KESAH.ID – Facebook memberi label centang biru untuk akun-akun terpercaya yang statusnya selalu menjadi perhatian para pengguna lainnya. Ingin populer lewat status-status yang dipostingnya, tidak sedikit pemakai facebook gemar membuat status colongan. Narasi yang di-coppy paste dari orang lain tanpa diberi atribusi padanya.

Ketika tiba waktunya membuat skripsi, salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah daftar pustaka.  Daftar pustaka wajib panjang dan relevan, artinya ada banyak buku yang mesti dibaca dan harus berhubungan dengan tema yang menjadi bahasan.

Sumber atau data pustaka wajib valid, buku yang dibaca mesti merupakan buku yang ditulis dalam bahasa pencetusnya, bukan terjemahan yang sudah dipenuhi intepretasi oleh pengalih bahasanya.

Daftar pustaka menjadi penting karena setiap bagian skripsi mulai dari pengantar, latar belakang permasalahan, metode analisis, paparan hasil analisa, kesimpulan, rekomandasi dan penutup akan dipenuhi dengan kutipan sebagai dasar atau pembanding pertanggungjawaban pikiran.

Maka jika membaca sebuah skripsi terkadang saya bertanya “Yang mana pikiran penulisnya sendiri?”

Tapi saya tetap harus memuji dan angkat topi pada mereka yang berhasil menulis skripsinya sendiri apapun hasil penilaian dari para penguji. Sebab saya termasuk warga belajar yang gagal menulis skripsi.

Bukan karena malas membaca dan mencari pustaka melainkan saya lebih dulu meninggalkan kampus sebelum dinyatakan lulus.

Kalau ada yang tanya kenapa saya tidak menyelesaikan kuliah, maka saya akan mengatakan “Agar saya terus bisa belajar seumur hidup, kuliah di University of Life,”

Jangan dikira itu jawaban bijaksana. Jawaban indah itu hanyalah rasionalisasi untuk menutupi betapa pikiran rasional saya telah dibajak dan ditundukkan oleh pikiran emosional belaka.

Lupakan skripsi karena sekarang ada banyak sekali platform atau aplikasi yang bisa menjadi tempat bagi kita untuk mengungkapkan dan menyalurkan pikiran agar diuji oleh manusia dari segala penjuru dunia.

Kini kita akrab dengan media sosial yang menyediakan ruang bagi pengunanya untuk membuat status. Status adalah ungkapan yang umumnya berisi perasaan namun tak sedikit juga yang selalu mengungkapkan pikiran.

Kenapa kolom status dan komentar serta tanggapan menjadi penting di media sosial?.

Para pengembang di perusahaan teknologi sadar betul bahwa media sosial adalah medium komunikasi. Dan siapapun yang bisa menyediakan platform komunikasi yang paling ‘menyenangkan’ akan merebut banyak pengguna.

Manusia senang berkomunikasi  dan oleh para pengembang media sosial kemudian digiring untuk semakin senang berkomunikasi bahkan kecanduan.

Dalam alam nyata, tidak banyak orang mampu menjadi ‘bintang’ dalam komunikasi. Ruang komunikasi tatap muka, vis a vis selalu memberi batas. Hanya orang-orang populer, ternama dan penting yang dikelilingi oleh banyak orang, banyak teman, walau sebagian besar bukan teman sejati.

Memberi kesempatan kepada semua orang untuk mempunyai banyak teman, statusnya dibaca atau ditanggapi oleh banyak orang, media sosial kemudian menjadi pilihan paling favorit untuk berkomunikasi.

Dulu orang kecanduan telepon-teleponan, balas-balasan email, sms-an, bbm-an. Tapi kini semua cenderung mencandui media sosial, karena aplikasinya menyediakan semua moda komunikasi mulai teks, suara, gambar, video dengan kecepatan tinggi. Semua real time hingga kita serasa berhadapan walau sebenarnya berjauhan.

Media sosial terbukti mampu menjadi platform komunikasi yang memampatkan berbagai hambatan komunikasi di dunia nyata.

BACA JUGA : Jalan Umum dan Khusus Batubara dan Sawit, Pansus Apa Pansos?

