Oleh : Adhi – Penulis Tamu, Tinggal di Balikpapan
KESAH.ID – Presiden Joko Widodo akhirnya turun tangan menengahi kisruh penyelenggaraan Piala Dunia U 20 di Indonesia yang mendapat penolakan sebagian elemen bangsa karena keikutsertaan Timnas U 20 Israel. Presiden mengungkapkan pandangan jangan mencampuradukkan antara politik dan olahraga. Jokowi menegaskan secara politik Indonesia mendukung perjuangan Palestina memperoleh kemerdekaan penuh, namun juga menghormati FIFA yang mempunyai aturan tersendiri berkaitan dengan sepakbola.
Penyelenggaraan Piala Dunia U 20 di Indonesia terancam dibatalkan. Argentina dan Peru menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pengantinya.
Berita ini santer dimana-mana akibat munculnya berbagai penolakan atas kedatangan tim psepakbola muda usia dari Israel, negeri yang dianggap menduduki wilayah Palestina.
Suara-suara penolakan yang keluar dari mulut para petinggi, mulai organisasi non pemerintah, agama hingga politik seragam dan bernada galak sepakat bersikeras untuk menolak. Israel boleh main dan berperan serta namun tidak di wilayah Indonesia.
“Ini bukan soal agama, ini soal solidaritas kemanusiaan,” kira-kira begitu pandangan satu dua orang anggota dewan di Senayan, kepala daerah dan gubernur di daerah.
Mengijinkan Timnas U 20 Israel merumput di lapangan sepakbola yang ada di Indonesia sama artinya dengan melanggar konstitusi negara. UUD 1945 jelas-jelas menegaskan sikap bangsa dan negara Indonesia yang anti pada penjajahan di dunia.
Penolakan ini mendapat perhatian dari FIFA Ketika Gubernur Bali, I Wayan Koster menyampaikan secara resmi lewat sepucuk surat yang dilayangkan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dalam suratnya Gubernur Bali menyatakan keberatan wilayahnya dijadikan tuan rumah untuk drawing Piala Dunia FIFA Junior itu. Koster keberatan dengan kedatangan Timnas Israel yang dikhawatirkan akan memicu timbulnya masalah di Bali.
“Kami mohon agar Bapak Menteri mengambil kebijakan untuk melarang tim dari negara Israel ikut bertanding di Provinsi Bali. Kami, Pemerintah Provinsi Bali menyatakan menolak keikutsertaan tim dari negara Israel untuk bertanding di Provinsi Bali,” begitu sebagian isi surat Koster kepada Menpora.
Keberatan yang disampaikan melalui surat walau tidak langsung ke FIFA membuat acara drawing yang akan dilaksanakan pada tanggal 31 Maret mendatang di Bali kemudian dibatalkan oleh FIFA.
Indonesia sendiri ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA level junior melalui bidding pada tahun 2019. Saat itu belum ada list atau daftar pesertanya, nama Israel tidak diduga-duga ternyata muncul sebagai salah satu finalis.
Pertandingannya sendiri akan dilaksanakan dari tanggal 20 Mei hingga 11 Juni 2023. Namun pembatalan drawing oleh FIFA bisa menjadi pertanda pelaksanaan gelaran Piala Dunia U 20 ini juga akan dibatatalkan pelaksanaannya di Indonesia. FIFA tentu tak mau ambil resiko terutama soal keamanan tim yang secara resmi berhak bertanding dalam perhelatan itu.
Pembatalan oleh FIFA selain mencoreng muka baik Indonesia juga akan berakibat dijatuhkannya sanksi dari FIFA kepada sepakbola di Indonesia. Indonesia dinilai gagal memenuhi komitmentnya sendiri untuk menyelenggarakan pertandingan Piala Dunia U 20 secara aman dan nyaman untuk semuanya.
Besar kecilnya sanksi akan tergantung kepada FIFA, bisa berupa penurunan ranking, hingga larangan partisipasi timnas Indonesia dalam event sepakbola di tingkat Asia hingga Dunia.
