Pandemi menggulung banyak bisnis atau sekurangnya membuat loyo hingga serasa ingin mati. Tapi selalu ada anomali, disaat satu hal mengkerut akan hal yang lain mekar bersemi.
Ditengah level PPKM yang naik turun seperti demam karena serangan malaria, bisnis kopi nampaknya stabil berkembang. Kopi nampaknya tidak terkontraksi oleh serangan Covid 19.
Di Samarinda, salah satu ruas jalan yang perkembangan kedai kopinya sangat terasa di saat pandemi adalah Jalan Siradj Salman. Kini ruas jalan yang sebelumnya kerap menjadi ajang ugal-ugalan anak motor di malam hari, setiap malamnya ramai dengan motor parkir di kedai kopi.
Keramaian di Siradj Salman karena hadirnya deretan kedai kopi menjadi salah satu penanda dari rangkaian gelombang kopi di Samarinda dalam waktu lima tahun belakangan ini.
Kopi yang sebelumnya dicitrakan sebagai minuman para orang tua dan tidak fancy kini sudah bertukar rupa, menjadi minuman anak-anak muda, teman ngobrol dan cerita bahkan hingga di kalangan anak-anak remaja tanggung.
Alhasil tidak ada satu ruas jalanpun di Samarinda yang terbebas dari kedai kopi. Kini kedai-kedai kopi bukan hanya ada di jalan protokol atau pusat perbelanjaan. Kedai kopi telah masuk bahkan hingga ke dalam gang-gang yang sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan akan menjadi tempat tongkrongan.
Satu lagi ‘prestasi’ yang perlu dicatat dalam hubungan antara kopi dan Kota Samarinda adalah keberhasilan kedai-kedai kopi merevitalisasi kawasan Citra Niaga.
Kawasan niaga yang pernah meraih penghargaan arsitektur Aga Khan Awards 1989. Waris Husain, walikota Samarinda saat itu yang mewakili menerimakan penghargaan itu di Kairo, Mesir.
Perlahan kawasan yang terdiri dari 141 ruko, 79 kios dan 24 petak dengan lahan terbuka berupa fasilitas jalan kaki, panggung pertunjukan, area parkir dan lainnya seluas 7.809 meter persegi itu kembali menjadi horor.
Kawasan yang dihiasi oleh menara khas berupa Burung Enggang yang bertengger diatasnya pada malam hari kerap menjadi tempat mangkal Pekerja Seks Komersil, perempuan dan waria.
Citra Niaga kemudian menjadi redup dan terlupakan.
Menjelang tahun 2020, sekelompok anak-anak muda yang bergerak dalam bisnis kuliner mulai membuka Kedai Kopi dan gerai lainnya di Citra Niaga. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyulap kawasan Citra Niaga yang kala malam temaram kemudian ramai dan terang benderang.
Citra Niaga kembali menjadi barometer, kehadiran kurang lebih 50 gerai makanan dan minuman menjadikan kawasan ini menjadi ikon tempat nongkrong kaum millennial.
Karena pandemi yang berkepanjangan geliat kebangkitan Citra Niaga menjadi agak tersendat. Akankah kemudian redup kembali semua masih perlu diuji oleh waktu. Yang pasti kopi tengah bersinar di berbagai penjuru Kota Samarinda, kalau kemudian ada yang meredup bisa jadi semua disebabkan oleh hal-hal yang tak berhubungan dengan kopi.
BACA JUGA : Mencari Kopi Samarinda
Dalam surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kartanegara sebagaimana termuat dalam De Kroniek Van Koetai dikisahkan tentang Maharaja Sakti dan Maharaja Sultan yang berkunjung ke Majapahit. Kakak beradik dari Kerajaan Kutai Kartanegara berkunjung kesana untuk belajar tentang tata pemerintahan dan adat istiadat keraton.
Saat berada di Majapahit kedua kakak beradik ini untuk pertama menikmati sajian minuman kopi. Mereka menjadi orang pertama dari Kutai Kartanegara {Kaltim} yang pertama merasakan kopi.
Entahlah sepulang mereka dari Majapahit membawa serta kopi atau tidak.
Namun catatan tentang kopi nanti muncul di Kesultanan Kutai Kartanegara pada sekitar tahun 1890-an. Kopi mulai ditanam di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara saat kebun-kebun kopi di Jawa redup akibat serangan hama karat daun.
Jenis kopi yang awalnya dikembangkan adalah Kopi Liberika dan kemudian disusul dengan Kopi Robusta.
Beberapa perusahaan Belanda saat itu mendapat konsensi. Area perkebunannya berada diantara Samarinda dan Tenggarong. Kopi ditanam di lahan yang berada di sepanjang pinggiran Sungai Mahakam dan Delta Sungai Samarinda. Selain itu ada juga konsensi yang berada di Sebulu, antara Tenggarong dan Muara Muntai.
Perkebunan kopi yang berada di Samarinda dikelola oleh Kutei Landbouw Maatschappij {KLM} atau Perusahaan Pertanian Kutai.
Dibandingkan dengan perkebunan kopi di Jawa, Sumatera dan Sulawesi, konsesi kopi di Kutai Kartanegara nampaknya kurang berhasil secara komersial. Hingga kemudian mulai tahun 1911, konsesi itu ditinggalkan.
Namun masih ada masyarakat yang menjaga atau terus memeliharanya. Sehingga kebiasaan meminum kopi tetap ada. Hingga di jaman penjajahan Jepang, kebiasaan itu masih ditemukan sebagaimana dituliskan oleh Sambas Wirahadikusumah.
Dalam buku Sejarah Daerah Kalimantan Timur {1978}, Sambas menuliskan “Hanya kurang lebih setahun setelah Jepang berkuasa, rakyat sudah terpaksa makan nasi yang bercampur singkong. Untuk minum kopi, kebanyakan digunakan gula merah sebagai pemanis. Sebab hanya orang yang bekerja pada kantor Jepang yang mendapatkan pembagian gula pasir. Itupun dalam jumlah yang terbatas,”
Hanya saja catatan sejarah itu menyangkut kebiasaan konsumsi kopi rumahan bukan soal kebiasaan minum di kedai atau warung kopi.
Kemungkinan besar kebiasaan masyarakat minum kopi di warung dimulai pada saat kaum imigram dari berbagai provinsi di bagian tenggara China berdatangan dan menetap di berbagai wilayah Indonesia.
Pada masa itu tekanan ekonomi di dalam negeri China memaksa sebagian masyarakatnya merantau ke wilayah Asia Tenggara.
Mereka mendatangi wilayah-wilayah pertambangan maupun perkebunan yang diusahakan oleh kaum kolonial untuk berdagang. Dan salah satu pilihan niaganya adalah membuka warung kopi, yang kemudian lazim dikenal sebagai kopi tiam, campuran antara bahasa melayu dan dialek China yang artinya warung kopi.
Kelak nama kopitiam memang menjadi nama dagang, namun berawal dari sebutan generik untuk warung kopi yang diusahakan oleh masyarakat keturunan China terutama di Malaysia dan Singapura.
Pada masa itu pemerintah kolonial berkepentingan dengan kehadiran kelompok masyarakat migran dari China ini. Mereka ditempatkan sebagai perantara ekonomi atau pedagang perantara antara pihak kolonial dengan pribumi.
Posisi ekonomi perantara kepada kelompok masyarakat China oleh kolonial dipandang lebih aman ketimbang menyerahkannya pada masyarakat pribumi. Kolonial bisa mengontrol kelompok masyarakat China dan menggunakannya untuk berhadapan secara langsung dengan pribumi.
Di masa awal pemerintahan orde lama, Presiden Sukarno cukup akomodatif kepada masyarakat keturunan China. Mereka diperbolehkan mengekpresikan kebudayaan dan keyakinannya. Namun pada tahun 1959 muncul peraturan yang tidak lagi memperbolehkan masyarakat keturunan China berdagang atau berniaga hingga di pedesaan.
Mereka tidak boleh berdagang di desa-desa hingga kecamatan, baru di tingkat kabupaten atau kota akan diijinkan. Sentiment anti China juga muncul pada tahun itu yang membuat banyak warga keturunan China akhirnya kembali ke negerinya. Yang tidak kembali kemudian juga harus eksodus dari desa dan kecamatan menuju Kabupaten atau Kota.
Dari perpindahan ini kemungkinan besar cerita Warung Kopi di Samarinda dimulai. Masyarakat migran dari China yang tadinya membuka warung kopi di Sanga-Sanga karena disana ada tambang minyak kemudian berpindah ke Kota Samarinda.
Dan di Kota Samarinda mereka meneruskan niaga kopinya dengan mengambil tempat di sekitar Pelabuhan Kota Samarinda.
Warung Kopi Pelabuhan yang dikenal sebagai Warung Kopi Ko’ Abun adalah salah satu yang masih bertahan bersama beberapa warung kopi lainnya seperti Warung Kopi Mekar Indah, Warung Kopi Timur Subur dan Warung Kopi Hainan.
BACA JUGA : Menyeduh Kopi Dengan Air Biasa
Sejarah kopi yang panjang membuat kopi kemudian dianggap sebagai minuman orang tua, kopi tampil begitu-begitu saja minim kreasi.
Kopi sebagai gaya hidup kemudian diperkenalkan lewat munculnya coffee shop. Di masa awal coffee shop biasanya ada di hotel-hotel ternama. Karena di hotel tentu saja harga kopinya mahal.
