KESAH.IDUngkapan numpak mercy mbrebes mili, mikul dawet uro-uro atau orang kaya naik mercy berurai air mata, tukang cendol bernyanyi bahagia merupakan sebuah contoh bagaimana ide kesederhanaan lebih disukai ketimbang berlimpah materi. Secara kultural kerap diajarkan bahwa materi tidak membawa kebahagiaan.

Kabarnya buah anggur di benci oleh kaum Rubah. Mulai dari Srigala tua, dewasa, muda, remaja dan anak kompak mengatakan kalau buah anggur itu tidak enak. Maka Rubah kemudian lebih menyukai daging-dagingan daripada buah-buahan.

Kisah ini bermula dari seorang penutur cerita dari Yunani bernama Aesop. Dia dikenal dengan cerita pendek yang memberi pelajaran kehidupan dalam bentuk fabel, cerita berlatar dunia binatang.

Tentang sang Rubah yang tak suka buah anggur, Aesop mengisahkan suatu ketika di dalam hutan hiduplah seekor Rubah. Binatang sekeluarga dengan Anjing dan Srigala ini suka membuat sarang di dalam tanah. Bosan berada dalam sarangnya, Rubah kemudian jalan-jalan di dalam hutan.

Mulai didera rasa haus dan lapar, Rubah kemudian melihat pokok anggur di semak-semak, buahnya lebat, masak dan sungguh menggoda. Rubah ingin memetik dan memakannya untuk mengusir rasa haus dan lapar agar kembali bisa berjalan-jalan nyaman di dalam hutan.

Sayangnya buah anggur yang ranum itu berada di ketinggian, Rubah tak bisa menjangkaunya. Rubah berusaha terus untuk bisa meraih tangkai buah anggur, namun gagal. Tak ada pijakan yang cukup tinggi agar bisa menjangkaunya.

Rubah pun menyerah dan meninggalkan pokok anggur di semak-semak itu, pergi mencari makanan lain untuk mengusir rasa haus dan laparnya. Sambil melangkah menjauhi semak-semak itu, Rubah menyakinkan dirinya kalau keputusan meninggalkan pokok anggur dengan buah nan ramum itu adalah keputusan yang tepat.

Dia meyakinkan dirinya bukan karena gagal meraih tangkai buah yang membuatnya meninggalkan pokok anggur, melainkan karena buah anggur itu tidak enak dan dia tidak akan menyukainya.

Konon semenjak itu bangsa Rubah menjadi tak suka anggur.

Kisah itu tentu bukan cerita sebenarnya, fabel atau cerita dunia binatang adalah kisah karangan tidak seperti mitos, saga atau legenda yang biasa berasal dari fakta sejarah yang kemudian dibumbui oleh kisah rekaan.

Pencerita fabel meminjam tokoh dan latar dunia binatang agar pesan moral, sindiran atau lainnya tak langsung membuat orang menjadi baperan. Teknik ini akan membuat pengarang atau pencerita menjadi aman dari tuduhan penistaan atau penghinaan.

Dalam cerita Rubah yang kemudian tak suka buah anggur, Aesop hendak mengambarkan perilaku manusia yang kerap merasionalisasikan kegagalannya tanpa menyalahkan dirinya sendiri. Agar integritas egonya tak terluka, kegagalan ‘meraih anggur’ kemudian dirubah menjadi sengaja meninggalkannya dengan menganggap anggur tak enak hingga dirinya tak suka.

Anggur yang tak enak dan yakin tak akan disukai itu kemudian diceritakan ke Rubah lainnya. Merekapun percaya. Keyakinan yang kemudian dirubah menjadi kebenaran personal itu kemudian diterima sebagai kebenaran kolektif sehingga bangsa Rubah menjadi tak suka anggur, tak tegoda oleh buahnya yang ranum.

Kepada Rubah yang baru lahir akan diajarkan nasehat turun temurun agar tak tergoda oleh penampilan buah yang mempesona, karena dibalik pesona visualnya ada rasa yang tak enak.

Kegagalan Rubah meraih pokok anggur kemudian dirubah menjadi keyakinan baru, anggur tidak enak maka tak pantas disukai, tak perlu membuang waktu untuk mencari cara meraihkan karena anggur tak pantas diperjuangkan.

BACA JUGA : Drawing U 20 Batal, Selera Kemanusiaan Kita Jadi Soal

“Dasar China!”

