KESAH.ID – Adalah tugas gereja melayani kebutuhan spiritual umatnya. Namun para pelayan gereja juga mesti berhati-hati agar kesediaan untuk melayani tidak menjadi kontroversi atau disalahpahami oleh umat dan masyarakat luas. Kemauan atau pernak-pernik yang tidak umum mestinya tidak diikuti begitu saja. Agar gereja tidak dianggap lebih ramah terhadap kaum berkelimpahan ketimbang yang susah dan tersisih.
Terbilang jarang saya diundang untuk berbicara di depan lingkungan Gereja Katolik. Mungkin saya dianggap tidak terlalu Katolik.
Tapi akhir Juli lalu, saya diminta mengisi materi tentang Sustainable Lifestyle pada seminar pengembangan profil pelajar Pancasila untuk siswa SMA Asisi. Dengan topik tentang Sampahku Tanggungjawabku.
Saya senang, meski agak khawatir harus berbicara di depan anak-anak SMA, takut bahasa saya nggak nyambung lagi dengan kebiasaan mereka berkomunikasi.
Agar aman maka saya memulai paparan dengan mengingatkan siswa-siswi SMA Asisi pada St. Fransiskus dari Asisi yang merupakan pelindung lingkungan hidup.
Dan sebagai siswa yang belajar di sekolah yang memakai nama pelindung lingkungan hidup sewajarnya siswa-siswinya meneladani cara hidup St. Fransiskus dari Asisi.
Tak lama setelah saya merasa senang karena bisa ikut berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada anak-anak yang ingin meneladani St. Fransiskus Asisi, saya dikejutkan dengan kabar yang viral di medsos dengan caption Pastor menikahkan sepasang anjing.
Sebagai seorang yang pernah belajar Kitab Hukum Kanonik, Hukum dan Moral Perkawinan Katolik dalam hati segera saya bilang “Pastor sesat,”
Namun pada sisi yang lain saya juga tak percaya ada pastor yang mau menikahkan anjing, karena pasti anjing tidak bisa lolos syarat yang harus dipenuhi dalam proses pernikahan Katolik.
Menikah dalam Gereja Katolik nggak gampang mesti dipersiapkan lama lewat kelas persiapan pernikahan. Lalu ada juga penyelidikan kanonik untuk memastikan tidak ada hal-hal yang menghalangi sahnya sakramen pernikahan dari kedua belah pihak.
Semua dilakukan karena Gereja Katolik menganut paham perkawinan monogami dan tidak terceraikan.
Karena perkawinan bersifat sakramental maka jelas hanya berlaku untuk manusia, manusia yang beriman dan berkesadaran. Komitmen perkawinan yang berat tak mungkin diteguhkan pada hewan.
Sekalipun ada hewan yang berkesadaran namun kesadarannya tak cukup untuk mengerti, memahami dan menjalani bahwa dalam perkawinan ada 3 hal yang harus dibangun, yakni yang pertama relasi eklusif (monogami) antara laki-laki dan perempuan atau menjadi suami istri.
Yang kedua relasi suami istri itu bertujuan membangun keluarga, melahirkan keturunan. Suami menjadi bapak, dan istri menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Yang ketika relasi suami istri, bapak, ibu dan anak berada dalam bangunan rumah tangga. Agar relasi bisa berhasil harus ditopang oleh ekonomi, ekonomi rumah tangga. Maka yang mencari nafkah akan disebut sebagai kepala rumah tangga.
Lebih dari hal itu secara umum seksualitas manusia sudah berada diluar hukum alamnya. Sehingga perlu diatur, sementara hewan seksualitasnya masih berada dalam hukum alamnya sehingga tidak perlu diatur-atur oleh hukum manusia baik hukum profan maupun religius.
BACA JUGA : Sua Cengkrama Kelana
Sayapun kemudian berusaha menelusuri lebih jauh. Dari beberapa kabar saya memperoleh informasi jika yang ‘menikahkan’ anjing itu adalah Romo Lorenzo OFMCap.
Ordo Saudara Dina Kapusin atau dalam bahasa latin disebut Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum adalah sebuah tarekat religius dalam Gereja Katolik
Ordo ini didirikan oleh St. Fransiskus dari Asisi. Sebagai pengikut St. Fransiskus Asisi atau fransikanes mereka memang dikenal sebagai penyayang binatang.
St. Fransiskus Asisi sebagai pendiri ordo Fransiskan semasa hidupnya memang dikenal menyebut semua ciptaan Tuhan yakni tumbuhan dan binatang sebagai saudara.
Bumi disapa sebagai saudara bumi, matahari juga demikian. Fauna juga disapa sebagai saudara fauna dan flora juga disapa sebagai saudara flora. Semangat dan sikap St. Fransiskus dari Asisi itu masih dihidupi dan diteruskan oleh para pengikutnya sebagai spiritualitas khas Fransiskan.
Dalam tradisi Gereja Katolik dikenal adanya pemberkatan (bukan sakramen) pada benda-benda seperti rumah,mobil, motor dan pernak-pernik benda religius pribadi agar mendatangkan keberkahan.
