Sejak Desember 2021, Rusia mulai menempatkan pasukan di perbatasan dengan Ukraina. Pasukan yang berjumlah kurang lebih 100.000 personil merupakan bukti keseriusan Putin untuk mengingatkan Eropa dan Amerika Serikat {NATO} untuk menghentikan ekpansi keanggotaan NATO ke Eropa Timur.
Vladimir Putin, Presiden Rusia tidak ingin Eropa dan Amerika Serikat membujuk-bujuk negara-negara di Eropa Timur untuk masuk menjadi bagian dari NATO. Menjadi bagian dari NATO sama artinya Eropa dan Amerika Serikat ikut campur pada pemerintahan di Eropa Timur.
Peringatan Putin tentu saja tidak digubris oleh Eropa dan Amerika Serikat. Bergabung atau tidak dengan NATO adalah urusan masing-masing negara, tidak bisa dicampuri oleh negara lain. Negara merdeka adalah negara independent yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
Dicueki oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Putin kemudian semakin garang. Dalam sebuah pernyataan, Putin tak segan mengatakan jika permintaannya tak dipenuhi oleh Amerika dan sekutunya, Rusia tak segan untuk melakukan perang, bahkan perang nuklir.
Lantas kenapa Ukraina penting untuk Rusia dan Eropa/Amerika Serikat {NATO}?
Untuk Rusia, cerita bermula dari 1500 tahun lalu. Saat itu ada Kerajaan Kievan Rus yang kemudian menjadi cikal bakal bangsa Slavia, yakni Belarus, Ukraina dan Rusia. Tiga bangsa ini yang kemudian memunculkan Kekaisaran Rusia.
Singkat kata Kekaisaran Rusia kemudian menjadi negara modern Uni Soviet atau Uni Soviet Socialist Republic {USSR} pada tahun 1922, sebuah pengabungan dari 15 negara berbentuk republik.
Setelah perang dunia ke II, Eropa Barat menganggap Uni Soviet merupakan ancaman baru karena selain besar wilayahnya, kemampuan mesin perangnya juga luar biasa. Pun secara ideologi berbeda dengan Eropa Barat.
Kekhawatiran terhadap ancaman Uni Soviet itu diwujudkan dalam bentuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO pada tahun 1949. Aliansi ini dibentuk oleh negara-negara Eropa Barat, Amerika Serikat dan Kanada.
Sejak terbentuknya NATO kemudian muncul Blok Barat dan Blok Timur. Sebuah persekutuan yang menciptakan era yang disebut sebagai perang dingin selama berpuluh-puluh tahun.
Perang dingin sebagai bentuk perebutan supremasi Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara adidaya dianggap selesai sejak runtuhnya tembok Berlin pada 9 November 1989. Yang kemudian diikuti oleh bubarnya Uni Soviet pada 26 Desember 1991.
Uni Soviet kemudian diwarisi oleh Rusia, yang kehilangan banyak wilayah, salah satunya adalah Ukraina. Bubarnya Uni Soviet mungkin tidak disesali oleh Rusia, namun kehilangan Ukraina menjadi sesuatu yang ditangisi oleh Rusia.
Kekecewaan atas kehilangan Ukraina secara ekplisit dinyatakan oleh Mikhail Sergeyevich Gorbachev, pemimpin terakhir Uni Soviet yang ibunya adalah orang Ukraina.
Kekecewaan yang mendalam juga dirasakan oleh seorang intelejen muda yang berbakat dengan karir yang luar biasa bernama Vladimir Putin.
Putin berkali-kali menuliskan bahwa bangsa Rusia dan Ukraina adalah bangsa yang sama. Kesamaan yang mesti diwujudkan untuk berada dalam negara yang sama.
Dan ketika Putin berhasil menduduki jabatan sebagai pemimpin Rusia, hasratnya untuk menyatukan Rusia dan Ukraina menjadi semakin kuat serta memungkinkan untuk terwujud.
Kedekatan pemimpin Ukraina terhadap Eropa dan Amerika Serikat, selalu dipakai oleh Putin sebagai alasan untuk menginvasi Ukraina.
Setelah bubarnya Uni Soviet hubungan antara Rusia dan Ukraina memang mengalami pasang surut. Pada masa awal setelah lepas dari Uni Soviet, hubungan antara Rusia dan Ukraina masih baik-baik saja, Ukraina belum lepas sepenuhnya dari Rusia.
