Metaverse ramai menjadi perbincangan setelah Facebook.Inc resmi berganti nama menjadi Meta. Pergantian nama perusahaan yang telah berdiri selama 17 tahun itu diumumkan sendiri oleh pendirinya pada pertemuan tahunan Connect, Kamis, 20/10/2021 yang lalu.

Ada beberapa alasan yang membuat Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Facebook berani melakukan perubahan nama yang sudah melegenda itu.

Alasan yang pertama adalah Facebook ingin melakukan rebranding sesuai dengan visi masa depan mereka agar kehadirannya tetap menjadi relevan. Visi masa depan yang ingin dikembangkan oleh Facebook adalah metaverse.

Facebook ingin memiliki identitas baru yang selaras dengan visi barunya.

Memang belum ada definisi yang pasti tentang metaverse. Istilah ini kerap dipakai untuk mengambarkan dunia virtual baru tempat orang bisa bermain game, bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan virtual. Alat bantu yang dipakai untuk beraktivitas di dunia virtual adalah headseat VR {virtual reality}.

Dalam pandangan Mark Zuckerberg, metaverse akan menjadi platform masa depan tempat orang mengalami realitas sosial baru. Oleh karenanya Facebook ingin menjadi pioner, first mover yang mengembangkan dan membangun platform metaverse dalam lima tahun ke depan.

Alasan yang kedua, nama Facebook. Inc akan memenjara perusahaan dalam image media sosial semata. Padahal sebagai perusahaan Facebook. Inc tidak hanya mempunyai facebook melainkan juga whatsapp dan instagram.

Dengan demikian nama facebook tidak lagi merepresentasikan realitas perusahaan dan visinya ke depan yang tidak sekedar ingin menjadi perusahaan yang berbasis pada social network semata.

Alasan yang ketiga adalah untuk menghindarkan dari kebingungan. Sebagai sebuah perusahaan nama facebook sama dengan salah satu layanan. Padahal Facebook. Inc tidak hanya mempunyai produk media sosial facebook melainkan juga whatsapp dan instagram.

Mark Zuckerberg ingin memisahkan brand perusahaan dari brand produk. Dengan membedakan nama perusahaan dan nama produk, Meta akan bisa mengembangkan produk lain secara lebih efektif tanpa tergantung pada platform facebook yang kemudian identik dengan nama perusahaan.

Akankah perubahan nama dari Facebook. Inc menjadi Meta akan berhasil menjadikan perusahaan Mark Zuckerberg ini sebagai yang terdepan di ruang digital?.

Belum ada kepastian. Namun satu hal yang pasti, perubahan ini mesti dilakukan oleh Mark Zuckerberg agar Facebook. Inc yang kemudian berubah menjadi Meta tetap menjadi relevan dan terdepan.

BACA JUGA : Warung Kopi Di Seberang Kuburan

Tak lama setelah pengumuman perubahan nama dari Facebook. Inc menjadi Meta, saham Meta anjlok sampai dengan 20 persen di pasar saham.

Awal Februari 2022, Meta kehilangan nilai pasarnya kurang lebih Rp. 3,282 trilyun. Mark Zuckerberg pun kehilangan kekayaan kurang lebih Rp. 428 trilyun dalam sehari yang membuatnya terlempar dari daftar 10 orang terkaya di dunia.

Anjloknya harga saham Meta menjadi catatan terbesar kehilangan valuasi pasar perusahaan Amerika dalam sehari.

Apakah Mark Zuckerberg kemudian merana dan tak lagi berniat meneruskan proyek Metaversenya yang membuat saham perusahaannya terjungkal?.

Tidak, sebab perubahan dari Facebook ke Meta bukanlah perjudian ala binary option. Penurunan valuasi nilai perusahaan adalah sebuah konsekwensi logis. Ketika bernama Facebook. Inc perusahaan telah mencapai kemapanan, sudah fly to the moon, berjaya di puncak dan mengeruk keuntungan.

Dari penghasil cuan kemudian dirubah kembali seolah menjadi perusahaan rintisan tentu saja membuat investor yang berburu keuntungan menjadi gundah. Dan adalah wajar jika kemudian mereka mengalihkan sahamnya, menjual secepat mungkin agar tidak mengalami kerugian. Kelak kalau sudah mulai memberi harapan baru membeli kembali.

Investor memang selalu panik jika laporan tahunan perusahaan publik tidak sesuai dengan ekpektasinya.

Sementara Mark Zuckerberg sebagai pendiri telah melihat masa kejayaan Facebook. Inc sebelum dirubah menjadi Meta telah menunjukkan gejala melemah, masuk dalam kurva menuju kematian. Pertandanya adalah keuntungan Facebook. Inc yang meski masih menangguk uang besar namun cenderung makin mengecil dari tahun ke tahun.

Melihat sejarah situs jejaring sosial, sebenarnya platform atau aplikasi ini sudah ada sejak tahun 90-an. Saat itu ada Sixdegrees dan Makeoutclub. Lalu di tahun 2000-an lahir Friendster, Myspace dan Hi5.

Kehadiran Facebook yang awalnya merupakan jejaring sosial tertutup kemudian merubah segalanya. Tahun 2006 dengan berbekal email bisa membuat akun Facebook. Dan hal itu dengan cepat membuat Facebook mengambil alih pasar dan membunuh media sosial yang ada sebelumnya.

Berjaya selama puluhan tahun, pertumbuhannya tak terbendung posisi Facebook mulai goyah memasuki tahun 2020-an.

Digdaya membuat Facebook banyak disoal terutama pada pemanfaatan data pengguna secara illegal. Di Amerika dan Eropa, privasi pengguna sangat sensitif. Facebook, Whatsapp dan Instagram dianggap telah menggunakan data pemakainya untuk membantu para pengiklan menyasar target pasarnya.

