Menyenangkan ketika membuka aplikasi facebook dan menemukan tanda adanya banyak notifikasi. Kesenangan itu kemudian akan berubah menjadi kekhawatiran ketika diantara notifikasi itu ada pesan bertuliskan “Anda tidak bisa memposting dan berkomentar selama 3 hari.”

Buat pemakai facebook yang aktif pemberitahuan semacam itu adalah hukuman. Sebuah konsekwensi atas postingan yang dinilai oleh facebook melanggar aturan standar komunitas.

Facebook oleh pembuatan dimaksudkan sebagai sebuah forum, tempat para facebookers membagikan pengalaman, terhubung dengan keluarga dan teman serta membangun sebuah komunitas.

Di pakai oleh kurang lebih 3 milyard orang, tanpa pengaturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh diposting, facebook berpotensi menjadi penyebab kerusuhan dan kerusakan terbesar.

Agar itu tidak terjadi, facebook mempekerjakan kurang lebih 15 ribu orang sebagai peninjau konten. Mereka bekerja bergantian selama 24 jam untuk menilai konten dalam kurang lebih 50 bahasa.

Dan salah satu yang menjadi fokus peninjauan adalah konten yang menyesatkan, informasi yang tidak benar atau yang populer dikenal sebagai hoaks.

Tidak semua yang mendapat notifikasi sadar akan kesalahan dan menerima dengan sukarela hukuman yang diberikan oleh facebook. Apa yang dipandang sebagai pelanggaran bisa jadi dimaksudkan hanya sebagai gurauan oleh yang mempostingnya.

Tiga hari tidak bisa posting dan memberi komentar untuk mereka yang lebih sering berkunjung ke facebook ketimbang rumah ibadah sungguh berat. Dunia serasa berhenti berputar, sebab memberi tahu dunia dan mengomentari dunia sudah menjadi sebuah kebutuhan.

Facebook yang bekerja dengan pencetan jari tangan, sesungguhnya menjadi kepanjangan mulut dan hati pemakainya untuk mengungkapkan apa saja yang merupakan hasil interaksinya dengan dunia. Facebook adalah alat bicara.

Ibarat bisa mendengar, menyimak pembicaraan orang lain namun tak boleh bicara tentu saja berat sekali. Anak-anak kecil jaman menjuluki orang semacam ini sebagai “bawang kopong”, senada dengan istilah homo sacer yang diperkenalkan oleh Giorgio Agaben.

Di suspen sama saja dengan dicabut haknya untuk berbicara dan berekspresi. Yang dihukum bakal kena mentalnya.

Secara seksual mengintip adalah sebuah kesenangan. Semua mahkluk seksual kemungkinan besar memulai kesenangan seksualnya dengan mengintip. Namun jika berkembang hanya senang dengan menjadi pengintip, itu adalah sebuah penyimpangan.

Kepada akun-akun yang tidak dikenal, mereka yang tidak terlalu akrab, sedang diincar atau sedang bermasalah, bisa jadi pemakai facebook memakai modus mengintip. Hanya saja jika dihukum untuk menjadi pengintip saja, pastilah tidak menyenangkan. Sebab di facebook, semua ingin bicara, semua ingin berekpresi dan ingin eksis.

Cara menjadi eksis adalah rajin bicara.

BACA JUGA : Fotografi Kritis

Seperti dosa-dosa lainnya, ‘dosa digital’ ternyata hukumannya lebih cepat dan nyata. Semua pemakai platform media digital dengan mudah tergoda untuk melakukannya. Bekerja dengan algoritma, facebook dan media sosial lainnya memang mendorong orang untuk bereaksi.

Dan tugas dari algoritma adalah mendorong pemakai media sosial untuk aktif bereaksi. Apa yang ditampilkan di layar adalah pancingan, stimulus yang mendorong siapapun yang membuka feed bereaksi.

Algoritma media sosial terus disempurnakan oleh pembuatannya untuk membuat para pemakai menuntut pada dirinya sendiri terlibat.

Memakai media sosial tanpa aksi dan reaksi adalah gambaran hidup segan mati tak mau. Bisa dianggap tidak update, pengecut, nihilis, pasivis dan seterusnya.

Decartes dikenal dengan cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Facebook memberi perwujudan lewat saya posting maka saya ada. Secara eksistensial mengada di facebook adalah bicara, mengungkap sesuatu lewat status atau bereaksi atas status orang lain.

Sebagai sebuah ruang, facebook memberi hak pada pemakainya untuk bicara. Namun algoritma kemudian menuntun hak itu berubah menjadi kewajiban.

“Mana nih, disenggol kok diam saja?”

Bukan hanya algoritma yang mendorong-dorong untuk aktif melainkan juga provokasi dari pemakai lainnya. Alhasil semakin aktif di facebook maka semakin besar tuntutan untuk terus eksis.