Namun di tahun 2004 terjadi revolusi yang disebut revolusi orange dimana masyarakat Ukraina ingin lepas dari bayang-bayang Rusia. Revolusi ini mengantar Victor Yushchenko menjadi presiden Ukraina.
Rusia melakukan infiltrasi dan menguncang dari dalam hingga kemudian Victor Yushcenko terjungkal digantikan oleh Viktor Yanukovich yang pro Rusia. Terpilihnya Yanukovich membuat hubungan Ukraina dan Eropa Barat serta Amerika Serikat dipenggal. Rusia dan Putin senang, namun sebagian masyarakat Ukraina ternyata tidak senang.
Masyarakat melawan dan kemudian kembali terjadi revolusi di tahun 2014. Saat ada kekosongan jabatan, Rusia mengambil untung dengan cara mencaplok wilayah Crimea dan secara terbuka mendukung serta mengobarkan kelompok separatis lainnya di Ukraina.
Volodymyr Oleksandrovych Zelensky kemudian terpilih menjadi presiden Ukraina pada tahun 2019. Politikus yang berlatar belakang komedian, aktor, penulis cerita dan sutradara film ini sangat pro Eropa Barat dan Amerika Serikat. Zelensky sangat tegas mengatakan Ukraina tidak ingin berada di bawah bayang-bayang Rusia lagi.
Zelensky kemudian menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO dan keinginan itu disambut baik oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Bagi NATO dengan bergabungnya Ukraina berarti peluang untuk menempatkan instalasi militer di Eropa Timur menjadi terbuka lebar.
Kemesraan hubungan antara Ukraina dan NATO mengkhawatirkan Rusia. Rusia naik pitam dan ancaman untuk menginvasi Ukraina kemudian terwujud.
BACA JUGA : Jalan Pintas Microsoft Menyalip Meta Menuju Metaverse
24 Februari 2022, pasukan Rusia yang telah ditempatkan di perbatasan mulai mengempur Kiev dengan serangan pesawat tempur dan peluncur rudal. Serangan ini menjadi permulaan dari sebuah perang di Eropa yang paling significan sejak berakhirnya perang dunia ke II. Oleh karenanya banyak yang beranggapan bahwa perang ini bisa memicu perang dunia ke III, atau bahkan perang nuklir.
Belajar dari perang dunia ke II, kekhawatiran ini masuk akal sebab kondisi dunia saat ini kurang lebih sama dengan kondisi yang mengawali perang dunia ke II yakni sama-sama menderita karena ekonomi yang buruk.
Dan perang kemudian dianggap menjadi obat untuk melakukan perubahan, perubahan karena pemenang kemudian akan berkuasa dan menentukan kemana arah ekonomi akan berkembang.
Dan atas salah satu cara, perang dunia ke III sebenarnya telah terwujud, meski dalam bentuk yang berbeda. Semua dimungkinkan karena adanya teknologi informasi dan komunikasi.
Perang dunia ke III bentuknya bukan perang senjata, melainkan perang digital.
Segera setelah Rusia meluncurkan serangan, dunia ikut serta. Di Indonesia misalnya, segera terjadi pembelahan antara yang pro pada Ukraina dan pro pada Rusia.
Masing-masing kelompok secara sukrela menyebar dan memproduksi material untuk menjatuhkan lawannya.
Senjata yang dipakai bukan senapan, rudal, tank atau pesawat tempur melainkan propaganda.
Pada sisi lain, Vlodymyr Zelensky dan Vladimir Putin juga sadar dengan kenyataan ini, mereka bedua yang sama-sama besar dalam dunia sandiwara kemudian juga gencar melakukan propaganda.
Dituduh oleh sebagian orang sebagai maniak kekuasaan dan tukang caplok wilayah negara lain, Putin menampilkan diri sebagai sosok yang humanis. Tentara Rusia diwartakan di media sosial bukan sebagai tentara yang kejam. Masuk ke negara lain bukan sebagai pembunuh melainkan sebagai penolong dan pelindung.
Sebaliknya Zelensky yang dianggap sebagai pelawak, tak punya latar belakang militer dan lemah kemudian menampilkan diri sebagai sosok yang heroik. Sosok David yang berani melawan Goliath dengan menampilkan gambar-gambar dirinya berada di medan perang dengan atribut militer.
Mesin propaganda baik Ukraina maupun Rusia berjalan dengan baik sehingga membawa perang menyebar ke seluruh dunia. Polarisasi terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia.