Dan Apple kemudian mengupdate IOS-nya yang memungkinkan pemakai ekosistemnya menolak penggunaan data oleh sebuah aplikasi. Dan ketika pembaharuan ini diluncurkan ternyata kebanyakan pemakai Apple menggunakan fitur itu.

Facebook atau sekarang Meta kemudian kehilangan potensi pendapatan cukup besar dari kebijakan privasi Apple ini.

Namun yang paling mengancam Meta adalah kemunculan aplikasi dari China, yakni Tik Tok. Aplikasi ini menggerus generasi pemakai baru Facebook.

Tik Tok bagaikan bom yang bunyinya indah sehingga membuat pemakai dan calon pemakai Facebook memalingkan diri.

Pemakai aktif harian Facebook makin hari makin tua, orang-orang dewasa. Anak muda dan remaja tak lagi aktif memakainya. Bahkan semakin sedikit anak remaja yang tertarik untuk mempunyai akun Facebook. Pertumbuhan Facebook menjadi stagnan, pemakai aktif harian cenderung menurun.

Beruntung Whatsapp dan Instagram masih bertumbuh meski juga cenderung melambat.

Mark Zuckerberg sendiri secara terbuka mengakui bahwa Tik Tok adalah pesaing terkuat dari Facebook. Dia mengatakan “Tik Tok sudah menjadi pesaing yang sangat besar dan juga terus bertumbuh dengan kecepatan tinggi,”.

Berbagai upaya untuk membendung serangan Tik Tok telah dilakukan melalui Facebook, Whatsapp dan Instagram. Ada penambahan fitur-fitur baru seperti live straming, stories, nonton bareng, reel, forum dan lain-lain, tapi tetap tak mampu membuat Facebook bangkit.

Meski masih mendatangkan untung, mulai terlihat masa-masa kejayaan Facebook akan berakhir. Grafik pertumbuhannya menurun dan disinilah Mark Zuckerberg merasa harus ada perubahan besar untuk kembali membangkitkan. Merubah Facebook menjadi Meta adalah jalan untuk melakukan perubahan itu sebuah jalan yang tidak disukai oleh para investor.

Bagi para investor, metaverse masih jauh, masih sepuluhan tahun lagi. Namun bagi Mark Zuckerberg, menunggu sampai sepuluh tahun lagi akan membuat nasib Facebook sama dengan Yahoo.

BACA JUGA : Ayam Ganja

Kondisi terkini Meta telah mengalami gangguan dalam berbagai fundamental bisnis. Yang pertama telah muncul kekuatan pesaing yakni Tik Tok yang sudah mengerus pengguna facebook, kedua kebijakan apple yang mempersulit sumber pemasukan melalui iklan, dan yang ketiga adalah kekuatan pengguna yang mulai menolak penggunaan datanya oleh Meta.

Maka tidak ada alasan untuk terus bertahan sehingga Meta perlu melakukan strategi baru. Dan teknologi komputasi masa depan yang dipilih yakni Virtual Reality dan Augmented Reality. Secara teknologi VR dan AR telah berkembang secara ekponensial, harganya semakin menurun dan bentuknya juga semakin sederhana, contohnya sudah mirip kacamata baca biasa.

Dulu facebook berjaya karena mampu menghadirkan pengalaman pengguna lewat antar muka yang mengasyikkan di smartphone. Membuat pengguna betah berlama-lama dan kini dalam pandangan Mark Zuckerberg, pengguna di masa depan perlu pengalaman baru, VR dan AR adalah jawabannya. Oleh sebab itu perlu ekosistem baru yakni metaverse.

Facebook menjadi Meta adalah jawaban dari Mark Zuckerberg untuk membuat layanan lama dan layanan baru yang nanti dikembangkan oleh Meta tetap menjadi relevan. Menjadi relevan berarti meraup banyak pengguna, meraup banyak pengguna berarti mendatangkan banyak keuntungan.

Meta ingin menjadi yang pertama membawa pengguna ke dunia baru itu sebagaimana Facebook dulu membawa penggunanya ke dalam dunia silaturahmi tanpa batas lewat smarphone.

Dan lewat Meta, Mark Zuckberg tidak sedang bermain-main. Ada alokasi besar sumberdaya yang diarahkan kesana, alokasi yang telah memakan korban yakni investor kelabakan dan uring-uringan.

Fakta perubahan nama dari Facebook menjadi Meta adalah sebuah upaya membangun dan mempertahankan kejayaan dengan cara baru secara sungguh-sungguh. Tidak sekedar terus meremas keuntungan dari cara lama sambil mempertahankan dengan melakukan pembaharuan disana-sini.

Lompatan untuk membangun kejayaan berikutnya bisa jadi sebuah lompatan gelap yang belum ketahuan ujungnya. Tidak ada jaminan untuk keberhasilan, sebab yang dimasuki adalah dunia baru yang belum dialami atau bahkan belum pernah ada.

Setelah mengalami keteraturan dan menikmati keuntungan bertahun-tahun yang membawa nikmat, mengantar pendirinya serta investornya masuk dalam daftar  orang tajir sejagat, memasuki dunia baru bukan hanya mengkhawatirkan namun juga menyakitkan.

Dan tidak banyak pendiri atau penerus perusahaan berani melakukan hal itu.

Perubahan dari Facebook menjadi Meta menunjukkan bahwa Mark Zuckerberg adalah seorang pemberani, karena dia memang mempunyai hampir semua hal yang memungkinkan Meta tetap relevan dimasa yang akan datang.