KESAH.IDDeep Fake, aplikasi yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan untuk membuat konten palsu berupa wajah, gerakan dan emosi mulai mudah ditemukan di IOS atau Android. Jumlahnya ada puluhan. Wombo misalnya bisa mensikronisasi gerak bibir dengan lagu dan bisa merubah foto menjadi gambar bergerak atau video. Hasil editan memakai wombo banyak yang viral di reels atau tik tok, biasanya memakai foto tokoh-tokoh terkenal.

Donald Trump mungkin lebih cocok jadi orang Indonesia tinimbang Amerika Serikat dalam urusan kekuasaan. Salah satu sifat yang mencolok dari Trump adalah tidak legowo ketika kehilangan kekuasaan, persis sama dengan kebanyakan orang-orang kita.

Tahun 2024 nanti, Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama akan melaksanakan pemilu presiden. Trump yang di pemilu 2020 lalu maju untuk kedua kalinya namun dikalahkan oleh Joe Biden, jauh-jauh hari sudah menyatakan ingin maju kembali dalam pemilu presiden Amerika Serikat 2024 nanti.

Dan disaat Trump sedang memulai kampanye awal pencalonannya, ada masalah besar yang tengah menghadangnya. Calon presiden terkuat dari partai Republik ini sedang dipersoalkan oleh Alvin Bragg, Jaksa di Distrik New York atas kasus uang tutup mulut.

Kasus ini bermula dari pengakuan Stormy Daniel, seorang bintang film porno yang buka suara soal tidur bersama dengan Donald Trump sewaktu masa kampanye tahun 2016.

Pengakuan ini tentu berbahaya dan kemudian Stormy Daniel di beri uang sekitar 2 miliar agar tidak meneruskan ocehannya, istilahnya uang tutup mulut.

Yang menjadi masalah, uang tutup mulut ternyata tidak berasal dari kantong Trump sendiri melainkan dari dana kampanye, uang sumbangan. Walau uang itu tidak diserahkan oleh Trump sendiri, namun tim kampanye yang diminta menyerahkan uang itu mengaku disuruh oleh Donald Trump.

Urusan esek-esek walau memalukan {kalau ketahuan} namun orang sudah mahfum. Yang jadi soal adalah penyelewengan dana. Dan ini yang dikejar oleh Jaksa Alvin Bragg untuk dipertanggungjawabkan oleh Donald Trump.

Juri yang berjumlah 23 atau disebut grand jury karena jumlahnya banyak, jika sepakat mengatakan Donald Trump bersalah akan membuat nasibnya sebagai calon presiden Amerika Serikat 2024 di ujung tanduk.

Bukan Donald Trump kalau tidak melawan dengan segala cara. Trump bukanlah tipe politisi yang malu-malu melakukan serangan brutal. Menyebut jaksa Alvin Bragg sebagai binatang, Trump menyerukan pengikutnya untuk bergerak. Gerakan yang disebutnya berpotensi menimbulkan ketegangan dan kerusuhan di seluruh negeri.

Trump memang tak malu-malu memakai senjata SARA.

Jaksa Alvin Bragg memang bukan keturunan kulit putih. Dia jaksa pertama di Distrik New York yang berkulit hitam.

Karena momennya menjelang pemilu, upaya Jaksa Bragg dianggap sebagai upaya politik. Alvin Bragg adalah anggota Partai Demokrat, lawan politik Partai Republik perahu Donald Trump.

Membawa kasus ini ke politik, untuk menjegal laju pencalonan ke kursi presiden, Donald Trump melakukan perang opini agar publik berpandangan kasus yang diajukan oleh Alvin Bragg terlalu berlebihan.

Trump memainkan drama “didzolimi” dan nampaknya berhasil membawa sentimen itu hingga dalam waktu singkat fundrasising dana kampanyenya mencapai USD 1,5 juta dalam waktu singkat. Donald Trump dengan piawai mengkapitalisasi momen penetapan dirinya sebagai tersangka.

BACA JUGA : Balapan Capres, Ganjar Terjepit

Donald Trump ditangkap polisi. Rangkaian gambar yang memperlihatkan Donald Trump berusaha lari, dikepung, lalu ditangkap dan dijaga oleh polisi beredar di media massa.

