KESAH.ID – Masyarakat Dayak memegang rahasia peradaban yang melampaui zamannya melalui mahakarya rekayasa pangan berbasis alam. Tanpa sentuhan teknologi modern maupun pengawet sintetis, mereka menaklukkan waktu melalui fermentasi anaerobik yang presisi, pengasapan kimiawi alami, hingga teknik memasak uap bertekanan di dalam tabung bambu segar. Kejeniusan lokal ini merupakan sebuah bukti bagaimana penguasaan etnobotani dan daya cipta lokal mampu menciptakan kedaulatan rasa serta daya tahan hidup yang tak goyah oleh zaman.

Di tengah lebatnya bentang hutan tropis Kalimantan yang jauh dari akses pesisir, mengolah dan mengawetkan pangan bukan sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan strategi bertahan hidup (survival technique) yang sangat krusial. Karakteristik iklim tropis yang lembap dan panas mempercepat proses pembusukan bahan segar. Dalam situasi demikian, masyarakat Dayak mengembangkan rekayasa pengolahan pangan berbasis pengetahuan etnobotani dan mikrobiologi tradisional yang amat kaya, terutama melalui teknik fermentasi, penggaraman, serta pemanfaatan pengawet alami dari flora hutan.

Salah satu puncak kejeniusan teknologi pengolahan pangan Dayak terwujud dalam tradisi pengawetan daging dan ikan yang dikenal sebagai muntah, kasam, atau tempoyak. Dalam pembuatan muntah atau kasam, ikan sungai segar (seperti jelawat, patin, atau kelabau) atau daging buruan dipotong-potong lalu dicampur dengan beras sangrai yang ditumbuk halus (batek/sam-sam) serta garam. Campuran ini kemudian dimasukkan dan dipadalkan ke dalam tajau tanah liat atau tabung bambu yang ditutup rapat tanpa udara (anaerob). Beras sangrai berperan sebagai substrat karbohidrat bagi mikroorganisme baik untuk memicu proses fermentasi asam laktat. Selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun, proses mikrobiologis ini menurunkan pH secara alami, menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk, sekaligus melunakkan tekstur daging dan menciptakan cita rasa gurih-asam yang khas.

Tantangan memperoleh garam laut di daerah hulu dan pedalaman memicu lahirnya teknologi ekstraksi garam darat (garam gunung atau garam hutan). Masyarakat Dayak mengolah air dari sumber mata air asin alami (sungan) atau mengekstrak abu pembakaran tumbuhan hutan tertentu (seperti pelepah kelapa sawit liar atau jenis palem pedalaman) yang kaya akan mineral natrium dan kalium. Air olahan ini dikeringkan di atas tungku api hingga mengkristal menjadi batangan garam padat. Garam darat ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedap, melainkan juga bahan pengikat air (solute) utama yang menurunkan aktivitas air (water activity) pada bahan pangan mentah, sehingga daging, ikan, maupun umur bambu (rebung) dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat panjang tanpa mengalami pembusukan.

BACA JUGA : Bilah Besi

Selain fermentasi dan penggaraman, penguasaan atas elemen api dan asap merupakan pilar utama dalam teknologi dapur tradisional Dayak. Di atas tungku pembakaran (pemanggan), terdapat rak gantung berlapis (para/palaq) yang terus-menerus dialiri asap dan hawa panas dari kayu bakar pilihan. Proses pengasapan (salai) ini bukan sekadar mengeringkan bahan makanan secara mekanis, melainkan sebuah proses kimia terpadu. Senyawa fenol, formaldehida, dan asam organik yang terkandung dalam asap kayu keras (seperti kayu pelawan, halaban, atau pecahan tempurung kelapa) meresap ke dalam jaringan daging atau ikan. Senyawa fenolik ini bertindak sebagai antioksidan dan antimikroba alami yang mematikan spora jamur serta mencegah ketengikan lemak. Hasilnya, ikan salai atau daging salai memiliki daya simpan berbulan-bulan, tekstur renyah-liat yang memikat, serta aroma asap yang menggugah selera.

Dalam konteks pengolahan pangan sehari-hari, memasak menggunakan media bambu (lemang, pa’tong, atau pansoh) menunjukkan pemanfaatan material lokal yang sangat efisien dan higienis. Potongan bambu muda berukuran sedang dilapisi daun pisang atau daun ilat di bagian dalamnya sebelum diisi dengan beras ketan, daging, ikan, atau sayuran yang telah dibumbui ramuan rempah hutan (seperti ketumbar hutan, jahe liar, dan daun serai). Tabung bambu yang telah terisi kemudian disandarkan miring di dekat bara api tungku.

Pengolahan pangan dalam bambu menerapkan prinsip pressure cooker (panci tekan) alami. Air alami yang terkandung dalam dinding bambu segar menguap ke dalam ruang dalam tabung, menciptakan tekanan uap panas yang mematangkan bahan makanan secara merata tanpa membakar bahan di dalamnya. Selain itu, minyak alami dan aroma wangi dari dinding dalam bambu serta lapisan daun pisang meresap sempurna ke dalam masakan, menghasilkan cita rasa gurih yang khas sekaligus menjaga kebersihan masakan dari kontaminasi debu atau abu tungku.

BACA JUGA : Bejana Kehidupan

Roda zaman yang berputar cepat membawa perubahan mendasar pada lanskap pengolahan pangan masyarakat Dayak. Penetrasi bahan pangan olahan pabrik, lemari pendingin (kulkas), serta penyedap rasa sintetis berbasis monosodium glutamat (MSG) secara perlahan menggeser peran teknik pengawetan tradisional di banyak dapur keluarga. Kemudahan menyimpan bahan segar dalam kulkas membuat proses pengasapan yang memakan waktu lama atau pembuatan kasam berbasis fermentasi mingguan mulai jarang dipraktikkan oleh generasi muda di permukiman yang telah terjangkau aliran listrik 24 jam.

Pergeseran ini membawa dampak ganda yang cukup signifikan. Di satu sisi, kehadiran teknologi pendingin dan bumbu instan memberikan kepraktisan serta variasi menu masakan modern. Namun di sisi lain, ketergantungan pada rantai pasok industri makanan kemasan berpotensi mengikis kedaulatan pangan lokal dan memutus transmisi pengetahuan etnobotani. Keterampilan mengenali tumbuhan penyedap alami di hutan—seperti daun sengkuang (sengkubak) sebagai pengganti MSG alami, atau daun tengang untuk mengenyalkan tekstur masakan—perlahan mulai asing bagi generasi muda yang terbiasa dengan produk kemasan minimarket.

Meskipun demikian, teknologi pengolahan pangan tradisional Dayak tidak sepenuhnya punah. Di era yang semakin menghargai keotentikan dan nilai kesehatan, kuliner berbasis fermentasi alami (kasam), makanan pengasapan (salai), serta masakan tabung bambu (pansoh) justru mulai dilirik sebagai warisan gastronomy yang bernilai tinggi. Merekam, melestarikan, dan merevitalisasi rekayasa pengolahan pangan lokal ini bukan sekadar romantisasi kuliner masa lalu, melainkan bagian penting dari strategi menjaga kesehatan tubuh, memelihara keanekaragaman hayati pedalaman, serta memastikan bahwa keahlian rekayasa rasa warisan leluhur di sepanjang aliran sungai Kalimantan tetap lestari menembus benteng zaman.

note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM