KESAH.IDBangsa kita memang bangsa pesilat terutama silat lidah. Dan gara-gara silat lidah terpaksa kita mesti menjilat ludah sendiri. Penyelenggaraan Piala Dunia U 20 yang kita minta sendiri untuk dilaksanakan di Indonesia ternyata mesti dibatalkan oleh FIFA karena muncul penolakan di sana sini oleh elemen negeri sendiri.

Karena waktu berjalan dengan sangat cepat, anak-anak muda kerap menggambarkan sejarah sebagai yang akan terjadi pada hari besok. Tetapi hal itu tak berlaku bagi orang tua, untuk mereka hari-hari adalah sejarah karena kemarin belumlah berlalu.

Sejarah kadang kala ditulis memang bukan untuk sekedar kenangan, melainkan sebagai sebuah peringatan. Banyak yang meyakini sejarah akan berulang karena hidup dan kehidupan itu siklik, maju tetapi seperti spiral atau per. Lingkaran yang terhubung akan membuat apa yang pernah terjadi kembali akan terjadi walau tak sama persis.

Urungnya Timnas U 20 bertanding dalam di level dunia karena FIFA membatalkan posisi Indonesia sebagai tuan rumah seolah mengulang kejadian yang sama, 65 tahun yang lalu. Penyebabnya sama yakni Israel.

Kala itu Timnas Indonesia sudah berhasil lolos ke babak kedua penyisihan grup 1 Zona Asia Afrika. Pada babak pertama Indonesia berhasil mengalahkan Tiongkok. Babak kualifikasi yang mestinya diikuti oleh Indonesia, Tiongkok dan Taiwan, namun Taiwan mundur karena tak mungkin bertanding dengan Tiongkok.

Maju ke babak kedua lewat keunggulan agregat 5-4 dengan Tiongkok, Indonesia, kans untuk melaju ke babak final Piala Dunia kemudian ditolak oleh Indonesia karena di dalam grup selain Mesir dan Sudan ada Israel.

Indonesia, Mesir dan Sudan menolak bermain dengan Israel hingga kemudian Israel keluar sebagai wakil tunggal zona Asia Afrika. Oleh FIFA, Israel kemudian dipertemukan dengan Wales. Tapi Israel kalah dan Wales untuk pertama kali masuk dalam putara final Piala Dunia.

24 November 2019 lalu Indonesia terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia U 20. Diumumkan sendiri oleh Presiden FIFA, Gianni Infatino dalam FIFA Council Meeting di Shanghai, China. Indonesia mengalahkan Brasil dan Peru.

Dari sepuluh stadion yang ditawarkan, 6 diantaranya yang diterima. Keenam stadion itu ada di Jakarta, Palembang, Bandung, Solo, Surabaya dan Gianyar. Konon untuk mempersiapkan ke enam stadion agar layak menghelat gelaran Piala Dunia U 20 telah digelontorkan dana kurang lebih 400-an miliar.

Saat pengumuman penunjukan tuan rumah belum diketahui siapa saja peserta yang akan mengikuti Piala Dunia U 20 di Indonesia.

25 Juni 2022, Israel lolos sebagai peserta Piala Dunia U 20 di Indonesia, setelah keluar sebagai Runner Up Grub B usai Serbia dikalahkan oleh Austria 2 – 3.

Mulai muncul polemik, namun Mochamad Iriawan ketua PSSI waktu itu memastikan Israel tetap akan bermain di Indonesia karena dijamin oleh pemerintah.

Zainudin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga waktu itu juga menyatakan hal yang sama. Saat itu Menpora menegaskan kepada masyarakat untuk memisahkan antara olahraga dan politik.

Segera setelah diketahui soal keikutsertaan Israel, mulai muncul suara penolakan dari masyarakat. Salah satu yang pertama menolak adalah Medical Emergency Rescue Committee {MER-C} yang mengadakan konperensi pers pada 29 Juli 2022 lalu.

Setelah itu muncul suara penolakan disana-sini hingga kemudian Gubernur Bali, Wayan Koster secara resmi menyampaikan surat kepada Menpora yang berisi penolakan atas kehadiran Timnas Israel dalam Piala Dunia U 20. Penolakan itu kemudian disusul oleh Gubernur Jawa Tengah.

Bola bergulir diikuti penolakan oleh DPRD Jawa Barat, Kelompok Masyarakat Sepakbola Palembang, Ormas, MUI dan lain-lain.