Foto mulai dari penangkapan, reaksi pendukung atau yang melihat hingga Trump yang sudah memakai baju oranye di Kantor Polisi seakan membuktikan bahwa kekhawatiran yang diungkapkan oleh Trump sebelumnya terbukti.

Apakah foto yang beredar dan sudah dikomentari oleh banyak netizen itu benar-benar asli?. Nanti dulu.

Coba googling lebih jauh untuk yang gemar memakai Google, atau entah apa namanya jika mulai beralih ke Bing. Ternyata kalau diperhatikan, gambar-gambar itu tidak ada yang beredar di media-media resmi {mainstream} di Amerika Serikat.

Untungnya ini soal Trump, sehingga mungkin saja kita menjadi lebih waspada dan tidak mudah terprovokasi. Dengan cepat kita bisa tahu kalau itu adalah foto-foto palsu.

Bayangkan jika foto-foto semacam itu beredar dalam saat yang tak normal, dekat dengan kepentingan kita atau kita sedang melakukan perang informasi. Barangkali dengan cepat akan dipercaya dan kemudian menimbulkan gejolak.

Pada pemilu 2019 lalu di Indonesia terjadi perang informasi palsu atau hoax. Dan pemerintah serta berbagai elemen lainnya giat mememeranginya lewat berbagai aksi. Muncul berbagai gerakan anti hoax, yang sayangnya memang belum ditemukan obat ampuh untuk mengatasinya.

Dan foto-foto penangkapan Donald Trump menjadi tanda pengingat bahwa kita memasuki dimensi lebih lanjut dari hoax karena perkembangan teknologi. Kini teknologi kecerdasan buatan juga mampu menghasilkan informasi palsu atau dikenal dengan istilah Deep Fake.

Ada banyak aplikasi yang bisa dipakai gratis yang berbasis pada web dan sistem operasi android untuk memanipulasi wajah, suara, menghasilkan gambar, rangkaian video dan lain-lain yang membuat seolah-olah asli padahal palsu.

Dengan aplikasi sinkronisasi wajah dan suara, kita bisa membuat video yang menunjukkan Anies Baswedan mengatai-ngatai Joko Widodo atau Ganjar Pranowo. Padahal Anies tak pernah mengatakan hal itu, namun kita bisa meminjam kata-kata Rocky Gerung, Rizal Ramli atau Said Didu.

Dengan aplikasi suara atau kata-kata mereka ini bisa disinkronkan dengan suara dan wajah Anies Baswedan sehingga menghasilkan video yang seolah-olah kata-kata itu disemburkan olehnya.

Pun juga kalau mau dan ingin bikin heboh, tidak sulit untuk membuat foto Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan ditangkap KPK. Aplikasi pengolah teks ke gambar bisa menghasilkan merubah foto penangkapan seseorang oleh KPK diganti wajahnya.

Dengan narasi soal korupsi E KTP dan Formula E, tidak sulit bagi masyarakat untuk percaya kalau Ganjar dan Anies Baswedan ditangkap oleh KPK. Dan demi kepentingan kontestasi, mereka yang tahu itu palsu sekalipun mungkin juga akan tergiur untuk memanfaatkannya sebagai suatu fakta.

Dengan konteks tertentu informasi palsu menjadi lebih mudah untuk dimanipulasi hingga kewaspadaan penerima informasi menjadi menurun. Informasinya menjadi begitu meyakinkan dan membuat masyarakat langsung tergerak untuk segera meneruskan kepada yang lainnya.

Teknologi kecerdasan yang sekarang lazim dilengkapi dengan deep learning machine bisa belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuannya memberi informasi yang akurat. Pun demikian dengan mesin pemroduksi informasi palsu, kecerdasannya dilengkapi dengan teknologi deep fake, hingga mampu menyempurnakan kepalsuannya agar terlihat semakin asli.

BACA JUGA : Sprint Race Di Moto GP, Siapa Diuntungkan?

Teknologi deep fake adalah teknik rekayasa atau sintetis citra manusia menggunakan kecerdasan buatan. Tahun 2018 pernah populer sebuah apikasi deep fake yang bernama FakeApp yang mampu mengedit dan menukar wajah antar orang dengan output berupa video.

Menggunakan teknologi dan algoritma serupa kemudian muncul berbagai aplikasi lainnya seperti DeepFaceLab, FaceSwap, MyFakeApp dan lain-lain.

