KESAH.ID – Piala dunia selalu dipenuhi oleh kejutan-kejutan, ada banyak proyeksi, prediksi atau analisa-analisa yang bertabur data dimentahkan di lapangan. Hanya saja kejutan-kejutan tak harus ditanggapi dengan euforia berlebihan sebab pada akhirnya yang menjadi juara hanya berpindah-pindah diantara negeri di Eropa. Hanya dua negara di luar Eropa yang pernah mencicipi pengalaman mengangkat tropi piala dunia yakni Argentina dan Brasil dengan materi pemain yang kebanyakan berlaga di liga-liga top Eropa.
Saya bukan maniak bola, berkali-kali diajak menyaksikan pertandingan di GOR Segiri tak saya iyakan. Tapi sebagai orang yang tumbuh dan besar di Indonesia tentu saja ada sisa kesukaan terhadap sepakbola, keterlaluan jika tidak.
Entah dari mana mulanya, setiap kali ada perhelatan piala dunia saya selalu menjagokan Argentina dan Belanda sebagai tim unggulannya. Rasanya saya mulai menyukai Argentina bukan karena Maradona, melainkan Gabriel Omar Batistuta.
Batigol demikian panggilannya dan dikenang sebagai Pangeran Fiorentina. Kedekatannya dengan Fiorentina dibuktikan dengan keberadaan patung dirinya di depan Stadion Artemio Franchi di Firenze, markas Fiorentina.
Jasanya sangat dikenang di Fiorentina walau Batigol tidak pernah meraih gelar juara liga seri A Italia bersama Fiorentina. Gelar kampiun liga Italia justru diraih bersama dengan A.S. Roma.
Saya menyukai Belanda karena membaca kisah tentang Johan Cruijff, pemain legendaris Belanda yang terkenal dengan total football-nya. Tentu saja saya juga kagum pada trio Belanda, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten yang berjaya di AC Milan.
Dennis Bergkamp dan Robin Van Persie yang membela Arsenal juga membuat Belanda selalu saya jagokan.
Hanya saja mulai tahun 2006 saya kemudian lebih menjagokan Argentina karena disana ada Lionel Messi yang bersinar cemerlang ketika mulai memperkuat Barcelona.
Bersama Messi, Argentina memang belum pernah menjadi juara dunia. Prestasi tertingginya menjadi runner up. Namun Messi selalu berhasil membawa Argentina lolos dari babak penyisihan atau group.
Sebenarnya ketika mulai diperkuat oleh Messi, tim nasional Argentina jadi luruh, jarang dibahas sebagai tim, yang selalu disorot adalah Messi. Seolah tim ini ada karena untuk mengantar Messi menjadi juara dunia, piala yang belum pernah diangkatnya meski telah meraih penghargaan sebagai pemain terbaik sedunia berkali-kali.
Maka tidak berlebihan jika ada kawan yang mengatakan bahwa Piala Dunia 22 di Qatar yang diikuti 32 peserta terdiri dari 31 negara dan 1 orang, yakni Messi.
Ketika piala dunia dimulai, saya berniat untuk terus menonton. Bukan lewat TV atau nonton bareng di tempat tongkrongan, tapi sambil rebahan dengan mengakses akun twitter yang menyediakan link siaran langsung gratisan.
Tapi niat itu buyar karena Argentina kalah pada pertandingan pertama di fase grup. Argentina dikalahkan oleh Arab Saudi. Kemenangan yang membuat seluruh anggota tim Arab Saudi diberi hadiah mobil Roll Royce yang sebijinya berharga kurang lebih 8 milyard rupiah.
Arab Saudi berhasil memenangkan pertandingan karena pada babak kedua pelatihnya menginstruksikan untuk menjaga Messi, mematikan pergerakan Messi.
Messi sendiri tidak bermain buruk karena berhasil menyarangkan satu gol ke gawang Arab Saudi lewat tendangan pinalti. Namun umpan mautnya yang menghasilkan gol dianulir oleh wasit.