Tanggal 24 Maret Presiden Joko Widodo bertemu dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun. Tidak disebutkan pembicaraan soal Piala Dunia U 20. Namun setelah pertemuan muncul rilis media yang menyebutkan Duta Besar Palestina tidak mempermasalahkan kehadiran Timnas Israel di Indonesia. Dubes Palestina disebut tidak mau ikut terseret dalam putaran polemik soal Piala Dunia U 20 di Indonesia dan Israel.

Meski pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan Piala Dunia U 20, namun FIFA kemudian memutuskan untuk membatalkan drawing di Bali dan kemudian diikuti dengan pembatalan posisi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U 20 2023 ini.

BACA JUGA : Dari Mana Datangnya Rasa Benci Pada Materi

Jangan mencampuradukkan sepakbola {olahraga} dengan politik. Begitu pesan yang ditegaskan baik oleh presiden, otoritas sepakbola Indonesia dan beberapa pihak lainnya yang tak menyoal kehadiran Timnas U 20 Israel di Indonesia.

Betul, mestinya memang begitu.

Tapi tak bisa disangkal dalam faktanya yang disebut politik itu omnipresent, hadir dimana-mana. Atas bawah, muka belakang, kiri kanan kita itu politik.

Dan sejarah mencatat kalau sepakbola sebagai olahraga yang digemari dimana-mana memang dekat dengan politisasi, kerap dimanfaatkan untuk mengelorakan nasionalisme baik sempit maupun luas. Sepakbola sering dipakai sebagai alat perjuangan politik.

Rivalitas antara Barcelona dan Real Madrid misalnya adalah rivalitas politik antara orang Catalonia dan Spanyol. Sebelum Yugoslavia pecah, Red Star Beograd juga melambangkan perlawanan dari Serbia untuk memisahkan diri dari Yugoslavia.

Perseteruan abadi lewat sepakbola jua terjadi di Skotlandia antara Celtics dan Rangers. Celtics yang Katolik memainkan laganya untuk merongrong superioritas Protestan yang diwakili Rangers.

Walau begitu entitas sepakbola sebagai olahraga universal berusaha untuk membersihkan anasir-anasir politik dalam permainan. Statuta FIFA dengan tegas mengatur hal itu, dilapangan para pesepakbola dilarang memperlihatkan ekpresi politik, pun demikian dengan para penontonnya.

Tapi tetap tak bisa dihindari kemunculan atau praktek perilaku politik tertentu termasuk dari FIFA sendiri.

Ungkapan jangan mencampuradukkan politik dengan sepakbola merupakan refleksi dari keinginan untuk mengembalikan sepakbola pada khitah-nya yang bebas politik. Meski sulit untuk diwujudkan namun “jangan mempolitisir sepakbola {olahraga” jauh lebih masuk akal daripada mengatakan “jangan mempolitisir agama,”

Sebab dibandingkan dengan sepakbola, agama jelas lebih politik dan ideologis. Terbukti tidak ada partai sepakbola di negeri kita, namun partai politik yang berbasis agama banyak.

Pun belum pernah ada sekelompok orang yang ingin merubah ideologi bangsa dan konstitusi negara berdasarkan sepakbola, namun yang terus punya cita-cita menjadikan agama sebagai dasar dan ideologi negara tetap ada.

Tapi lupakan itu, kembali ke pembatalan Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Piala Dunia U 20 oleh FIFA, menyisakan banyak hal yang mengganjal.

Yang paling menyedihkan ternyata pemerintah tidak kompak. Komitmen pemerintah untuk menjadi penyelenggara tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh tingkatan dalam pemerintahan. Ada kepala-kepala daerah yang ternyata tidak tunduk pada presiden melainkan lebih tunduk pada partainya.

Kemudian yang menolak kehadiran Timnas Israel kerap mengatakan FIFA tebang pilih atau bias politik karena menerapkan standar ganda. Dengan memberi contoh kasus Rusia dalam perhelatan Piala Dunia di Qatar. Jalan Rusia untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia dihentikan oleh FIFA karena Rusia melakukan agresi pada Ukrania.

Sekali lagi benar, FIFA memang terbukti dan secara menyakinkan kerap bias politik Eropa/Amerika. Tapi kita yang mengkritiknya juga melakukan hal yang sama. Jika kita memang ingin taat pada konstitusi soal penjajahan yang harus dihapuskan dari muka bumi, bukankah kita pernah berusaha mencaplok Timor Timur?.

Ya sudah itu sudah berlalu. Namun mari kembali ke agresor, saat ini yang merupakan negara agresor bukan hanya Israel, atas salah satu cara Amerika Serikat juga merupakan negara agresor. Sekarang ini agresi Amerika Serikat masih terus dipraktekkan di Iran lewat embargo.