Menanggapi ribut-tibut soal keikutsertaan Timnas U20 Israel, saya suka dengan komentar Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo yang mempunyai suara berbeda dengan kepala daerah lainnya yang sama-sama berasal dari PDIP. Gibran kecewa dengan pembatalan drawing di Bali dan menawarkan Solo menjadi lokasi pengantinya.
Karena sudah berkomitmen untuk menyelenggarakan maka apapun resikonya harus diambil, sebab persiapan untuk menyongsong Piala Dunia U20 sudah dilakukan lama, sudah banyak anggaran dan juga tenaga dikeluarkan untuknya.
“Harusnya protesnya dulu-dulu kenapa baru sekarang,” kritiknya.
BACA JUGA : Deep Fake Mesin Produksi Informasi Terdistorsi Kian Cerdas
Penyelenggaraan piala dunia U 20 berada di ujung tanduk. Presiden kemudian ikut bicara mulai dari bagaimana perjuangan Indonesia sampai ditunjuk penjadi tuan rumah. Untuk Presiden kesempatan ini merupakan kehormatan.
Bagi Presiden melaksanakan pertandingan Piala Dunia U 20 dimana salah satu pesertanya adalah Timnas U 20 Israel tidak akan mencoreng dan mengurangi konsistensi dukungan politik dari Indonesia atas kemerdekaan Palestina seutuhnya.
“Jadi jangan mencampuradukkan urusan olahraga dengan politik,” tegas Presiden Joko Widodo.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia juga memahami situasi ini, bahwa Indonesia sebagai tuan rumah harus mengikuti aturan FIFA sebagai yang punya acara.
“Keikutsertaan masing-masing negara dalam event ini tidak ada kaitannya dengan suka atau tidak suka dengan suatu negara, karena setiap negara ikut serta sebagai bagian dari kompetisi yang berjalan sesuai aturan yang berlaku.” ujar Duta Besar Palestina.
Dalam iklim demokrasi yang belum bersemi dengan benar ini, saya mahklum dengan semua kekisruhan ini. Soal olahraga sekalipun sering tidak kita bedakan dengan olahrasa. Kalau semua hanya mengikuti rasanya sendiri-sendiri ya akhirnya akan kacau dan berantakan.
“lha dong agama saja kerap dicampuri politik, apalagi sepakbola,” nyinyir saya dalam batin saja.
Sebagai kepala negara, sikap Jokowi tegas membedakan antara aktor negara dan bukan negara. FIFA bukanlah aktor negara, sehingga kehadiran Timnas U 20 Israel di Indonesia bukan dalam kontek hubungan antar negara melainkan antara negara dan anggota FIFA sebagai tamu.
Sikap Joko Widodo sebagai kepala pemerintahan ini kemudian akan dibawa oleh Erick Thohir selaku ketua PSSI untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan FIFA agar penyelenggaraan Piala Dunia U 20 tidak dipindahkan ke negara penyelenggara lainnya.
Sebagai penikmat bola namun tak cakap memainkannya, saya tahu sanksi dari FIFA bakal membuat sepakbola Indonesia makin terpuruk. Seperti ketika FIFA memberi sanksi tatkala pemerintahan Indonesia di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dianggap mengintervensi otoritas sepakbola Indonesia yakni PSSI yang merupakan anggota FIFA. Sanksi yang hanya setahun itu membuat sepakbola Indonesia mati suri.
FIFA memang alergi pada campur tangan politik negara. Dan bicara sepakbola, aturan yang terkait dengannya memang hanya diatur oleh FIFA, kekuatannya tiada tandingan. Bahwa kemudian apakah FIFA benar-benar steril dari urusan politik, tentu saja tidak bisa dijamin.
Ketika Rusia menginvasi Ukraina mulai Februari 2022 lalu, FIFA kemudian turut mengambil Langkah politik menghukum Rusia. Klub sepakbola dari Rusia yang berlaga di Liga Eropa terkena imbas, dicoret oleh FIFA.
Pertandingan final Liga Champions 2022 yang sedianya diselenggarakan di Stadion Kestovsky, Saint Peterburg, Rusia kemudian dipindahkan ke Stade De France di Perancis. Mungkin saja gara-gara pindah tempat, saya jadi kalah taruhan, raib uang satu juta.
