KESAH.ID – Farel Prayoga, bocah bersuara renyah berhasil mendesakralisasi upacara di depan istana negara. Upacara yang biasanya sakral, tertib dan khidmat, berubah menjadi sebuah festival, pesta rakyat dengan panggung dangdut sebagai sentralnya.

Salah satu momen sakral sebagai pelajar adalah Upacara 17-an, upacara bendera yang jatuh pada setiap tanggal 17 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sakral karena upacara selalu merupakan ritual yang direncanakan, kegiatan didalamnya tersusun rapi sesuai urutan, ada tanda dan simbol-simbol kebesaran tertentu untuk merayakan serta mengekpresikan nasionalisme.

Nasionalisme memang seperti agama dengan upacara bendera sebagai wujudnya. Maka ada beberapa aliran keagamaan yang kemudian mengharamkan untuk mengikuti upacara bendera, menolak untuk memberi hormat pada bendera.

Peserta yang tertib, khikmat, tenang dan mengenakan baju terbaiknya persis sama dengan jemaah yang mengikuti peribadatan. Yang memimpin atau petugas lainnya selalu bersikap tegap, bersuara lantang dan menjalankan perannya tanpa keraguan.

Coraknya memang militeristik, nasionalisme identik dengan pejuang bersenjata.

Maka untuk mereka yang terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka akan dilatih dan digembleng bak tentara. Berhasil menjalankan tugas sebagai Paskibraka pada upacara yang dipimpin oleh Walikota/Bupati, Gubernur dan Presiden, bisa menjadi tiket masuk untuk mendaftar jadi polisi atau tentara.

Saya pernah menjadi petugas pengibar bendera, bukan pada upacara hari besar melainkan upacara biasa setiap hari Senin. Itupun tak berjalan baik, karena bendera sudah berkibar di puncak saat nyanyian lagu Indonesia Raya belum selesai dikumandangkan.

Sejak saat itu saya merasa tak berbakat jadi pengibar bendera, tak pula berniat untuk memupuk ketrampilannya.

Jangankan menjadi petugas, sebagai peserta upacara yang baik juga tak terlalu berhasil. Beberapa kali saya mendapat teguran, tarikan rambut di pelipis dan pukulan dari belakang oleh guru pengawas – yang berdiri seperti polisi di belakang barisan – karena tak tertib dan tak khusyuk saat mengikuti upacara bendera.

Yang kerap saya lakukan saat mengikuti upacara 17-an di alun-alun besar depan Kantor Bupati adalah menghitung mereka yang lemas dan pingsan karena tak tahan berdiri lama dibawah terik matahari.

Meski ada hal-hal yang mengasyikkan, upacara 17-an mirip dengan misa hari besar di gereja. Keduanya sama-sama lama, membosankan apalagi jika kotbah pastor dan pidato pemimpin upacaranya panjang, tidak bisa ditebak ujungnya.

Doa sayapun sama “Semoga cepat selesai,”

Mendengar “Dengan ini misa sudah selesai,” sama leganya ketika menangkap perintah “Bubar jalan,” yang diteriakkan oleh komandan upacara.

Tapi biasanya saya tak segera beranjak karena ingat tulisan yang dipasang oleh pastor di pintu depan gereja. Bunyinya “Pulang cepat merusak persatuan,”.

BACA JUGA : Mencari Ruang Kota Yang Merdeka

Project Pop pada tahun 2003 merilis lagu berjudul Dangdut Is The Music Of My Country dalam album Pop Ok. Menceritakan tentang dangdut, genre lagunya dibawakan dalam irama Pop Rap.

Hampir 20 tahun kemudian judul lagu itu menjadi kenyataan. Indonesia menjadi negeri dangdut sebenar-benarnya karena Upacara Peringatan 17 Agustus di Istana Negara digoyang oleh dangdut.

Presiden Joko Widodo semenjak menduduki kursinya nampaknya berusaha memupus keangkeran Upacara Peringatah HUT RI dengan meminimalisir bau-bau militer sebanyak mungkin.

Upacara lazimnya dihadiri oleh tamu undangan dengan memakai seragam. Untuk mereka yang tak punya seragam institusi akan memakai baju nasional, perempuan berkebaya dan laki-laki memakai batik atau ada juga yang memakai setelan jas lengkap.

Tapi semua itu berubah. Jokowi menjadikan kesempatan perayaan hari besar nasional dan juga pidato kenegaraan di gedung DPR/MPR untuk menunjukkan pakaian tradisional daerah.

Tamu undangannya juga demikian. Yang wajib pakai seragam juga menghiasi diri dengan aksesories tradisional. Dalam kesempatan itu juga akan dipilih siapa yang memakai kostum terbaik.

Upacara klasik ala-ala pemberitaan TVRI, yang lebih memperkenalkan komandan upacara dan Paskibraka kemudian tergusur. Wajah dan tampilan upacara tak lagi dalam rupa tangkapan kamera statis. Scene dengan cepat berpindah-pindah, dramaturginya makin terlihat.

Dulu di masa presiden sebelumnya, Upacara Peringatan HUT RI juga selalu diisi dengan hiburan. Selalu ada penyanyi, namun umumnya yang dipanggil adalah penyanyi keroncong atau seriosa. Yang dinyanyikan adalah lagu-lagu nasional atau kebangsaan. Tak ada teriakan histeris layaknya para fans fanatik penyanyi, tepuk tangan bisa jadi membahana namun kering tanpa ekpresi.

Upacara mungkin seru saat defile dari angkatan bersenjata yang juga memamerkan akrobat udara, deru suara mesin pesawat menghadirkan kembali ambience perang. Nasionalismenya berbau senjata dalam suasana perang.

