Seni di masa lalu sebagai bagian dari kebudayaan merupakan manifestasi hubungan antara masyarakat dengan lingkungan hidupnya. Dalam seni, masyarakat lokal merefleksikan kesadaran kosmologinya.

Perkembangan kehidupan, peradaban dan kebudayaan kemudian membuat spektrum seni menjadi lebih luas. Seni kemudian memasuki wilayah ekonomi, terjadi komodifikasi terhadap seni. Seni kemudian kerap kali tak berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya.

Persoalan lingkungan hidup yang semakin kompleks kemudian menyadarkan sebagian pelaku seni dan aktivis lingkungan untuk kembali mendayagunakan seni sebagai medium guna mengarusutamakan kesadaran akan krisis lingkungan dan iklim.

Seni dan aktivisme kemudian berpadu serta melahirkan banyak kelompok dan gerakan yang mendedikasikan karya dan aktivitas seninya untuk pendidikan serta penyadaran bagi masyarakat.

Salah satu yang menonjol akhir-akhir ini adalah seni jalanan atau street arts dalam bentuk mural.

BACA JUGA : Jeda Untuk Iklim 

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa seni serta aktivisme memasuki ruang baru. Ruang itu disebut sebagai ruang digital.

Gerakan langsung seperti aksi atau demonstrasi tak harus melibatkan kelompok besar. Aksi atau demonstrasi bisa diamplifikasi secara luas lewat dunia digital.

Lewat sosial media, aksi atau demonstrasi bisa terus digerakkan secara konsisten dengan unggahan-unggahan yang mempunyai nuansa seni.

Salah satu gerakan yang sukses membawa aksi langsung ke media sosial adalah #climatestrike yang digagas oleh Greta Thunberg.

Poster, flyer bernuansa seni disebar lewat twitter, gerakan tari, musik atau puisi ditayangkan lewat Tik Tok atau siaran langsung di Facebook dan Instagram. Publikasi lewat media sosial ternyata mampu meningkatkan kesadaran terutama di kalangan anak muda yang kemudian mereplikasi gerakan dengan cara yang seru, riang dan ringan.

Bergerak secara konsisten dalam ruang digital atau daring akan membawa keuntungan bagi para pelaku aktivisme. Sebab di negara yang meski berlandaskan demokrasi sekalipun seperti Indonesia, aksi langsung dalam skala besar di luar jaringan {luring} akan berpotensi untuk direpresi oleh aparat.

Memadukan seni dan aktivisme sebagai bahan untuk melakukan kampanye digital akan menjadikan sikap kritis bukanlah sesuatu yang berat. Kritisisme tidak perlu disampaikan dengan orasi yang panjang-panjang dan kata-kata keras menusuk yang pada akhirnya justru bikin baper kaum elit dan aparat.

Seni akan memampukan anak-anak muda menjadi pribadi yang lebih kritis, terarah dan berani serta beraksi tanpa kekerasan.

Selain menghibur, seni juga merupakan medium yang punya daya tarik sehingga penyadaran, sosialisasi atau pendidikan bisa berlangsung dengan cara yang menyenangkan.

Spektrum seni yang luas juga memungkin gerakan yang menggunakan seni untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Karya seni atau artwork yang mengangkat isu tertentu juga akan menjadi pemantik diskusi dalam masyarakat.

BACA JUGA : Gelombang Kopi Samarinda 

Dalam aksi Climate Strike, Tolak Bala Stop Bencana, Bunga Terung menghadirkan penampilan beberapa kelompok seni untuk menyuarakan krisis iklim.

Ada sanggar seni yang menampilkan tarian kreasi modern bernuansa tradisional dan tarian ritual Hudoq.

Tari Hudoq adalah warisan tradisional masyarakat Dayak yang biasa diselenggarakan dalam rangkaian upacara siklus musim tanam. Penari akan menggunakan topeng sebagai perwujudan dari leluhur, dewa dan binatang.

Penari akan menggenakan baju yang terbuat dari kulit kayu dan dihiasi oleh rumbai-rumbai yang terbuat dari daun pisang atau daun lainnya. Hijau daun melambangkan harapan bahwa apa yang mereka tanam akan tumbuh subur.

Sebagai sebuah ritual, Hudoq merupakan bentuk permohonan pada Yang Maha Kuasa agar apa yang ditanam akan memberikan hasil yang berlimpah ruah, karena bebas dari bencana atau hama.

Gugatan dan kritisisme atas persoalan lingkungan hidup, krisis iklim dan perlakuan pada kelompok tani juga disampaikan lewat sejumlah puisi dan lagu.

Beberapa kelompok musik atau band hadir untuk menyemarakkan aksi Climate Strike yang dilakukan di gerbang masuk Universitas Mulawarman itu.

Salah satu band yang tampil adalah Monkey Mangkir, sebuah band yang getol menyuarakan isu lingkungan lewat lagu-lagu ciptaan mereka sendiri.

Aksi yang lebih banyak berisi penampilan seni berlangsung dari sore hingga malam hari.

Tak nampak aparat berseragam di lokasi aksi, yang berbaju sipil tetap ada meski jumlahnya hanya sekitar dua atau tiga.

Soal yang hadir tidak meruah itu bukan masalah sebab aksi ini didokumentasikan dalam bentuk video dan foto juga dipancarsiarkan lewat instagram.

Video dan foto-foto itulah yang akan digunakan sebagai materi kampanye digital di berbagai platform media sosial.

Dengan artivism sebuah aksi tak harus selalu identik dengan anarki dan mengundang kekerasan.