KESAH.ID – Lahirnya kota dan kawasan urban umumnya membuat hewan serta tumbuhan liar di wilayah itu tersingkir. Namun perlahan-lahan ekosistem kota dan kawasan urban sebagai ekosistem buatan ternyata merupakan habitat yang cocok bagi binatang liar tertentu. Binatang liar hidup dari sisa-sisa buangan manusia. Dan pada giliran berikutnya datang dan bermukim binatang-binatang predatornya. Rantai makanan alamipun terbentuk.
Badan Pusat Statistik {BPS} pada tahun 2020 lalu memperkirakan sebanyak 56,7 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan. Jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat hingga pada tahun 2035 nanti akan mencapai 66,6 persen.
Prediksi atau proyeksi ini senada dengan yang diungkapkan oleh Bank Dunia dimana pada tahun 2045, saat memasuki Indonesia Emas atau seratus tahun merdeka, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan akan mencapai angka 220 juta atau setara dengan 70 persen populasi penduduk Indonesia.
Hingga saat ini Jakarta menjadi kota yang paling banyak didatangi oleh penduduk dari daerah-daerah lain. Belum berubah dari jaman saya kecil dimana Jakarta selalu menjadi contoh yang diambil oleh Bapak dan Ibu Guru untuk menerangkan urbanisasi.
Walau Ibu Kota Jakarta sering disebut lebih kejam dari ibu tiri namun tetap saja didatangi oleh masyarakat dari berbagai penjuru. Barangkali mereka berpikir masih lebih untung punya ibu kejam daripada tidak punya ibu sama sekali.
Dan ketika Jakarta begitu sesak namun pendatang masih terus bertambah, kemudian memunculkan masyarakat komuter. Mengadu nasib ke Jakarta namun tinggal di sekitarnya. Data dari BPS pada tahun 2019 menunjukkan 1,25 juta orang yang beraktivitas harian di Jakarta ternyata tinggal di Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi.
Fenomena “Citayam Fashion Show” menjadi bukti tentang masyarakat komuter di Ibu Kota Jakarta. Mereka menyerbu jantung Ibu Kota untuk nongkrong. Anak-anak muda ini tinggal di kawasan penyangga Ibu Kota yang mulai sesak hingga tak ada tempat dan fasilitas yang cukup untuk bergaya tebar-tebar pesona.
Saya memperkirakan dalam tahun-tahun mendatang gelombang urbanisasi akan berpindah seiring dengan pembangunan kawasan Nusantara yang menjadi Ibu Kota Baru Indonesia.
Untuk masyarakat Kalimantan Timur sendiri, urbanisasi bukanlah sesuatu yang asing. Kota-kota di Kalimantan Timur sebagian besar tumbuh atau dirintis oleh kaum pendatang. Namun perpindahan masyarakat dari daerah lain ke Kalimantan Timur karena perpindahan Ibu Kota Negara akan mempunyai corak berbeda dari urbanisasi sebelumnya.
Dengan rentang pembangunan IKN yang panjang {kurang lebih 25 tahun} akan ada corak masyarakat komuter baru. Masyarakat komuter IKN akan lebih besar dan jauh ulang aliknya ketimbang Bodetabek-nya Jakarta.
PO Sinar Jaya, salah satu perusahaan transportasi terbesar yang berpusat di Bekasi sejak Februari 2023 lalu telah membuka layanan perintis transportasi darat dari Balikpapan ke IKN. Dengan mengambil rute Pelabuhan Semayang, Bandara Sultan Aji Muhammad Sepinggan, Terminal Batu Ampar lalu IKN, rute ini melayani kaum komuter keluar masuk IKN untuk pendatang terutama dari pulau Jawa.
Ada 6 atau 7 bus yang didatangkan oleh Sinar Jaya untuk melayani rute ini. Saat ini sopir bus eksekutif dengan 26 kursi jenis reclining seat, ber-AC dan dilengkapi USB Charging memang masih kesepian karena sering kosong penumpang. Namun seiring dengan masif-nya pembangunan IKN bisa jadi akan diikuti oleh perusahan otobus lainnya.
Memang belum ada update data soal berapa persisnya pertumbuhan penduduk di kota-kota sekitar IKN, seperti Balikpapan, Penajam, Samboja dan Samarinda. Demikian juga dengan dampak yang ditimbulkan olehnya.
Saya juga tak punya cukup data dan pengetahuan soal ini, sebab sampai hari ini saya belum sekalipun menginjakkan kaki di kawasan sekitar IKN {Kecamatan Sepaku,PPU}. Maka saya lebih memilih untuk mengajak kita memikirkan aspek lain dari urbanisasi yang tidak hanya membuat penduduk sebuah kota bertambah pesat dan memunculkan kawasan urban baru, melainkan juga memunculkan kawanan binatang urban, binatang liar yang hidup di kawasan perkotaan.
BACA JUGA : Tebang Pilih Memang Kebiasaan Kita
Secara umum tumbuhnya kawasan perkotaan akan membuat binatang liar tersingkir, ekosistem dan habitat mereka terganggu. Namun sejarah perkotaan juga mencatat keberadaan kawanan binatang liar yang mampu beradaptasi dengan kehidupan perkotaan sehingga sadar atau tidak binatang-binatang ini kemudian menjadi sahabat lingkungan perkotaan.
Fakta ini direkam dengan sangat bagus lewat sosok kartun paling populer sepanjang masa, Mickey Mouse. Karakter tikus antropomorfik yang diciptakan oleh Walt Disney dan Ub Iwerks di tahun 1928. Konon yang menjadi inspirasi terciptanya kartun ini adalah rasa takut {jijik dan geli} mereka berdua pada tikus.
Tikus memang merupakan salah satu hewan liar yang paling sukses beradaptasi terhadap perubahan lingkungan hidupnya. Hewan-hewan liar lainnya yang kemudian bersahabat dengan lingkungan perkotaan adalah serangga, kecoak, semut, cicak, tokek, rayap, kucing liar, anjing liar dan berbagai jenis burung.
Salah satu burung yang paling bertahan dan terus berbiak adalah burung gereja. Walau namanya burung gereja namun suka juga tidur dan mengotori masjid.
Kembali ke tikus, umumnya tikus yang hidup di lingkungan perkotaan adalah tikus atap, tikus got dan tikus clurut. Meski dibenci dan diburu oleh manusia perkotaan untuk dimusnahkan, namun tikus mampu bertahan dengan bersembunyi di lingkungan yang dekat manusia namun jarang diperhatikan atau ditinggali oleh manusia.
Bersembunyi di sudut-sudut gelap, saat manusia istirahat atau tidur, tikus leluasa mencari makan remah-remah yang ditinggalkan oleh manusia. Sampah atau limbah yang berlimpah membuat tikus tetap bertahan.
Sejauh pengalaman saya melewati jalanan di Kota Samarinda terutama di area permukiman, teramat mudah untuk bertemu dengan bangkai tikus yang tergeletak dijalanan. Tikus mati terlindas ban kendaraan. Barangkali karena kekeyangan dan kegemukan, tikus yang hendak menyeberang jalan tak lagi gesit berlari menghindari roda kendaraan.
Dan berlawanan dengan anggapan umum, kucing-kucing sepertinya tak lagi menganggap tikus sebagai musuhnya. Jarang sekali terlihat kucing mengejar-ngejar tikus, apalagi menangkap dan kemudian menyantap habis.
Sekitar 20 tahun lalu, saat saya mulai tinggal di Samarinda, sering kali dari got di samping rumah saya muncul bulus., reptil sejenis kura-kura yang tempurung gepeng dan cenderung lunak. Namun kini susah untuk ditemui lagi. Mungkin dagingnya enak sehingga kalau bertemu dengan orang akan segera ditangkap, daging berjalan itu tak akan dibiarkan lewat.
Yang justru masih sering ditemui muncul dari saluran air adalah biawak. Saat panas terik menyengat atau kala hujan lebat turun biasanya biawak akan keluar dari persembunyiannya. Mencari tempat berteduh atau tempat yang tak tergenangi air. Ada juga yang memburunya, namun biawak lebih cepat larinya daripada bulus sehingga banyak yang tidak tertangkap tangan.
Beberapa bukit di Samarinda yang ditumbuhi pepohonan juga bisa ditemukan sekelompok monyet liar. Terkadang mereka bermain diatap rumah dan halaman rumah warga. Monyet-monyet ini sering kali mencuri buah-buahan dan hasil tanaman lainnya milik warga.
Media massa beberapa kali memuat berita tentang anak-anak dan warga lainnya yang diserang oleh monyet-monyet ini. Tahun 2019 lalu di Berambai, Kecamatan Samarinda Utara pernah terjadi serangan sekelompok monyet yang melukai kurang lebih 13 warga.
Tanpa program dan proyek konservasi ternyata kota bisa menjadi tempat hidup bagi banyak binatang liar. Bahkan kemudian kehadirannya tidak diinginkan oleh masyarakat yang mendiami kawasan perkotaan. Namun racun, obat, jerat/perangkap dan lainnya ternyata tak mampu menghalangi mereka berkembang biak dan tumbuh menjadi salah satu komunitas sahabat kota.
BACA JUGA : Dari Mana Datangnya Kebencian Pada Materi
Berbagai studi tentang kehadiran begitu banyak hewan di kota ternyata tak lepas dari ulah masyarakat penghuninya. Ketika mengembangkan kota baik pemerintah maupun warga sama-sama mendesain kawasan hunian yang hanya ditujukan untuk manusia. Rekayasa lingkungan secara langsung atau tidak langsung mengusir sebagian besar penghuni aslinya, satwa dan tanaman liar.
Namun dalam perkembangannya sebagian satwa yang terusir akan kembali untuk menetap dan berkembang biak karena perilaku penghuni kota menghasilkan sumber-sumber pakan yang memungkinkan hewan untuk berkembang.
Peter S Alagona penulis buku The Accidental Ecosystem {2022} dalam sebuah wawancara dengan media menerangkan bahwa pada awalnya hewan-hewan yang hidup di perkotaan dan beradaptasi dengan kondisinya adalah hewan-hewan kecil. Salah satunya adalah tikus.
Tikus mampu hidup karena kota menjadi surga untuk mereka akibat sisa-sisa makanan yang tersedia sepanjang waktu. Kebiasaan membuang sampah sembarang, membuat sumber pakan tikus tidak hanya ada di tempat sampah melainkan juga di saluran air, pelataran, jalanan, dapur, ruang makan dan lain-lain.
Berbiaknya binatang-binatang kecil pada akhirnya akan memanggil predator. Beberapa kali ada video viral tentang penangkapan ular sanca dan piton yang berukuran besar. Ada yang ditangkap di atap rumah, gorong-gorong atau saluran air dan tempat lainnya. Semua orang kaget dan tidak menyangka.
Semua heran padahal jika dipikir lebih dalam hal itu wajar saja terjadi. Banyaknya tikus yang berkeliaran tentu akan menjadi kemudahan bagi ular, binatang pemangsa tikus untuk hidup di lingkungan perkotaan. Ular bisa bersembunyi dalam kegelapan tempat tikus biasa lewat, lalu tinggal hap ditangkap untuk dilahap.
Dalam pengamatan Alagona, binatang yang terpikat dengan kehidupan perkotaan atau tinggal dalam lingkungan manusia melakukan adaptasi untuk bertahan hidup dengan cara mengembangkan insting khusus. Binatang-binatang ini akan beraktivitas pada saat intensi kegiatan manusia frekwensinya rendah. Mereka umumnya menjadi binatang nocturnal, keluar mencari makan di malam hari saat sebagian besar manusia tengah beristirahat.
Selain binatang yang benar-benar liar, populasi hewan urban juga bertambah karena hewan peliharaan yang kemudian diabaikan dan berkembang menjadi binatang liar. Yang paling umum adalah anjing dan kucing.
Kecepatan mereka berbiak membuat yang memelihara tak lagi sanggup menjaga, lalu dibuang atau tak diperhatikan lagi sehingga ‘minggat’ dari rumah majikannya. Untung di daerah tertentu ada predator anjing yakni manusia-manusia yang doyan menyantap rw atau daging anjing.
Tapi tidak demikian dengan kucing, tak cukup banyak orang yang tega memangsanya karena kucing umumnya dipelihara sebagai binatang kesayangan. Dan kucing-kucing liar atau setengah liar di kawasan urban semakin nyaman karena banyak orang baik berbagi makanan. ‘Street feeding’ memberi makan kucing-kucing liar di jalanan menjadi salah satu kegiatan ‘amal’ baik bagi binatang di perkotaan.
Di Kota Samarinda dan umumnya kota lainnya, sungai-sungai juga dihuni oleh ikan sapu-sapu. Sebutan populernya adalah ikan cicak karena suka menempel di dinding sungai. Ikan ini berasal dari ikan peliharaan yang ditugaskan untuk membersihkan dinding akuarium.
Namun ketika semakin membesar dan tak proporsional lagi dengan ukuran akuariumnya kemudian dilepas ke perairan umum, dibuang ke got atau saluran air lalu masuk ke sungai dan berkembang biak sehingga menjadi penghuni utama sungai-sungai di perkotaan.
Meski telah lama hidup berdampingan, binatang-binatang liar urban ini jarang menjadi perhatian utama baik pemerintah, masyarakat maupun pecinta lingkungan. Yang lebih disorot adalah binatang-binatang yang terancam punah di hutan-hutan.
Sementara cara pandang kita terhadap binatang-binatang liar urban adalah untuk memusnahkan. Padahal ada banyak jenis binatang liar urban yang turut menjaga kelangsungan ekosistem perkotaan, membantu penyerbukan dan pembiakan pepohonan yang membuat kota tetap menghijau.
Andaikan lingkungan kota atau kawasan urban mampu membentuk rantai makanan alami niscaya manusia dan binatang liar urban mampu hidup berdampingan secara serasa, tidak saling menganggu atau terganggu.
Presiden Joko Widodo yang berhasil memindahkan Ibu Kota Negara yang merupakan cita-cita lama pemimpin bangsa, menyebutkan bahwa Ibu Kota Negara Nusantara akan menjadi Kota Rimba Nusantara.
Dengan 80 persen wilayahnya yang akan dipertahankan dan dibangun sebagai hutan, semoga penduduk dan penghuninya kelak akan menganggap orang utan, macam dahan, kancil, ular piton, ular sanca, buaya, trengiling, burung rangkong, burung enggang dan lain-lain sebagai sesama penghuni kota.
Nusantara akan hebat jika mampu menjadi ekosistem yang menyediakan ruang hidup bagi semua mahkluk untuk hidup berdampingan dan saling memberi sumbangsih untuk menjaga layanan ekosistemnya.
Jadi tak perlu terkejut dan berteriak-teriak jika nanti piknik ke Ibu Kota Negara Nusantara lalu melihat orang utan membuat sarang di pohon besar yang berdiri tegak tak jauh dari gedung istana negara.
note : sumber gambar – ID.INNERSELF.COM