Jokowi mungkin tak pernah bercita-cita menjadi tentara, berbeda dengan Sukarno yang suka memakai baju kebesaran panglima revolusi saat memimpin upacara.

Tapi Jokowi tahu membahagiakan polisi dan tentara.

Ambyarnya Upacara Peringatan HUT RI terjadi pada tahun 2022 ini pada peringatan ke 77. Peserta upacara dihibur oleh renyahnya suara bocah bernama Farel Prayoga, yang didatangkan dari Banyuwangi.

Farel Prayoga belum ada apa-apanya dibanding Didi Kempot, Lord-nya Sobat Ambyar. Tapi penampilan pertamanya di Ibu Kota mampu membuat upacara bendera gempar, tetamu bahkan mungkin lupa kalau Farel tampil di upacara bukan konser syukuran kawinan atau khitanan.

Prabowo yang sangat tentara itu bahkan tak malu menunjukkan goyang wagunya, turun dari kursi undangan untuk bergoyang bersama Farel dan beberapa tetamu lainnya.

Deretan kursi petinggi TNI dan Polri juga terguncang. Para panglima dan istrinya sibuk bergoyang. Andai itu terjadi dalam upacara di markas besar mereka, mungkin saja propam langsung bergerak.

Bukan hanya itu, Presiden Jokowi juga sesekali berdiri sambil tersenyam-senyum. Untung saja urat goyang Jokowi tidak terlalu kuat sehingga tak nampak lenggak-lenggoknya seperti Ibu Negara yang duduk di sampingnya.

Dan belum pernah terjadi dalam sebuah upacara ketika penyanyi selesai mempersembahkan lagu hadirinnya berteriak tambah-tambah.

Farelpun makin percaya diri, berkomunikasi dengan presiden. Lagi-lagi ini tak lazim terjadi dalam sebuah upacara.

Barangkali suasana akan lebih ambyar andai Farel berhasil menyanyikan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet, lagu yang konon diingankan oleh Pak Jokowi namun sayang grup musik pengiringnya tak menguasai iramanya.

Farel menyanyi lagi, mengulangi kembali lagu yang dinyanyikan sebelum dan berulang-ulang slarik syair yang diganti olehnya menjadi “dalam hari hanya ada Pak Jokowi’ mendapat sambutan membahana.

BACA JUGA : Klepto Bawa Pengacara, Senjakala Modernitas Homo Digitalis

Semalam saya mengulang-ulang video penampilan Farel Prayoga di depan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana, serta pejabat tinggi negara dan tetamu lainnya.

Saya menikmati dan ikut senang melihat yang hadir dalam Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan ke 77 di depan Istana Negara itu bergembira tanpa dibuat-buat. Senyum, tepuk tangan, teriakan, sahutan-sahutan dan goyangan yang tak dibuat-buat.

Hanya saja setiap kali melihat para tentara yang berjaga, berdiri tegap lengkap dengan senjata, saya jadi kasihan. Mereka tak bisa turut menikmati karena harus terus bersikap siaga, biarpun komandan dan para petinggi mereka berlaku ambyar, para tentara yang berjaga mesti menganggap Belanda masih di dekat.

Pujian bertebar dimana-mana. Pendek kata ini adalah upacara peringatan yang paling wow, excited banget.

Tapi banyak pula yang keberatan. Ritualita, kekhidmatan dan jenis kemestian yang lain menjadi tidak terjaga. Upacara benderanya menjadi kehilangan kesakralan. Harus diakui bahwa ada konvensi soal upacara pengibaran bendera sehingga bagi para penganutnya tidak boleh offside dengan inovasi atau kreasi disana-sini.

Yang kukuh dengan definisi pasti akan tegas membedakan mana upacara, festival atau pesta rakya, pergelaran dan parade atau pawai.

Ketika saya masih berstatus sebagai warna negara wajib upacara, konvensi upacara yang diajarkan adalah tertib, khidmat, hening, tak boleh bisik-bisik dengan yang disebelah dan menunjukkan ekpresi apapun selain yang diperintahkan oleh komandan upacara.

Pun juga rangkaian peringatannya. Semua didahului oleh upacara, setelah upacara selesai baru ada perayaan lainnya, seperti syukuran atau pesta rakyat, festival yang diisi dengan aneka pertunjukan dan hari berikutnya baru dilakukan parade atau pawai.

Namun kini dalam status sebagai warga negara bebas upacara, tak ada kewajiban bagi saya untuk mematuhi dan menjaga konvensi itu. Buat saya konvensi dan definisi bisa saja berkembang mengikuti jaman. Tidak ada dogma, bahkan dogma agama sekalipun yang mesti terus dibekukan dalam lemari es.

Sesekali hidup itu mesti berimprovaisasi agar segar kembali. Dan dalam upacara peringatan HUT RI ke 77 hal itu berhasil dilakukan. Tak jelas batas antara upacara atau ritual dengan festival dan pergelaran.

Jadi nikmati saja, toh hal itu belum menjadi kebiasaan. Namun andai jadi kebiasaan masih bisa diterima juga. Model upacara perayaan seperti itu mungkin memang yang paling sesuai dengan jaman, jaman siaran langsung, reels, tik tok dan youtube short.

Terimakasih Pak Jokowi sudah mengundang Farel untuk mengembirakan Indonesia dalam peringatan 77 tahun kemerdekaan.

Tapi alangkah bahagianya saya dan warga bangsa serta negara Indonesia andai bisa bahagia setiap hari. Bahagia karena tidak perlu mengantri BBM, bahagia karena tak ada lagi pengumuman “Maaf, Pertalite Sedang Dalam Pengiriman,”.

Sederhana bukan, sesederhana syair lagu “Ojo Dibandingke”.

note : sumber gambar – KOMPAS.TV