KESAH.ID – Para enginers atau pengembang media sosial mengakui bahwa platform atau aplikasinya didesain mirip candu. Pemakai media sosial bisa merasakan sensasi yang sama seperti memakai narkoba. Dan candu yang paling memabukkan saat ini adalah Tik Tok.
Apapun aplikasi, website dan lainnya di internet bekerja berdasarkan algoritma untuk menemukan suksesnya.
Secara ringkas algoritma adalah urutan langkah logis dalam memecahkan masalah, menemukan solusi dan mencapai tujuan.
Youtube memakai agloritma yang dinamai sebagai search and discovery. Algoritma ini memastikan para pengguna youtube agar bisa menemukan video yang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan cara mudah dan praktis.
Mesin algoritma yang tentu saja dilengkapi dengan kecerdasan buatan {artificial intelegence} bahkan kemudian juga mesin belajar {learning machine} akan memantau atau mengamati perilaku dan kebiasaan pemakai youtube. Yang diamati adalah video apa yang disukai, apa yang sering ditonton, berapa lama, channel yang disubscribe, isu yang digemari atau diikuti, informasi yang dicari dan lain-lain. Itulah yang dianalisi oleh youtube.
Hasilnya adalah profiling orang per orang. Dengan profiling itu algoritma youtube kemudian akan memberi rekomandasi di beranda youtube, halaman rekomandasi, kolom pencarian dan lain-lain.
Dengan rekomandasi yang cocok diharapkan pemakai youtube akan menonton dan terus menonton, menggunakan youtube lebih lama dari yang lainnya.
Memahami cara kerja algoritma menjadi penting untuk para content creator. Youtuber yang pas dalam memprediksi algoritma, video yang diuploadnya bakal menuai sukses, memperoleh banyak pemirsa, channelnya di subscribe oleh banyak orang.
Empat sampai lima tahun lalu, beberapa formula umum yang dipakai oleh youtuber untuk menarik subscriber dan viewer adalah judul dan thumbnail yang menarik. Sebagian mengatakan sebagai click bait.
Berikutnya adalah menunggang angin atau gelombang, mengikuti isu yang sedang panas, lagi banyak dibahas, obrolan yang lagi ramai. Ikut bahas hal itu, lahirkan kontroversi yang kemudian akan berlanjut dengan klarifikasi.
Formula umum lainnya adalah kolaborasi. Banyak artis televisi yang baru masuk ke youtube kemudian bikin konten bareng baik dengan sesama artis maupun dengan youtuber lainnya yang lebih dahulu terkenal.
Yang belum masuk kategori seleb, youtuber pemula dan tak punya akses ke youtuber ternama atau artis tetap bisa berkolaborasi. Jenis konten yang diunggah kemudian disebut sebagai reaction. Mereka memasukkan video youtuber atau artis ke dalam videonya lalu dibahas.
Tujuan dari formula ini adalah untuk meningkatkan engagement rate, berupa like, comment dan share dari setiap video yang diunggah.
Banyak dari antara youtuber yang kemudian melakukan engagement rate secara ekplisit. Istilahlah Call To Action dengan mengatakan ‘like ya guys’, “comment ya guys’, ‘pencet tombol loncengnya’, dan ‘Subcribe ya setelah menonton video ini’.
Sedangkan yang berlebih atau punya uang, untuk mempercepat pertumbuhan channelnya bisa membuat giveaway. Memberi hadiah kepada mereka yang komentar terbaik dengan syarat men-subcribe channelnya lebih dulu dan membagikan melalui sosial medianya.
Formula umum diatas memang tidak seratus persen memberi jaminan. Karena Youtube misalnya pasti melakukan pembaharuan algoritma untuk mencapai tujuan mereka sebagai perusahaan.
Di daftar peringkat youtuber ternama Indonesia pada tahun 2016 bertengger nama Raditya Dika. Seorang penulis dan stand up comedian. Nama lainnya adalah Bayu Skak, Agung Hafsah, Tim2One, Reza Arap dan Skinnyindonesia24.
Video mereka ditonton banyak orang karena konsepnya menarik dan tampil beda dengan yang lainnya.
Namun algoritma youtube kemudian berubah.
Dua tahun kemudian nama pemuncaknya berubah, muncul nama baru yakni Atta Halilintar.
Pertumbuhan subscriber Atta Halilintar sangat cepat, tercepat di Indonesia bahkan mungkin di dunia sampai ada yang menuduh Atta membeli subscriber.