Aktif dan menjadi eksis di facebook juga memberi candu, sebuah kesenangan karena setiap kali memposting atau menanggapi akan menghasilkan banyak tanggapan pula. Tanggapan yang memberi hormon kesenangan, senang karena merasa berarti, senang karena terkenal.

Menjadi populer di dunia digital sama nilainya dengan menjadi terkenal di dunia nyata. Bahkan punya nilai lebih karena interaksinya bisa lebih personal sekaligus massal.

Terkenal atau eksis itu sekurang setiap aksi bisa direaksi lebih dari 100 pengikut, pengintip dan lainnya.

Di reaksi oleh ratusan lebih teman atau yang lainnya menjadi penanda bahwa akun kita punya pengaruh sehingga bisa disebut sebagai influencer.

Pengaruh yang makin lama makin besar akan membawa pada kedudukan sebagai pesohor. Dan siapa yang tidak ingin menjadi orang yang tersohor?

Menjadi pesohor itu bukan hanya nikmat untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain. Ada banyak yang menunggu untuk direaksi oleh para pesohor. Komentar atau reaksi dari seorang pesohor di postingan atau kolom komentar pengikutnya akan dianggap sebagai berkah, give away, pemberian yang berharga.

Jalan untuk menjadi pesohor adalah aktif bicara. Tidak ada jalan instan. Maka tak ada jaminan bahwa seorang pesohor di dunia nyata kemudian otomatis akan menjadi pesohor juga di dunia maya.

Terkenal dalam kehidupan keseharian entah karena jabatan, kekayaan, trah atau keluarga, ketika memasuki dunia maya seseorang tetaplah orang yang biasa-biasa saja. Reputasi perlu tetap harus dibangun dengan mulai aktif posting ini dan itu, bereaksi ini dan itu.

Dengan bicara seseorang membangun dirinya menjadi relevan bagi yang lain. Jika relevan maka dengan sendiri orang lain ingin berteman, masuk dalam lingkaran secara sukarela. Berteman atau tidak berteman, mengikuti atau tidak mengikuti di media sosial bekerja atas dasar sukarela. Memaksa secara vulgar seseorang untuk berteman dan mengikuti adalah dosa sosial di dunia digital.

BACA JUGA : Metaverse, Evolusi Kapitalisme Yang Sempurna

Disuspen meski hanya tiga hari bakal menimbulkan luka karena dibungkam. Ketika di kepala ada luapan kata-kata membuncah yang mesti dihamburkan namun tak ada jalan, rasanya batok kepala jadi ingin meledak.

Persoalannya kita yang terbiasa bicara tak akan lagi sudi untuk dengan rendah hati menjadi tekun mendengar. Menyimak apa yang disampaikan oleh orang lain, merenungkannya lebih dalam, menimbang ini dan itu dan menunggu tiga hari kemudian untuk memberi reaksi.

Agar terhindar dari hukuman yang menyakitkan itu, maka ada baiknya siapapun yang aktif atau pingin aktif di media sosial terutama yang berada di bawah bendera Facebook yang kini berganti nama menjadi Meta untuk membaca standar komunitas.

Di bawah meta ada platform atau aplikasi facebook, messenger, whatsapp, instagram dan lain sebagainya yang akan menyusul.

Standar komunitas adalah seperangkat kebijakan yang dirumuskan oleh pengembang yang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam platform atau layanan mereka.

Standar komunitas adalah sebuah cara dari penyelenggara layanan mendeteksi secara dini konten-konten yang dianggap berbahaya. Seperti konten kejahatan, pelecehan, seksual ekplisit, ancaman, penipuan, identitas palsu, peniruan identitas, ujaran kebencian dan lain-lain.

Penegakan standar komunitas tidak hanya dilakukan sendiri oleh penyelenggara layanan. Pemakai juga bisa berpartisipasi dengan cara membuat laporan.

Selain itu penyelenggara layanan juga mengembangkan kecerdasan buatan yang dilengkapi dengan learning machine untuk turut meninjau konten. Umumnya konten yang ditinjau dan melanggar akan segera dihapus oleh sistem ini.

Pertanyaannya apakah semua yang membuat orang baper, tersinggung dan lainnya akan selalu dihapus dari facebook atau media sosial lainnya?.

Tidak juga, masih banyak postingan yang isinya bikin baper namun tidak dianggap sebagai pelanggaran oleh facebook.

Mereka yang tersinggung atau tidak suka namun facebook tidak merasakan hal yang sama, oleh facebook dipersilahkan membatalkan pertemanan, memblokir atau menyembunyikan postingan dari dinding dan halaman.

Terus dan tetaplah bicara tapi jangan sampai dibungkam oleh facebook. Sebab dibungkam itu menyakitkan.