Ketika hijrah untuk pindah dan tinggal di Samarinda saya datang sebagai peminum kopi. Masa-masa tinggal di Manado, sebelum pindah ke Samarinda adalah saat dimana saya bertumbuh menjadi peminum kopi.

Di Manado saya bukan hanya senang minum kopi saat di rumah atau di tempat tinggal melainkan juga rutin ngopi sore di Jalan Roda, sebuah gang di pusat kota tempat warung kopi berjejer dari satu ujung hingga ujung lainnya.

Orang Manado atau orang Sulawesi Utara pada umumnya memang peminum kopi. Mereka bangga pada kopi lokal mereka yang dikenal sebagai Kopi Kotamobagu. Kopi Kota demikian sebutannya adalah kopi yang dihasilkan oleh pekebun yang bertanam kopinya di kawasan Gunung Ambang. Kopi di sini ada sejak jaman kolonial Belanda yang dikebunkan dengan model tanam paksa.

Di Samarinda, saya tak segera bertemu dengan teman-teman pengopi. Alhasil selama bertahun-tahun, saya hanya minum kopimix di pagi hari dan kopi hitam di sore hari.

Nanti setelah ketemu gerombolan ngopi-ngopi, tempat nongkrongnya juga bukan warung kopi melainkan warung umum atau warung gerobak yang hanya menyajikan kopi sasetan. Pun juga tempat nongkrong lainnya seperti kantin kampus, kopinya juga kopi sasetan.

Sebuah artikel dengan judul Ko Abun : Godfather of Caffeine mengantar saya ke warung kopi yang sebenarnya. Artikel tulisan Tony Wahid di cikopi.com itu memberi jalan bagi saya untuk menemukan Warung Kopi Pelabuhan yang dikelola oleh Ko Abun yang mewarisi usaha orang tuanya. Usaha itu dikembangkan sejak jaman kakeknya di Sanga-Sanga.

Akhirnya saya menemukan warung kopi sebagaimana yang biasa saya kunjungi ketika di Manado dulu. Warung yang menyajikan kopi asli dan diseduh dengan saringan kain yang dibenamkan dalam air panas di teko kuningan yang berbadan tinggi.

Menemukan kedai kopi Ko Abun membuat saya bertanya soal adakah Kopi Samarinda. Namun diantara teman saya waktu itu tak ada yang bisa menjawabnya.

Dan dalam kunjungan kedua ke Warung Kopi Pelabuhan, akhirnya saya bisa berbincang dengan Ko Abun. Saya tanyakan soal Kopi Samarinda dan Ko Abun mengatakan sejak tahun 2000-an sudah tak lagi membeli kopi di pasar lokal. Kopi yang berasal dari pekebun di Samarinda dan sekitarnya.

Menurut Ko Abun mutu kopi di pasar lokal Samarinda menurun pada tahun 2000-an, banyak biji busuk dan kotoran lainnya ikut serta. Akhirnya Ko Abun mendatangkan kopi dari Malang, Jawa Timur sampai sekarang.

BACA JUGA : Menyeduh Kopi Dengan Air Biasa

Belum lama ini saya bertanya kembali soal Kopi Samarinda pada seorang teman yang mempunyai perhatian pada pertanian dan peternakan.

Pertanyaan yang tak salah alamat karena dia ternyata mempunyai ingatan bahwa perbukitan di seberang Pasar Segiri sebelum ditumbuhi rumah, dulu merupakan lahan tempat kakeknya bertanam kopi.

Dan kebetulan pula ternyata di Jalan Pramuka Gang 3, ternyata ada tetangganya yang dulu pernah berjaya sebagai produsen kopi bubuk.

Namanya Pak Sapuan, namun lebih dikenal dengan sebutan Pak Ateng. Pak Ateng ini dulu mempunyai rumah pengorengan dan pengilingan kopi, pabrik kopinya bernama KBA, kependekan dari Kopi Bubuk Asli.

Namun lagi-lagi karena yang punya adalah Pak Ateng, maka KBA kerap diplesetkan menjadi Kopi Bubuk Ateng.

Dimulai dari menjual bubuk kopi keliling dengan sepeda, usaha Pak Ateng kemudian berkembang hingga sampai mempunyai mobil boks untuk mendistribusikan kopinya hingga pelosok Kutai Kartanegara.

Di masa jayanya, Pak Ateng bisa berkali-kali menggoreng kopi dalam sebulan dan penggorengannya yang berbentuk tong yang digerakkan dengan mesin diesel mampu menampung kopi 60 kilo dalam sekali menggoreng.

Serbukan kopi kemasan membuat usaha Pak Ateng tidak bertahan. Namun sampai sekarang Pak Ateng masih menjual kopi bubuk, hanya saja tidak menggoreng sendiri melainkan dengan mendatangkan kopi yang sudah jadi dari Jawa Timur.

Ketika ditanya soal Kopi Samarinda, Pak Ateng tidak bisa memastikan kopi yang dibeli dari pedagang pengumpul kesemuannya berasal dari Samarinda. Dia lebih banyak menyebut beberapa di Kutai Kartanegara sebagai penghasilnya. Bahkan kemudian kopi biji yang diperdagangkan di pasar lokal Samarinda kemudian lebih banyak berasal dari Pulau Sulawesi.

Nampaknya jejak Kopi Samarinda memang kabur bahkan ketika ditanyakan pada seseorang yang tadinya mempunyai usaha pembuatan kopi bubuk asli.

“Masih ada seorang lagi yang bisa ditanyai,” ujar teman saya itu. Dia kemudian mengajak saya pergi ke Pasar Segiri.

Ternyata di dalam Pasar Segiri masih ada kios yang menjual bubuk kopi buatan lokal. Penjualnya kalau tidak salah bernama Haji Maturi.

Berjualan sejak dari tahun 1977, sampai sekarang Haji Maturi masih setia menjual bubuk kopi yang digoreng sendiri. Ada dua jenis kopi yang dijual yakni kopi bubuk asli dan kopi bubuk campuran. Dulu campurannya dengan beras namun sekarang campurannya adalah jagung.

Menurutnya penjualan kopi bubuk semakin hari memang semakin sepi.

“Orang sekarang lebih senang membeli kopi saset atau kopi kemasan,” ujarnya.

Saat ditanya apakah ada Kopi Samarinda, Pak Maturi juga tidak bisa memastikan. Sebab dia membeli biji kopinya dari pedagang pengumpul. Dan sepengetahuannya kopi yang dibeli olehnya untuk digoreng kebanyakan berasal dari Pulau Sulawesi.

Namun sesekali memang ada orang yang menjual kopi biji langsung padanya. Salah satunya berasal dari Prangat, Kutai Kartanegara.

Menemui dua pebisnis kopi lama namun kabut tentang Kopi Samarinda ternyata belum berhasil terkuak.

Teman saya yang sejak kecil dulu tahu tentang banyak kebun ditanami pohon kopi kemudian berteori. Menurutnya kopi dulu banyak ditanam di Samarinda oleh transmigran dari Jawa dan Sulawesi di kebunnya. Namun kopi itu ditanam untuk kebutuhan konsumsi sendiri sebab saat itu fasilitas jalan dan transportasi ke pasar atau pertokoan masih terbatas.

Jalan keluarnya adalah menanam kopi dan kemudian mengolahnya sendiri. Ketika berlebih baru kemudian dijual ke pasar. Jadi kopi ditanam bukan sebagai komoditas. Sehingga ketika muncul trend baru tanaman komoditas populer lainnya pohon kopi kemudian banyak ditebang dan diganti, salah satunya dengan tanaman coklat.

Dan pohon kopi yang masih tersisa dibiarkan begitu saja, karena sekarang membeli kopi kemasan jauh lebih mudah dan murah ketimbang mengolah dan membuat bubuk kopi sendiri.

BACA JUGA : Kopi Rasa Uang 

Kenapa saya seperti ngotot untuk mencari Kopi Samarinda?.

Sebenarnya ini soal rasa dan kebanggaan. Seperti pengalaman dahulu kala menyesap Kopi Kota di Manado, rasanya minum kopi lokal akan lebih mengena di hati. Akan tumbuh semacam kedekatan dan kebanggaan pada tanah dimana kita berpijak.

Memori seperti itulah yang tetap tumbuh dalam benak.

Dan beberapa tahun lalu ketika berkelana ke Jawa Tengah bagian tengah dan selatan, saya menemukan kecenderungan anak-anak muda yang membuka kedai kopi untuk memakai kopi yang berasal dari daerahnya sendiri.

Pada toples yang berjejer di meja bar sederhana berderet biji-biji kopi yang namanya terasa asing untuk saya. Tak ada Kopi Aceh Gayo, Bali Kintamani, Flores Bajawa, Kalosi Toraja dan lainnya, nama-nama yang sudah familiar bagi pengemar kopi.

Dan yang lebih mengagumkan, kedai-kedai kopi itu tak merasa harus menyajikan kopi arabika, mereka dengan bangga menjejerkan kopi lokal yang rata-rata adalah robusta.

Nah, mestinya Samarinda juga bisa, bisa mempunyai kopi lokalnya sendiri, Kopi Samarinda yang ditanam di Makroman, Lempake, Tanah Merah dan lain sebagainya.

Sehingga saat bisnis kedai kopi begitu semarak, menjadi salah satu elemen investasi yang berkembang para petani kopi bisa turut menikmati dan bangkit kembali untuk mengurusi kopinya.

Saya yakin putaran uang dalam bisnis kopi di Kota Samarinda saat ini lumayan besar. Terbukti dengan banyaknya ‘investor’ yang menopang pembukaan gerai-gerai baru yang dari tampilannya pasti membutuhkan modal bukan puluhan melainkan ratusan juta.

Sayangnya pusaran uang yang besar itu sebagian mesti dibelanjakan keluar karena sebagian besar bahan yang dibutuhkan untuk menyajikan segelas kopi kepada pelanggan berasal dari luar daerah.

Karena tak punya kopi sendiri, sebagian uang yang dibelanjakan oleh para pecinta kopi terbang keluar daerah. Sama seperti sumber alam lainnya, yang hasilnya lebih banyak menguntungkan mereka yang berada di luar sana.