Bapak saya dengan konsisten mengajarkan untuk selalu makan dirumah. Caranya dengan selalu bangun pagi untuk memasak air dan menanak nasi sebelum melakukan kegiatan lainnya.

Ajakan darinya untuk makan di warung atau rumah makan menjadi sangat istimewa. Apapun yang dimakan terasa enak atau bahkan enak sekali. Hanya saja kesempatan itu sangat jarang.

Nanti ketika ibu saya kemudian bekerja sebagai guru, sayur dan lauk menjadi lebih sering dibeli. Namun kebiasaan makan bersama di rumah tetap dijaga utamanya malam hari.

Setelah tinggal terpisah dari orang tua, merantau ke luar pulau, saya juga mulai belajar memasak. Karena cukup lama tinggal di Sulawesi Utara, Manado dan Minahasa, beberapa jenis atau resep masakannya saya kuasai.

Memasak menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk saya.

Masalahnya keluarga saya sekarang adalah keluarga kecil, kami hanya bertiga. Kerap kali apa yang dimasak tidak habis dimakan. Jadwal dan kesibukan yang berbeda antara saya, istri dan anak juga membuat makan bersama menjadi sulit untuk selalu dilakukan.

Membandingkan antara masa tinggal bersama orang tua dan ketika sudah tinggal dengan anak istri, kami kini lebih sering membeli makanan atau makan bersama di rumah makan. Makan di restoran menjadi hal yang biasa. Menjadi luar biasa apabila harga yang harus dibayar untuk makanan yang kami santap menguras dompet.

Terbiasa membeli makanan jadi, mau tak mau saya harus mempunyai database agar tidak pusing ketika mesti membeli makanan. Ingin makan ini atau itu, saya sudah tahu kemana mesti membelinya dan berapa uang yang harus disiapkan.

Hanya saja yang namanya selera mesti ada pembaharuan, maka update informasi menjadi penting. Untungnya di media sosial bertebaran, testimoni atau review gratisan yang bisa jadi patokan.

Beberapa bulan lalu, saat varian delta tengah menggila, muncul selentingan tentang ayam ganja. Usut punya usut gosip ini bermula dari kios penjual ayam dan bebek goreng yang dagangannya laris manis. Dan biasa segala sesuatu yang laris manis selalu dicurigai ada apa-apanya.

Padahal yang mungkin terjadi adalah makanannya memang enak, atau layanannya cepat dan baik. Dan menurut saya, ayam yang disebut sebagai ayam ganja itu ukurannya memang besar-besar, harganya cukup murah dan sambalnya segar serta banyak. Dan yang lebih penting, kios itu buka 24 jam.

Hal baru lainnya adalah kondimen. Penjual-penjual lain melengkapi ayam goreng dengan secuil tahu dan tempe, kemangi, irisan kol, kacang panjang dan ketimun. Nah, kios ini melengkapi ayam atau bebek goreng dengan sejumput Kangkung Goreng.

Pelengkap inilah yang kemudian mengejutkan sebab kangkung digoreng bukanlah sesuatu yang lazim.

Kangkung goreng yang di-seasoning dengan garam atau penyedap rasa, memang menimbulkan sensasi tersendiri. Saat dikunyah bunyinya kresss dan di ujung lidah terasa gurih serta asinnya. Berpadu dengan daging yang dicolok dalam sambal pedas asam, orkestrasi rasa di mulut terasa membuai, terlena seperti tengah mencandu.

BACA JUGA  : Orang Kaya Baru

Dalam konteks inovasi ada 3 kategori negara berdasarkan pencapaiannya. Yang pertama adalah Most Innovative Countries, lalu yang kedua adalah Innovative Countries dan yang ketiga adalah Least Innovative Countries.

Indonesia termasuk kategori yang mana?.

Meski ekonomi kreatif tengah gencar-gencarnya digenjot dan secara politik diurusi oleh sebuah kementerian. Ternyata Indonesia belum masuk dalam daftar negara yang paling inovatif.

Di kawasan Asia, negara yang dikategorikan sebagai paling inovatif adalah Singapura, Korea Selatan dan Jepang.