Coffee shop kemudian keluar dari hotel, berdiri mandiri atau berada di pusat-pusat perbelanjaan modern, supermarket, hypermarket atau mall. Gelombang kopi sebagai gaya hidup kemudian muncul di kalangan anak muda dengan kedatangan gerai kopi Starbucks dari Amerika.
Sukses Starbucks mengaet konsumen muda kemudian diikuti oleh gerai-gerai kopi lainnya seperti Excelso, Coffee Bean dan lainnya. Di Samarinda kemudian muncul juga Lope Coffee dan gerai lokal seperti Republik Coffee, The Orange, Whynot, Second Floor, Anima, Joint Kopi dan lain-lain. Kedai yang menyajikan menu kopi yang berbasis espresso.
Dan ketika batu akik terkenal atau mengalami booming, kopi juga mengalami hal yang sama dengan kemunculan kedai-kedai yang menyajikan kopi single origin. Kedai-kedai ini mengusung konsep seduh manual yang alatnya tidak semahal kedai-kedai espresso base.
Salah satu yang sejak awal muncul dan bertahan sampai sekarang adalah Kedai Kopi Nusantara. Kehadiran kedai kopi manual brewing ini kemudian juga memaksa kedai-kedai espresso base untuk menyajikan kopi single origin dengan metode seduh manual.
Bermula dari situ kemudian muncul kedai-kedai kopi baru, yang tempatnya bukan hanya di jalan protokol melainkan hingga ke dalam gang-gang. Bahkan di perumahan seperti rumah seduh dan roastery Semenjana. Muncul juga kedai yang menjual kopi di gerobak yang bisa berpindah-pindah. Salah satu yang terkenal bernama Sekoci Kopi.
Kedai kopi seduh manual kemudian identik dengan anak muda. Orang-orang tua yang terbiasa minum kopi konsesus lama yaitu kopi panas, legi dan kental tidak cocok berhadapan dengan kopi yang disajikan oleh kedai manual brewing, kopinya akan dianggap sebagai teh.
Setelah 3 sampai 4 tahun kedai Kopi Manual Brewing bertumbuh di Kota Samarinda, ternyata perkembangan kedai kopi tak terhenti. Bahkan muncul ledakan jumlah kedai-kedai kopi baru yang mengusung istilah Kopi Kekinian.
Kopi kekinian menyajikan resep kopi bertipe kopi cepat atau fast coffee. Bahan yang dipakai untuk meracik resep kopi umumnya sudah dipersiapkan jadi begitu ada yang memesan tinggal mencampurkan.
Pada gerai-gerai Kopi Kekinian, kopi dan minuman lainnya disajikan dalam gelas sekali pakai. Sehingga minuman bisa diminum di tempat atau dibawa pulang.
Kopi Kekinian memunculkan kedai kopi jaringan dan franchise baik nasional maupun lokal. Ada nama Kopi Kulo, Kopi Janji Jiwa, Kopi Janji Hati, Kopi Ruang Hati, Kopi Yor dan Kopiria serta banyak nama lainnya. Yang terkini dan langsung membuka beberapa gerai secara bersamaan di Samarinda adalah Kopi Kenangan.
Nama-nama gerainya memang ear catching, demikian juga dengan nama-nama resep atau menu minumannya. Segala sesuatunya berbau millennial.
Resep minuman yang rata-rata disertai oleh es, simple syrup, susu, cream dan aneka topping lainnya membuat resep Kopi Kekinian digemari bukan hanya oleh anak muda melainkan juga anak-anak remaja tanggung.
Salah satu yang paling digemari dari Kopi Kekinian adalah Es Kopi Susu Gula Aren.
Entah sudah berapa ratus kedai kopi di Samarinda mulai dari kedai klasik ala Ko’ Abun, kedai espresso base ala Starbuck, kedai manual brewing ala Kopi Nusantara dan kedai kopi kekinian ala Kopi Kenangan dan lain-lain.
Jumlah yang banyak tentu saja melahirkan persaingan meski setiap jenis kedai selalu mempunyai pengemarnya sendiri-sendiri.
Persaingan yang ketat sebenarnya akan menguntungkan untuk para pengemar dan calon pecinta kopi, karena akan mendapatkan sajian kopi-kopi terbaik. Masing-masing kedai juga akan mengembangkan signature-nya sendiri, keunikan dan kekhasan yang tidak semata-mata hanya berasal dari makanan dan minuman yang disajikan olehnya.
Ada kedai yang bernuansa piknik, bernuansa alam, bernuansa literasi, bernuansa gerakan dan lain-lain. Nuansa yang kemudian akan mewadahi gejolak dan gerakan dalam masyarakat.
Kedai kopi kemudian berkembang menjadi ruang publik yang jangkauannya lebih luas. Menjadi tempat berkumpul masyarakat yang bersemangat egaliter.
Semoga untaian dari satu gelombang kopi ke gelombang berikutnya bisa melahirkan revolusi untuk Kota Samarinda.








