Dalam benak dan imajinasi saya tampilannya mengingatkan pada sosok Gajah Mada saat masih muda.

Namanya siapa, saya tak tahu. Untuk menanyakan juga segan. Kebanyakan orang juga hanya mengenalnya sebagai pawang pohon. Tugasnya adalah menebang pohon-pohon besar, sendirian dengan kapak bukan gergaji mesin.

Waktu itu di lingkungan saya masih kental kepercayaan bahwa pohon-pohon besar selalu ada penunggunya. Jadi tak sembarang orang boleh dan bisa menebang. Menebang pohon sembarangkan bakal menimbulkan tulah bukan hanya pada yang menebang melainkan  juga lingkungan sekitar.

Bagi saya dan teman-teman sepermainan waktu itu jika ada yang menebang pohon apalagi pohon kelapa dan pohon buah adalah sebuah kesenangan. Kami bisa memperoleh kelapa muda dan buah lainnya dengan mudah.

Namun jika yang menebang pohon adalah pawang pohon, amat jarang kami menontonnya. Ada rasa segan karena sang pawang tidak komunikatif. Tapi juga ada rasa jeri, takut kalau nanti kesambet karena penunggunya marah, rumah tinggalnya dirobohkan.

Nanti ketika listrik dengan tegangan 220 volt hendak masuk, sesaat sebelum didirikan tiang-tiang dari beton, pohon-pohon besar di tepi jalan banyak ditebangi. Pawang pohon tentu tak sanggup menebang berpuluh pohon dengan modal kapaknya.

Pohon mahoni, asam dan lain-lain yang besarnya telah melewati satu pelukan orang dewasa kemudian ditebang oleh serombongan orang dengan modal gergaji mesin. Jalanan kemudian menjadi terang benderang karena kehilangan peneduhnya.

Sang Pawang Pohon kemudian juga pensiun karena telah muncul penebang-penebang pohon yang lebih ‘sakti’. Berani menebang pohon setiap saat diperlukan, tak perlu menunggu atau menentukan hari serta waktu terbaik.

Karena penebang pohon lebih sat set akhirnya masyarakat tidak lagi berpikir panjang ketika akan merobohkan pohon besar. Pohon-pohon yang meski tak terlalu berguna namun dulu dibiarkan tumbuh hingga membuat tempat sekitarnya  dianggap angker kemudian ditumbangkan.

Tempat-tempat wingit yang dulunya sering kami hindari kemudian menghilang satu persatu. Saya dan teman-teman bebas bermain dan blusukan ke sembarang arah. Tak banyak lagi tempat yang dianggap menyeramkan untuk kami.

Bahkan lama kelamaan kuburanpun menjadi tempat yang menyenangkan untuk bermain karena tak lagi gelap dan rindang oleh pohon-pohon besar.

Sebenarnya bukan hanya ‘penunggu’ yang membuat masyarakat tidak mudah membuat keputusan untuk menumbangkan pohon. Saat itu ada semacam alasan lain yang berkembang di masyarakat, bahwa untuk menebang pohon-pohon tertentu harus ada ijin dari pemerintah.

Karena keyakinan itu kebanyakan rumah tinggal disekitarnya selalu ada pohon-pohon besar. Di pekarangan belakang rumah saya dulu ada pohon Sonokeling besar. Sampai dengan saya tamat SMA dan kemudian pergi merantau ke pulau seberang, pohon itu masih berdiri tegak.

Beberapa tahun kemudian ketika saya pulang pekarangan belakang telah terang benderang. Tak ada lagi pohon besar. Kebun besar yang menjadi batas antara rumah saya dan sawah luas juga lenyap, beganti menjadi kompleks perumahan.

“Kenapa pohon Sonokelingnya ditebang Pak?” tanya saya pada bapak.

“Tetangga-tetangga yang minta untuk ditebang, takut kalau ada angin besar pohonnya roboh dan menimpa rumah mereka,” jawab bapak.

Listrik dan gergaji mesin membuat masyarakat tak lagi percaya pada penunggu pohon, pawang pohon pensiun. Dan perkembangan permukiman, rumah makin padat dan berdekatan satu sama lain membuat pohon besar menjadi ancaman.

Kearifan tradisional untuk mengkonservasi pohon kemudian lenyap.

BACA JUGA : Uang Jatuh Bukan Durian Runtuh 

25 tahun berlalu dan Indonesia kembali menggelar balapan Moto GP. Lomba terakhir diselenggarakan pada tahun 1997 di Sirkuit Sentul, saat kelas utama Moto GP masih memakai motor 500 cc.

Sirkuit Mandalika, yang terletak di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB baru-baru ini sukses menjadi ajang gelaran Moto GP yang kini kelas utamanya memakai motor 1000 cc.

Meski Mario Aji, satu-satunya pembalap Indonesia yang ikut berlaga di kelas Moto 3 tak menorehkan prestasi, namun bintang pada penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia adalah Raden Rara Istiati Wulandari, orang Indonesia dan bukan pembalap.

