KESAH.ID – Menyimpulkan orang Indonesia malas jalan kaki bisa jadi tidak tepat walau banyak gejala bisa mendukung kesimpulan itu. Jalan kaki tidak menjadi pilihan mobilitas sebenarnya tidak didasari kemalasan untuk melangkah. Ada banyak fakta yang membuat orang enggan berjalan kaki di jalan raya, sebab perilaku berkendara kita teramat jelas tidak menunjukkan penghormatan pada pejalan kaki.
Benarkah jalan kaki ada hubungannya dengan kesehatan dan akan membantu untuk memiliki umur yang lebih panjang?. Pasti, buktinya banyak orang memilih jalan kaki sebagai olahraga rutin untuk menjaga kesehatannya.
Ada sebuah rekomandasi umum yang mempercayai bahwa setiap orang memerlukan 10.000 langkah agar kesehatannya terjaga dan terhindar dari kematian dini.
Resep populer ini ternyata tidak berdasarkan analisis ilmiah, melainkan muncul dari strategi pemasaran atas produk tertentu di Jepang.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan yang bergabung dalam Step for Health Collborative menemukan orang dewasa yang berusia 60 tahun keatas memerlukan 6000-8000 langkah per hari. Sedangkan orang dewasa yang berumur di bawah 60 tahun butuh 8000-10.000 langkah per hari untuk mencegah kematian dini.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh kelompok lain menyebutkan bahwa berjalan kurang lebih 7000 langkah per hari dapat mengurangi resiko kematian dini pada lansia.
Walau berbeda angka namun pada dasarnya para peneliti sepakat bahwa aktif bergerak itu lebih bermanfaat. Dan angka antara 7000-8000 langkah per hari bisa dijadikan patokan.
Memakai patokan itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford kemudian menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terbuncit dalam urusan jalan kaki. Studi yang dilakukan di 45 negara itu menempatkan Hongkong, Tiongkok, Ukraina, Jepang dan Rusia sebagai negara yang rakyatnya gemar berjalan kaki.
Rata-rata orang Indonesia hanya berjalan 3.513 langkah sehari, masih kalah dengan orang Arab yang melangkah 3.807 sehari. Orang Malaysia, Singapura dan Afrika Selatan juga lebih rajin berjalan kaki.
Saya dan anda yang punya pengalaman berkeliling di sebagian wilayah negeri mungkin akan membantahnya. Sebab masih banyak penduduk di berbagai wilayah menjadikan kaki sebagai alat transportasi utamanya.
Memang benar demikian adanya. Dan studi itu memang dilakukan di kota-kota besar, bukan perdesaan apalagi daerah terpencil yang jauh dari sentuhan infrastruktur transportasi.
Namun saya bisa memastikan bahwa jalan kaki memang bukan merupakan pilihan untuk orang Indonesia. Begitu memiliki alat transportasi, jalan kaki akan ditinggalkan.
Memiliki kendaraan menjadi salah satu cita-cita terbesar selain kemerdekaan.
Dan di kota besar, kendaraan pribadi yang dimaksud adalah mobil. Yang belum punya rumah atau punya rumah namun tak cukup ruang untuk parkir tetap saja memaksakan diri untuk membeli mobil.
Trotoar, pinggir jalan, ruang terbuka publik {hijau maupun tidak hijau} bahkan depan gerbang rumah orang kemudian kerap menjadi tempat parkir menginap bagi mobil-mobil yang tuannya tak punya lahan parkir pribadi di rumah atau kontrakkannya.
BACA JUGA : Lapas Dalam Seteguk Miras Oplosan
Minimnya pejalan kaki untuk aktivitas keseharian non olahraga terkonfirmasi oleh saya yang punya profesi ternak {antar anak}.
Setiap hari saya mengantar dan menjemput anak pulang pergi sekolah yang jaraknya kurang lebih 1,3 kilometer. Yang saya temui di jalan adalah lalu lalang motor dan mobil, orang yang berjalan kaki melewati jalan yang saya lalui bisa dihitung dengan jari, itupun tak akan melebihi jari satu tangan.
Jalanan yang saya lewati masih jalanan gang, itupun sudah ramai namun lancar. Begitu memasuki jalan besar langsung padat merayap. Apalagi pada persimpangan atau U Turn yang tidak dijagai polisi, akan ada banyak manuver terutama oleh mereka yang merasa dikejar waktu.
Saya melewati sepenggal Jalan Juanda yang trotoarnya sepi dari pejalan kaki dan bangku merana karena tak ada yang menduduki.
Kontras dengan jalanannya dimana kendaraan berebut racing line agar langkahnya menuju sekolah atau tempat kerja lancar jaya, walau cara berkendaranya mesti zig zag layaknya langkah pemabuk yang oleng dihajar oleh alkohol.
Sampai dengan 3 – 4 tahun lalu, di jalanan depan rumah saya masih sering lewat serombongan anak sekolah berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Dari seragam dan posturnya mereka anak-anak SD.
Tapi pemandangan itu tak terlihat lagi.
Di jalanan saya malah sering bertemu dengan anak berseragam SMP membawa motor sendiri. Sering kali mereka berboncengan 3.
Bertemu dengan mereka, saya mesti waspada. Sebab pengendara kendaraan semakin muda usianya semakin besar kenekatannya. Kesadarannya hanya ngegas, kurang ngerem dan minus kemauan untuk menyalakan lampu sein jika hendak berbelok.
Setiap kali melihat manuver anak-anak dalam berkendara, saya selalu membatin bahwa mereka selamat sampai tujuan bukan karena terampil berkendara melainkan karena beruntung.
Dan berkendara dengan modal untung-untungan sebenarnya amat berbahaya untuk pengendara lainnya.
Saya sendiri sampai dengan masa kuliah lebih banyak berjalan kaki. Sewaktu SD, saya masuk kategori pejalan kaki 100 persen. Pergi pulang sekolah selalu berjalan kaki. Terkadang tidak sampai sekolah karena kepleset di jalanan licin dan baju belepotan lalu balik kanan pulang.
Waktu SMP, saya naik sepeda. Namun masih ada jalan kakinya sambil menuntun sepeda waktu menaiki tanjakan tinggi dan panjang.
Saat SMA sekolahan saya jauh, lebih dari 10 km. Saya mesti naik kendaraan umum, berganti dua kali dari angkutan perdesaan ke angkutan perkotaan. Pulang sekolah saya sering jalan kaki, kurang lebih 2 km karena angkutan perdesaan mesti ngetem, nunggu penuh baru jalan.
Saya sering memilih berjalan kaki ketimbang menunggu lama dalam kendaraan yang waktu berangkatnya entah.
Masa kuliah persis sama dengan masa SD, saya kembali menjadi pejalan kaki. Karena jarak antara asrama tempat saya tinggal dan ruang kuliah hanya setengah kilo meter.
Saya tak hendak mengatakan lebih rajin jalan kaki ketimbang generasi anak sekolahan atau kuliahan saat ini. Bisa jadi kebiasaan saya jalan kaki waktu itu karena keterpaksaan. Andai saja saya punya motor sendiri mungkin lain ceritanya.
BACA JUGA : Dilema Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
Kebudayaan jalan kaki untuk mobilitas memang sudah tergerus oleh kemudahan untuk mempunyai kendaraan. Sampai-sampai ada yang mengatakan kredit motor lebih laku dari gorengan.
Maka menyimpulkan bahwa orang Indonesia termasuk di dalamnya orang Samarinda malas jalan kaki menjadi bermasalah. Sebab ‘kemalasan’ berjalan kaki bisa jadi bukan karena enggan berjalan kaki melainkan jalan kaki di jalanan sekarang ini memang punya banyak masalah.
Ambil contoh trotoar yang sepi dari pejalan kaki. Saat jalanan tak lancar kemudian banyak pemotor menjadikan trotoar sebagai jalan pintas. Banyaknya pemotor yang sering berkendara diatas trotoar membuat sebagian trotoar di Kota Samarinda dipasangi jajaran tiang penghalang.
