KESAH.IDPeribahasa Jawa ‘esuk dhele, sore tempe’ kerap dipakai untuk menggambarkan sikap, situasi atau perilaku yang penuh ketidakpastian. Apa yang dikira akan begini atau begitu tak terjadi kemudian.  Kita kerap berada dalam kondisi seperti itu hingga kemudian menjadi mudah untuk tak percaya pada rencana yang diungkap oleh pemerintah atau pihak-pihak lainnya yang berhubungan dengan masyarakat banyak.

Klaras, begitu sebutan untuk daun pisang yang telah mengering. Saya dan teman-teman sepermainan waktu kecil dulu sering membuatnya menjadi bola sepak. Klaras digulung-gulung sampai membulat lalu diikat. Bentuknya tak benar-benar bulat bundar namun sudah cukup untuk menghasilkan kesenangan bersama.

Sesekali kami urunan untuk membeli bola plastik, hanya saja bolannya tak tahan lama. Bola plastik lama kelamaan akan robek atau pecah kalau dipakai gaprakan. Bola plastik  yang rusak itu tak akan segera kami buang. Dari robekannya kami masukkan klaras hingga penuh dan padat lalu robekannya  dijahit kembali dengan tali rafia. Bola plastik berisi klaras itu akan kami pakai hingga benar-benar hancur.

Hanya di sekolah, kami akan bermain sepak bola dengan bola kulit. Bolanya berat dan kaki terasa sakit kalau posisinya tak tepat kala menyepak. Ya, kami saat itu memainkan sepak bola tanpa sepatu, atau nyeker.

Satu bola dipakai satu sekolah, biarpun kulit luarnya terkelupas masih terus dimainkan. Karena ketebalan kulit luarnya sudah tak sama, bolanya sering tak lagi benar-benar bulat, mleyot seperti bola dari klaras.

Rasanya pada waktu itu tak ada anak-anak yang tak suka bermain bola.

Sesekali, Om saya yang sekolah di SPG mengajak pergi menonton sepabola. Dengan dibonceng naik sepeda, kami pergi ke lapangan Belkab {Belakang Kabupaten}. Saya tak punya ingatan soal pemain atau klub yang hebat. Yang saya tahu, wasit dan hakim garis biasanya tentara.

Pada masa itu yang punya televisi juga belum banyak. Jadi kalau ada siaran sepakbola di televisi, otomatis di rumah yang punya tivi akan jadi lokasi nobar. Bukan karena janjian tapi lebih untuk nebeng nonton.

Ada dua kompetisi yang seru yakni Perserikatan dan Galatama.

Klub sepakbola yang berkompetisi di PSSI Perserikatan antara lain PSIS Semarang, PSM Ujung Pandang, PSMS Medan, Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya dan lain-lain.

Sementara pada Liga Galatama ada Perdedetex, Pelita Jaya, Warna Agung, Niac Mitra, Arseto dan lain-lain.

Dalam kepala saya tercatat nama-nama pemain seperti Iswadi Idris, Rully Nere, Simon Pasla, Ronny Patinasarani, Jajang Nurjaman, Simon Rumah Pasal, Wayan Diana, Fandi Ahmad, David Lee, Jonas Sawor, Adolf Kabo, Robby Darwis, Ricky Jacob, Aji Santoso, Zulkarnaen Lubis dan pelatih Sinyo Aliandoe.

Sampai dengan duduk di bangku SMA, saya masih suka bermain bola. Dan lapangan bola yang terbaik yang dimiliki oleh sekolah adalah lapangan di Kolese Petrus Kanisius, Mertoyudan. Sekolah setingkat SMA yang lama pendidikannya 4 tahun, saya masuk di tahun ke 4.

Sedangkan pendidikan SMA yang biasa saya selesaikan di SMA Pius Bakti Utama, Bayan. Tidak punya lapangan sepakbola, jadi kami bermain bola di lapangan Sekip, Bayan, lapangan tembak milik tentara.

Saya tak lagi bermain bola karena mulai rutin merokok. Main bola jadi terasa menyiksa, nafas pendek, dada panas, seperti ada asap mengepul dari mulut dan hidung.

BACA JUGA : Hewan Hewan {Liar} Metropolitan

Meski tak memainkannya lagi, saya tetap menyukai sepakbola terutama liga-liga luar negeri. Siaran sepakbola semakin banyak dengan kemunculan televisi swasta, sepakbola tidak hanya di TVRI.

Mulanya saya menyukai Liga Italia karena disana ada Maradona, Batistuta, Platini hingga kemudian trio maut dari Gullit, Richards dan Van Basten dari Belanda.

Setelah Liga Italia meredup kemudian saya menyukai Inggris, ada banyak pemain hebat disana. Namun yang menarik perhatian saya adalah Dennis Bergkamp dan Robien Van Persie yang bermain di Arsenal. Saya menyukai Arsenal sampai masa ketika Cesc Fabregas bermain disana sebelum kembali ke Barcelona.

Liga Spanyol kemudian mulai naik daun, persaingan antara Barcelona dan Madrid selalu menjadi drama tersendiri. Beritanya tidak hanya berasal dari lapangan, setelah pertandingan drama masih terus berlanjut.

Saya mulai tertarik menyaksikan Barcelona ketika anak legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff bermain disana. Karena berharap bisa menyaksikan kehebatan bapaknya yang dulu tidak sempat saya saksikan.

Tapi Jordi Cruyff yang menyandang nama besar bapaknya ternyata bakat dan ketrampilannya tak seperti bapaknya. Syukurlah setelah itu rekan-rekan seangkatan Cecs Fabregas di La Masia mulai menggila.

Dibawah asuhan Pep Guardiola, Messi dan teman-temannya membuat saya terpesona. Hanya Barcelona yang saya tahu, juga Madrid sebagai musuhnya. Terlebih ketika Madrid dengan proyek Los Galacticos mendatangkan Ronaldo, bintang sepakbola Portugal yang bermain impresif di Liga Inggris. Perang bintang terjadi di Liga Spanyol.

Persaingan antara Messi dan Ronaldo membuat bintang-bintang sepakbola lainnya terbenam, seolah mereka salah lahir, terlahir di jaman yang tak tepat karena persaingan memperebutkan yang terbaik hanya milik Messi dan Ronaldo.

Di luar Liga Eropa, saya juga selalu antusias menyaksikan Piala Dunia. Tim jagoan saya tak berubah antara Belanda dan Argentina. Saya trenyuh pada Belanda yang mempunyai talenta sepakbola luar biasa namun belum pernah juara dunia.

Sedangkan Argentina selalu saya jagokan karena Messi yang berkali-kali meraih penghargaan sebagai pemain terbaik dunia, belum sekalipun bisa membawa Argentina menjadi juara dunia {sebelum piala dunia Qatar}.

Sepakbola Indonesia saya sudah lupa. Tapi ada masa saya pernah kembali semangat untuk memperhatikannya. Ketika saya tinggal di Manado dan provinsi Sulawesi Utara dipimpin oleh EE Mangindaan, saya ikut ketularan demam sepakbola.

Gubernur Mangindaan dikenal sebagai Gibol, gila bola. Kemana-mana selalu membawa bola di bagasi mobilnya. Setiap kali ketemu kumpulan anak-anak, dia akan memberi hadiah bola. Sementara kepada yang lebih dewasa, Gubernur Mangindaan biasanya akan memberikan jam tangan.

Mangindaan memberikan jam untuk mengingatkan agar orang Sulawesi Utara tidak suka molor karena memakai jam karet, bukan karet gelang tapi karet ban hingga molornya panjang sekali.

Jadi jangan heran kalau ada ibadah yang ketika dimulai sebagian yang hadir sudah mabuk duluan. Karena sambil nunggu yang lain datang, mereka yang datang duluan mengusir kebosanan dengan melep, minum saguer atau cap tikus.

Saat demam sepakbola melanda Sulawesi Utara, saya beberapa kali menyaksikan pertandingan Persma Manado di Stadion Klabat. Waktu itu Persma dilatih oleh Manuel Vega dari Chili.

Nama Persma berkibar ketika diperkuat oleh gelandang serang Rodrigo Fabian Araya Moreno, mantan pemain nasional Chili. Memiliki gocekan maut dan piawai dalam melakukan tendangan bebas, Rodrigo Araya menjadi ruh permainan Persma.

Setelah dari Persma, Rodrigo Araya melanglang buana memperkuat Arema Malang, PSM Makasar, Persema Malang dan terakhir berlabuh di Persibom, Bolaang Mongondow.

Araya tetap punya ikatan dengan Manado karena menikah dengan gadis dari Manado.

BACA JUGA : Tebang Pilih Memang Kebiasaan Kita

Beberapa tahun terakhir ini terutama ketika Messi mulai bermain di PSG, saya lebih suka menyaksikan balapan Moto GP. Pertandingan sepakbola terakhir yang khusyuk saya saksikan adalah ketika Argentina bertanding di Piala Dunia Qatar.

Saat menyaksikan pertandingan final antara Argentina dan Perancis, saya benar-benar merasa terhubung dengan sepakbola secara jiwa dan raga. Saya bersorak ketika Argentina menjebol gawang Perancis, namun terdiam dan serasa pingsan ketika Mbappe, rekan Messi di PSG bermain sempurna dan mencetak gol balasan untuk mengejar ketinggalan.

Gagal memenangkan laga di waktu biasanya, pertandingan yang diperpanjang membuat saya jantungan, hampir tak kuat menatap layar. Baru ketika perpanjangan waktu habis dan kedudukan imbang, saya mulai senang, karena yakin Argentina akan memenangkan adu pinalti.

Dan benar, sayapun bersorak senang, melompat-lompat gembira. Rasa gembiranya bertahan cukup lama, lebih lama dari rasa senang karena menenggak minuman dan fly karena narkoba.

Disaat dag-dig-dug menanti comeback Marc Marquez ke lintasan moto GP tahun 2023, saya mendengar kabar tentang batalnya drawing Piala Dunia U 20 di Indonesia. Yang kemudian dilanjutkan dengan pembatalan pelaksanaannya juga.

Sebenarnya saya tidak terlalu peduli. Dunia sepakbola Indonesia sudah teramat jauh dari saya.

Tapi tak bisa menghindari pembicaraan tentangnya akhirnya saya terusik juga.

Sebagai olaharaga dengan ekposure terbesar, sepakbola dari dulu terus ditunggangi oleh aneka kepentingan diluar olahraga, sehingga negeri dengan pengemar dan pemain bola yang berlimpah ini prestasinya tidak mengembirakan.

Baik timnas maupun tim lainnya jarang menang jika bertandang dalam event-event sepakbola antar negara.  Ajaibnya PSSI sebagai organisasi induk sepakbola begitu terkenalnya. Kedudukan sebagai ketuanya jadi rebutan. Dan kalau sudah duduk susah untuk meninggalkan kursinya walau ada banyak skandal dalam sepakbola.

PSSI lebih sering kelihatan sebagai kuda tunggangan, bukan dinaiki untuk memajukan sepakbola Indonesia melainkan sebagai batu lompatan untuk kedudukan politik. Cita-cita yang dituju oleh ketua PSSI bukan sepakbola juara, tapi kursi gubernur, walikota, bupati, menteri atau bahkan presiden.

Makanya sepakbola selalu dipolitisir, dijadikan arena perang politik untuk memperebutkan massa. Dan Piala Dunia U 20 yang diikuti oleh Timnas Israel, menjadi bahan bakar yang sempurna untuk memanaskannya.

Yang namanya politik selalu pintar mencari alasan, ada seribu jalan menuju Roma. Hingga saat tujuan tercapai kita tak pernah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jangankan kita, FIFA sekalipun juga bingung sehingga alasan yang dipakai untuk membatalkannya juga mengambang.

Yang dituduh oleh publik sebagai penyebab pembatalan juga berkilah dan buru-buru menjadi yang pertama menyatakan penyesalan atas pembatalan itu. Kilahnya “Bukan Piala Dunia U 20 yang kami tolak, tapi keikutsertaan Israel di dalamnya,”

Sami mawon, itu namanya lempar batu sembunyi tangan. Sama seperti Pak RT yang membatalkan acara pernikahan tetangga karena yang diundang untuk mengisi acara bukan orkes dangdut kesukaannya.

Dulu saya sempat yakin bahwa kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Namun kemudian saya mengkoreksi karena ada banyak bukti kesempatan bisa datang berulang-ulang.

Tapi soal sepakbola, terutama dalam kaitan dengan Piala Dunia U 20 ini saya kembali yakin bahwa kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Gara-gara pembatalan oleh FIFA bahkan bisa merembet ke kesempatan lainnya misalnya menjadi tuan rumah Olimpiade atau event olahraga internasional lainnya.

Sekurangnya untuk Timnas U 20 Indonesia yang sudah dipersiapkan cukup lama oleh pelatih dari Korea Selatan. Kesempatan berlaga di Piala Dunia U 20 jelas tertutup meski kita memanjatkan doa bersama dari Sabang sampai Merauke.

Dan kita tak tahu kapan kesempatan itu akan datang kembali, ibarat kata sudah dapat rejeki nomplok tapi ditolak.

Apa yang sudah didepan mata kemudian lenyap, mimpi anak-anak muda bermain bola di ajang bergengsi dunia buyar, merekapun harus bubar.

Pepatah Jawa mengambarkan semua hal ini secara singkat dalam ungkapan esuk dhele, sore tempe.

note : sumber gambar – BERITAKALTIM.CO