KESAH.ID – Salah satu fungsi sungai yang masih bertahan hingga sekarang adalah sebagai sumber air baku yang diolah oleh PDAM untuk menjadi air bersih. Namun intervensi terhadap sungai, kebijakan terkait dengan sungai lebih erat urusannya dengan bencana. Pemulihan mutu atau kualitas air sungai belum menjadi prioritas pembangunan.

Hingga akhir tahun 70-an di kampung saya masih banyak WC Cemplung atau kerap juga disebut jumbleng. Disebut cemplung karena lubang tempat nongkrong untuk membuang kotoran terletak diatas galian untuk menampung buangan.

WC dibuat terpisah dari rumah, 5 sampai sepuluh meter jauhnya. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu tanpa atap. Pada saat tertentu bau amoniak yang tertiup angin akan menebar di sekitarnya.

Sungai-sungai waktu itu kerap kami juluki sebagai Sungai Mekong. Bukan karena mirip sungai di Thailand, melainkan setiap  kali lewat selalu kelihatan jejeran orang membuang air besar di pinggirannya. Jongkok dengan pantat kelihatan, kala matahari mulai menyinarkan panasnya, orang yang buang air terlihat sedang menjemur pantatnya, meme bokong.

Selain WC di belakang rumah selalu ada comberan. Semacam cebakan untuk membuang air dari kamar mandi dan dapur. Selain bau WC Cemplung, bau comberan juga terkenal. Baunya seperti telek lincung, tahi ayam berwarna hitam cair.

Waktu itu setiap rumah juga mempunyai jugangan, lubang galian untuk membuang sampah. Kebanyakan yang dibuang sampah daun dan sampah domestik lainnya. Sisa makanan jarang dibuang ke jugangan. Biasanya untuk memberi makan piaraan, ada kucing, anjing, mentok dan ayam.

Sekarang ini WC cemplung mungkin sudah punah. Pun juga comberan dan jugangan. Permukiman makin padat, rumah-rumah tak lagi punya pekarangan depan dan belakang.

WC dibuat menyatu dengan rumah, limbahnya dibuang di septic tank. Sedangkan air limbah buangan kamar mandi dan dapur dialirkan ke saluran air komunal, got yang ada di sepanjang jalan.  Saluran drainase yang dibuat mengikuti alur jalan mempunyai dua fungsi, sebagai saluran air permukaan {run off} saat hujan sekaligus sebagai saluran pembuangan limbah domestik dari rumah-rumah. Saluran ini bermuara di sungai atau anak-anak sungai.

Sementara sampah tidak lagi dibuang ke jugangan, sampah dimasukkan dalam wadah dan ditaruh di pinggir jalan depan rumah, setiap pagi atau sore ada petugas yang mengambilnya.

Sekarang sanitasi rumah tangga memang jauh lebih membaik. Namun pada sisi lain sanitasi lingkungan ternyata justru semakin memburuk.

Limbah domestik yang terdiri dari air hitam {black water} yakni limbah kotoran manusia dan air kelabu {grey water} yakni limbah dapur, cucian dan kamar mandi masih terus mencemari ruang perairan, baik ruang air alami maupun ruang air buatan.

Di padukan dengan dampak akibat alih fungsi lahan dan perubahan bentang alam lainnya, pada akhirnya sungai menjadi korban. Sebagian besar sungai kini mengalami masalah 3 T, yakni Terlalu banyak air di musim hujan, Terlalu sedikit air di musim kemarau dan Terlalu kotor sepanjang musim.

Sungai yang dimasa lalu secara nilai dan filosofi mendapat tempat yang agung, disebut sebagai air kehidupan, sumber kebaikan dan lainnya lama kelamaan cenderung menjadi sumber bencana, sungai bahkan kerap kali mencoreng wajah dan nama baik masyarakatnya.

Hal itu terjadi karena sungai kehilangan fungsinya sebagai sistem pengairan dan pengaliran. Sebagai habitat, sungai kemudian tak lagi memberi hidup dan penghidupan bagi komunitas yang bermukim dalam lingkungannya, baik komunitas manusia maupun mahkluk hidup lainnya.

Dalam banyak kebudayaan Nusantara, sungai merupakan arah hadap hidup. Hanya saja dalam perkembangannya kemudian, ketika budaya air mulai luruh digantikan dengan budaya daratan, sungai kemudian menjadi kiblat membuang hajat.