Rara sukses mencuri perhatian saat memperagakan kejeniusan lokal Indonesia dalam merekayasa cuaca. Hujan diatur untuk membasahi permukaan aspal di Sirkuit Mandalika agar tidak over panasnya.

Seiring dengan dibicarakannya Rara, perbincangan soal isu kearifan tradisional atau kearifan lokal kembali menguat.

Apa sebenarnya kearifan tradisional/lokal yang sering dengan entengnya dicomot dalam perbincangan masyarakat umum dan pidato serta pernyataan para pembesar?

Saini, {2005}, mendefinisikan kearifan tradisional/lokal sebagai sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada komunitas tersebut daya tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah di mana komunitas itu berada. Dengan kata lain, kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal.

Dengan demikian kearifan lokal merupakan bentuk pengetahuan, sikap, persepsi dan perilaku yang mencerminkan adaptasi masyarakat setempat atas kondisi lingkungan baik lingkungan ekologis maupun lingkungan sosial.

Pengetahuan dan persepsi yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan perilaku untuk membuat tatanan sosial dan lingkungan hidup masyarakat setempat menjadi lestari.

Rumusan atau bentuk kearifan tradisional umumnya merupakan refleksi dari kejeniusan masyarakat lokal atas kondisi lingkungannya yang dilandasi atas akses dan kontrol yang besar dari masyarakat setempat atas sumberdaya di wilayahnya.

Kesadaran dan perbincangan tentang kearifan lokal atau tradisional menguat paska kejatuhan Regim Suharto.

Hanya saja sebagian dari yang dibicarakan sebenarnya sudah arkaik, tidak lagi operasional karena selama masa orde baru pondasi utama dari kearifan lokal yakni akses dan kontrol masyarakat setempat atas sumberdaya alam direbut menjadi hak eklusif negara dan pemerintah.

Di masa pemerintahan Suharto, akses dan kontrol masyarakat atas sumberdaya alam dan bahkan kebudayaan amat lemah.

Dalam artian tertentu, perbincangan tentang kearifan lokal atau kearifan tradisional lebih sering mengarah pada romantisasi ketimbang revitasasi. Gencar bicara tentangnya tapi ekosistemnya sudah tiada.

BACA JUGA : Presiden Digoda Untuk Tetap Tinggal Dalam Istana

Kini kearifan lokal/tradisional lebih sering ditampilkan secara sempit dalam bentuk upaca-upacara, ritual atau praktek-praktek yang oleh kaum modernis dan sainstis didakwa mempersubur perangai percaya pada tahayul, hal-hal gaib dan mistik.

Melihat aksi yang dilakukan Rara di Sirkuit Mandalika dan juga Presiden Joko Widodo bersama dengan para Gubernur di Upacara Kendi Nusantara, tenggara seperti diatas tentu tak bisa disangkal. Di tingkat permukaan praktek yang disebut nguri-uri kearifan lokal memang tampak seperti itu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah sulit melihat hubungan antara praktek atau bahkan pertunjukan kearifan tradisional dengan sikap dalam diri yang memandang manusia sebagai setara dengan mahkluk dan isi dunia lainnya.

Kita sulit melihat cara pandang antropomorfis, ekosentris atau bahkan deep ecology yang mejadi pondasi dari tumbuh kembangnya kearifan lokal/tradisional.

Bentuk-bentuk kearifan tradisional yang masih bertahan lebih bernuansa tontonan ketimbang tuntunan.

Praktek kearifan tradisional atau lokal bahkan jadi kosok balik, alih-alih menunjukkan penghormatan pada alam dan lingkungan malah lebih memamerkan egosentrisme bahwa alam dan seisinya diabdikan untuk kepentingan manusia.

Sukses Rara di Sirkuit Mandalika bukanlah kesuksesan menunjukkan betapa orang Indonesia menghormati dan menghargai hujan serta air.

Penyatuan tanah dan air dari berbagai penjuru Indonesia di Nusantara juga tidak menjadi simbol dari penghormatan pemerintah Indonesia atas lahan dan badan-badan air. Sebab ada bukti panjang bagaimana praktek kebijakan pemerintah selama ini telah membuat lahan dan badan air rusak. Tanah dan air lebih menyatu dalam bentuk banjir, longsor, erosi dan sedimentasi ekstrim.

Dibalik pembangunan IKN yang ditandai dengan penyatuan tanah dan air dari seluruh Indonesia di Nusantara, nyatanya menyisakan banyak kekhawatiran dari masyarakat yang kini menjadi bagian dari Nusantara akan kehilangan tanah dan airnya bahkan terusir darinya  ketika nusantara terwujud.

Maka dengan segala hormat, mohon maaf jika saya mesti mengatakan bahwa kearifan tradisional/lokal kita tak lagi benar-benar arif.