Kalau begitu, kemungkinan besarnya Indonesia masuk dalam negara yang inovatif. Ternyata juga tidak.

Negara di benua Asia yang dimasukkan dalam kategori inovatif adalah China, Malaysia, Thailand, Vietnam, Mongolia dan India.

Menyedihkan sebab ternyata Indonesia dimasukkan dalam rangking ke 12, sebagai negara yang paling tidak inovatif. Berada di bawah Brunei dan Philipina serta mengungguli Kamboja, Nepal, Pakistan dan Bangladesh.

Posisi Indonesia ini konsisten sejak tahun 2018, 2019 dan 2020.

Konsistensi ini yang kemudian menjadi jawaban kenapa posisi Indonesia yang pernah digadang-gadang menjadi Macan Asia namun sampai hari ini belum berhasil mengaum, masih terus mengeong alias belum berhasil menduduki kursi sebagai negara berkembang.

Ketidakberhasilan menjadi Macan Asia, menjadi pertanda bahwa Indonesia kurang inovatif dalam mengembangkan dirinya.

Kurangnya inovasi membuat daya saing Indonesia juga semakin menurun. Yang artinya kemampuan negara untuk memperoleh pendapatan juga menurun. Jadi jangan heran jika untuk membiayai pembangunan, bahkan mungkin juga pendapatan bagi penyelenggara negara diperoleh dengan cara berhutang.

Dilihat dari angka tertinggi berdasarkan indikator pembentuk inovasi, maka faktor pasar yang paling menyumbang pencapaian. Pasar Indonesia sudah sangat siap, infrastruktur pasarnya sudah sangat mendukung.  Sayangnya faktor ini tidak didukung oleh kemampuan berbisnis yang canggih. Kemampuan pelaku bisnis di Indonesia ternyata kurang canggih, kurang memiliki kemampuan untuk menggarap pasar yang ada.

Adanya gap ini kemudian memberi peluang kepada pemain atau pebisnis dari luar untuk melakukan penetrasi ke pasar Indonesia yang sudah bagus, siap dan matang.

Kondisi ini tentu berbahaya untuk masa depan Indonesia. Kenapa?

Karena Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Jumlah penduduk yang produktif lebih besar dari yang tidak produktif. Jumlah orang yang mempunyai penghasilan diatas jumlah orang yang bergantung pada mereka.

Data menunjukkan negara yang mampu memanfaatkan bonus demografinya akan berkembang menjadi negara maju. Jepang, Singapura, Hongkong dan Korea adalah contohnya.

Apa yang terjadi dengan Indonesia? Bonus demografi yang kita nikmati saat ini berada dalam kondisi tanpa angin karena ekosistem inovasi dan daya saing kita rendah.  Anak-anak muda kita tidak hidup dalam negara yang inovatif dan kompetitif.

Begitu suramkah masa depan kita?.

Tidak, pandemi Covid 19 bisa menjadi momentum. Sebagai bangsa dan negara kita sudah membuktikan bahwa Indonesia bisa menghadapi pandemi dengan baik dan menciptakan peluang-peluang baik setelahnya.

BACA JUGA : Kartu Kredit

Memasuki tahun 2022, sebutan ayam ganja yang awalnya berasal dari bisik-bisik intrik lalu jadi julukan generik akhirnya menjadi ‘merek’ yang ekplisit.

Di beberapa tempat muncul kios atau warung yang memasang spanduk, banner atau papan nama bertuliskan Ayam Ganja.

Dan bukan hanya itu, warung ayam nasi uduk yang sebelumnya juga populer serta menjamur dimana-mana, kini juga menyertakan kangkung goreng sebagai kondimen untuk pembeli yang memesan ayam jumbo. Sedangkan yang paketan tetap saja hanya disertai secuil tempe, terong goreng, seiris ketimun dan sepenggal batang kemangi dengan beberapa helai daunnya.

Berlakulah hukum ‘Yang laku yang ditiru’ atau ‘Jual yang pasti-pasti saja’.