Sungai bukan lagi halaman depan, beranda kehidupan melainkan menjadi halaman belakang tempat membuang segala sesuatu yang tidak kita perlukan lagi.

BACA JUGA : Status Di Media Sosial Bukan Cermin Perasaan dan Pikiran Sendiri

Samarinda adalah kota yang berkelimpahan air ditengahnya mengalir Sungai Mahakam. Sungai yang maha besar dan panjang, airnya terus ada sepanjang tahunnya. Sungai Mahakam adalah salah satu dari sedikit sungai permanen di Indonesia.

Selain banyak mempunyai anak sungai sebagai sumber airnya, cadangan air terbesar dari Sungai Mahakam ada di segmen tengahnya. Di Mahakam bagian tengah, ada puluhan danau tempat parkir air sementara dan juga rawa-rawa yang sangat luas. Ketika permukaan air Sungai Mahakam turun, air dari danau dan rawa-rawa akan mengalir, mengisi badan Sungai Mahakam.

Selain Sungai Mahakam, anak sungai lain yang amat terkenal di Kota Samarinda adalah Sungai Karangmumus. Sungai ini menjadi salah satu penanda penting dari mula berkembangnya Kota Samarinda. Salah satu perkampungan perdana cikal bakal Kota Samarinda ada di muara sungai ini.

Dibandingkan dengan anak-anak sungai lainnya, Karangmumus bisa disebut sebagai primadona. Walau kemudian kini merana karena sungai yang awalnya merupakan arah hadap hidup bagi warga Kota Samarinda kemudian berubah menjadi kiblat membuang hajat.

Samarinda awalnya merupakan kota yang bermukimannya tumbuh di tepian sungai. Masyarakatnya berkebudayaan air yang ditandai dengan bangunan rumah panggung di tepi sungai dan rumah apung di badan sungai.

Sebagai kota bandar, Samarinda beberapa kali mengalami ledakan jumlah penduduk karena booming komoditas. Permukiman kemudian semakin bertumbuh ke arah daratan, merangsek ke kawasan rawa-rawa hingga kemudian ke perbukitan.

Perluasan permukiman daratan diikuti dengan pertumbuhan pusat niaga di Sungai Karang Mumus dengan dibangunnya Pasar Sungai Dama, Pasar Segiri dan beberapa pasar lainnya. Area pinggiran, kanan-kiri sungai kemudian menjadi pilihan untuk membangun permukiman.

Selain dekat dengan tempat mencari nafkah, membangun atau menyewa rumah di pinggir sungai lebih murah. Ada juga yang memilih pinggiran sungai karena dekat dengan air, air yang dibutuhkan untuk usahanya seperti pembuat tahu dan tempe.

Tepian Sungai Karang Mumus kemudian dipenuhi dengan permukiman, rumah merangsek masuk ke badan sungai. Kawasan permukiman itu berderet dari muara hingga ke bagian tengah sebelum bendungan Lempake {Waduk Benanga}.

Bersama dengan tumbuhnya permukiman lain di daratan yang kemudian terhubung dengan Sungai Karang Mumus lewat got, parit atau drainase, permukiman pinggiran sungai yang kemudian dihuni bukan oleh masyarakat berkebudayaan sungai menjadi penyumbang limbah untuk Sungai Karang Mumus.

Sungai Karang Mumus, primadona Kota Samarinda kemudian merana dan mendapat julukan sebagai tempat sampah terpanjang dan septic tank terbesar di Samarinda.

Meski telah berkurang banyak, jamban yang membuang limbah dan kotoran manusia secara langsung ke sungai jumlahnya masih cukup banyak. ATM atau anjungan tahi mandiri, tidak hanya ada di badan sungai, melainkan juga di rumah-rumah yang ada di daratan namun tak mempunyai septic tank. Limbah dibuang langsung ke sungai lewat pipa.

Makanya Sungai Karang Mumus tidak hanya dihiasi oleh sampah apung, warna airnya akan menghitam jika beberapa hari tidak mendapat pasokan air hujan. Dan jika angin bertiup, bau tak sedap akan ikut ditebar, tercium dari kanan kiri sungai.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas air sungai Karang Mumus sangat buruk. Di titik-titik tertentu airnya bahkan tidak layak untuk menyiram tanaman dan memandikan hewan peliharaan. Namun ternyata di sepanjang alirannya, masih banyak warga yang memanfaatkannya secara langsung, mulai dari sikat gigi, mandi, mencuci pakaian hingga peralatan dapur dan makan.

Air sungai Karang Mumus juga dipakai secara langsung oleh usaha atau industri rumahan, selain tahu tempe dan potong ayam, juga oleh pembuat kolang-kaling serta cincau.

Dan Perusahaan Daerah Air Minum juga mengambil air Sungai Karang Mumus sebagai air baku untuk dioleh jadi air bersih. Sekurangnya ada dua titik pompa air, yakni di Waduk Benanga dan Bengkuring.

Dengan demikian Sungai Karang Mumus yang kerap mencoreng wajah Kota Samarinda karena permukiman kumuh di kanan-kirinya, ternyata masih menjadi salah satu penopang sumber kebutuhan air bersih bagi sebagian warga Kota Samarinda.

BACA JUGA : Jalan Umum dan Khusus Batubara dan Sawit, Pansus Apa Pansos?

Kota Samarinda dan beberapa wilayah Kalimantan Timur lainnya tidak cukup mempunyai sumber air berupa mata air besar yang mengalirkan air tanah dalam. Kebutuhan air di Kota Samarinda sebagian besar bersumber dari air permukaan.

Sumber terbesarnya adalah Sungai Mahakam yang airnya terus mengalir seperti tak pernah habis.

Namun tidak semua warga mempunyai akses terhadap air yang bersumber dari Sungai Mahakam sehingga mereka mengambil atau mendapat air dari Sungai Karang Mumus dan beberapa anak sungai lainnya.

Air permukaan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk tercemari. Bahkan ketika tidak ada permukiman di kanan-kirinya. Sebab di sungai-sungai, baik sungai Mahakam maupun sungai lainnya semua parit, got atau drainase perkotaan akan bermuara.

Maka tidaklah benar jika yang mencemari sungai hanya orang-orang yang berdiam atau bermukim di pinggir sungai. Mereka yang jauh sekalipun selama terhubung dengan sungai lewat got, parit atau saluran air akan berkontribusi sebagai pencemar sungai.

Cemaran utamanya adalah limbah domestik, limbah rumah tangga baik dari kamar mandi maupun dapur.

Rumah baik yang dibangun sendiri maupun di kompleks perumahan umumnya tidak dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbah domestik. Septic Tank hanya untuk menampung limbah dari wc, sementara limbah cair dari kamar mandi dan dapur dibuang langsung ke got, parit atau saluran air.

Dan semuanya kemudian akan bermuara di sungai, karena tidak ada sistem pengolahan limbah yang terpusat untuk limbah rumah tangga.

Benar bahwa sungai bisa membersihkan dirinya sendiri {self cleaning}, namun dengan semakin banyak jumlah penduduk, maka jumlah buangannya juga semakin besar. Sehingga jasad renik di sungai atau badan air lainnya tidak lagi mampu mendekomposisi material yang masuk ke dalam air.

Pun aktivitas dkomposisi yang terlalu besar juga akan menguras oksigen di dalam air sehingga kadar oksigennya menjadi rendah dan mengacam kehidupan di dalamnya.

Material yang masuk ke dalam airpun tidak semuanya bisa didekomposisi dengan cepat. Terurai secara perlahan, seperti plastik misalnya akan membuat air sungai dipenuhi dengan mikro plastik yang berbahaya untuk kesehatan.

Sayangnya persoalan sungai hanya didekati dari fungsinya sebagai sistem pengaliran. Sungai Karang Mumus kemudian kerap dianggap sebagai biang banjir karena badan sungainya menyempit dan mendangkal.

Fungsi sungai sebagai sistem keairan kurang mendapat perhatian. Normalisasi sungai lebih dimaksudkan untuk membersihkan badan sungai dari permukiman dan membuat daya tampung airnya bertambah serta alirannya menjadi cepat.

Normalisasi sungai tidak ditujukan untuk meningkatkan kualitas air sungai, air yang bukan hanya bersih melainkan juga sehat sehingga sungai kembali menjadi air kehidupan. Air yang menghidupkan masyarakat juga mahkluk hidup lainnya yang menjadikan sungai sebagai habitatnya.

note : sumber gambar – MONGABAY.CO.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here