Atta masuk ketika youtube sudah menjadi pilihan penonton, jumlah kreator dan pemirsanya sudah banyak. Tujuan youtube yang awalnya meningkatkan pasar dan brand kemudian memasuki fase menghasilkan uang.
Youtube mulai merubah peraturan tentang adsense. Video yang diutamakan adalah berdurasi cukup panjang diatas 10 menit, agar bisa dipasangi iklan sebanyak mungkin.
Durasi video kemudian menjadi penting dalam algoritma youtube.
Aturan adsense juga semakin diperketat, youtuber yang bisa melakukan monitize adalah yang mempunyai 1000 lebih subscriber dan wacth time diatas 4000 jam. Akibatnya selain membuat video yang cukup panjang, youtuber harus mengupload video sebanyak mungkin untuk mengejar waktu tonton.
Video yang mempunyai rating tinggi adalah yang ditonton oleh banyak orang, artinya mendatangkan potensi iklan yang besar.
Dengan peningkatkan kapasitas dan akses internet yang makin tinggi serta luas, algoritma youtube juga berubah. Penonton youtube kini bukan masyarakat perkotaan saja melainkan masyarakat perdesaan yang sebelumnya akrab dengan televisi.
Channel-channel mirip televisi atau dikelola oleh orang yang sebelumnya berkecimpung di televisi, saat ini yang menguasai youtube.
Dan youtube kemudian menjadi rumah terbesar untuk mereka yang menyebut diri sebagai konten kreator. Banyak Orang Kaya Baru muncul karena memperoleh ‘gaji’ dari adsense youtube.
BACA JUGA : Air Hitam dan Kelabu di Sungai Kita
Dengan algoritmanya perusahaan-perusahaan teknologi dari Amerika Serikat kemudian menjadi penguasa, meraup banyak pengguna dari seluruh dunia. Monopoli seolah berada di tangan mereka.
Amerika Serikat negeri adidaya karena kekuatan senjata dan dollarnya, kemudian mempunyai kekuatan lain untuk makin menghegemoni dunia.
Google {youtube}, Meta {facebook, instagram, whatsapp}, Twitter, Amazon, Netflix dan lain-lain menjadi senjata baru bagi Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia dengan cara baru.
Banyak negara melawan namun tak cukup kuat. Satu-satunya yang kukuh adalah China. Dengan kekuatan teknologinya sendiri dan jumlah penduduk yang besar, China berhasil membendung infiltrasi layanan media sosial dan internet lainnya dari Amerika Serikat.
China sukses mengembangkan layanan serupa secara mandiri, punya mesin pencari sendiri, punya media sosial sendiri dan punya platform e-commerce dengan teknologinya sendiri.
Perlawanan dari China ini bahkan dihadapi secara terbuka oleh Amerika Serikat. Salah satu korban dari perang bintang ini adalah Huawei. Huawei, produsen gadget dari China yang kemudian ternama di Eropa dan Amerika Serikat dilarang memakai Google Mobile Service dalam semua produksinya. Huawei pun hampir rontok dan terpaksa harus mengembangkan OS-nya sendiri.
Berhasil, tapi Huawei dengan OS Harmoninya mesti berjuang keras untuk kembali meraih pengguna yang kebanyakan berada dalam ekosistem Android.
Huawei berhasil dibuat babak belur, tapi China tak menyerah dan kalah. Kini kemapanan media sosial Amerika Serikat diguncang oleh kehadiran Tik Tok.
Tik Tok bermula dari sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh Zhang Yiming dan Liang Ruho yang mendirikan perusahaan bernama ByteDance. Aplikasi pertama yang mereka luncurkan bernama Neihan Duanzi.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengedarkan meme, video dan lelucon lainnya. Pada tahun 2012 itu ByteDance juga meluncurkan aplikasi informasi dan berita bernama Toutiao yang secara harafiah berarti berita utama.
Aplikasi itu berhasil meraup pengguna yang cukup banyak. Taoutiao dalam waktu empat bulan saja sudah meraup 1 juta pengguna. Perkembangan ini kemudian menarik perusahaan investasi. Sequoia Capital, perusahaan investasi yang bermarkas di Menio Park, California pada tahun 2014 kemudian menyuntikkan dana sebesar 100 juta dollar ke ByteDance.
Oleh ByteDance dana itu sebagian digunakan untuk membangun ByteDance AI Lab, perusahaan dengan fokus utama untuk mengembangkan kecerdasan buatan yang mampu memahami informasi baik berupa teks, gambar dan video secara mendalam.
ByteDance AI Lab juga mengembangkan algoritma machine learning untuk mengembangkan rekomandasi informasi yang dipersonalisasi. Semua teknologi ini kemudian dibenamkan dalam aplikasi Taoutiao sehingga bisa menghasilkan rekomandasi informasi dan berita yang akurat sesuai dengan minat penggunanya.
Pada bulan September 2017, Taoutiao telah mendapat 120 jutaan pengguna aktif yang rata-rata menghabiskan waktu 74 menit setiap harinya.
Tanda-tanda penerapan kecerdasan buatan dan mesin belajar di Taoutiao ini pada tahun 2016 menginspirasi lahirnya aplikasi serupa namun berbasis video pendek. Aplikasi itu bernama Douyin.
Douyin adalah aplikasi hosting video pendek dari pengguna dengan berbagai genre. Algoritma rekomandasi yang diterapkan di Taoutiao diterapkan di Douyin.
ByteDance kemudian berencana membuat Douyin menjadi aplikasi yang mendunia, bukan hanya melayani pengguna di China. Langkah awalnya dimulai dengan mengakuisi Musical.ly, sebuah media sosial asal China namun bermarkas di Santa Monica, California.
Musical.ly adalah aplikasi media sosial tempat para pengguna bisa membuat video music lipsync sepanjang 15 detik hingga 1 menit. Soundtrack atau music pengiringnya bisa dipilih, dan diedit ritme kecepatannya, dengan penambahan berbagai filer dan effect.
Aplikasi yang telah meraih pengguna 200 juta di seluruh dunia itu kemudian diubah namanya menjadi Tik Tok.
Dianggap mempunyai tingkat ‘narsis’ yang tinggi, Indonesia menjadi salah satu target utama pasar Tik Tok. 100 kreator direkrut untuk mempopulerkan aplikasi Tik Tok di Indonesia dan pecah.
Awalnya memang bermasalah, karena Tik Tok yang kemudian banyak dipakai oleh anak remaja, banyak dilaporkan oleh Netizen karena kontennya dianggap tidak mendidik. Tik Tok kemudian diblokir oleh Kominfo pada bulan Juli 2018.
Dengan beberapa penyesuaian dan kesediaan untuk memberi batasan umur minimal 16 tahun, serta menghapus konten negatif dan merekrut pegawai di Indonesia untuk mengawasi konten, akhirnya Tik Tok kembali boleh beroperasi di Indonesia.
Momentum Pembatasan Sosial Berskala Besar saat Pandemi Covid 19 menjadi kebangkitan Tik Tok meraup jumlah pengguna yang besar di Indonesia. Masyarakat yang bosan karena di rumah saja kemudian mendapat hiburan dari Tik Tok, sehari pengguna bisa membuka Tik Tok sebanyak 8 kali.
Tik Tok tidak lagi identik dengan Bowo ‘Alpen Liebe’, di masa pandemi berbagai kreasi muncul di Tik Tok. Pengguna dan kontennya semakin beragam. Bukan hanya video pendek goyang-goyang. Seperti youtube, apa saja sudah ada di Tik Tok.
Tik Tok secara global sudah digunakan oleh lebih dari 3 milyard pengguna. Dan di tahun 2021 pengguna rata-rata menghabiskan waktu 89 menit sehari untuk Tik Tok.
BACA JUGA : Status Di Media Sosial Bukan Cermin Pikiran Dan Perasaan Kita
Facebook terang-terangan menganggap Tik Tok sebagai ancaman. Facebook.Inc kemudian dirubah mejadi Meta, sebagai cara agar tidak terkungkung dalam nama Facebook yang merupakan sebuah aplikasi. Dengan payung Meta, Mark Zuckenberg berupaya untuk membuat platform media sosial baru yang akan menempatkan Facebook, Instagram, Whatsapp dan lainnya yang nanti muncul sebagai pemimpin di internet.
Seperti hanya Meta yang kemudian meluncurkan reel di Instagram dan Facebook, Youtube pun kemudian meluncurkan Youtube Short. Fasilitas untuk mengupload video pendek serupa dengan Tik Tok.
Reels cukup berhasil, namun Youtube Short yang menghabiskan banyak uang untuk merekrut Content Creator Tik Tok berpindah ke ekosistem Youtube nampaknya kurang berhasil.
Tik Tok tetap moncer.
Ibarat candu, Tik Tok lebih memabukkan ketimbang Youtube, Facebook, Instagram dan lainnya.
Kekuatan Tik Tok menjadi lebih karena Tik Tok lahir dalam ekosistem smartphone, dimana penggunanya lebih akrab dengan model vertikal video ala layar gadgetnya.
Video vertikal dengan durasi pendek sesuai kebiasaan pemakai smartphone yang waktu fokusnya pada sesuatu juga semakin pendek dibanding dengan pengguna Desktop dan Laptop, generasi awal pengguna Youtube dan Facebook.
Begitu membuka Facebook atau Youtube, pengguna tidak selalu akan mendapatkan pilihan menarik. Kalaupun ada jumlahnya banyak sehingga membingungkan. Lain halnya dengan Tik Tok, begitu dibuka akan memenuhi layar. Untuk mencari yang menarik harus dengan cara scroll, mengeser dari atas ke bawah.
Video atau konten yang menarik terlihat menjadi acak dan hal itu terasa lebih menyenangkan. Menemukan video yang menarik segera akan mendorong produksi hormon kesenangan dalam otak.
Video yang menyenangkan itu tidak terprediksi sehingga akan terus menumbuhkan rasa penasaran, mencari dan terus mencari.
Kehebatan lain dari Tik Tok yang tidak dilihat oleh penggunanya adalah kecerdasan buatan yang dibenamkan di dalam aplikasi. Konon algoritma Tik Tok lebih hebat dari Facebook, dan kecepatan Tik Tok untuk mengenali pemakainya lebih cepat dari Youtube.
Youtube menganalisi penggunanya dari video yang relative panjang, sedangkan Tik Tok menyimpulkan kecenderungan pengguna dari video pendek.
Tik Tokers, sebutan pengguna Tik Tok dalam sehari bisa menonton 200-an video, jumlah yang sangat banyak yang tidak mungkin dicapai oleh pengguna youtube.
Hal lain yang kemudian disukai oleh pembuat konten adalah kemudahan. Berkreasi di Tik Tok jauh lebih mudah dari pada di Youtube. Butuh modal besar, kemampuan dan alat untuk menghasilkan video yang proper di Youtube. Sedangkan di Tik Tok hanya perlu modal Smartphone, alat yang dipunyai oleh semua orang.
Tanpa perencanaan yang matang, proses produksi yang ketat kecil kemungkinan video akan sukses di Youtube. Sementara di Tik Tok, konten bisa dibuat tanpa rencana, cukup modal nekat, niru goyangan yang sedang terkenal, bikin versi sendiri dengan lipsync atau menjawab tantangan dari Tik Tokers lainnya.
Algoritma Tik Tok juga berpihak pada video-video diunggah oleh pembuat konten yang baru. Alhasil banyak yang terkaget-kaget karena videonya ditonton oleh ribuan orang. Sebuah pengalaman yang sulit didapatkan di Youtube atau Facebook. Tik Tok tahu caranya menyenangkan orang-orang yang ingin terkenal, para pemburu perhatian yang kini diabaikan oleh Youtube dan Facebook atau Instagram, apalagi Twitter.
Dan kehebatan Tik Tok terakhir adalah kemudahan membagikannya dalam berbagai format atau platform media sosial lainnya. Orang tak perlu masuk ke Tik Tok untuk menyaksikannya. Konten yang dibagikan akan masuk dalam format media sosial yang menjadi tujuan. Namun semua orang akan tahu kalau sumbernya adalah Tik Tok, karena konten yang dibagi dari Tik Tok akan selalu disertai dengan watermark logo Tik Tok yang besar.
Maka kini apapun yang viral di Tik Tok akan viral di media sosial lainnya. Salah satu contoh yang paling populer adalah Jeje, Bonge, Kurma, Roy dan lain-lain, pesohor SCB, Citayam Fashion Week yang dipromosikan pertama oleh Tik Tokers.
Pada pertengahan abad ke 19, China yang merajai perdagangan dihancurkan lewat siasat perang candu. China dipermalukan habis-habisan, dikerjai oleh negeri-negara barat yang ingin mengambil kembali perak yang menumpuk di China dengan candu.
Dalam pertarungan teknologi, selama ini China sering dipermalukan sebagai negara peniru, teknologi yang dihasilkan murahan. Banyak produk teknologi yang merajai di dunia memang dibuat di China, namun untuk memanfaatkan tenaga kerja yang melimpah dan murah disana.
Produsen teknologi dan lainnya dari Amerika Serikat menangguk banyak untung, lewat produk yang dibuat di China dan juga diperdagangkan di China.
Membalik perang candu di masa lalu, kini China menjadikan Tik Tok sebagai candu, senjata baru untuk menahklukkan dunia.
note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM








