Mungkin belum ada Presiden yang mengalahkan prestasi Abdurahman Wahid {Gus Dur} dalam urusan perjalanan luar negeri.
Gus Dur yang hanya menjabatsebagai presiden selama 20 bulan, mulai dari Oktober 1999 hingga Juli 2021 itu telah melakukan 80 kali kunjungan luar negeri. Artinya kalau dirata-rata sebulan ada 4 kali kunjungan ke luar negeri.
Bahkan dalam 40 hari pertamanya menjabat sebagai Presiden, 20 hari diantaranya dihabiskan di luar negeri, sesuatu yang akan sulit untuk ditiru oleh presiden lainnya.
Yang lebih aneh lagi, sewaktu berada di luar negeri Gus Dur kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kepada media yang membuat suhu politik di dalam negeri memanas.
Presiden Joko Widodo dikenal tidak rajin melakukan kunjungan ke luar negeri. Jokowi lebih senang blusukan di dalam negeri, terlebih pada masa pemerintahan yang kedua dunia dilanda pandemi covid 19 sehingga mobilitas menjadi terbatas.
Selama pandemi Covid 19, Jokowi tercatat pernah melakukan kunjungan ke luar negeri yakni ke Inggris Raya untuk menghadiri KTT Iklim, ke Italia untuk menghadiri KTT G20 dan ke Uni Emirat Arab.
Pertengahan bulan Mei 2022 ini Jokowi juga melakukan kunjungan luar negeri ke Amerika Serikat, bukan kunjungan bilateral. Jokowi ke Amerika Serikat untuk menghadiri pertemuan KTT Asean-USA.
Di masa kepresidenan Gus Dur mungkin yang cerewet soal kunjungan ke luar negeri adalah politisi. Tapi di jaman Jokowi lain lagi, politisinya relative adem ayem karena hampir semua partai politik berkoalisi mendukung pemerintahan Jokowi. Yang ribut justru netizen, warga internet yang memang terkenal cerewet.
Saat pesawat yang ditumpangi oleh Presiden Jokowi mendarat di Amerika Serikat, beredar foto yang menunjukkan Jokowi tidak disambut oleh satupun pejabat tinggi Amerika Serikat. Netizen ribut dan berkomentar macam-macam, pendek kata sepertinya Presiden Jokowi dan rombongan bukanlah tamu yang dikehendaki oleh Amerika Serikat.
Hiruk pikuk ini kemudian dijawab oleh Kementerian Luar Negeri yang menyebutkan bahwa kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat bukanlah kunjungan bilateral sehingga tidak ada kewajiban Pemerintah Amerika Serikat menyambutnya.
Hanya saja tetap ada perlakuan istimewa dari Pemerintah Amerika Serikat sebab pesawat yang ditumpangi oleh Presiden Jokowi mendarat di Pangkalan Militer Andrews, Washington DC.
Namun bukan netizen namanya jika tak berhasil mencari celah baru untuk berkomentar. Pada sesi foto peserta KTT Asean USA, Presiden Jokowi kembali dikomentari saat sebuah tangkapan foto beredar. Nampak Joe Biden berbincang dengan Sultan Brunei dengan posisi membelakangi Jokowi.
Foto itu kemudian diberi caption Jokowi dicueki oleh Biden. Foto memang hanya menangkap momen tertentu, apa yang dilihat lewat selembar foto adalah secuplik kenyataan yang tidak bisa ditafsir dari rangkaian sebelum dan sesudahnya.
Tapi ya namanya komentar tentu tak bisa dibatasi. Siapapun boleh berkomentar dan melengkapinya dengan berbagai analisis termasuk gesture tubuh. Analisis yang sangat terbuka tergantung pada yang mengomentarinya. Membungkuk bisa dibaca sebagai menjilat, menghormati, tunduk, kalah dan lain sebagainya.
Dan kita suka sekali menduga-duga ada apa dibalik gesture seseorang. Alangkah sialnya orang-orang tertentu dengan postur tubuh yang biasa saja, tidak terlalu tegap sehingga kerap menjadi bulan-bulanan karena tampilan bawaannya.
BACA JUGA : Piye Kabare, Isi Penak Jamanku To?
Lupakan saja soal duga-duga para netizen sehubungan dengan kedatangan Presiden Jokowi yang tak disambut satupun pejabat tinggi Amerika Serikat dan Joe Biden yang dianggap bersikap cuek.
Yang terpenting dari kunjungan Jokowi ke Amerika Serikat justru pertemuannya dengan CEO perusahaan teknologi besar disana yakni Elon Musk. Jokowi ditemui oleh Elon Musk di kantornya Space X, start up besutan Elon yang bertujuan menjadikan mars sebagai hunian masa depan ketika bumi ‘kiamat’.
Jokowi merupakan salah satu presiden yang rajin bertemu dengan founder perusahaan teknologi. Sebelum bertemu dengan Elon Musk, Jokowi juga telah bertemu dengan Mark Zuckenberg, dua kali. Satu kali di Jakarta dan satu kali di Amerika Serikat.