Diatas trotoar yang sepi juga kerap terparkir kendaraan, hingga kalau ada pejalan kaki mesti zig-zag naik turun dari trotoar ke jalan raya dan sebaliknya.
Belum lagi banyak trotoar berada di atas saluran air. Sehingga di beberapa tempat mesti ada lubang untuk monitoring saluran. Dan sayangnya tidak semua lubang diberi penutup yang aman. Tidak sedikit kisah pejalan kaki yang terperosok di dalamnya.
Di luar itu tidak semua jalan ada trotoarnya. Hingga mejadi pejalan kaki selalu dipenuhi kekhawatiran, disambar kendaraan yang hilir mudik.
Maka benar, persoalan sepinya minat orang berjalan kaki untuk mobilitas sehari-hari adalah persoalan hilir, karena masalah hulunya tidak diselesaikan.
Masyarakat Samarinda banyak yang tinggal dalam permukiman padat di dalam gang. Bukan di pinggiran jalan utama. Sementara kendaraan umumnya terbatas. Sedangkan jalan dari permukiman ke jalan umum yang dilalui oleh angkutan umum kebanyakan sempit, tidak ada trotoarnya.
Dan jalanan di gang-gang bukan jalanan sepi. Sempit dan ramai serta tak punya trotoar jelas bukan medan yang aman untuk pejalan kaki.
Di dalam kota pun trotoarnya sering tak konsisten, terutama di perempatan. Ada banyak perempatan terutama di pojokan trotoarnya menghilang. Menyeberang di perempatan walau ada lampu lalulintas tetap butuh ketrampilan. Tidak ada jaminan semua pengendara patuh pada lampu petunjuk.
Alasan lain yang membuat orang malas berjalan kaki adalah suasana jalanan. Saat tidak hujan, jalanan terasa terik dan berdebu. Tidak banyak ruas jalan di Samarinda yang trotoarnya teduh. Sedangkan ketika hujan tiba atau setelah hujan, sebagian ruas jalan akan ada genangan airnya. Dan tidak semua pengendara sopan, banyak yang tak menyadari ketika lewat genangan kendaraan memercikkan air di kanan-kiri. Berjalan kaki dalam kondisi ini artinya menyiapkan diri untuk menerima siraman air genangan jalanan.
Terus terang saya sendiri termasuk orang yang malas jalan kaki untuk urusan sehari-hari. Bukan karena malas melangkahkan kaki melainkan karena berbagai pertimbangan situasi dan kondisi di jalanan.
Buat saya jalanan di Kota Samarinda belum ‘meng-orangkan’ warganya. Soal inftrastrukturnya pemerintah memang sudah berusaha. Misalnya dengan memperbaiki wajah trotoar, bahkan di beberapa titik diberi bangku untuk istirahat.
Masalahnya lebih ada pada pengguna jalan lainnya, terutama para pengendara kendaraan bermotor. Kelakuan mereka di jalanan sungguh menakutkan untuk para pejalan kaki.
Untuk kaum perempuan masalahnya mungkin bisa bertambah lagi. Berjalan kaki bisa membuat perempuan jadi sasaran catcalling dan pelecehan visual.
Bagi Kota Samarinda, kota yang mencita-citakan diri sebagai pusat peradaban hal ini merupakan sebuah tantangan.
Sebab adab sebuah kota akan tercermin dari bagaimana perlakuan warga dan masyarakatnya atas pejalan kaki. Kota yang tidak mengindahkan dan memanusiakan pejalan kaki jelas merupakan kota yang gagal adab.
Beberapa sore dalam setiap minggu saya menyempatkan diri untuk berjalan kaki, olahraga. Dan putar-putar di wilayah Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Kota dalam waktu 1 hingga dua jam bisa menempuh jarak hingga 5 kilometeran. Lumayan.
Namun jalan kaki untuk pergi kondangan, pertemuan atau belanja di pasar malam jelas masih merupakan cita-cita omong kosong di tengah hari bolong.
note : sumber gambar – OKEZONE.COM