Mesin propaganda ini menjadi semakin kuat karena yang terlibat dalam perang ini adalah Amerika Serikat. Negeri ini dikenal sebagai jagoan propaganda. Bayangkan lewat sebuah film, Amerika Serikat berhasil menutupi kekalahannya dalam perang di Vietnam. Lewat film banyak orang kemudian menganggap Amerika Serikat memang merupakan negara adidaya. Film itu berjudul Rambo.
Hanya saja saat ini kekuatan propaganda menjadi berlipat ganda. Dulu propaganda disampaikan lewat kanal konvensional. Namun sekarang propaganda punya saluran maha luas yakni media sosial. dan pelakukanya bukan hanya negara, institusi negara, militer atau alat negara yang lain melainkan juga orang perorangan dengan jangkauan yang lebih luas dari televisi, majalah atau radio.
Dan karena media sosial pula bahkan pihak-pihak yang tidak terkait secara langsung, seperti netizen di Indonesia ternyata juga turut menjadi corong propaganda kedua kubu yang terlibat perang. Dan perang propaganda ini jika kemudian eskalasinya membesar maka akan jadi kekuatan untuk memicu perang dunia ke III.
Sebab ada banyak isu sensistif yang dihambur lewat propaganda dari kedua belah pihak. Salah satunya seperti yang diucapkan oleh Putin, bahwa invasinya ke Ukraina adalah untuk memberantas neonazi di Ukraina. Yang kemudian dibalas oleh Ukraina dengan mempublikasikan karikatur yang menunjukkan wajah Hitler tengah menepuk-nepuk pipi Putin sambil tersenyum.
Dan rangkaian kabar bohong, misinformasi, keluar dari konteks dan manipulasi terus disebarluaskan secara sengaja. Mereka yang termakan juga akan turut menyebarluaskan dengan sukarela. Di Indonesia kemungkinan yang terjadi bukan hanya polarisasi melainkan spektrum. Kepedulian pada perang Ukraina lawan Rusia bisa dipakai untuk menyerang ketidakpedulian pada situasi di Palestina.
Zelensky sendiri adalah keturunan Yahudi. Sebuah isu yang mudah digoreng oleh kelompok tertentu yang kemudian akan mengkaitkan baik dengan Israel maupun Amerika Serikat. Narasi konspirasi Yahudi akan mewarnai diskursus konflik Ukraina lawan Rusia ini.
BACA JUGA : Facebook Dihantam Tik Tok Jadilah Meta
Pengunaan informasi sebagai senjata menjadi sangat masiv dalam perang antara Ukraina {Uni Eropa dan Amerika Serikat} melawan Rusia dengan sekutunya seperti China, Iran dan lain sebagainya.
Situasi ini mau tidak mau menyeret perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, Microsoft, Apple, Space X dan lainnya.
Peusahaan-perusahaan ini pada akhirnya tidak bisa menghindar untuk terlibat. Apa bentuk keterlibatannya?.
Yang jelas begitu dimulai serangan Rusia atas Ukraina, Google, Facebook, Twitter, Telegram, Whatsapp dan lainnya ikut menjadi medan perang, perang pararel dan perang informasi.
Awalnya pejabat Ukraina memang melakukan permintaan terbuka kepada perusahaan teknologi untuk membatasi layanan mereka di Rusia. Penyataan ini disampaikan oleh wakil perdana menteri yang adalah menteri digital Ukraina misalnya kepada CEO Apple untuk berhenti memasok produk dan mengurangi layanannya ke Federasi Rusia termasuk memblokir akses ke Apple Store. Permintaan ini disampaikan lewat cuitan di twitter.
Federov yang masih berusia 31 tahun itu juga menyampaikan pesan ke Mark Zuckerberg. Federov menyentil Mark yang tengah mengembangkan metaverse, disaat taman kanak-kanak dan rumah sakit di Ukraina dihancurkan oleh Rusia. Dia meminta pelarangan akses terhadap facebook dan instagram dari Rusia.
Pesan yang sama juga disampaikan oleh Federov kepada Youtube dan Elon Musk, pemimpin Space X.
Pemimpin-pemimpin negara blok NATO juga mengungkapkan permintaan yang sama terhadap perusahaan-perusahaan teknologi untuk memblokir segala macam informasi yang berasal dari Rusia.