Dulu, dulu sekali saya dan umumnya anak-anak di kampung sering mengucapkan kata itu kepada anak lainnya yang dipandang pelit, tidak mau berbagi mainan atau bermain bersama dengan teman-teman lainnya.

Anak-anak yang sering menunjukkan mainan namun tak sudi mainannya dipegang atau dimainkan oleh anak lainnya akan kami panggil “Si Chino ireng,”

Di kampung saya tidak ada orang China. Tapi China selalu menjadi sasaran untuk melabeli beberapa kelakuan yang menurut kami tak layak untuk dilakukan.

Entah darimana datangnya kebiasaan ‘men-China-China-kan’ itu sehingga seolah-olah semua hal yang berbau China mesti dibenci.

Tinjauan kesejarahan muasal kebanyakan orang Jawa {saya dan teman-teman sepermainan waktu kanak-kanak} membenci orang China diurai oleh Guru Gembul, seorang youtuber yang kerap menyapa netizen dengan sebutan baraya.

Menurutnya kebencian ini dimula sejak jaman-jaman kerajaan Nusantara.

Alkisah di jaman itu banyak pendatang dari China, ada yang datang untuk misi dagang dan lainnya namun ada pula yang datang untuk menetap mencari rejeki di tanah orang.

Kaum China perantauan ini dengan keuletan dan kemampuan dagangnya perlahan menjadi kelompok masyarakat mapan. Rejekinya jauh diatas rata-rata orang pribumi.

Dalam persepsi masyarakat setempat hal ini dipandang tidak umum. Sebab yang umumnya bisa kaya atau berharta adalah kaum bangsawan, raja dan kerabat-kerabatnya, juga para punggawa besarnya. Mereka bisa kaya karena punya tanah atau menguasai tanah yang luas. Pada masa itu yang bisa dikapitalisasi memang tanah.

Dan orang-orang China perantauan yang kemudian bisa kaya bukan karena kepemilikan tanah yang luas kemudian mengejutkan.

Tentu hal ini kemudian menimbulkan rasa iri, tapi masyarakat lokal tak tahu bagaimana cara mengejar ketertinggalan itu.

Alih-alih belajar dari orang China perantauan, masyarakat lokal kemudian mengkompensasi kegagalannya mengejar pencapaian China perantauan itu dengan menjadikan apa-apa yang dilakukan oleh orang China menjadi sasaran ajaran kebencian.

Orang Jawa kemudian mengajarkan materi bukan menjadi tujuan, kualitas diri lebih penting daripada materi. Rejeki tak perlu dikejar karena semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, nrimo ing pandum.

Maka orang-orang yang dari pagi hingga petang bekerja keras mengumpulkan uang akan dikata-katai “Urusan duit kok ora leren-leren, bondo kui ora digowo mati,”

Dan mereka yang kaya tidak akan dihargai sebagai pencapaian atas kerja kerasnya. Kekayaan selalu dicurigai sebagai hasil dari sikap pelit, tidak suka menolong orang lain dan tak peduli pada saudara serta lainnya.

“Pantes wae sugih, wong serakah lan medit,”

Sesamanya yang kemudian berhasil kaya dan mulai sering menunjukkan kekayaan bakal jadi sasaran umpatan “Dasar kere munggah bale,”

Orang biasa yang kemudian kaya dan mulai menunjukkan kekayaannya akan dianggap tak tahu diri maka diibaratkan sebagai orang miskin yang tidur di peraduan raja.

Dan kebencian pada kaum China perantauan semakin memuncak ketika jaman penjajahan Belanda. Belanda yang tak mau berurusan dengan kaum pribumi menjadikan orang China sebagai perantaranya. Hal-hal buruk yang sebenarnya merupakan kebijakan kolonial namun di lapangan dijalankan oleh orang China, membuat kaum China perantauan dan anak-anaknya semakin dibenci oleh orang pribumi.

BACA JUGA : Deep Fake Mesin Produksi Informasi Terdistorsi Kian Cerdas

Dalam perkembangnya ternyata materi kemudian yang menjadi ukuran. Semua sukses kini selalu diukur secara material. Pintar, juara, trampil dan lainnya memang dihargai tapi kalau ujung-ujungnya tidak menghasilkan materi atau uang akan dianggap percuma. Kada jadi baras, ujarnya.

