KESAH.ID – Mengesampingkan kenangan bersama Barcelona dan tawaran uang segunung dari Al Hilal, Lionel Andres Messi lebih memilih berlabuh ke Inter Miami. Bermain di Major League Soccer mungkin akan membawa Messi ke pengalaman hidup baru di luar sepakbola.
Usia 35 tahun untuk seorang pesepakbola apalagi dalam posisi sebagai striker jelas sudah uzur.
Meski masih punya kemampuan namun bermain di liga dengan persaingan yang keras jelas bukan pilihan yang bijaksana. Selain terancam tidak berprestasi bisa jadi juga mendatangkan marabahaya, resiko cidera.
Hal itu nampaknya disadari oleh Messi. Setelah mencapai segala-galanya bersama dengan Barcelona, Messi yang tidak bisa dipertahankan oleh klub kesayangannya itu kemudian memilih Paris Saint Germain sebagai tempat untuk berlabuh.
Liga Perancis memang mulai moncer namun dilevel Eropa Liga 1 kerap disebut sebagai Farmer League atau Liga Petani.
Sebutan ini merupakan presetan dari Premiere League. Liga 1 atau Liga Perancis dianggap belum layak masuk dalam liga utama Eropa sebagaimana Liga Spanyol, Liga Inggris, Liga Jerman dan Liga Italia.
PSG yang memperoleh Messi dengan gratis berharap kedatangan Lionel Messi mampu membuat PSG mengangkat trofi Liga Champions.
Tapi Messi yang dipundaknya diberi beban berat itu ketika berpindah ke PSG justru punya keinginan untuk lebih mengutamakan kepentingan Tim Nasional Argentina.
Cita-cita Messi berbeda dengan PSG. Messi ingin mengangkat trofi Piala Dunia. Dan terbukti pilihan Messi tidak salah.
Transisinya dari Barcelona ke PSG yang tak terlalu mulus, Messi lebih mencatat prestasi di Tim Nasional Argentina. Bermain di PSG tidak terlalu membebani Messi dibanding ketika membela Barcelona.
Di saat kebintangannya mulai menurun, Messi berhasil membawa Argentina menjadi Juara Dunia. Energi terakhirnya keluar maksimal di Tim Nasional Argentina.
Mengangkat Piala Dunia nampaknya menjadi mimpi terakhir Messi dalam dunia sepakbola, penghargaan lain tidak terlalu menjadi perhatiannya lagi
Meski masih tercatat sebagai pemain terproduktif di Eropa lewat gol dan assist-nya, namun Messi tak ingin memperpanjang masa pengabdiannya di PSG. Messi tidak mengaktifkan klausul perpanjangan kontraknya di PSG.
Messi tidak nyaman bermain di PSG karena tidak disukai oleh Fans PSG yang menganggap Messi tidak bermain seratus persen untuk klub.
Namun Messi juga belum ingin pensiun. Messi masih ingin bermain bola agar tetap bahagia. Messi juga ingin terus bermain untuk menjaga kebugaran agar masih bisa memimpin Tim Nasional Argentina dalam Piala Dunia mendatang.
Barcelona yang belum rela kehilangan Messi berusaha membawa kembali Messi ke klub kesayangannya.
Peluang Barcelona membawa pulang Messi sangat besar apalagi kini dilatih oleh rekan Messi sendiri, Xavi Hernandes.
Lionel Messi, Xavi Hernandes dan Andres Iniesta sewaktu bermain bersama dikenal sebagai trio sehati di Barcelona.
BACA JUGA : Politik Kejang Kejang
Selain Barcelona, nama Messi kemudian juga dihubungkan dengan Al Hilal, klub dari Arab Saudi.
Tanda-tanda Messi akan kembali berhadapan dengan Christiano Ronaldo terlihat besar karena Messi menerima posisi sebagai Duta Pariwisata Arab Saudi.
Nilai kontrak yang ditawarkan untuk Messi makin hari makin meningkat, jauh diatas yang diterima oleh Ronaldo.
Bermain di Arab Saudi selama setahun bisa membuat Messi menjadi pemain termahal sedunia yang sulit untuk disaingi oleh pemain lainnya.
Namun pada akhirnya Messi memilih untuk berlabuh ke Amerika Serikat, ke klub Inter Miami yang dimiliki oleh David Beckham, pemain Inggris yang juga pernah memperkuat PSG.
Nampaknya Messi memang tidak ingin mencatatkan rekor sebagai pemain termahal. Soal uang Messi memang tidak banyak mencacat rekor, seperti rekor nilai transfer dan lainnya.
Sebagai salah satu pemain terhebat, Messi tidak pernah mencatatkan nilai transfer yang besar. Barcelona tidak membayar besar ketika memperoleh Messi, konon kontraknya bahkan hanya di selembar kertas tissu.
PSG juga memperoleh Messi dengan gratis, pun demikian dengan Inter Miami.
Barcelona gagal membawa pulang Messi karena persoalan keseimbangan keuangan. Bahkan ketika Gerard Pique memilih pensiun, Serqio Busqet dan Jordi Alba tidak diperpanjang kontraknya ternyata belum membuat kondisi keuangan Barcelona membaik.
Selain persoalan keuangan klub, Messi akhirnya tidak memilih Barcelona karena merasa kedatangannya kesana tidak disukai oleh beberapa pihak. Messi tidak ingin merusak kenangan indahnya bersama Barcelona.
Walau tak kembali ke klub kesayangannya, namun Messi menganggap Barcelona adalah rumahnya. Dalam pengertian yang sesungguhnya Messi punya rumah disana dan kerap tinggal disana.
Nampaknya kelak Messi akan kembali ke klub sepakbola Barcelona bukan sebagai pemain.
Meski menganggap nilai kontrak yang ditawarkan oleh Al Hilal sebagai uang besar, namun Messi menyebut dia meninggalkan PSG bukan untuk uang.
Messi ingin mengutamakan keluarganya. Ingin bermain bola tapi juga menikmati hidup bersama dengan keluarganya.
Maka masuk akal jika kemudian Messi memilih Inter Miami karena Messi mempunyai rumah disana.
Di kota ini Messi mungkin juga akan mengalami kehidupan sosial yang tidak asing dengan latar belakang budayanya. 70 persen masyarakat Miami adalah orang Hispanik.
Keturunan kaum migran dari negara-negara di Benua Amerika bekas jajahan Spanyol.
Berpindah ke Miami, Messi tidak akan mengalami gegar budaya. Seperti halnya ketika pertama pindah ke Paris, Perancis. Satu tahun pertama Messi kesulitan.
Kehidupan yang tidak mulus itu mungkin turut berperan besar pada keputusan Messi untuk tidak mengaktifkan klausul perpanjangan kontrak dengan PSG.
BACA JUGA : Resesi Seks
Kontrak Messi dengan PSG akan berakhir bulan Juni ini. Selama bulan ini kemungkinan besar Messi akan libur dan mengikuti kegiatan bersama dengan Tim Nasional Argentina untuk melakukan Tur Asia termasuk ke Indonesia.
Bulan Juli nanti kemungkinan Messi akan bergabung dengan Inter Miami. Namun debutnya bersama The Herons kemungkinan akan terjadi di Minggu terakhir bulan Juli.
Entah Messi akan memakai kostum nomor berapa.
Di dunia balap motor ada Marc Marquez yang memakai nomor MM 93. Nomor itu untuk mengabadikan tahun kelahirannya.
Mungkin unik juga jika Messi kemudian memakai nomor MM 23. Untuk mengabadikan Messi yang bergabung dengan (Inter) Miami pada tahun 2023.
Bagi Messi bergabung ke klub sepakbola Amerika atau Major League Soccer ibarat sebuah kelahiran baru.
Di Amerika Serikat sepakbola bukan olahraga yang terkenal. Dibanding dengan Liga Eropa, Liga Amerika jelas jauh kualitasnya.
Datang ke Amerika Serikat Messi bukan hanya sebagai seorang pemain melainkan juga duta yang padanya disematkan beban untuk membuat sepakbola atau soccer menjadi semakin populer di Amerika Serikat.
Bagi banyak orang Amerika adalah impian karena di negeri Paman Sam seseorang yang bukan siapa-siapa bisa menjadi siapa-siapa.
Messi datang sebagai bintang sepakbola dunia. Namun mungkin dia punya impian lain yang bisa diwujudkan di Amerika Serikat.
Di Miami, Messi bisa mencoba kehidupan lain di luar sepakbola, bisa jadi Messi akan bermain film atau menjadi pembicara publik.
Jika selama di Eropa, Messi lebih fokus pada sepakbola sebagai olahraga prestasi, maka di Amerika Serikat Messi bisa menjadi duta sepakbola sebagai gaya hidup atau hiburan.
Sebab Amerika Serikat memang jagoan dalam mengemas dan memasarkan industri gaya hidup.
Kita tunggu saja bagaimana perubahan penampilan dan aksi MM 23 di Amerika Serikat nanti.
Namun satu hal yang paling layak ditunggu adalah kedatangan Sang Messiah di Indonesia untuk mempertontonkan aksinya melawan Tim Nasional kebanggaan kita.
Sayang pertandingan ini akan membuat Cak Lontong kehilangan satu beat andalannya.
Selama ini Cak Lontong selalu membanggakan diri soal belum adanya Tim Nasional dari negara peraih piala dunia yang berhasil mengalahkan Tim Nasional Indonesia.
Bukan karena Tim Nasional Indonesia hebat melainkan karena tak pernah bertanding melawan Tim Nasional dari negara peraih piala dunia.
Dan di kesempatan pertama menjajal FIFA Match Day, T
Im Nasional Indonesia berkesempatan melawan juara dunia.
Dan Cak Lontong memprediksi Tim Nasional Indonesia kemungkinan besar akan kalah.
Meski demikian kekalahan ini mungkin akan menjadi kekalahan yang membanggakan.
Dan Cak Lontong masih bisa membuat beat baru dengan mengatakan “Satu satunya Tim Nasional juara dunia yang berhasil mengalahkan Tim Nasional Indonesia hanyalah Argentina,”.
note : sumber gambar – CNBC.COM