Korban dari aplikasi ini sudah banyak terutama dengan tujuan untuk mempermalukan. Beberapa artis ternama Amerika Serikat jadi korban deep fake dalam bentuk video porno.

Daisy Ridley, Gal Galdot, Emma Watson, Katy Perry, Taylor Swift dan Scarlet Johannson pernah menjadi korban deep fake bernuansa pornografi.

Beberapa politisi dunia juga menjadi korban. Antara lain Presiden Argentina yang wajahnya diganti dengan Hitler, juga Donald Trump yang ditukar wajahnya dengan Angela Merkel, Kanselir Jerman Barat. Obama juga pernah menjadi korban dengan kemunculan videonya yang tengah bicara lucu dan kasar tentang Donald Trump.

Dengan berbagai macam aplikasi deep fake membuat berita atau informasi palsu serasa menjadi lebih mudah dan murah dibandingkan dengan membayar atau meng-hire buzzer.

Jika dipakai untuk hiburan atau lucu-lucuan, teknologi deep fake mungkin saja menyenangkan dan menghibur. Seperti pernah ditunjukkan dalam panggung American Got Talent. Dalam layar terlihat Simon Cowell tengah menyanyi, padahal dia ada di meja juri. Gambar di layar ternyata direkayasa dari penampilan peserta diatas panggung, wajahnya berubah menjadi wajah Simon Cowell ketika dipancarkan ke layar yang menjadi latar belakang panggung.

Namun diluar kepentingan hiburan, teknologi deep fake ini rawan digunakan untuk kepentingan kejahatan. Dan dalam dunia politik, deep fake akan menjadi alat yang efektif untuk melakukan kampanye hitam, mendistorsi informasi yang bisa merugikan lawan politik.

Dunia politik yang sebenarnya memang sudah berwatak abu-abu menjadi lebih sulit untuk menemukan kebenaran. Kita yang biasa menjadi percaya kebenaran karena melihat kemudian tiba pada kenyataan bahwa apa yang terlihat tak lagi bisa dipercaya sebagai kebenaran.

Banyaknya informasi palsu yang kelihatan asli {aspal, asli tapi palsu} berpotensi untuk mengikis kepercayaan publik terhadap calon-calon pemimpinnya. Pemimpin yang terpilih melalui proses demokrasi yakni pemilu bisa jadi bukan pemimpin yang terpercaya.

Informasi palsu yang diproduksi dengan mesin deep fake juga berpotensi merusak keamanan atau ketertiban umum jika menyebar secara masif di saat tensi atau kondisi politik memanas. Masyarakat dengan mudah dibawa ke situasi dimana kepastian informasi menjadi sumir. Masyarakat yang berada dalam ketidakpastian dengan mudah diajak untuk berbuat anarki.

Pada ujungnya deep fake akan memberi tantangan berat bagi demokrasi. Mutu demokrasi dipertanyakan karena  deep fake akan memuncukan paradoks akibat ada kelompok atau orang tertentu yang diuntungkan sehingga bisa memenangkan kontestasi dalam demokrasi.

Cara untuk melawan hoax, informasi palsu dan deep fake tidaklah sulit. Biasakan untuk tidak cepat bereaksi atas informasi, melihat berulang dan mencari rujukan dari sumber-sumber terpercaya.

Namun yang gampang ini justru sulit untuk dilakukan. Sebab soal konsumsi informasi kebiasaan kita manusia bukan untuk mencari kebenaran, kita cenderung mencari informasi yang menyenangkan atau sesuai dengan keinginan kita.

Maka mestinya teknologi harus dilawan dengan teknologi. Jika ada mesin andal untuk menciptakan kepalsuan maka mesti segera dibuat juga mesin andal untuk segera membongkar kepalsuan.

Namun jika bangsa yang kreatif dan inovatif serta pemerintahan yang telah mempunyai kurang lenih 27.000 aplikasi belum bisa menciptakan mesin counter deep fake, mari kita sama-sama berharap agar media-media yang setia dengan etika jurnalistik tetap bertahan hidup ditengah gempuran peradaban click bait.

Sebab media-media yang kini mulai kembang kempis itu merupakan tujuan kita untuk mencari rujukan informasi agar tak mudah tergoda segera percaya dan kemudian menyebarkan informasi palsu, berita hoak dan output informasi lainnya yang diproduksi dengan mesin deep fake.

note : sumber gambar – DETIK.COM