Diantara semua perusahaan teknologi, pengembang media sosial menjadi perusahaan yang paling absurb.

Apple menjual gadget, Microsoft menjual Operating System, Oracle menjual aplikasi berbasis data, Cisco menjual perangkat keras jaringan, Zoom menjual aplikasi pertemuan online, Space X menjual koneksi internet, Adobe menjual aplikasi pengolah gambar dan video dan lain-lain.

Pendiri perusahaan-perusahaan teknologi itu kemudian menjadi manusia-manusia super kaya karena perangkat keras dan perangkat lunaknya laku di pasaran. Valuasi perusahaannya tinggi sehingga sahamnya menjadi buruan para investor?

Tapi Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Youtube, Tik Tok, apa produk yang dijual oleh mereka sehingga para pendirinya kemudian juga dikenal sebagai orang-orang terkaya di dunia?.

Facebook termasuk juga Google tidak berjualan produk, tapi pemasukannya berlimpah.

Yang dijual oleh perusahaan teknologi ini adalah pemakainya.

Mereka terus berupaya menyediakan layanan yang akan dipakai oleh sebanyak mungkin orang. Setelah itu para pemakai akan didorong untuk menjadi pemakai harian yang aktif.

Jumlah pemakai yang banyak selain meningkatkan valuasi perusahaan, juga menjadi ‘komoditas’ penting untuk dijual kepada para pengiklan. Facebook dan Google kemudian mengeser media mainstreams seperti televisi, radio, koran dan majalah hingga kemudian memasuki masa senjakala karena kehilangan pemasang iklan.

‘Content is king’, rumus ini berlaku pada semua media. Namun berbeda dengan media mainstreams, konten di media sosial tidak dibuat oleh pegawai atau staff perusahaan. Konten justru dibuat oleh pemakainya secara sukarela. Walau dalam batas-baras tertentu bisa dimonetisasi, diuangkan.

Pemakai media sosial berlomba-lomba membuat konten terbaik, konten yang mendapat banyak tanggapan, sukses sebuah konten adalah viral.

Menjadi viral, maka peluang ekonomi, pendapatan akan terbuka. Entah menerima endorse, menjadi influencer, key opion leader dan lain-lainnya.

Banyak orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa dengan cepat kemudian berubah, menjadi terkenal dan tentu saja mendapat banyak uang karena media sosial.

Content Creator dalam artian tertentu bisa dianggap sebagai pekerja sebuah platform media sosial namun tidak terikat dalam kontrak atau perjanjian kerja. Menjadi pembuat konten di media sosial tidak perlu mengajukan lamaran, mengikuti tes wawancara dan kemudian dag dig dug menunggu diterima atau tidak.

Monetisasi, model bisnis yang ditawarkan oleh Youtube yang dimiliki oleh Google, membuat para content creator kemudian menjadi pemburu adsense. Segala sesuatu dijadikan konten yang kemudian meraup jumlah penonton jauh melebihi televisi atau film di bioskop.

Youtube kemudian lebih dari televisi, hingga tak sedikit mereka yang awalnya berkiprah di televisi kemudian beralih ke Youtube untuk berkreasi. Beberapa diantara mereka kemudian berhasil membangun channelnya menjadi perusahaan media dengan valuasi tinggi. Seperti Close The Door, RANS, Baim Paula, The Onsu Family, The Hermansyah, Taulany TV dan lain-lain.

Mereka-mereka inilah yang kemudian menopang Youtube sehingga terus mendapat pemakai harian yang tinggi. Video-video yang diupload oleh para content creator ternama dalam satu jam saja bisa meraup jutaan pemirsa.

Youtube kemudian memanen uang dari iklan yang disematkan pada video-video yang ditonton oleh jutaan pemirsa itu.

BACA JUGA : ‘Ojo Dibandingke’ Upacara Bendera Ambyar Jadi Festival

Sayang tak semua orang bisa populer di media sosial karena mempunyai kemampuan untuk membuat status yang menggigit.

Di facebook, akun-akun yang mendapat centang biru umumnya dimiliki oleh mereka yang mempunyai kemampuan storytelling yang baik.