Model pedagang yang memulai dengan rumus ini bukan hanya pedagang pemula, melainkan juga pedagang yang sudah karatan. Lama berjualan namun setiap 6 bulan hingga 1 tahun jualannya berubah-ubah.

Jika jumlah pedagang dengan watak seperti ini banyak, jalanan dalam periode tertentu wajahnya akan berubah-ubah. Ada masanya dipinggir jalan marah dengan penjual Dawet Ayu, kemudian menghilang diganti dengan Es Cincau, lalu berderet penjual Es Durian, tak lama kemudian dimana-mana dihiasi kios Es Teh, Thai Tea dan Boba.

Sama halnya dulu di tepian jalan ramai orang berjualan Tela Tela, lalu Kebab Turki dan kini pentol, cireng dan lainnya.

Sebelum Ayam Ganja mengelegar, yang menghiasi kios pinggir jalan adalah Ayam Lalapan, Ayam Geprek, Ayam Penyet dan Ayam Nasi Uduk.

Gejala semacam ini adalah hasil dari jargon Amati – Tiru – Modifikasi yang sering digaungkan sejak jaman orde baru. Semangat ATM ini diajarkan bukan hanya ke pengusaha, tetapi juga anak muda, pejabat bahkan guru-guru sebagai sebuah tips untuk melakukan perubahan.

Amati atau observe memang merupakan proses penting dalam berkreasi, makin banyak mengamati makin banyak pula referensi yang didapat. Sedangkan Tiru adalah proses menjiplak atau membuat ulang karya atau produk yang diamati. Agar tidak mencontek mentah-mentah maka dilakukan modifikasi.

Tidak ada yang salah dengan ATM, karena itu merupakan proses yang alamiah dan sah untuk dilakukan. Terutama dalam proses belajar, proses produksi, proses kreatif atau model bisnis. Toh secara alamiah proses belajar manusia memang bermula dari meniru.

Namun jika dikaitkan dengan produk dan merek, meniru {copycat} bisa dianggap mencuri ide atau bahkan memalsu.

Jepang, Korea Selatan dan China yang sekarang maju pesat dulu juga merupakan bangsa peniru. Tahun 1980-an, Jepang dikenal sebagai peniru produk barat. Demikian juga Korea Selatan. Sedangkan China sangat dikenal sebagai pencuri ide dan penjiplak.

Ketiga negara itu meniru teknologi barat untuk melakukan percepatan pembangunan. Jepang hancur berantakan setelah di bom oleh Amerika dalam perang dunia ke II, Korea Selatan berantakan setelah perpecahan dengan Korea Utara, dan China goyah karena krisis moneter 1997.

Walau sukses meniru dan produk tiruannya laku, namun budaya meniru atau mencontek pada akhirnya akan menghancurkan. Produknya akan dianggap sebagai produk murahan dan gampang rusak. Produk yang dihasilkan tidak mempunyai value yang tinggi.

Jepang, Korea Selatan dan China kemudian sadar dan melakukan terobosan lewat inovasi. Kini Jepang dikenal sebagai negeri terkemuka dalam dunia otomotif, peralatan elektronik berteknologi tinggi, sementara Korea menghasilkan teknologi yang penuh gaya dan China menghasilkan peralatan elektronik serta mobil listrik yang tak bisa disepelekan. Merek-merek China menyusul merek-merek Jepang dan Korea Selatan menjadi merek yang mendunia.

Bagaimana dengan Indonesia?. Nampaknya masih merasa nyaman dengan ATM, yang cepat bertumbuh adalah usaha-usaha yang berbasis pada franchise atau main aman.

Atau meniru yang lagi nge-hit dan kemudian sedikit memodifikasi. Seperti ayam kangkung goreng menjadi ayam ganja, lalu ada pula yang ingin sedikit berbeda dengan memberi nama ayam rempah ganja.

Tapi apapun namanya yang jelas kondimennya adalah kangkung goreng.

Dan enam bulan atau satu tahun ke depan entah apalagi yang akan mewabah sebagai hasil dari budaya ATM yang gagal dikonversi menjadi budaya inovasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here