KESAH.ID – Banyak orang kreatif namun apakah kreasinya diterima oleh pasar dan menghasilkan perputaran uang itu cerita lain. Untuk menjadikan kreatifitas bernilai ekonomi diperlukan inovasi baik menyangkut proses maupun produknya. Sesuatu yang barangkali merupakan hal yang biasa namun dengan branding yang kuat kemudian menjadi ‘pembaharu’ dan kemudian hype.
Memendam rindu pada Yogya itu tidak enak.
Bulan lalu saya ke Jawa, turun di Surabaya untuk mencoba Tol Trans Jawa dari Surabaya ke Semarang, Yogya tidak dilewati. Dari Semarang mampir Purworejo, tetangga dekat Yogyakarta. Tapi lagi-lagi Yogya hanya dilewati, saya pulang ke Surabaya naik kereta dari Kutoarjo.
Kereta yang saya tumpangi berhenti sejenak di Stasiun Tugu, memberi jalan untuk kereta executive lewat. Kereta yang saya naiki kalah kelas karena ada kelas bisnis dan ekonominya. Dari balik jendela saya menatap Selasar Malioboro, Locker and Shower yang paling menonjol. Sarkem tentu saja tak kelihatan.
Rangkaian kereta mulai berjalan, persis di palang pintu sebelah timur Stasiun Tugu saya menenggok ke selatan. Terlihat jalanan Maliboro lega, trotoar kanan kirinya terlihat luas karena tak ada lagi lapak kaki lima berjubel disana. Malioboro telah menjadi pedestrian.
Tak lama kemudian sambil memandang Kali Code dari ketingginan terucap “Selamat tinggal Yogya, tahun ini rasanya kaki tak akan menjejak di tanahmu,”
Biasanya setiap akhir tahun, saya akan natalan dan tahun baruan di Jawa, tapi tahun ini tidak karena sudah kesana duluan. Ongkosnya berat untuk kembali lagi dalam waktu yang berdekatan.
Tapi yang namanya untung tak dapat ditolak. Untung selalu menang.
Suatu siang ketika hendak merebahkan badan, telepon berbunyi. Diseberang sana muncul ucapan “Om, punya waktu kan tanggal 2 sampai 6 ini, jalan-jalan ke Yogya dan Solo,”
Alamak, tanpa pikir panjang saya jawab “Iya, oke saja”.
Lagipula ngapain berkpikir panjang, toh saya bukan orang sibuk yang punya banyak agenda.
Akhirnya saya pergi ke Yogya, tepatnya turun di Bandara Internasional Yogyakarta yang ada di Temon, Kulon Progo. Dari sana naik bus menuju Surakarta, Solo. Yogyakarta lagi-lagi dilewati.
Tapi tenang saja dalam itinerary ada waktu semalam di Yogyakarta, hari terakhir sebelum kembali ke Samarinda via Balikpapan.
Selama di Solo, Yogya terbawa-bawa dalam mimpi.
Pagi saat sarapan terakhir di Hotel Novotel Solo, saya sempat rasan-rasan “Sepertinya waktu kita di Kota Yogyakarta tak banyak,”
Pasalnya tujuan pertama dari Solo bukanlah Kota Yogyakarta melainkan Bantul, tepatnya kawasan Hutan Pinus Mangunan yang ada di Kecamatan Dlingo, sedikit lebih jauh dari Imogiri, tempat para Raja Yogyakarta bertahta dalam keabadian.
Dan benar acara di Panggung Sekolah Hutan baru dimulai setelah makan siang. Mulai muncul kegelisahan, jangan-jangan sampai Yogya nanti tengah malam.
Hujan turun deras seperti ditumpahkan dari langit, acarapun dihentikan. Tapi tak bisa cepat bersiap untuk segera ke Kota Yogyakarta. Dan benar hujan membuat senja cepat datang.
Memasuki Yogya hari mulai senja, tidak langsung ke hotel melainkan singgah belanja Bakpia. Bakpia legend Yogyakarta, Pathuk.
Setelah itu masih harus makan malam serombongan. Rumah makan besar berbentuk Joglo, makanannya enak tapi yang bikin tidak enak hati ada pemain keyboards dan penyanyi di depan. “Bakal lama kalau pakai nyanyi-nyanyi,” guman saya dalam hati.
Untung penyanyi yang mulai menunjukkan goyang bar-bar tak cukup menarik perhatian anggota rombongan. Rencana belanja batik pun juga dibatalkan, semua ingin cepat ke hotel.
Secepatnya-cepatnya masuk hotel, Hotel Abadi di seberang depan Stasiun Tugu yang bertetangga dengan ‘Sarkem’ toh tetap saja sekitar menjelang jam sembilan baru bisa bersiap untuk jalan-jalan.
Ada daftar pesanan di WA saya dan Batik Hamzah yang dulu bernama Mirota menjadi tujuan saya. Santai saja karena tutupnya jam 12 malam.
Melangkah dengan santai, Malioboro terasa lega walau tetap padat. Dari seberang saya melihat Teras Maliboro 1, cukup ramai tapi tak menarik minat untuk singgah. Malioboro seperti lagu KLA Project, ada pemusik jalanan memainkan nada, dikerumuni pejalan kaki ada yang ikut berjoget tapi lebih banyak yang asyik untuk merekamnya.
BACA JUGA : Messi Akhirnya Bermain Untuk dan Sebagai Orang Argentina
Saya tak punya rencana harus kemana, satu-satunya yang mesti dipenuhi adalah membeli titipan aneka dupa yang ada di Batik Hamzah. Setelah selesai dan kemudian mengepak agar esok bisa langsung berangkat, saya kemudian mblayang.
Jalan saja menyusuri ruas Malioboro, masuk ke jalan Sosrowijayan hingga ujung lalu jalan sebentar dan masuk Dagen. Tidak banyak yang berubah, namun jika jeli diamati di sepanjang jalan yang saya lewati muncul banyak kios yang menjual Bakpia Kukus Tugu.
Rupanya hype bakpia kukus belum habis bahkan semakin meraja lela. Kios-kios bakpia mini yang beberapa tahun lalu menjamur mulai lenyap.
Oleh-oleh paling khas dari Yogyakarta memang Bakpia yang mulanya dihasilkan di kampung Pathuk sehingga dikenal sebagai Bakpia Pathuk.
Kue atau camilan ini bukan asli lahir di Yogya melainkan diimpor dari negeri Tiongkok, dibawa oleh imigran dari sana. Di negeri asalnya disebut dengan nama Tou Luk Pia atau kue pia kacang hijau. Bentuknya pipih didalamnya berisi campuran kacang hijau dan gula yang dibungkus tepung lalu dipanggang.
Entah kenapa disebut Bakpia, yang artinya roti atau kue berisikan daging. Mungkin ini merupakan inovasi, adaptasi yang kemudian disesuaikan dengan budaya nusantara.
Bakpia sudah dikenal di Yogyakarta sejak tahun 30-an, dibuat oleh keluarga-keluarga Thionghoa yang menempati pusat Kota Yogyakarta. Awalnya bukan kue komersial, tetapi juga bukan kue kultural seperti kue keranjang. Bakpia hanya dibuat sebagai pelengkap kue keranjang saat Imleks atau camilan hari-hari dalam rumah.
Adalah Kwik Sun Kwok yang mulai berekplorasi, menganti daging babi dengan tumbu kacang hijau dan menggunakan arang untuk memanggangnya. Bakpia buatan Kwik ternyata cocok dengan lidah masyarakat Yogyakarta.
Adalah Niti Gumito yang tanahnya pernah disewa Kwik sempat diberi resep pembuatan Bakpia. Niti kemudian mencoba namun ukurannya dibuat lebih kecil. Niti mengedarkan Bakpia buatannya dengan pikulan, keliling kampung.
Bukan hanya Niti yang membuat Bakpia melainkan juga Lim Bok Sing yang tadinya hanya memasok arang untuk Kwik juga ikut mengembangkan resep Bakpianya sendiri. Liem membuat Bakpia ketika tinggal di Jalan Pathuk 75, Kampung Pajeksan. Usahanya berkembang, Bakpia generasi kedua ala Liem kulitnya lebih tipis.
Bakpia buatan Liem digemari oleh masyarakat Yogyakarta, karena banyak permintaan maka Liem mempekerjakan masyarakat sekitar untuk membantu membuat bakpia. Warga akhirnya tahu bagaimana cara membuat Bakpia, beberapa kemudian membuat Bakpianya sendiri.
Hingga akhirnya kawasan Pathuk yang meliputi Sanggrarahan, Ngadiwinatan, Ngampilan, bagian utara Purwodiningratan dikenal sebagai daerah penghasil Bakpia yang disebut Bakpia Pathuk.
Sebenarnya bukan hanya kawasan Pathuk yang menghasilkan Bakpia, ada banyak kawasan lainnya. Namun Bakpia Pathuk yang terkenal dengan merek-merek yang menggunakan angka. Angka itu adalah nomor jalan atau nomor rumah, seperti Bakpia Pathuk 25 dinamakan demikian karena dibuat di rumah yang berada di Jalan Pathuk no 25.
Namun kemudian muncul merek-mereka lain yang tidak menggunakan angka seperti Bakpia Agung, Bakpia Ayu, Bakpia Djava, Bakpia Pojok, Bakpia Vista dan lain-lain.
Isinya juga sudah beragam tidak lagi hanya kacang hijau, kini bakpia ada yang berisi kumbu hitam, coklat, keju, rasa buah hingga capucinno, bahkan ada bakpia ubi unggu.
Suatu ketika saat muncul trend serba mini muncul juga bakpia mini.
Namun semua masih dalam konvensi Bakpia, isian yang dibungkus dengan tepung lalu dipanggang, hingga kulitnya garing namun di dalam empuk.
Hingga akhir 2017 muncul varian baru Bakpia yang disebut Bakpia Kukus Tugu.
Awalnya dianggap aneh karena melabrak pakem Bakpia yang adalah kue panggang. Namun sekitar tahun 2020, jumlah outletnya yang sudah 8 ternyata sering kehabisan. Di Malioboro bisa dilihat kerumunan orang berebut untuk membeli Bakpia Kukus Tugu yang stock dan demand-nya tidak seimbang.
BACA JUGA : Dari Kartasura Ke Surakarta Ada Solo dan Solo Baru
Tiga tahun lalu saya pernah dioleh-olehi dan tahun lalu sempat ikut mencari-cari ketika berada di Yogya. Ketika mencicipi untuk pertama kali saya merasa seperti apem yang diberi isian.
“Bukan bakpia ini, tapi bolu,” ucap saya waktu itu.
Sebagai orang yang makan bakpia sejak kecil tak mudah bagi saya untuk menerima kue yang mengklaim diri sebagai Bakpia Kuku situ adalah Bakpia yang sesungguhnya.
Dan benar, kehadiran Bakpia Kukus memang jadi polemic terutama di kalangan netizen yang gemar mengobral ujaran.
Apalagi branding pembuatan memang kuat untuk menjadikan Bakpia Kukus Tugu sebagai oleh-oleh khas Yogya. Kemasannya keren, pas untuk dibawa pulang atau diberikan kepada sanak saudara dan tetangga sebagai oleh-oleh.
Kekhasan Yogyakarta juga ditunjukkan dalam kemasannya, yakni tugu dan logo Bakpia yang memakai blangkon. Bentuk kuenya memang seperti blangkon, muntuk diatas dan rata dibawah.
Apapun kata netizen pada akhirnya Bakpia Kukus yang tak rasa bakpia, dengan harga yang jauh lebih mahal serta expire date yang lebih pendek ternyata jadi hype di Yogya hingga hari ini. Lihat saja di Bandara Internasional Yogjakarta, kebanyakan paper bag yang ditenteng berisi Bakpia Kukus Tugu aneka rasa.
Menenteng kardus Bakpia Pathuk terasa ketinggalan jaman.
Saya paham pasti ada yang resah soal ini, Bakpia Kukus dianggap menganggu identitas Bakpia yang sesungguhnya. Mereka yang dogmatis akan mempertahankan kanon bahwa Bakpia adalah kue panggang, bukan kukus.
Tapi inilah kenyataan dunia kreatif, sebuah inovasi yang kemudian berhasil secara ekonomi menjadi sah selama tidak melanggar hukum.
Di Samarinda saya juga sering merasakan ‘ketidakterimaan’ semacam itu. Dalam list menu di banyak kedai kopi tertulis Tempe Mendoan.
Coba pesan dan lihat apa yang disajikan. Tempe goreng tepung.
Tahun nggak dalam bahasa ngapak, mendoan itu arti mendo-mendo dipangan, artinya masih belum matang sudah dimakan, nggak ada keriuk sama sekali.
Dan tempenya juga beda, bukan tempe lempeng plastikan yang diiris tipis.
Mau protes?. Coba saja paling yang diprotes akan bilang “Tinggal makan saja cerewet, kalau nggak suka jangan pesan,”.
Karena tas tentengan saya masih terisi separuh, sayapun mampir ke outlet Bakpia Kukus Tugu. Mesti milih-milih karena variannya banyak, mulai dari original kacang hijau, stroberi, coklat, keju sampai brownies keju dan coklat.
Walau dalam hati masih menganggap Bakpia Kukus merusak identitas Bakpia yang sesungguhnya namun saya mesti bersikap pragmatis. Artinya kalau saya beli sebagai oleh-oleh pasti segera akan dimakan habis ketimbang saya membeli Bakpia Pathuk yang kadang tersisa sampai berjamur.
Sayapun tak berusaha usil dengan mempertanyakan sebutan Bakpia pada penjualnya. Toh mereka hanya pekerja, paling tersenyum saja kalau diprotes. Atau bisa-bisa mereka malah menyahut “Panjenengan menika SJW nggih mas?”
Biarlah urusan orisinalitas, identitas dan lainnya jadi urusan para ahli gastronomi. Toh dalam ilmu ekonomi kreatif berlaku rumus ATM, amati, tiru dan modifikasi yang pada akhirnya akan melahirkan jenis produk yang jauh dari aslinya.
note : sumber gambar – MISSRIANA.COM








