KESAH.ID – Kita sering menyebut Ibu Pertiwi untuk wilayah kesatuan Indonesia. Namun kita juga kerap menyebutnya sebagai tanah dan air. Sebutan yang melambangkan daratan dan badan airnya sebagai satu kesatuan. Kini setelah 77 tahun merdeka, masih banyak yang bertanya tanah dan air Indonesia ini milik siapa?.
Beberapa bulan terakhir ini, saya dan sejumlah kecil teman rutin Jalan Jalan Sore {JJS} naik turun perbukitan yang ada wilayah Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Kota. Di beberapa ketinggian bukitnya ditandai oleh rumah-rumah bak istana, milik orang-orang ternama di Kota Samarinda. Siapa mereka, urang Samarinda pasti tahu.
JJS selain menyehatkan juga membuat saya makin tahu wajah Samarinda yang sebenarnya. Yang tidak terlihat andai hanya berkeliling dengan melewati jalan-jalan utama.
Naik turun perbukitan yang dipadati oleh rumah, dengan jalanan yang terkadang tak bisa dilewati oleh kendaraan roda dua ada banyak hal menarik yang tersembunyi.
Di jalanan kita akan sering menemukan warga Samarinda yang garang, salah tapi marah duluan. Di dalam gang-gang kecil dan padat, yang berwajah garang sekalipun akan ramah. Segera melempar senyum andai disapa atau ditatap beradu mata.
Makanya saya selalu bersemangat untuk JJS walau terkadang separuh rutenya mesti ditempuh dengan diterpa hujan. JJS selain menguatkan kaki dan lutut juga merupakan kesempatan untuk senam muka, menebar senyum setiap ketemu orang agar wajah tidak cepat berkerut.
Selalu ada kejutan, setiap kali membuat rute baru, selain menemukan gang dengan undakan yang tak kalah menanjak seperti tangga menuju stupa puncak Borobudur, di tengah lingkungan yang padat kerap kali ditemukan tanah lapang meski tak terlalu luas.
Sebagian masih berupa tanah namun sebagian lainnya umumnya sudah ditutupi dengan lantai semen. Luasnya cukup untuk satu lapangan badminton.
Saat JJS terakhir, Selasa 16 Agustus 2022 lalu, sebagian tanah lapang itu penuh hiasan. Ada tenda dan panggung dengan backdrop berisi tulisan dan gambar untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI.
Nampaknya lapangan itu dipersiapkan untuk acara syukuran malam kemerdekaan dan esok paginya akan dipakai sebagai tempat mengadakan aneka lomba untuk anak-anak dan remaja di lingkungan tersebut.
Di tengah permukiman dengan rumah yang saling himpit ternyata masih ada ruang kota yang merdeka, tempat warga sekitarnya bisa bercengkrama.
Entahlah tanah itu tadinya milik siapa, andai itu dihibahkan maka jelas yang menghibahkan berhati mulia. Sebab jika dikaplingkan, luasannya bisa untuk dua kaplingan atau lebih. Harganya bisa puluhan atau ratusan juta untuk saat ini.
Samarinda seperti banyak kota besar lainnya memang tak lepas dari perkembangan kepadatan. Pertumbuhan yang kemudian kerap mengerus ruang-ruang publik. Sebagai Ibu Kota dari Provinsi yang dikenal mempunyai hutan luas, wilayah hutan kota di Samarinda sungguh terbatas, belum melampaui apa yang diisyaratkan oleh Undang-Undang.
Dan umumnya hutan kota di Samarinda juga merupakan hutan kota private, tanahnya milik orang atau usaha tertentu, yang sewaktu-waktu bisa berubah fungsi.
Padahal hutan kota dan ruang terbuka hijau lainnya adalah ruang publik yang mestinya tersedia agar masyarakat bisa mempunyai ruang merdeka sebagai warga kota, ruang yang bebas dari kekhawatiran akan dirazia oleh Satpol PP bila bercengkrama disana.
BACA JUGA : Klepto Bawa Pengacara, Senjakala Modernitas Homo Digitalis
Lebih dari setahun terakhir ini, anak-anak remaja dan pemuda tanggung dari Citayam menduduki taman di sekitar Stasiun Dukuh Atas, SCBD. Keramaian mereka mengetanyangi pinggiran jalan SCBD kemudian dikenal sebagai Citayam Fashion Week.
Fenomena ini menarik, karena anak-anak pinggiran Ibu Kota menduduki kawasan terbuka di pusat peradaban ekonomi dan keuangan. Yang biasanya terjadi adalah anak-anak kota menduduki wilayah di pinggiran atau pedesaan untuk piknik atau berwisata, memamerkan kesukaan dan kekaguman pada alam.
Keramaian di SCBD tidak direkayasa. Anak-anak pinggir kota dengan lingkungan yang padat tidak lagi punya ruang publik, berkumpul tanpa agenda yang jelas dan tegas dengan teman-temannya.
Penat dan ingin keluar dari tekanan lingkungan, dengan dukungan infrastruktur Kereta Komuter mereka dengan cepat dan murah bisa pergi ke Jakarta. Di Jakarta beberapa titik pusat ekonomi lebih tertata lingkungannya, direncanakan dengan estetika.
Ruang indah, rapi dan tertata yang ‘dibiarkan’ itu kemudian diduduki. Di SCBD anak-anak remaja dan pemuda tanggung dari kelas menengah bawah kemudian merasa bisa menikmati ruang kota yang manusiawi, merdeka secara gratis.
Ruang publik ibukota menjadi ruang merdeka karena anak-anak ini tak punya kemampuan untuk menikmati hidup dengan nongkrong di Mall, Kedai atau Kafe yang harga minuman serta cemilannya sekali datang sama besar dengan uang saku mereka selama sebulan.
Dilabeli sebagai Citayam Fashion Week, tongkrongan anak-anak pinggiran kemudian menjadi viral. Dan tak lama setelah viral kemudian luruh karena kegagalan memoderasi kepentingan kemerdekaan ruang, ekonomi dan estetika serta ketertiban kota.
Taman sekitar stasiun SCBD memang tidak dirancang untuk ruang publik dengan pengunjung yang besar. Kehadiran sejumlah besar orang akan membuat lalu lintas orang maupun kendaraan terganggu. Sebuah alasan yang sudah cukup bagi penegak aturan daerah untuk bertindak.
Dan itu yang kemudian dipilih apalagi para dedengkot CFW kemudian sudah mendapat partner yang menguntungkan secara ekonomi. Maka mempertahankan ruang merdeka bukan pilihan mereka.
Sehingga meski sifatnya sesaat momentum masuk dalam circle selebritas ibukota jauh menjadi lebih penting. Walau itu merupakan sebuah pilihan yang genting, karena siklus keterkenalan mereka sebenarnya tak akan lama jika mereka tak bisa meningkatkan kompentensi diri.
Di Samarinda memang belum ditemukan kawasan tengah kota yang kemudian nge-hit karena diokupasi oleh remaja dan pemuda tanggung untuk lepas dari keseharian mereka. Tapi ruang yang diduduki tetap ada seperti tepian Sungai Mahakam di belakang kompleks pertokoan sebelum Bigg Mall, di dermaga kayu ulin yang masih berdiri kokoh, setiap sore ramai dengan kehadiran anak-anak remaja dan pemuda tanggung, bercengkrama disana.
Keramaian itu tak terlihat dari jalanan karena tertutup oleh pagar seng. Namun jika menyusuri Sungai Mahakam dengan menumpang kapal wisata mengambil rute jembatan kembar, dari atas kapal yang kemudian berbalik arah setelah Big Mall, keramaian tongkrongan itu akan terlihat.
Ketiadaan ruang publik yang merdeka di tengah kota justru membuat anak-anak muda Samarinda cenderung keluar ke arah pinggiran kota. Beberapa puncak bukit menjadi pilihan untuk memandang Kota Samarinda dari ketinggian sambil bercengkrama dengan teman-temannya.
Sebagian bukit itu kemudian ada yang dikelola sebagai destinasi wisata namun ada yang dibiarkan begitu saja tanpa pengelolaan. Hingga kemudian ada beberapa bukit yang terkenal, mulai di Berambai sana hingga Palaran.
Bukan hanya bukit yang terkenal, melainkan juga pinggiran sawah. Daerah Betapus, yang disekitar jalanannya masih terhampar sawah menjadi salah satu lokasi favorit untuk anak-anak muda sejenak lepas dari rutinitas hariannya.
BACA JUGA : Kopi – Filosofi, Literasi dan Kontribusi Untuk Kota
Mantera dari kota adalah pertumbuhan. Jakarta sebagai pusat dari segala pusat sebagai contohnya, kemudian tumbuh tak terkendali. Sulit untuk menata kembali hingga kemudian Ibu Kota Negara pun perlu menyingkir.
Samarinda juga demikian, berkali-kali mengalami booming komoditas densitas kotanya makin merapat. Kota yang mulai tumbuh dari pinggiran sungai, kini permukiman padatnya justru berada di perbukitan.
Pertumbuhan kota amat rakus pada lahan. Ruang-ruang publik, tanah lapang cenderung dikorbankan tanpa ganti. Atau kalaupun ada gantinya, ruang itu bukan lagi ruang publik melainkan ruang berbayar, yang tidak bisa diakses oleh semua orang.
Ada banyak lapangan yang kemudian hilang, seperti Lapangan Pemuda dan Lapangan Kinibalu, Lapangan Basket dan Volley di Kompleks Gor Segiri.
Lapangan hilang berubah menjadi infrastruktur peribadatan, jalanan dan lainnya.
Pada sisi lain pemerintah juga giat membebaskan lahan di tepian sungai dari permukiman untuk memperbanyak ruang terbuka hijau. Namun konsistensinya kurang terjaga karena pemerintah getol menyingkirkan bangunan rakyat namun kemudian membangun infrastruktur yang menganggu ruang sungai atau tak terlalu relevan dengan sungai untuk kelompok kepentingan tertentu.
Dan ruang terbuka hijau di tepian sungai juga kerap diserahkan kepada pihak lain untuk dikelola menjadi ruang ekonomi, ruang berbayar untuk mereka yang mau menikmatinya. Mulai dari membayar entrance fee atau dengan membelanjakan uang membeli apapun yang dijual disana.
Momentum ulang tahun kemerdekaan RI ke 77 ini mungkin bisa menjadi kesempatan untuk menanyakan kepada diri kita masing-masing, bertanya adakah ruang publik yang merdeka di Samarinda?.
Pasti masih ada meski untuk pegi kesana butuh sedikit tenaga dan kewaspadaan tinggi terlebih jika jalannya diguyur hujan semalaman.
Ada di ketinggian, sisi kiri Sungai Mahakam arah hilir.
Tempat itu bernama Bukit Selili.
Rabu pagi, 17 Agustus 2022, saya bersama serombongan kawan kesana. Mendaki pagi-pagi, setelah saling tunggu berapa lama di KS. Tubun.
Di tanjakan perbukitan, sempat bertemu dengan serombongan keluarga yang mungkin menghabiskan waktu semalam diatas sana.
Beberapa kali berhenti untuk menghela nafas, sambil melemaskan kembali otot kaki yang tegang, akhinya sampai juga di tanah cukup lapang tempat terbaik untuk memandang kelok Sungai Mahakam dari atas.
Saat kami sampai disana sudah ada 5 dari dua rombongan berbeda. Satu rombongan pemuda laki-laki berdua dan satu rombongan lagi pemudi bertiga.
Kami membawa spanduk dengan panjang kurang lebih 15 meter bertuliskan Merdeka Dari Krisis Iklim. Ternyata sulit mendapat tempat terbaik untuk memotretnya. Tapi tak apa, kepalang sudah sampai diatas jadi potret-potret seadanya. Tak lupa kami ajak, yang sudah lebih dulu disana untuk ikut berfoto, mereka dengan senang hati menerima.
Setelah itu kami bergegas turun, menapaki anak tangga yang licin dan becek. Beruntung tak ada yang terpeleset hingga pantat celananya berlumpur.
Sekitar jam 10 lebih kami sampai di Klinik Kopi, Jalan Harmonika. Menjadi pengunjung pertama yang memesan teh dan kopi.
Saat menyeruput kopi hitam dengan sedikit gula saya tersadar ada yang terlupa ketika diatas Bukit Selili sana. Sesudah mengibarkan bendera, kami lupa berteriak “Merdeka”.
Itu sama artinya kami tidak sah merayakan Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 77. Oleh karenanya ijinkan saya mengucapkan selamat merayakan Hari Kemerdekaan RI untuk yang merayakannya.
note : sumber gambar – FATIH via XR Bunga Terung