Suara yang sama juga disampaikan oleh pemimpin negara Eropa Timur seperti Latvia, Estonia, Lithuania dan Polandia juga menulis pesan yang sama kepada layanan media sosial untuk menangguhkan akun-akun pro Rusia, akun official pemerintah dan juga media-media Rusia.
Rusia juga melakukan hal yang sama, menuntut google untuk memblokir segala macam informasi yang menyesatkan. Pemerintah Rusia sendiri juga membatasi akses terhadap facebook, twitter, youtube dan lainnya.
Akhirnya teknologi terutama teknologi informasi menjadi tidak netral. Perusahaan teknologi berada dalam dilema terjepit diantara dua tuntutan yang memaksa untuk berpihak. Mengusung demokratisasi dan kebebasan informasi, perusahaan teknologi berada di ujung tanduk karena melalui berbagai layanannya ternyata mereka bukan hanya menangguk untung melainkan juga menjadi tempat subur berkembangnya informasi yang berbahaya untuk pengguna dan dunia.
Mengambil langkah yang cepat, para raksasa teknologi kemudian nampak lebih berpihak pada Ukraina. Space X mengaktifkan layanan starlink, internet satelit sehingga Ukraina tetap bisa menikmati layanan internet meski nanti jaringan internetnya dirusak oleh Rusia.
Microsoft juga membatasi unduhan layanan media dari Rusia melalui aplikasi layanan toko mereka. Facebook, twitter, youtube dan google juga mulai melakukan pembatasan akses dari media-media pro pemerintah Rusia ke layanan iklan. Mereka juga melakukan sensor ketat pada berita atau informasi yang dianggap memuat informasi yang keliru.
Google mematikan fitur map realtime yang bisa memudahkan navigasi pasukan Rusia, selain itu juga memblokir penggunaan adsense dari media Rusia sehingga mereka kehilangan potensi pendapatannya.
Bukan hanya itu AirBnB bahkan telah menawarkan hunian gratis bagi warga Ukraina yang mengungsi karena perang. Netflix juga mengumumkan akan menutup akses dan layanan streaming film di Rusia.
Langkah yang diambil oleh berbagai perusahaan besar teknologi telah membuktikan bahwa mereka telah terlibat secara langsung dan aktiv dalam peperangan.
Dalam perang-perang sebelumnya, keberpihakan perusahaan dalam perang tidak pernah benar-benar transparan. Perusahaan yang terkait dalam perang sekalipun misalnya perusahaan senjata tidak pernah terang-terangan memihak.
Maka keberpihakan perusahaan teknologi pada satu pihak dalam perang merupakan realita baru. Realita yang sebenarnya mengkhawatirkan karena sebagaian besar perusahaan teknologi itu ada di Amerika Serikat.
Menjadi jelas bahwa perusahaan teknologi besar yang punya kekuatan sangat besar ini tak selalu konsisten dengan prinsip demokrasi yang mereka agung-agungkan. Dalam berbagai konflik sebelumnya bukan hanya sekali dua kali perusahaan teknologi mencinderai prinsip-prinsip demokrasi.
Dan kita nampaknya tidak bisa melawan kecenderungan para raksasa teknologi yang bias kepentingan geopolitik Amerika Serikat ini. Sadara tau tidak kita sudah bergantung pada mereka sebagai pemasok dan distributor informasi.
Membiarkan perusahaan teknologi ini terus mencengkeramkan kuku kekuasaan, maka bukan tidak mungkin yang disebut dengan perang dunia ke III, bukan lagi dalam bentuk invasi pasukan dan senjata melainkan invasi melalui perusahaan teknologi. Penghentian layanan dan akses yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan teknologi secara serempak bisa meruntuhkan sebuah negara.
Siapa yang kemudian bisa melawan perusahaan-perusahaan teknologi yang berbasis di Amerika Serikat?.
Nampaknya hanya China yang sejak semula secara mandiri mengembangkan model teknologi informasi dan komunikasinya sendiri.
Dan perang antara perusahaan teknologi China dan Amerika Serikat sebenarnya telah terjadi. Salah satu yang paling terang adalah penetrasi Tik Tok yang kemudian membuat Facebook terhenti pertumbuhannya.
Kelak jika banyak perusahaan teknologi Amerika Serikat terganggu dengan perkembangan perusahaan teknologi China bukan tidak mungkin perang massal antar perusahaan teknologi kedua negara ini akan memicu perang besar di seluruh dunia secara serempak.