Tapi anehnya materi tetap dibenci, bukan hanya oleh orang Jawa tapi juga umumnya orang-orang lain. Sebab banyak ajaran lain seperti budaya dan agama yang juga mengajarkan agar manusia tak tunduk pada materi. Mengejar materi sama artinya hanya mengutamakan kepentingan dunia yang bisa menghambat jalan menuju surga.

Hal mana kemudian menimbulkan kontradiksi dan juga paradoks. Antara keyakinan dan kelakuan menjadi tidak sejalan.

Banyak orang ingin kaya namun sekaligus benci ketika melihat orang lain kaya atau menunjukkan kekayaannya.

Mereka yang menunjukkan kekayaan dengan memakai barang-barang mahal akan disebut tukang pamer. Dan menunjukkan kekayaan kemudian akan dianggap sombong.

Orang-orang yang menunjukkan kekayaan atau kemewahan kemudian disebut tidak benar-benar kaya karena kekayaan yang sejati itu tak bersuara, uang itu diam tidak berisik.

Tapi jika memang benar kaya kemudian sumber-sumber kekayaannya dicurigai. Jaman dulu dibilang ngepet, pesugihan atau pelihara tuyul, Kalau jaman sekarang akan dianggap korupsi, kong kalikong dengan penguasa, suap dan terlibat dalam pencucian uang sampai tipu-tipu.

Masalahnya mereka yang tidak benar-benar kaya juga sering tergoda untuk kelihatan kaya, hingga tak ragu-ragu memakai barang-barang palsu.

Yang lebih lucu, mereka yang pakai barang asli lalu diserang suka pamer kemudian mulai meyakinkan orang lain bahwa yang dipakainya itu barang tiruan. Tanpa sadar bahwa memakai barang tiruan itu adalah kejahatan atau sekurangnya berintegritas rendah.

Urusan benci dan kemudian ‘iri’ pada yang berpunya ini memang rumit dan kerap menimbulkan persepsi yang salah. Yang disebut barang mewah, barang mahal barangkali dibeli oleh orang bukan untuk bergaya namun soal mutunya.

Seseorang memilih barang yang harganya mahal karena pengerjaannya rapi, enak dipakai dan awet maka secara fungsional harga yang mahal akan dikompensasi dengan masa pakai yang panjang. Dan kalau sudah bosan bisa dijual lagi, mudah lagu dan harganya masih lumayan tinggi.

Jadi nggak ada urusan dengan pamer atau mau menunjukkan kekayaan. Kalaupun mau pamer ya sebenarnya tak apa-apa. Toh kalau pamer dan kemudian mati lalu masuk neraka, itu kan urusannya dia sendiri.

Tapi kalau pamer lalu merasa diri lebih tinggi dari orang lain lalu bisa bertindak seenak udelnya sendiri macam Mario tentu saja pantas dicaci. Tapi bukan pamernya melainkan sikap dan perilaku kekerasannya.

“Ngono yo ngono tapi ojo ngono,”

Ungkapan dalam bahasa Jawa ini kemudian mewakili kebingungan menghadapi realitas kematerialan. Pada satu sisi material itu penting tapi pada sisi lainnya material dianggap akan menghambat pencapaian keutuhan sebagai manusia.

Untuk menyeimbangkan hal itu kemudian diperlukan tahu diri, tepo seliro.

Masalahnya, ukurannya tidak jelas dan spektrumnya amat luas. Tahu diri itu abu-abu, tidak hitam putih.

Dan Presiden kemudian juga terjebak dalam sikap ini, hingga ikut-ikut melarang para aparatur pemerintahan beserta keluarganya untuk menunjukkan kekayaannya, mempertontonkan cara hidup orang sejahtera.

Padahal jika aparatur negara sejatera, kaya-kaya dan kebutuhan hidupnya tercukupi hingga keluarga beserta anak cucunya senang serta bahagia harusnya Presiden bangga. Sekurangnya para abdi negara sudah dihargai dengan sebagaimana mestinya, negara tidak menindas para punggawanya.

Yang mestinya ditekankan oleh Presiden, dirinya benci materi seandainya materi itu diperoleh dengan cara tidak benar, dengan mengkapitalisasi  jabatan dan kedudukan. Sehingga kantongnya tebal karena rajin menerima suap dan merampok uang negara serta rakyat lewat korupsi.

Andaikan para abdi negara bisa sejahtera tentu saja akan membuat generasi penerus bangsa akan punya cita-cita mulia untuk mengabdi pada bangsa dan negara.

note : sumber gambar – HARAPANRAKYAT.COM