KESAH.ID – Ucapan Presiden Joko Widodo soal ciri pemimpin yang memikirkan rakyat ditandai dengan rambut putih dan wajah penuh kerutan jadi bola panas. Ditafsir oleh banyak orang sebagai pertanda atau sinyal dukungan pada sosok tertentu. Begitulah kebiasaan kita yang suka sok lebih tahu dari yang mengatakannya.
Salah satu kekhawatiran terbesar sewaktu masih kecil adalah tumbuh uban di kepala. Masalahnya muka saya nggak kinclong, kulit kurang bersinar sehingga cenderung kelihatan tua. Mutu atau muka tua lalu ada banyak rambut putih jelas sasaran empuk untuk dikatai-katai “Ah, sudah tua kamu,”.
Saya khawatir karena om-om saya cenderung cepat tumbuh ubannya. Masih SMA sudah mulai kelihatan rambut putihnya.
Sungguh nggak lucu masih anak-anak lalu rambut dengan cepat menua.
Agar tidak cepat ubanan dan rambut tetap hitam legam, saya dan teman-teman kerap berekperimen mengosok rambut dengan bermacam getah serta air dari tumbuhan. Termasuk getah dari batang lompong yang hasil bikin kulit kepala malah gatal-gatal.
Sialnya mulai SMP, teman-teman yang duduk di bangku belakang saya selalu tahu kalau ada sekumpulan rambut uban di kepala bagian belakang atas.
Seingat saya, rambut uban itu tumbuh di bagian dimana saya pernah disengat lebah, tawon ndas yang kerap bersarang di bumbungan rumah dan dahan-dahan pohon besar.
Jaman kecil itu saya memang agak usil. Salah satu permainan bersama dengan teman-teman adalah mengketapel sarang lebah lalu lari jika lebahnya berhamburan. Rasanya dua kali saya disengat lebah di kepala yang membuat demam semalaman.
Untung uban saya hanya tumbuh di satu tempat sehingga malah jadi kekhasan dan saya punya alasan bahwa uban itu tumbuh karena saya disengat lebah. Saya tidak tahu persis apakah ada hubungan antara sengatan lebah dan rambut yang cepat memutih.
Tapi seingat saya memang ada teman, saudara atau tetangga yang rambutnya cenderung cepat memutih, barangkali karena memang turunannya begitu.
Sebenarnya saya juga sudah menyiapkan alasan lain kalau nanti uban saya membludak.
Waktu itu banyak orang menyangka bahwa rambut akan cepat memutih kalau seseorang sering berpikir. Yang putih rambutnya berarti pemikir yang keras, seorang yang bijaksana.
Kalau rambut saya dengan cepat ubanan dan ada yang mengolok-olok maka saya akan mengatakan “Uban adalah tanda kebijaksanaan,”
Dulu rambut putih di kepala bagian belakang itu sering saya cabut, memakai dua cermin agar kelihatan, hanya saja lama kelamaan saya biarkan saja. Mencabut rambut putih hanya memberikan kepercayaan diri sesaat, nanti akan tumbuh lagi, bahkan banyak yang bilang kalau rambut putih dicabut bakal membuat uban makin subur.
Makin dewasa, tepatnya makin tua saya semakin tak terlalu khawatir dengan rambut putih atau ubanan. Toh kalau nggak mau kelihatan bisa dicat, bisa warna hitam atau warna lainnya yang bisa menambah rasa percaya diri.
Seiring dengan bertambahnya umur akhirnya tiba juga rambut di kepala mulai beruban, bukan hanya di tempat yang dulu pernah disengat lebah. Sesekali kalau di kamar mandi, saya mencabut satu dua walaupun saya tahu itu tak terlalu berguna.
Mencabut rambut putih tidak membuat rambut yang tumbuh baru akan hitam, tetap putih juga. Bahkan bisa jadi gara-gara dicabut paksa, rambut malah tak tumbuh.
BACA JUGA : Messi, Neymar dan Mbappe Siapa Lebih Bersinar?
Presiden Joko Widodo dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion Gelora Bung Karno {GBK}, Sabtu {26/11/2022} lalu mengucapkan “Pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari mukanya. Dari penampilannya kelihatan. Banyak kerutan di wajahnya karena mikirin rakyat. Ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua.”
Ucapan itu disambut gemuruh, gegap gempita oleh mereka yang hadir. Sebagian mungkin berpikir ucapan itu ditujukan untuk Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang memang tak pernah menyemir rambutnya yang memutih.
Tapi rasanya wajah atau muka Ganjar belum banyak kerutannya.
Di Kalimantan Timur, ucapan Jokowi itu segera di sambar. Ada banyak foto yang menangkap momen Presiden Jokowi berdua bersama Gubernur Kaltim Isran Noor sedang berbincang di sekitar kawasan IKN.
Rasanya Gubernur Kaltim, Isran Noor lebih mewakili sosok yang disebut oleh Jokowi, rambut memutih dan wajah banyak kerutan. Tapi apakah rambut yang memutih dan wajah banyak kerutan itu akibat memikirkan rakyat, tak ada yang bisa memastikan.
Namun ghalibnya pemimpin, baik yang berambut putih maupun tidak, muka banyak kerutan maupun bling-bling adalah memikirkan rakyat.
Apapun yang diucapkan oleh Presiden Joko Widodo sekarang kerap dianggap sinyal, pertanda. Semua-semua ditafsir kearah pemilu 2024.
Joko Widodo memang dicitrakan sebagai King Maker, orang yang keputusannya akan berpengaruh besar. Akan ada Jokowi Effect dalam pemilu 2024 walau kita semua tahu yang paling menentukan adalah partai atau gabungan partai.
Bicara soal sinyal sebenarnya Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan hal lain. Dalam sebuah kesempatan Jokowi mengatakan bahwa pemilu 2024 akan menjadi jatah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
Apakah ucapan itu menjadi tanda bahwa Jokowi akan mendukung Prabowo?.
Sebenarnya juga tidak demikian. Presiden Joko Widodo bisa jadi hanya mengulang kisah apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin terjadi ke depan. Semua tahu dua kali bersaing dengan Joko Widodo, Prabowo kalah. Dan dalam pemilu 2024 nanti persaingan itu tak akan, Prabowo bisa maju namun Joko Widodo tidak.
Karena itu Presiden Jokowi mengatakan bisa jadi 2024 nanti giliran Prabowo yang akan menang.
Banyak yang kemudian menyangka kalau Presiden Joko Widodo mulai meng-endorse sana-sini. Padahal sebagai negarawan mestinya hal itu tidak dilakukan, tidak etis karena presiden kemudian tidak bersikap netral dalam menghadapi pemilu 2024.
Ikut campur atau mempengaruhi pemilu 2024 nanti bisa dianggap Joko Widodo terus berupaya mempertahankan kepentingannya walau sudah tidak lagi berkuasa. Yang diduga untuk terus dipertahankan adalah pemindahan IKN.
Padahal pemindahan IKN kan sudah bukan lagi inisiatif Presiden Joko Widodo, sudah ditetapkan dalam Undang Undang. Maka akan mengikat siapapun presiden berikutnya.
Soal pemindahan IKN akan cepat terealisasi tidak ada hubungan dengan apakah presiden berikutnya adalah ‘the next jokowi’ atau tidak. Apapun itu presiden yang terpilih dalam pemilu 2024 nanti adalah penerus Joko Widodo.
Survey yang dilakukan oleh LSI baru-baru ini mengungkapkan bahwa pengaruh endorse dari Presiden Jokowi tidak besar terhadap calon yang berkontestasi dalam pemilu 2024 nanti.
Istilah King Maker, The Next Jokowi dan lainnya hanyalah halusinasi dari sekelompok orang tertentu yang tetap ingin eksistensinya dalam ‘memenangkan’ capres tertentu tetap diakui, syukur-syukur nanti juga kebagian kursi.
BACA JUGA : Jalan Terjal Anwar Ibrahim Dari Bui Ke Kursi Perdana Menteri
Setiap orang bebas untuk beropini tentang pemimpin, pun demikian dengan Presiden Joko Widodo yang berpandangan bahwa pemimpin bisa dikenali dari penampilannya.
Tidak salah kalau Presiden Jokowi berpandangan bahwa pemimpin yang bekerja sungguh-sungguh, seratus persen memikirkan rakyat akan terlihat dari wajah dan rambutnya. Karena tidak punya waktu untuk yang lain-lain maka tampilan rambutnya nggak akan klimis dan wajahnya nggak akan kinclong.
Mereka yang tampil sebaliknya akan dipandang lebih punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri, merawat diri sehingga waktu untuk rakyat atau masyarakat kurang.
Pandangan seperti ini walau lazim terjadi tidak bisa dipakai sebagai pegangan. Sebab semua berangkat dari asumsi atau sangka kira. Kalaupun itu dianggap sebagai kebenaran maka kelas kebenarannya adalah kebenaran subyektif. Namun karena yang mengungkapkan seorang presiden maka banyak orang kemudian mengamini sehingga menjadi kebenaran intersubyektif.
Pada dasarnya penampilan atau warna rambut dan ada tidak kerutan di wajah tidak ada hubungan langsung dengan apakah memikirkan rakyat atau tidak. Seorang pemimpin yang sungguh-sungguh memikirkan rakyat tidak otomatis rambutnya akan cepat memutih. Yang nggak benar-benar memikirkan pun bisa cepat putih rambutnya kalau punya turunan cepat ubanan, punya penyakit tertentu dan kebiasaan-kebiasaan yang memicu tumbuhnya uban.
Apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo hanyalah bunga-bunga dalam komunikasi. Pidato terkadang memang perlu disisipi dengan sesuatu yang bisa bikin suasana jadi seru. Maka tak perlu ditafsir-tafsir lebih.
Toh, yang rambutnya putih dan wajahnya penuh kerutan banyak. Bukan hanya Ganjar, tapi juga Prabowo, Hatta Rajasa dan lain-lain.
Demikian juga yang rambutnya masih hitam legam dan wajahnya masih mulus, banyak juga yang terbukti benar-benar bekerja dan memikirkan rakyat.
Jangan dikira Presiden Jokowi itu nggak usil, pingin nge-prank untuk seru-seruan.
Jadi nggak usah lebay soal rambut putih dan wajah penuh kerutan. Yakinlah Jokowi tidak sedang menunjuk siapa-siapa.
note : sumber gambar – SOLOPOS.COM