Karena spiritualitasnya dalam Ordo Kapusin juga dikenal ritual Pet Blessing atau pemberkatan pada binatang peliharaan.
Pet blessing dan pemberkatan lainnya merupakan doa yang singkat. Namun jika dilakukan oleh seorang pastor maka akan disertai dengan pemberkatan.
Doa pemberkatan yang agak panjang biasanya dilakukan untuk pemberkatan rumah, pemberkatan biasa diadakan dalam rangkaian ekaristi, dimana didalamnya akan ada ritual pengusiran setan dengan memercikkan air suci ke seluruh bagian rumah.
Pemberkatan rumah akan meriah karena dilanjutkan dengan syukuran naik rumah baru.
Sementara pemberkatan lainnya umumnya lebih singkat, tidak memakai undangan dan tidak ada syukuran setelah itu.
Dan sesuai yang disampaikan oleh Romo Lorenzo OFMCap, undangan yang disampaikan padanya adalah pet blessing. Acaranya sendiri hanya berlangsung kurang lebih 5 menit.
Acaranya sendiri tidak berlangsung di gereja namun di kawasan Perumahan Pantai Indah Kapuk.
Foto acara pemberkatan kemudian tersebar di sosial media dan menjadi kabar berita di media-media.
Dari apa yang terlihat pada foto memang dengan mudah pet blessing itu akan ditafsirkan sebagai pernikahan binatang.
Gambar yang beredar menunjukkan ada dua ekor anjing dan hiasan di lokasi serta beberapa yang hadir memperlihatkan hal yang serupa yang biasa ditemui dalam pernikahan dengan adat Jawa.
Anjing berjenis Alaskan Malamute yang oleh pemiliknya diberi nama Jojo dan Luna juga diberi pakaian yang seolah menyiratkan sebagai pasangan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan.
Kesan pernikahan semakin kuat sebab budget untuk semua pernak-pernik dan acaranya menghabiskan biaya 200 juta.
BACA JUGA : Akulturasi Budaya Di Balik Keragaman Kuliner Khas Nusantara
Harian Kompas pada 18 Juli 2023 menurunkan berita dengan judul Mewahnya Pernikahan Anjing Jojo dan Luna di PIK : Diawali “Pre-Wedding dan Pesan Katering Khusus Hewan.
Jadi memang benar pemilik anjing yang diberi nama Jojo dan Luna punya intensi menikahkan anjing peliharaan.
Kedua anjing ini dimiliki oleh dua pet lovers yang berbeda.
Yang tidak benar adalah kedua anjing itu dinikahkan secara Katolik.
Maka berita pernikahan anjing secara Katolik adalah misinformasi. Dan gambar yang beredar dimana pastor memberkati kedua anjing itu me jadi misleading.
Masyarakat umum bahkan masyarakat katolik sekalipun mungkin asing dengan pet blessing. Pun juga tidak bisa membedakan dari gambar apakah itu pemberian sakramen atau pemberkatan.
Dari sisi Gereja Katolik menyangkut ajaran iman, hukum gereja dan tradisi berita tentang pernikahan anjing secara Katolik dengan mudah bisa dibantah.
Namun masih menyisakan persoalan terutama pada masyarakat budaya Jawa dimana merasa tidak sepantasnya pakaian adat pengantin Jawa dipakaikan atau dipakai dalam acara ‘pernikahan’ anjing.
Ada yang disebut dengan etika atau kepantasan secara publik.
Apapun itu pernikahan anjing dengan ongkos yang sama dengan pernikahan manusia ini merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang doyan mengejar viralitas.
Kaum crazy rich dengan uangnya bisa sesuka hati ‘memanusiawikan’ hewan peliharaannya.
Sayang kecintaannya kepada binatang kerap menyeret pihak lain terkena getah buruknya.
Gereja Katolik yang punya keberpihakan untuk mendahulukan kaum miskin dan tertindas, kemudian dicitrakan dekat dengan masyarakat kaya raya dan sukses. Untuk mereka kemudian gereja lebih dahulu hadir. Pastor mau terseret dalam drama untuk mendongkrak popularitas umatnya yang kelebihan uang itu.
Pastor mestinya menolak untuk terlibat dalam acara yang sifatnya sensasional dan bisa memancing kontroversi di publik. Pet blessing tetap bisa diberikan namun tidak dalam berbagai pernak-pernik yang berlebihan. Hadirkan anjing atau binatang peliharaan tetap sebagai binatang.
Menuruti orang-orang kaya, orang yang berlebihan uang dengan kemauan yang tidak umum niscaya gereja akan terlihat lemah berhadapan dengan apa yang dimaui orang kaya, seolah mereka menjadi serba boleh.
Gereja yang seharusnya lebih memilih melayani orang miskin, tersisih, tertindas dan menderita kemudian lebih dikenali sebagai gereja kaum tajir.
note : sumber gambar – KOMPAS.COM








