar karena posisi yang dipilihnya. 

Bagi Rocky, siapapun pemerintah akan selalu menjadi ‘musuh’ rakyat. Dan dia mengambil posisi itu. Maka jika Rocky menganggap presiden salah, tidak cerdas dalam mengambil kebijakan, dia akan mengatakan dungu atau tidak bernalar.

Para pelapor yang ngebet Rocky dipolisikan tentu saja masih bisa mencari celah-celah yang bisa membuat Rocky diperiksa polisi dan mungkin saja diadili. Pasalnya bisa dicari-cari.

Dan rasanya meski polisi telah menolak beberapa laporan, namun laporan-laporan lain pasti akan menyusul.

Sebab di Indonesia ada banyak gerombolan yang termasuk dalam kategori ‘political lickers’, kaum penjilat atau pencari muka yang berharap apa yang dilakukannya bakal diganjar dengan hadiah yang sepadan. Syukur-syukur bisa beroleh jabatan. 

Dan orang-orang seperti Rocky yang mulutnya mirip knalpot brong adalah salah satu sarana yang ampuh untuk ditunggangi, dijadikan alat untuk panjat sosial di tangga politik yang sempit.

Padahal ucapan Rocky yang kerap menyelipkan kata dungu, tolol atau kata-kata kasar lainnya itu tidaklah penting. Itu hanyalah sekedar bunga-bunga karena kalau Rocky tak menyelipkan kata itu dia tak akan memperoleh sorak-sorai dari para pendengarnya.

Begitulah jalan seorang pemikir jika meninggalkan nyanyi sunyinya. Yang ditunggu bukan paparan pemikirannya tetapi gong-gong yang memuaskan nafsu para pendengarnya. No Rocky, No Party dah.

note : sumber gambar ilustrasi – DETIK.COM