Apa yang dituliskannya mampu membangkitkan emosi. Karena reseptor di otak mereka yang membaca kemudian bereaksi pada apa yang diposting olehnya. Hal-hal yang membangkitkan emosi memang membuat otak akan memaksa untuk menyimak hingga habis, atau sebaliknya.

Seorang pencerita yang baik akan tahu kisah seperti apa yang akan membangkitkan emosi pembacanya, emosi seperti apa yang hendak dibangkitkan dan tentu saja bagaimana membuat cerita akan dibaca atau disimak sampai akhir.

Para pengembang media sosial paham soal cara mengekpoitasi emosi lewat sains yang ada di belakang storytelling.

Reaksi emosi dalam sains berkaitan dengan proses kimia dalam otak. Mendapat stimulus tertentu, otak akan mendorong produksi hormon tertentu yang memicu ketertarikan pada cerita.

Tiga hormon penting yang menopang ketertarikan, ikatan bahkan ketergantungan orang pada media sosial adalah dopamin, oksitoksin dan endorfin.

Dopamin dikenal sebagai hormon ‘merasa baik’. Produksi hormon ini akan membuat seseoran merasa senang dan termotivasi untuk melakukan sesuatu.

Untuk merangsang otak melepaskan dopamin, pembuat status mesti membangun ketegangan dalam kisah, ritme cerita tidak bertele-tele dan memasukkan detail yang relevan dengan pembaca sebanyak mungkin.

Cerita akan memancing rasa penasaran dan membuat mereka yang membaca ingin tahu kelanjutan atau akhir ceritanya.

Sedangkan oksitoksin dikenal sebagai ‘hormon cinta’, salah satu hormone terkuat dan berhubungan dengan ikatan sosial.

Cerita yang mampu membangkitkan oksitoksin pembaca, akan membuat mereka percaya kepada penulis statusnya.

Kunci dari status yang mampu membangkitkan oksitoksin adalah sebuah kisah yang mengungkapkan sesuatu yang pribadi dari penulisnya.

Status yang bersuara intim dan pintar meledek diri sendiri misalnya disukai oleh banyak orang.

Sementara endorfin dikenal sebagai hormon mengurangi rasa sakit, meminimalkan ketidaknyamanan dan meningkatkan kesenangan.

Status yang berisi narasi cerdas, elegan dan berwawasan akan merangsang produksi endorfin.

Kisah yang mampu membuat orang tersenyum dan tertawa juga akan mendorong produksi hormon endorfin.  Maka seorang pencerita yang baik akan selalu mampu menyisipkan humor pada saat yang tepat dan mengeksekusinya dengan benar.

Untuk menjadi seorang pencerita yang baik , mereka yang tidak dikarunia bakat mesti belajar dan berlatih dengan keras. Hanya saja tak sedikit yang kemudian mencari jalan pintas.

Beberapa waktu lalu ada seorang teman, teman facebook yang tidak selalu merupakan teman dalam dunia nyata, menuliskan sebuah status yang mengelegar. Status yang kemudian menuai cukup banyak tanggapan dan komentar dari lingkaran pertemanannya.

Ketika membaca status itu ada perasaan bahwa saya telah membaca sebelumnya.

Dan benar status itu ternyata dicomot dari catatan harian Dahlan Iskan berjudul Bintang Wanita.

Saya hafal betul karena Dahlan Iskan yang menulis setiap hari itu saya pilih sebagai seseorang untuk belajar menulis dengan cara membaca tulisannya selama selama 1000 hari.

Tulisan Dahlan Iskan di disway.id selalu menjadi yang pertama saya baca ketika saya memulai aktifitas dengan internet setelah bangun pagi.

Ada banyak orang demi like, share dan comment kemudian meng-coppy paste , kisah, narasi dan pikiran orang lain tanpa atribusi. Diklaim sebagai punyanya sendiri.

Status yang bagus itu mestinya mendorong produksi hormon dalam otak pembacanya. Namun andai pembaca tahu dari mana asal status itu yang diproduksi bukan hormon baik, melainkan hormon buruk yang membangkitkan rasa ilang filling alias ilfil.

Status di media sosial ternyata banyak yang berlisensi sebagai Status Colongan, yang tidak mencerminkan perasaan dan pikiran pemilik akunnya.

note : sumber gambar – shutterstock via KUMPARAN.COM