KESAH.ID – Posisi utama Jawa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia diungkapkan secara tepat meski dalam ucapan singkat oleh DN. Aidit, Jawa adalah kunci. Dan benar pulau terbesar kelima di Indonesia dengan jumlah penduduk lebih besar dari seluruh penduduk empat pulau terbesar lainnya kemudian menjadi pusat dari segala-galanya. Secara negatif kedudukan itu disebut sebagai jawasentris. Pemindahan IKN dari DKI Jakarta ke IKN Nusantara menjadi bukti keinginan bersama agar kunci tidak hanya berada di Jawa melainkan lebih tersebar ke wilayah Indonesia lainnya secara merata.
Kawan saya yang sudah almarhum kerap mengatakan “Jawa adalah kunci,” namun kemudian dia menambahkan frasa lanjutan “Banjar gemboknya,”.
Dia punya hipotesis kalau yang memimpin Indonesia adalah orang Jawa berpasangan dengan orang Banjar maka akan klop.
Ucapan “Jawa adalah kunci,” mulai populer ketika film Pemberontakan G30S PKI mulai diputar dan dijadikan tontonan wajib oleh regim Orde Baru.
Dalam film propaganda ini Syubah Asa memerankan DN. Aidit.
Dialog lengkapnya adalah “Kunci kemenangan adalah Jawa, siapa bisa menguasai Jawa itulah yang memang, jadi Jawa adalah kunci,”
Kalimat itu diucapkan dalam sebuah rapat para petinggi Partai Komunis Indonesia. Pesannya dengan memenangkan suara di Jawa maka akan menguasai Indonesia.
Ungkapan yang terucap lebih dari 50 tahun lalu itu ternyata masih relevan sampai sekarang.
Dalam regim elektoral, peran substansial Jawa memang masih menjadi kunci. Yang bisa memang di Jawa biasanya akan berkuasa.
Peran kunci Jawa bukan hanya dalam pemilu melainkan dalam pembangunan lainnya, mulai ekonomi, budaya sampai infrastruktur. Para pengkritik menyebutnya sebagai Jawasentris. Semua terpusat di Jawa.
Salah satu pertimbangan yang dipakai oleh Presiden Jokowi untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur adalah untuk mengurangi pemusatan di Jawa, menjadi lebih tersebar ke seluruh Indonesia.
Kenapa Jawa menjadi kunci bisa ditelusuri dari jumlah penduduknya. Pulau terbesar ke lima di Indonesia ini jumlah penduduknya kurang lebih 154 kita jiwa. Jumlahnya lebih besar dari seluruh penduduk empat pulau terbesar lainnya yakni Kalimantan, Papua, Sumatera dan Sulawesi.
Jawa yang juga merupakan pulau terbesar ke 13 di dunia, juga tetap terbesar dibandingkan penghuni pulau besar lainnya di dunia.
Bahkan jika dibandingkan dengan negara terbesar didunia yakni Rusia, jumlah penduduk Jawa lebih besar dari jumlah warga negara (penduduk) Rusia.
Jadi kalau dilihat dari jumlah penduduknya maka wajar jika kemudian DN. Aidit menganggap Jawa adalah kunci.
Apalagi jika penduduk pulau Jawa ditambahkan dengan keturunan orang Sunda, Jawa, Betawi, Madura yang tersebar di seluruh Indonesia. Kuncinya besar sekali.
BACA JUGA : Memori Rasa
“Banyak anak banyak rejeki,” begitu keyakinan orang Jawa dulu. Rerata dalam satu keluarga anaknya 5 keatas. Sampai sekarangpun kalau ada pasangan suami istri hanya punya satu anak, kerabatnya punya pertanyaan retoris “Nggak kasihan sama anakmu kah?”
Maksudnya sungguh kasihan sang anak karena nggak punya saudara atau teman di rumah, anak tunggal.
Kebiasaan punya banyak anak bisa jadi karena kesehatan pada masa itu belum begitu maju. Ada banyak kematian anak juga ibu pada saat kelahiran dan sesudahnya.
Jadi banyak anak merupakan cara untuk memastikan keturunan akan berlanjut. Kalau ada anak yang meninggal masih ada anak lain yang hidup.
Tapi banyak anak juga bisa dihubungkan dengan keadaan geografis Jawa yang tanahnya subur dan cocok untuk bertanam pangan, terutama padi.
Anak yang banyak adalah aset, sumberdaya untuk membantu mengolah sawah. Semakin banyak yang bisa ikut turut membantu semakin luas tanah yang bisa digarap.
Perpaduan antara lahan subur dan kebiasaan punya anak banyak barangkali menjadi awal mula Jawa kemudian punya banyak penduduk. Di masa lalu daerah yang favorit untuk ditinggali, menetap dan berkembang biak adalah daerah yang mampu menyediakan kebutuhan pendukung kehidupan, salah satunya lahan pangan.
Pulau Jawa mempunyai kesuburan alami karena hampir separuh gunung api yang aktif ada disana.
Letusan secara berkala dari gunung api akan memberikan asupan nutrisi atau zat-zat yang menyuburkan tanah. Kesuburan tanah terus diperbaharui.
Tanah yang subur dan hujan yang berlimpah membuat lahan di Jawa cocok untuk bersawah. Dengan pengairan tadah hujan maupun irigasi, petani sawah bisa terus menghasilkan beras.
Karena penduduknya besar dan terus berkembang, di Jawa kemudian muncul kerajaan-kerajaan besar. Diplomasi atau hubungan dengan kerajaan atau negeri kemudian terbangun dan melahirkan kerjasama ekonomi atau perdagangan.
Aktivitas ekonomi perdagangan kemudian memunculkan pusat-pusat keramaian, pusat ekonomi yang kemudian bertumbuh menjadi perkotaan.
Setelah kemerdekaan semua kemudian berpusat di Jawa, mulai dari pemerintahan, ekonomi, industri, pendidikan dan sebagainya.
Jawa yang penduduknya sudah banyak menjadi semakin banyak karena penduduk dari berbagai negeri menjadikan Jawa sebagai tujuan untuk membangun dan meraih kehidupan yang lebih baik.
Meski Jawa secara daya tampung dan daya dukung disebut kolaps, namun faktanya gabah kering siap giling yang dihasilkan oleh Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat berjumlah 27 juta ton lebih.
Jumlah itu melebihi gabungan seluruh hasil gabah kering giling dari seluruh wilayah Indonesia lainnya.
Dengan demikian meski pulaunya merupakan pulau terbesar kelima di Indonesia dan dengan jumlah penduduk yang lebih besar dari keempat pulau besar lainnya ternyata lahan di pulau Jawa masih memberikan hasil panenan bahan pangan terbesar di Indonesia.
BACA JUGA : Gereja Sultan
Pengaruh politik, ekonomi, sosial dan budaya Jawa melahirkan yang disebut sebagai jawanisasi. Indonesia kerap identik dengan Jawa. Pembangunan dalam berbagai bidang juga dianggap berpusat di Jawa atau jawasentris.
Upaya untuk ‘mengeliminir’ jawasentris dicetuskan oleh Sukarno yang ingin memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan Tengah. Namun gagal karena situasi politik dan ekonomi tidak mendukung.
Suharto juga berusaha melakukan pemerataan pembangunan termasuk pemerataan penduduk dengan melakukan program transmigrasi.
Penduduk pulau Jawa yang berlatar belakang petani ditransmigrasikan ke daerah-daerah di luar pulau Jawa yang penduduknya masih jarang.
Namun transmigrasi tidak cukup membuat laju pertambahan dan kepadatan penduduk di Jawa berkurang.
Pembangunan nasional sampai dengan presiden yang ke tujuh yakni Joko Widodo ternyata belum mampu mengatasi ketimpangan antara Jawa dan pulau-pulau lainnya. Terutama dari sisi infrastruktur. Konektifitas antar wilayah di Jawa masih yang terbaik dan mampu mengakselerasi ekonomi wilayahnya.
Dan apa yang dicita-citakan oleh Sukarno kemudian terwujud pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Memasuki periode kepresidenan yang kedua, rencana pemindahan Ibu Kota Negara disahkan dalam bentuk Undang Undang.
IKN dipindah ke Kalimantan, namun bukan Kalimantan Tengah melainkan Kalimantan Timur, tepatnya ke Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Akankah dengan pemindahan IKN dari Jawa ke Kalimantan bakal membuat kedudukan Jawa sebagai kunci akan bergeser?. Tentu saja tak bisa serta merta.
Walau benar salah satu alasan pemindahan IKN adalah agar pembangunan makin merata dan tidak berpusat di Jawa.
Hanya saja sentralisme di Jawa tidak semata karena pusat pemerintahan di sana, ada banyak faktor dan kondisi kesejarahan lainnya yang kemudian membuat Jawa jadi kunci.
Dan salah satu kunci yang tidak dipunyai oleh Kalimantan Timur yang kaya dengan sumber daya ektraksi adalah lahan besar yang cocok untuk ditanami tanaman pangan.
Sampai hari ini Kalimantan Timur memenuhi hampir seluruh kebutuhan pokok dengan mendatangkannya dari luar daerah.
Jika dalam waktu yang singkat penduduk Kalimantan Timur bertambah 100 persen karena pemindahan IKN, niscaya akan ada masalah untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok bagi warganya.
Juli 2024 direncanakan presiden dan kementerian serta lembaga negara utama akan mulai berkantor di IKN Nusantara.
Namun kunci masih akan tetap di Jawa, sekurang-kurangnya hingga tahun 2045 kala kita akan merayakan dan menyambut Indonesia Emas. Saat kita memasuki 100 tahun kemerdekaan.
note : sumber gambar – GEOTIMES.ID