Sikap FIFA berlanjut ke pagelaran Piala Dunia di Qatar. Rusia yang semestinya bertanding dengan Polandia di babak playoff untuk menentukan siapa yang lolos ke Qatar kemudian dicoret. Polandia pun melenggang ke Qatar secara otomatis.
Kalau ada yang bertanya soal bias politik FIFA terhadap Rusia dan Israel yang tidak sama maka saya aka menjawab “Mungkin selera kemanusian FIFA memang beda dengan kita, jadi gak usah ikut campurlah, itu urusan dapur masing-masing,”
BACA JUGA : Balapan Capres Ganjar Terjepit
Jusuf Kalla, tokoh yang paham betul soal konflik mempunyai pandangan berbeda. Kedatangan Timnas U 20 menurutnya justru mesti disambut baik sebagai peluang untuk mengenal lebih dalam tentang Israel jika Indonesia ingin mengambil peran yang lebih besar pada perdamaian di Timur Tengah dan memperjuangkan kepentingan Palestina.
Kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U 20 dan menerima Timnas U 20 Israel sebagai peserta untuk bertanding tanpa tekanan menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan diplomasi baru. Siapa tahu sukses penyelenggaraan Piala Dunia U 20 menjadi poin penting yang bisa dipakai Indonesia untuk meyakinkan Israel dan Palestina kembali memulai dialog yang konstruktif untuk membangun perdamaian tanpa saling meniadakan.
Ahmad Maulana, salah seorang pemain Timnas Indonesia U 20 lewat story Instagram menuliskan pesan “Memperjuangkan kemerdekaan Palestina tidak harus mengorbankan mimpi anak bangsa,”
Betul, karena ini menyangkut sepakbola maka mendengarkan para pihak yang berhubungan langsung dengan sepakbola menjadi hal yang utama.
Duta Besar Palestina sendiri sudah gamblang menyatakan penyelenggaraan Piala Dunia U 20 yang diikuti oleh Timnas U20 Israel tidak akan melukai kepercayaan Palestina atas komitment Indonesia untuk mendukung kemerdekaannya.
Bayangkan jika kesempatan untuk menjadi tuan rumah tidak datang kita tak pernah tahu kapan Timnas U 20 akan ikut berlaga dalam Piala Dunia FIFA level junior. Maka persoalan ini mesti dipandang dengan jernih, bukan dengan rasa-rasa apalagi rasa tak suka.
Pun juga karena kita tengah menyongsong pemilu bukan berarti kita bisa secara brutal memanfaatkan segala isu untuk dikapitalisasi menjadi senjata meningkatkan popularitas dan elektabilitas.
Biarlah sepakbola berkembang dan diurusi oleh mereka yang peduli pada sepakbola. Kalau kita tak bisa membantu tidaklah usah merecokinya dengan segala macam dalih yang dicari-cari.
Jangan lupa Indonesia punya keinginan untuk menjadi ruan rumah Piala Dunia 2034 dan Olimpiade 2036 nanti. Sukses penyelenggaraan Piala Dunia U 20 akan menjadi salah satu patokan penilaian.
Pembatalan drawing di Bali oleh FIFA sudah menjadi cacat tersendiri.
Namun jika Erick Thohir mampu meyakinkan para pembesar FIFA untuk tetap mengelar Piala Dunia U 20 di Indonesia dan Timnas U 20 Israel diijinkan untuk bertanding. Tentu akan ada pekerjaan berat bagi petugas keamanan mulai dari Polisi, Tentara , BIN hingga BNPT.
Demi alasan keamanan bisa jadi pertandingan antara Timnas U 20 Israel dengan Timnas lainnya bakal steril, digelar tanpa penonton. Timnas U 20 Israel akan diterima bertanding, diberi tempat untuk mengikuti turnamen namun akan jauh dari hiruk pikuk nyanyian dan sorak sorai penonton. Mereka akan tetap terasing di bumi sahabat sejati Palestina ini.
note : sumber gambar – TIMESINDONESIA.CO.ID








