KESAH.IDKita terbiasa menganggap segala sesuatu yang sudah kita pakai, tidak diperlukan atau tidak dikehendaki adalah barang buangan. Apapun yang dianggap sebagai sampah selalu dipandang sebagai kotoran yang harus disingkirkan. Jangankan menjadikan sampah sebagai cuan atau bahan yang bermanfaat, membuang dengan benar saja belum menjadi kebiasaan.

Saya tak bermaksud cari sensasi dengan judul diatas. Judul itu sudah saya validasi dengan memakai Chat GPT, program kecerdasan buatan yang bekerja lewat Natural Linguistic Processing/Programming buatan OpenAI.

Ini jawaban Chat GPT ketika saya beri pertanyaan ‘Apa beda sampah, limbah dan serasah?”

“Sampah adalah benda-beda yang tidak diinginkan atau tidak terpakai lagi yang dibuang ke tempat pembuangan sampah. Limbah adalah bahan atau material yang tidak diinginkan sebagai hasil dari suatu proses produksi atau kegiatan manusia. Serasah adalah sampah organic yang dihasilkan dari proses alami atau pemotongan pohon, dahan dan ranting yang rusak. Jadi sampah, limbah, dan serasah semuanya adalah sesuatu yang tidak diinginkan dan dibuang, tetapi masing-masing memiliki sumber yang berbeda dan komposisinya juga berbeda.”

Sengaja saya tidak menyertakan sumpah serapah dalam percakapan dengan Chat GPT karena menurut penjelasan pengembangnya, Chat GPT bisa baper jika mendeteksi kata-kata kotor atau tidak pantas yang tak sesuai dengan standar nilai atau moralitas manusia.

Lagi pula saya juga tak ingin membuat bingung Chat GPT karena sumpah serapah bukan kata sejenis dengan sampah, limbah dan serasah.

Yang dikemukakan oleh Chat GPT tak berbeda jauh dengan arti sampah yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI mengartikan sampah sebagai {1} benda atau barang yang dibuang karena tak terpakai lagi dan sebagainya. {2} Kotoran.

Sedangkan limbah oleh KBBI diartikan sebagai {1} Sisa proses produksi, {2} Bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian, dan {3} barang rusak atau cacat dalam proses produksi.

Sementara serasah oleh KBBI diartikan Kotoran {buangan, sampah dan sebagainya} atau bahan organik mati berupa ranting dan daun pangkasan yang dapat dijadikan pupuk.

Kata sumpah serapah yang saya sertakan dalam judul oleh KBBI diartikan  sebagai berbagai-bagai kata yang buruk, maki-makian disertai kutukan dan sebagainya.

Alasan sumpah serapah saya sertakan sebagai judul karena sampah, limbah dan serasah yang sering dianggap sebagai kotoran yang membuat kita melontarkan kata-kata buruk, memaki-maki bahkan mengutuk.

Tidak sulit kita menemukan spanduk atau apapun berisi tulisan “Yang buang sampah disini anjing, dajjal, bunggul dan lain-lain”, atau “Awas buang sampah disini kalau mati jadi hantu,”.

Tentang serasah, orang Jawa menyebutnya sebagai uwuh, walau bermakna sampah namun tidak menjijikkan, makanya ada Wedang Uwuh. Minuman yang merupakan seduhan dari buah, rimpang, daun dan kayu-kayuan. Tampilannya memang berantakan tapi sehat dan menyegarkan.

Uwuh biasanya dibuang di jugangan, lubang galian di pekarangan atau halaman. Kalau sudah penuh lalu ditutup dengan tanah dan setelah berapa lama bisa dipakai sebagai lubang tanam.

Teknik menggali tanah lalu mengisi dengan serasah dan kemudian dipakai sebagai lubang tanam dipraktekkan oleh Jacouba Sawadogo untuk menghijaukan kembali gurun di Afrika Barat. Jacouba tidak belajar di Jawa, sebab dinegeri mereka sistem itu secara tradisional dikenal sebagai Zai.

Seorang teman yang sangat peduli lingkungan juga kerap marah jika serasah dianggap sampah atau diperlakukan sebagai sampah. “Biarkan saja, nanti ada petugas alam yang akan menghancurkannya,” ujarnya.

Yang dimaksudkan dengan petugas alam adalah mahkluk decomposer, entah itu bakteri, microba dan microorganisme lainnya serta ulat-ulatan dan serangga.