Dan yang disebut agresi atau perang sekarang ini bersifat asimetris. Tidak lagi selalu lewat senjata. Agresi ekonomi justru lebih berbahaya ketimbang pendudukan secara fisik.

Kalau mau mengikuti semangat Sukarno mestinya kita tidak hanya keras pada Israel, negeri yang seupil itu.  Harusnya kita berani meneriakkan “Go to hell Amerika”, pergi atau kita setrika.

BACA JUGA : Drawing U 20 Batal, Selera Kemanusiaan Kita Jadi Soal 

Usai diperoleh kabar soal kepastian pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U 20 di Indonesia ada kencenderungan dari netizen yang setuju perhelatan itu berlangsung sebagaimana adanya menyalahkan PDIP sebagai biang masalahnya. Ada banyak ungkapan seperti Ganjar mesti diganjar dan lain sebagainya.

Namun netizen yang tidak setuju dengan keikutsertaan Timnas U 20 Israel tak ada yang memuji-muji PDIP. Pun juga petinggi partai lain yang dikenal tak berkoalisi dengan PDIP. Mereka nampaknya senang menikmati PDIP yang keblusuk.

Merasa dikambinghitamkan, PDIP kemudian mengeluarkan pernyataan. Ditegaskan bahwa PDIP sama sekali tidak menolak penyelenggaraan Piala Dunia U 20 di Indonesia, sikap PDIP adalah mendukung pelaksanaannya tanpa kehadiran Timnas U 20 Israel.

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah juga bersikap serupa, mengaku terkejut dan menyesal dengan pembatalan dari FIFA. Ganjar juga mengatakan tidak ada alasan baginya untuk menolak penyelenggaraan Piala Dunia U 20. Yang ditolak adalah keikutsertaan Israel.

Baik PDIP maupun Ganjar nampaknya berikap ‘kura-kura dalam perahu’, pura-pura tidak tahu sehingga seperti tak tahu diri.

Berkaitan dengan Piala Dunia U 20 di Indonesia, posisi kita adalah host atau tuan rumah. Kegiatan ini milik dan diselenggarakan oleh FIFA, maka aneh kalau kita kemudian ikut campur soal siapa yang boleh dan tidak boleh ikut serta. Tidak ada kewenangan apapun dari kita sebagai tuan rumah untuk ikut campur sejauh itu.

Tidak ada otoritas dari kita untuk menggugurkan keikutsertaan Israel.

Piala Dunia U 20 bukanlah The Games Of New Emerging Forces {Ganefo} yang diselenggarakan oleh Sukarno untuk menolak hegemoni negara-negara barat.

Lagi pula posisi sebagai tuan rumah bukanlah model proyek penunjukan langsung atau PL, melainkan lewat proses tender yang ketat. Masak kita sendiri yang mau lalu mulai berulah minta ini dan itu untuk terlaksana disini. Ya kalau mau begitu lakukan jauh-jauh hari jangan seperti anak-anak yang mogok ketika semua sudah siap-siap untuk pergi.

Hentikan kebiasaan untuk menunggang gelombang atau menjaring angin, memanfaatkan segala sesuatu untuk ‘merketing politik’ menjelang pemilu.

Mempersoalkan kehadiran Timnas U 20 Israel tidak bisa dihindari merupakan upaya tebang pilih sebab sepakbola adalah olahraga yang punya banyak pengemar, maka gampang mendapat sorotan.

Soal Israel kenapa tidak ada yang menolak ketika Misha Ziberman berlaga dalam kejuaran dunia BWF di Istora Senayan Jakarta. Atau Yuval Shemla, atlit panjat tebing Israel yang berlaga di seri IF3C di Jakarta dan juga Mikhael Yokovlev yang berlaga dalam kejuaraan UCI Track Nations Cup.

Nasi sudah menjadi bubur jadi telan saja. Toh bubur kalau diberi topping daging ayam, daging asap, sosis, keju mozzarella dan lainnya bisa lebih enak dan nyaman daripada nasi yang hanya ditemani ikan asin.

Toh, enam stadion yang sudah dipermak dengan uang kurang lebih 400 miliar bisa diberdayakan sebagai arena konser andai jatuh sanksi dari FIFA sehingga sepakbola Indonesia vakum sementara. Dengan demikian rencana menggelar 1000 konser untuk menyemarakkan dunia pariwisata dan ekonomi kreatif akan terlaksana.

Semoga hiburan dari para penampil dalam negeri dan mancanegara di lapangan sepakbola bisa mengantar kita untuk merenung lebih jauh, apakah kita ingin mengembangkan sepakbola atau lebih memilih menekuni dan mengembangkan ketrampilan silat, terutama silat lidah dan jilat ludah.

note : sumber gambar – DETIK.COM