Sempat berpikir bahwa Argentina akan pulang cepat, lagi-lagi seorang teman menyakinkan bahwa Argentina pasti lolos fase group.
Berhasil mengalahkan Mexico dan Polandia, asa Argentina dan Messi kembali terjaga. Argentina yang tampil tidak menyakinkan dalam pertandingan pertama ternyata berhasil menutup fase group sebagai juara, sehingga tak perlu berhadapan dengan Perancis di babak 16 besar.
BACA JUGA : KPU- Kepala Penuh Uban
Piala dunia memang selalu mengejutkan terutama di babak-babak awal. Kejutan yang terjadi di Qatar bukan hanya kekalahan Argentina dari Arab Saudi melainkan juga German yang dipukul KO oleh Jepang dan Korea Selatan yang berhasil menahan Uruguay.
Tim dari Asia tampil meyakinkan dalam pertandingan perdana. Sampai ada yang berpikir pendulum sepakbola akan mengarah ke Asia seiring dengan ditunjuknya Qatar sebagai tuan rumah piala dunia.
Tapi bola itu bulat, kejutannya terus berlanjut dan sulit diprediksi terutama saat kompetisi pendek. Euforianya tak boleh kepagian, begitu bersuka seperti Arab Saudi yang berhasil menahklukkan Messi ternyata modal mengalahkan Argentina tak cukup membawa rejeki lolos dari babak grup. Arab Saudi menang besar namun kemudian babak belur dan pulang.
Penjelasan, ulasan-ulasan dan alasan selalu tak cukup. Seperti Messi dengan Argentina yang secara statistika begitu meyakinkan karena mencatat rekor 36 kali tak terkalahkan. Namun di Qatar terbukti, rekor itu amblas oleh tim yang dari segi apapun jauh dibawahnya.
Satu kali kalah dan satu kali menang membuat Messi berada di ujung tanduk. Piala dunia terakhirnya seperti akan berakhir kelam. Saya tak ingin menonton pertandingan terakhirnya melawan Polandia, nggak yakin Argentina bisa menang karena di tim nasional Polandia juga ada pencetak gol yang subur, Robert Lewandowski.
Saat bangun pagi yang pertama saya lakukan meraih smartphone, lalu mengetikkan keywords Argentina di kolom pencarian google.
Google memberitahukan Argentina menang, 2-0. Kemenangan yang cukup untuk membuat Argentina menjadi juara group.
Segera saya mengirim pesan di WAG tempat saya dan teman-teman biasa berhahahihi. “Argentina lolos babak group. Bakal ke final lawan Perancis nanti,” begitu tulis saya gembira sambil menebar prediksi.
Namun teman saya membalas, Argentina vs Maroko.
Sebuah harapan agar ada kekuatan lain di luar Eropa dan Amerika yang berjaya di piala dunia.
Berharap ada tim dari Afrika ada yang berjaya memang lebih masuk akal dari pada menunggu calon bintang dari Asia.
Memang sudah ada tim dari Asia yang lolos yakni Australia, tapi jujur saja meski berada di benua Asia, namun Australia lebih terasa sebagai bagian dari benua Eropa.
Qatar sebagai tuan rumah tak bisa diharapkan. Meski pemerintahnya mengeluarkan biaya sangat besar namun tim hebat tak bisa diciptakan sekejap walau dengan uang berlimpah. Arab Saudi yang berhasil mengalahkan Argentina ternyata juga melempem, mungkin terlalu bergembira atau sudah merasa juara karena bisa mempermalukan Messi, sang GOAT di tanah Arab.
Iran juga tumbang setelah berhadapan dengan musuh bebuyutan dalam politik. Amerika Serikat berhasil mengirim timnas Iran pulang.
Harapan Asia tinggal ada pada Jepang dan Korea Selatan.
Uang dari Asia mungkin bisa punya pengaruh dalam sepakbola dunia. Beberapa klub di Eropa kini dimiliki oleh para saudagar dari tanah Arab.
Namun bicara prestasi, kiblat sepakbola memang ke Eropa dan Amerika Latin.
Jepang misalnya dari 26 pemain yang dibawa, 20 diantaranya bermain di liga-liga Eropa. Sementara di timnas Korea Selatan, 6 pemainnya bermain di liga-liga top Eropa.
BACA JUGA : Messi, Neymar Dan Mbappe Siapa Lebih Bersinar?
Berbicara soal talenta, kawasan Amerika Latin {Amerika Selatan dan Tengah} memang selalu berlimpah. Pemain mereka bisa saja hebat di negerinya sendiri, namun dengan tradisi bola yang sangat kuat tetap saja ketergantungan kepada Eropa sangat tinggi.
Pemain-pemain Amerika Latin akan terang benderang jika bermain di Eropa.
Eropanisasi memang tak bisa dielakkan.
Amerika Serikat dan Kanada, dua negara Amerika Utara yang tradisi sepakbolanya tak kuat namun kerap berlaga di piala dunia, menjadi kuat karena pemain-pemain yang berlaga di klub-klub Eropa.
Dua negara dari benua Amerika yang pernah menjadi kampiun di piala dunia yakni Brasil dan Argentina, dengan gaya dan budaya sepakbola yang kuat yakni samba dan tango, ternyata juga tak kurang Eropa-nya.
52 pemain timnas Brasil dan Argentina yang dibawa ke Qatar, hanya 6 orang yang tidak bermain di liga Eropa.
Qatar, Arab Saudi, Uni Emirates Arab boleh jadi punya uang berlimpah, mereka bisa membeli klub bola yang mereka suka di Eropa sana. Uang bisa jadi membuat pengaruh mereka di FIFA juga besar sebagaimana terlihat pada keputusan menjadikan Qatar sebagai tuan rumah piala dunia yang waktu penyelenggaraannya berbeda dengan lazimnya jadwal piala dunia sebelum-sebelumnya.
Tapi tetap penambang talenta sepakbola global adalah Eropa, disana berkumpul pesepakbola terbaik, berjibaku membela klubnya. Messi luar biasa hebat di Barcelona, semua rekor dan penghargaan sebagian besar diperoleh saat berseragam Barcelona.
Kehebatan yang sampai sekarang masih mengganjal karena prestasi terbaiknya di timnas senior Argentina adalah mengangkat tropi Copa Amerika.
Di Eropa, berlian dari Asia, Afrika dan Amerika akan bersinar dan cemerlang.
Maka tak perlu heran jika sampai sekarang yang bisa menjuarai dan mengangkat tropi piala dunia sebagian besar adalah negeri eropa. Jerman, Perancis, Italia dan Jerman plus dua negara Amerika Latin yang menjadi pemasok terbesar pemain-pemain top di liga eropa yakni Brasil dan Argentina.
21 kali penyelenggaraan piala dunia, tropinya hanya berpindah-pindah dari sesama negara eropa, kecuali Brasil dan Argentina. Akankah tahun 2022 yang merupakan perhelatan ke 22 akan melahirkan juara baru.
Mungkin saja, siapa tahu akan terjadi final antara Argentina melawan Maroko sebagaimana diproyeksi oleh teman saya sesukanya dia.
Saya sih setuju saja, sebab biarpun Argentina tidak menjadi juara, nampaknya Messi akan kembali menjadi pemain terbaik dunia.
Tentu akan lebih sempurna jika Argentina juga meraih kembali kampiun juara dunia karena akan membuat akhir karir Messi berkilap, gilang gemilang. Statusnya sebagai GOAT tidak akan lagi menjadi gurauan karena disembelih oleh Arab Saudi.
note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM








