Namanya Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg, panggilannya Greta. Dilahirkan di Stockholm, Swedia tanggal 3 Januari 2003.
Ketika berumur 8 tahun, gurunya di sekolah memutar film tentang dampak perubahan iklim. Dalam film tersebut ditunjukkan salah satu dampaknya yakni beruang kutub yang kelaparan.
Film yang menyentuh itu membuat Greta belajar tentang perubahan iklim di usia yang sangat muda. Tangisan Greta sepanjang menyaksikan film itu membuatnya prihatin terhadap perubahan iklim dan juga merasa bahwa pemerintah tidak terlalu peduli dengan permasalahan itu.
Tahun 2018, Swedia dilanda gelombang panas dan kebakaran hutan. Dan 20 Agustus 2018, Greta melakukan aksi mogok sekolah. Greta tidak pergi ke sekolah melainkan pergi ke depan kantor parlemen Swedia sambil membawa papan bertuliskan ‘SKOLSTREJK FOR KLIMATET’ atau mogok sekolah untuk iklim.
Setelah aksi mogoknya yang pertama itu, Greta kemudian melakukan mogok sekolah setiap hari Jum’at.
Aksi Greta tentu saja mendapatkan perhatian dari media massa, bukan hanya nasional namun juga internasional.
Apa yang dilakukannya kemudian mendorong siswa di negara lain untuk melakukan aksi serupa. Pada Desember 2018 tercatat sebanyak 20,000 ribu siswa di berbagai belahan dunia melakukan aksi serupa.
Dan Maret 2019, ada 1,6 juta siswa melakukan aksi mogok sekolah untuk iklim. Dan hingga sekarang tercatat sudah lebih dari 4 juta siswa ikut dalam gerakan ini.
Keprihatinan dan aksi dari Greta yang kini berusia 17 tahun itu kemudian melahirkan sebuah aksi global bernama Global Climate Strike atau Jeda Iklim Global. Aksi ini berwujud unjuk rasa yang bertujuan mengangkat permasalahan perubahan iklim dan krisis yang ditimbulkan olehnya.
Global Cilmate Strike setiap tahunnya akan berlangsung dari tanggal 20 hingga 27 September dan dilaksanakan oleh berbagai organisasi, komunitas atau kelompok di berbagai penjuru dunia.
Di Indonesia pada tanggal 13 Januari 2020, seorang remaja berusia 17 tahun bernama Salsabila Khairunisa untuk pertama kali meluncurkan aksi ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’.
Sebelum melakukan aksinya, Salsabila membangun sebuah platform di media sosial bernama Jaga Rimba. Platform ini menjadi tempatnya dan rekan-rekan sebayanya untuk mendiskusikan seputar perlindungan pada masyarakat adat dan bagaimana menjaga hutan.
Aksi mogok Salsabila dilakukan dengan membawa sepotong kardus bertuliskan ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’ di depan gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan {KLHK}.
Dua jam berdiri di depan gedung, Salsabila dikerubuti satpam dan polisi dari Polres Tanah Abang. Dia pulang karena kardus disita dan diminta untuk membuat surat audiensi.
Tiga hari kemudian, Salsabila datang kembali. Dia kembali diusir dan kemudian melakukan aksinya di luar kompleks gedung Kementerian KLHK.
Dua hari membolos membuat walikelasnya menanyakan kabarnya pada orang tua. Orang tuanya kemudian menagih janji agar Salsabila bisa bertanggungjawab atas pilihannya untuk melakukan aksi dengan mogok sekolah.
Dan agar bisa terus melakukan aksinya, Salsabila mengajukan solusi untuk keluar dari sekolah. Orang tuanya kemudian mendatangi Wali Kelas dan teman-temannya di SMA Negeri 34 Jakarta untuk membujuk agar Salsabila mengurungkan niatnya.
Namun tekadnya sudah bulat dan tanggal 30 Januari 2020, siswa kelas 3 IPA SMA Negeri 34 Jakarta itu beralih ke homeschooling.
Sejak melancarkan ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’, Salsabila kerap disebut sebagai Greta-nya Indonesia. Namun dia menolak sebutan itu karena punya identitas dan cerita yang berbeda dengan Greta.
Meski demikian dia mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh Greta yang menggerakkan gelombang protes dan mogok sekolah tiap Jum’at adalah inspirasi buatnya.
BACA JUGA : Gelombang Kopi Samarinda
Mengambil tempat di salah satu sisi gerbang masuk Universitas Mulawarman, Jum’at, 24 September 2021, sekelompok anak muda melakukan aksi bertajuk Climate Strike dengan tema Tolak Bala, Stop Bencana. Aksi ini dirangkaikan dengan peringatan Hari Tani yang jatuh pada hari yang sama.
Dengan tagline “Climate Strike – Tolak Bala Stop Bencana” aksi yang dilakukan oleh Bunga Terung ini tidak menyajikan banyak orasi melainkan lebih berisi penampilan seni baik tradisional maupun modern.
Pesan disampaikan lewat visual, baik pertunjukan ataupun poster, spanduk dan juga flyer.
Pilihan untuk menampilkan seni sesuai dengan filosofi gerakan yang diusung oleh Bunga Terung yakni Aksi Langsung Tanpa Kekerasan {Non Violence Direct Action}.
Lewat penampilan seni dalam berbagai bentuk, aksi ini hendak mengingatkan betapa kita terlalu tinggi menaikkan bendera industrialisasi sehingga dalam kehidupan bersama kita meninggalkan pakem-pakem lama yang adaptif, arif dan bijaksana pada alam.
Watak industri dalam memperlakukan sumber daya alam meninggalkan kedekatan dan penghormatan kita terhadap tanah, air dan udara. Kita menempatkan ekplotasi dan ekstraksi sumber daya alam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan melainkan menuruti keserakahan untuk menumpuk harta serta kekayaan. Semua hanya tentang keuntungan, bahkan keuntungan yang terbatas untuk kelompok tertentu seraya tak peduli mengorbankan kehidupan kelompok lainnya.
Dalam kosmologi tradisional, diyakini bahwa hubungan yang tidak baik dengan sesama, alam dan dunia gaib akan mengakibatkan bencana. Ini bukan soal kutukan melainkan konsekwensi karena dunia kemudian kehilangan harmoni atau keseimbangan.
Ketidakseimbangan itu begitu nyata sekarang ini. Contohnya soal air, di musim penghujan kita kelebihan air sehingga musim hujan berubah menjadi musim kebanjiran. Di musim kemarau kita kekurangan air sehingga musim kemarau berubah menjadi musim kekeringan.
Musim hujan dan musim kemarau yang adalah mekanisme keseimbangan alam, berubah menjadi bencana kembar, karena mempunyai akar penyebab yang saling tergantung satu sama lain. Dan bencana kembar ini kemudian akan diikuti oleh bencana lainnya yakni tanah longsor dan kebakaran lahan.
Kombinasi empat bencana iklim ini menjadi senjata yang mematikan yang menimbulkan bencana berikutnya yaitu ketidakadilan iklim. Masyarakat terutama kelompok paling miskin akan menjadi yang paling menderita karena bencana ini.
Selain masyarakat adat, kaum petani adalah kelompok lain yang paling menderita karena bencana iklim. Masyarakat adat dan petani yang sangat berkepentingan dengan lahan namun tidak mempunyai kekuatan politik untuk menetapkan kebijakan untuk penggunaan dan tata lahan.
Ruang hidup dan penghidupan mereka selalu dirampas atas nama pembangunan dan industrialisasi serta ekstraksi sumberdaya alam yang tidak berkelanjutan.
Bicara soal iklim, musuh utamanya memang industrialisasi yang berbasis pada energi fosil. Dan kekuatan industri jauh melebihi kekuatan negara atau pemerintahan. Pemerintah terutama di negeri-negara yang tidak kuat secara ekonomi akan sulit untuk menetapkan standard hijau bagi operasi-operasi industri. Alih-alih menekan industri pemerintah justru akan menggelar karpet merah untuk kedatangan investasi industri yang tidak ramah iklim sekalipun.
Kepada masyarakat, pemerintah selalu mengumbar janji bahwa investasi mendatangkan pembukaan lapangan kerja dan kesejahteraan pada masyarakat lokal.
Sebuah janji yang sulit dibuktikan keterwujudannya. Alih-alih mendatangkan kesejahteraan industri bahkan kemudian menggusur wilayah produktif warga, entah nelayan, petani atau masyarakat adat. Jikapun mereka dipekerjakan maka akan bekerja sebagai buruh dengan upah yang murah.
Masyarakat nelayan, tani dan adat tentu tak tinggal diam. Sebagian melawan, namun perlawanan mereka kerap berakhir dengan kriminalisasi. Mereka akan dianggap menganggu atau menghambat investasi, sebuah tuduhan yang kerap dengan cepat membuat aparat hukum cepat bertindak.
Sementara pelaku investasi yang merampas ruang produktif masyarakat tidak dengan cepat bisa dilaporkan sebagai perampok atau perampas lahan, sebab mereka beroperasi dengan ijin negara. Bahkan operasi tanpa ijin negara sekalipun juga tidak serta merta ketika dilaporkan akan segera membuat aparat bergerak.
Siapa yang akan bersolidaritas, menyuarakan kepentingan masyarakat kecil, petani, nelayan, masyarakat adat atas ketidakadilan iklim ini?.
Tentu saja orang-orang muda, mereka yang bebas dari konflik kepentingan. Mereka bisa menjadi kepanjangan tangan dan mulut kelompok yang tersisihkan agar terus bisa mengamplifikasi suara perlawanan dan tuntutan.
Aksi langsung tanpa kekerasan sebagaimana ditunjukkan oleh Greta dan Salsabila adalah pilihan untuk menyuarakan keprihatinan secara konsisten. Dan Bunga Terung secara konsisten juga melakukan aksi seperti itu, aksi cepat, tanpa kekerasan yang dipadukan dengan penampilan seni agar aksi tidak terprovokasi untuk menjadi kekerasan.
BACA JUGA : Mencari Kopi Samarinda
Salah satu yang menarik, diantara peserta aktif aksi ada beberapa anak-anak muda yang masih duduk di bangku SMA. Kehadiran siswa yang terlibat aktif ini menjadi pembuka harapan bahwa kelak di Samarinda akan lahir anak-anak muda peduli dan berani sebagaimana Greta dan Salsabila.
Siswa pada saat ini akan lebih mudah memahami krisis iklim sebab mereka terlahir di masa negeri ini telah dipenuhi oleh bencana akibat perilaku kebijakan dan perilaku manusia.
Sebagai korban iklim, mereka hanya perlu didorong untuk berpikir kritis dalam memandang persoalan ekologi dan menjadi agen untuk membawa pendidikan kritis dalam lingkungan pendidikan mereka.
Kebijakan pendidikan tentu saja tak lepas dari kebijakan negara. Maka sulit untuk berharap pada lingkungan pendidikan untuk bersikap kritis pada krisis iklim. Maka perlu siswa-siswa yang peduli dan kritis agar kemudian bisa mewarnai sekurangnya pada lingkungan sekolah dimana mereka menjadi peserta ajar.
Jika para guru sulit untuk didorong menjadi penyadar krisis ekologi, maka siswa-siswa peduli yang perlu dibekali dengan kemampuan untuk menjadi pendidik bagi kelompok sebayanya.
Akan jauh lebih mudah bagi para siswa untuk mempengaruhi siswa lainnya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penyelamatan lingkungan hidup dan iklim.
Kehadiran siswa di dalam aksi-aksi langsung adalah penting sebagai bentuk selebrasi untuk memupuk dan menyuburkan kepedulian. Namun sekaligus juga bentuk transfer pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana merancang dan melakukan aksi.
Sehingga kelak mereka sendiri bersama dengan rekan-rekan sebayanya akan merncang dan melakukan aksinya sendiri, sebuah aksi yang orisinil dan menginspirasi sebagaimana yang telah dilakukan oleh Greta dan Salsabila yang kemudian diikuti oleh rekan sebayanya.
Anak muda memang harus mempengaruhi anak muda lainnya untuk melawan dan menekan generasi diatas mereka yang kini berkuasa dan menentukan arah serta kebijakan pemerintah dan negara.
Teruslah melawan dengan gembira.