Saat bertemu dengan Mark, Jokowi ingin Facebook yang sekarang menjadi Meta ikut membangun bisnis digital di Indonesia, turut serta memberantas hoak, mendukung pembangunan teknologi digital di Indonesia dan tentu saja Jokowi ingin tahu masa teknologi informasi di masa depan.
Entah ada hubungannya atau tidak, namun yang pasti facebook mempunyai sumbangsih dalam pembangunan ekonomi digital. Usaha-usaha kecil dan menengah banyak memanfaatkan facebook untuk melakukan pemasaran. Lewat fasilitas facebook live, masyarakat bisa berdagang, menawarkan barang langsung pada konsumen.
Bahwa kemudian facebook termasuk salah satu media yang menyuburkan berbagai informasi yang tidak benar, kerap menimbulkan keonaran tetap tak bisa disangkal, namun facebook juga memberlakukan skrining dan filter yang makin ketat.
Untuk sumbangsih pada penguatan teknologi digital di Indonesia, belum terdengar apa yang Facebook lakukan atau investasikan. Satu hal yang pasti Indonesia merupakan salah satu pasar potensial dari facebook, pemakaianya cukup besar.
Hasil pertemuan antara Jokowi dan Mark Zuckenberg nampaknya masih kabur belum jelas benar apakah tujuannya telah tercapai.
Dan kini Jokowi menemui Elon Musk yang sebelumnya telah ditemui oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan.
Kali ini nampaknya tujuan Presiden Jokowi lebih jelas untuk meminta Elon Musk berinvestasi di Indonesia dalam kaitan dengan energi. Sebagai pembuat mobil listrik, Elon memerlukan baterei dan Indonesia merupakan negeri penghasil bahan baterei.
Namun apakah investasi dari Elon Musk di Indonesia akan merupakan investasi yang strategis?.
Dilihar dari popularitasnya saat ini Elon Musk memang merupakan seorang inovator teknologi yang paling ternama. Selain itu dia juga yang paling kaya.
Yang menjadi pertanyaan apakah platform teknologi yang dihasilkan oleh Elon Musk adalah platform yang akan diadaptasi oleh perusahaan teknologi lainnya. Jika tidak maka produk-produk hasil perusahaan Elon Musk adalah produk eklusif.
Seperti halnya mobil Tesla, semua orang kenal mobilnya namun hanya sedikit yang memakai dan mampu membeli. Tesla bukanlah produk massal. Pun juga dengan produk lain dari perusahaan Elon Musk, yang meski bernilai tinggi tetap bukanlah produk massal sehingga tak butuh fabrikasi besar. Apalagi berharap pada transfer teknologi.
BACA JUGA : Deddy Take Down Tutorial Jadi Gay Di Indonesia
Lalu kita bisa berharap apa dari pertemuan Jokowi dan Elon Musk?.
Dalam waktu singkat mungkin tidak ada yang bisa diharapkan, sebab Elon Musk masih akan mengirim timnya untuk mempelajari apa yang bisa dilakukan di Indonesia. Kalaupun nanti ada yang dilakukan disini, apakah itu menguntungkan atau merugikan Indonesia kita juga belum bisa menilainya sekarang.
Namun melihat perkembangan kendaraan listrik di Indonesia dan juga inovasi-inovasi terkait dengan energi, rasanya pemerintah mesti lebih memberi perhatian lebih pada kemampuan dan inovasi anak bangsa sendiri.
Beri dukungan yang lebih agar para inovator ini benar-benar menghasilkan sistem atau platform yang kemudian bisa dipakai untuk mengembangkan sistem penyimpanan energi, penghasil energi yang mumpuni. Yang kemudian bisa diaplikasi oleh perusahaan-perusahaan lain, menjadi platform universal.
Jika ada temuan-temuan yang mengemparkan, pemerintah mestinya segera memberi ruang dan kesempatan untuk melakukan uji coba yang transparan, agar temuannya menjadi semakin sempurna, tidak terbengkalai atau bahkan hanya jadi kabar burung.
Kita berkali-kali telah ditipu oleh euforia temuan ini dan itu yang berujung nol besar. Menjadi euforia hanya karena diendorse oleh sosok-sosok tertentu. Padahal yang disebut dengan temuan teknologi selalu didasari oleh pengetahuan ilmiah yang ketat, segala sesuatu yang bisa diuji secara transparan.
Maka alangkah baiknya setelah pertemuan dengan Elon Musk ini, Presiden Jokowi segera memberi perhatian kepada Aryanto Misel yang berhasil menemukan Nikuba, alat yang bisa mengkonvesi air menjadi bahan bakar secara langsung untuk mesin kendaraan bermotor.
Apa yang diklaim oleh Aryanto Misel sangat berbeda dengan sistem fuel cell yang selama ini sudah diterapkan oleh beberapa industri otomotif, sistem yang masih mahal harganya.
Dan andai klaim Aryanto Misel tentang Nikuba benar, maka Elon Musk tidak ada apa-apanya. Karena dengan Nikuba, kendaraan akan bisa berjalan hanya dengan modal tetesan air saja, emisinya juga rendah. Dan yang paling penting proses untuk menghasilkan energi juga tak butuh energi yang besar.