Serasah atau material organik berupa daun, ranting, batang, kulit pohon dan lainnya memang akan terdekomposisi jika berada diatas permukaan tanah. Hasilnya dekomposisi material organik itu adalah humus.

Secara umum kita menganggap humus sebagai penyubur, padahal tidak. Humus terdiri dari material terdemposisi dan sekresi mikroorganisme. Yang menjadi penyubur adalah sekresi atau kotoran mahkluk decomposer. Sedang material organik yang terdekompisisi lebih berfungsi untuk menambah material tanah.

BACA JUGA : Swedia Satu Satunya Negara Yang Kekurangan Sampah 

Masalahnya tidak semua dari kita adalah pecinta lingkungan yang militan. Buktinya setiap kali ulang tahun Provinsi Kaltim dan mungkin juga ulang tahun Kota Samarinda yang mendapat penghargaan sebagai pecinta lingkungan hanya orang itu-itu saja.

Selain tidak cinta lingkungan, menyamakan antara sampah, limbah dan serasah membuktikan kita kurang tanggungjawab. Hanya suka saat memakai setelah tak dipakai lagi apa yang kita sukai kemudian jadi menjijikkan dan dibuang.

Tiada cinta dan tanggungjawab membuat kita malas untuk mengolah sampah, limbah dan juga serasah. Kalau bisa jauhkan semua dari lingkungan rumah, yang penting rumah sendiri bersih tak peduli caranya bisa menyakitkan tetangga. Karena yang kita anggap kotoran kita buang ke got lalu menumpuk di depan rumah tetangga. Lahan kosong milik tetangga juga kerap menjadi tempat buangan yang sempurna.

Teknik untuk membuat jugangan guna mendekomposisi material organik memang tak populer di Samarinda. Sebab umumnya rumah tak punya halaman belakang, halaman depannya juga terbatas dan kebanyakan juga sudah disemen habis.

Sebenarnya juga tidak sulit untuk mengolah sampah atau kotoran organik, entah sisa sayuran mentah, sisa makanan, daun-daunan, dahan, rumput dan lainnya. Komposter bisa dibuat dari tong, ember atau wadah lainnya.

Tapi namanya manusia memang punya bawaan untuk selalu mencari cara termudah. Buang saja ke tempat sampah, kalau tidak ada tempat sampah atau tempat sampahnya jauh buang saja ke lahan kosong, saluran air dan sungai, habis perkara.

Bikin reaktor sampah atau bak komposter merepotkan. Takut bau atau mengundang lalat serta mahkluk menjijikkan lainnya. Padahal bak tertutup dan dekomposisinya dibantu oleh cairan MOL {mikroorganisme lokal} sebenarnya tak akan menghasilkan bau.

Tapi tak apalah, rajin membuang sampah pada tempatnya saja sudah cukup.

Sayangnya mereka yang sudah punya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya kerap berlaku tidak elok. Sampah dilempar begitu saja sambil berkendara, akibatnya tidak terbuang ke dalam bak. Sampah juga kerap berceceran karena tidak dikemas dengan baik.

Andai budaya membuang sampah saja belum benar, jangan berharap masyarakat bisa dinaikkan peradabannya menjadi pemilah sampah sejak dari rumah.

Itu baru soal sampah, belum soal limbah terutama limbah domestik hasil dari kegiatan mandi dan cuci-cuci, baik pakaian atau aktivitas dapur.

Rasanya hampir semua limbah cair itu dibuang begitu saja ke got atau saluran drainase.

Kandungan deterjen dan material organik dari limbah domestik kemudian akan mengalami proses kimia dan biologi sehingga menghasilkan warna air di got, parit atau saluran air lainnya jadi abu-abu, hitam dan bau.

Bau tidak enak itu dihasilkan oleh dekomposisi material organik yang menghasilkan asam lemak, materi yang mempunyai warna kehitaman dan berbau.

Dan semua saluran air pada akhirnya bermuara di sungai, masuk secara langsung sehingga limbah domestik mencemari air sungai.

Jika kandungan air limbah jauh lebih banyak dari air sungai alami, sungai akan menghitam. Apapun nama sungainya orang kemudian akan menamakan “Sungai Hirang atau Kali Item”.

Sungai Karang Mumus, salah satu anak sungai paling rusak di Samarinda, jika berhari atau berminggu tak terguyur air hujan niscaya airnya akan cenderung berwarna abu-abu dan lama kelamaan menghitam serta mengeluarkan aroma semerbak tak sedap.

Jadi jangan main tuduh sembarang dengan mengatakan bahwa yang mencemari Sungai Karang Mumus hanya warga yang tinggal di bantaran atau tepiannya. Yang tinggal di pucuk-pucuk bukit atau gunung Samarinda pun punya andil mencemari Sungai Karang Mumus selama air buangan dari kamar mandi dan dapur dibuang langsung ke saluran air yang kemudian bermuara di Sungai Karang Mumus.

Limbah domestik rumah saya bisa dipastikan tak ikut mencemari Sungai Karang Mumus. Bukan karena saya mengolahnya, tapi saluran air atau gotnya bermuara ke Sungai Mahakam. Dan syukurlah, Sungai Mahakam punya sumber air yang berlimpah sehingga sulit untuk hirang.

Tapi bau tak sedap kadang kala akan tercium kalau kita khusyuk duduk-duduk di tepian Sungai Mahakam, terutama kala airnya sedang surut.

BACA JUGA : Mixue Nggak Jualan Es Krim 

Salah satu ruas jalan yang auto tergenang saat hujan adalah Jalan KS. Tubun terutama di titik dimana setiap hari Jum’at sore ada pasar malam. Walau sebenarnya sekarang tak beda ada pasar malam atau tidak karena semenjak pandemi Covid 19 lalu sejak pagi sudah berderet penjual sayur-sayuran, bumbu dapur, ikan, daging ayam dan lainnya.

Salah satu yang menyumbang genangan disitu adalah air got yang alirannya berasal dari puncak-pucak bukit di sekitar jalan Wiraguna, Wiratama dan Wiraswasta. Air yang berlimpah itu tak tertampung oleh saluran air di Jalan KS. Tubun yang daya tampungnya menurun karena mendangkal karena tumpukan pasir dan debu halus hasil erosi tanah.

Jika hujannya tak terlalu lebat, air yang mengenangi jalanan berwarna hitam. Saya kerap mengeluarkan sumpah serapah walau dalam hati. Andai diteriakkan mungkin saya akan dipukuli orang karena mendaraskan litani isi kebun binatang.

Saya pasti akan memaki ketika berpapasan dengan motor atau mobil yang tidak menyadari bahwa genangan air akan menimbulkan cipratan apabila kendaraan gasnya tidak rendah sekali. Dan banyak pengendara kurang empati, mengendarai kendaraan seolah jalanan kering kerontang.

Soal empati di jalanan rupanya tidak menjadi materi ujian SIM, akibatnya banyak pengendara punya SIM tapi tuna sopan santun di jalanan.

Setelah memaki-maki dan kemudian ada sistem nilai yang mengingatkan untuk tidak berkata-kata brutal walau dalam hati sekalipun, saya akan tersenyum karena sadar bahwa air yang menciprati saya, air berwarna hitam dan bau, sebagian berasal dari air buangan kamar mandi dan dapur saya.

Ada rasa bersalah menyembul dalam diri walau tak sampai membuat depresi sampai harus mewek-mewek ala Fajar Sad Boy. Sebab tak lama pasti saya akan mencari pembenaran diri untuk menurunkan rasa bersalah. Sumbangan saya tak terlalu besar untuk mencemari lingkungan karena saya tak telalu rajin mandi dan cuci-cuci.

Saya harap anda semua tak meniru-niru kebiasaan saya menakar-nakar kesalahan. Sebab ngeles bakal membuat cita-cita Samarinda menjadi Kota Pusat Peradaban menjadi tersendat-sendat.

Menjadikan Kota Samarinda sebagai Kota Bersih karena sampah, limbah dan serasah dibuang pada tempatnya akan menjadi pondasi utama menuju Kota Samarinda sebagai Kota Pusat Perabadan. Dan kelak akan menjadi Kota Super Peradaban andai saya dan anda sekalian mampu memilah sampah, mengolah sampah, limbah dan serasah hingga tak ada lagi sumpah serapah.

Semoga saya belum mati ketika Kota Tepian menjadi Kota dengan Peradaban Super.

note : sumber gambar – BERITABARU.CO