Antara tahun 2001 – 2002, saya mengikuti sebuah konperensi kelompok antar iman yang diselenggarakan di Malino, Sulawesi Selatan.

Oleh panitian penyelenggara yang berada di Yogyakarta, saya diminta berangkat menyertai {Almarhum} KH. Arifin Assegaf, salah satu inisator utama dari Badan Kerjasama Antar Umat Beragama yang bermula dari Kota Manado.

Setiba di Makassar, kami transit lebih dahulu di sebuah hotel sebelum melalukan perjalanan menuju Malino dengan kendaraan darat.

Saya menggunakan kesempatan transit untuk istirahat, baring-baring di tempat tidur. Belum lama terlelah, KH. Arifin Assegaf membangunkan saya.

Lamat-lamat saya mendengar beliau berkata “Bangun dulu, minum kopi mumpung masih panas. Kopi rasa uang,”

Ada rasa tidak enak karena telah dipesankan kopi. Tetapi saya juga tak bisa menahan ketawa karena ucapannya, soal kopi rasa uang.

Saya tahu, itu karena harga yang harus dibayar untuk segelas kopi di hotel memang muahalll.

BACA JUGA : Private Manual Brewing 

Harga segelas kopi memang bisa mengagetkan, terlebih untuk yang terbiasa menyeruput kopi bubuk atau kopi sasetan yang dibeli dari warung.

Dan hotel memang menjadi awal dari munculnya coffee shop yang kopinya berasa uang. Orangpun maklum meski tak banyak yang kemudian tertarik untuk menyesap kopi di coffee shop hotel terkecuali kalau ada yang mentraktir.

Mulai tahun 2000-an muncul kedai kopi franchise dari luar negeri. Salah satu yang ternama adalah Starbuck. Sampai sekarang kedai ini masih terus bertumbuh dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan gerai terbanyak.

Sejak semula kehadirannya, masyarakat tahu kopi dan minuman lain yang dijual di Starbuck mahal harganya, berasa uang juga. Tapi orang maklum karena itu adalah harga yang harus dibayar untuk bergaya.

Kehadiran Starbuck dan kedai-kedai lain sejenisnya membuat minum kopi perlahan tumbuh menjadi gaya hidup di kalangan anak muda, terutama anak-anak muda yang berduit.

Setelah sepuluh tahun kehadiran kedai-kedai internasional, nasional dan lokal yang kopi dan minuman lainnya berbahan dasar espresso dengan mesin yang mahal, hadirlah kedai-kedai kopi manual brewing.

Kedainya lebih sederhana, alatnya manual, bahkan tidak sedikit diantaranya yang gilingan kopinya juga digerakkan oleh engkolan tangan.

Pilihan kopinya lebih banyak, setiap orang bisa memesan kopi kesukaan selama bijinya tersedia. Polihan cara seduhnya juga bermacam-macam, mulai dari rendam saring macam V60 atau Vietnam Drip, rendam tekan semacam Aeropress atau French press,  atau yang memakai panas dengan Mocha Pot atau Shypon.

Pesan kopi tubruk juga boleh, bahkan baristanya mungkin akan lebih senang karena waktu dan proses dan tahapan untuk menyajikan segelas kopi menjadi lebih pendek.

Soal harga, tentu saja juga masih lumayan mahal terutama untuk yang terbiasa mengkonsumsi kopi pabrik atau kopi sasetan.

Tapi harga yang lumayan mahal itu wajar saja sebab kopi manual brewing membutuhkan biji kopi single origin bahkan specialty kopi yang memang sudah cukup mahal ketika masih berupa biji.

Terlebih lagi biji yang umumnya dipakai untuk menghasilkan segelas kopi adalah biji kopi arabika, yang memang lebih mahal dibandingkan dengan biji kopi robusta.

Beberapa diantaranya akan semakin mahal dan eklusif karena dihasilkan oleh petani tertentu, pengolahan paska panen tertentu dan digoreng oleh roaster yang punya nama.

Ada rasa ada harga, itulah kopi. Harga yang harus dibayar bukan hanya untuk yang punya kedai dan baristanya melainkan juga jasa penyanggrainya serta petani yang menghasilkannya.

Dengan demikian demam kopi bukan hanya menguntungkan untuk para investor atau pebisnis coffee shop melainkan juga para petani kopi yang memelihara dan menjaga kopi seperti anaknya sendiri.

BACA JUGA  : Masih Pandemi, Festival 3 Danau Digelar di Atas Queen Orca Houseboat 

Menunggu segelas kopi manual brewing bisa bikin terkantuk, sebab kopi dibuat gelas demi gelas oleh baristanya tanpa bantuan mesin.

Untuk mereka yang bukan maniak kopi, mereka yang tengah mencoba-coba maka bakal merasa jenggah.

Tak mengherankan ketika muncul kedai fast kopi maka serbuan peminum kopi terutama peminum-peminum kopi baru yang rata-rata adalah anak ABG kemudian terkonsentrasi kepada kedai yang lazim disebut sebagai kopi kekinian.

Menyajikan aneka minuman kopi manis dan dingin, nampaknya menu-menu minumannya menjadi lebih cocok dengan lidah dan cuaca negeri ini yang semakin panas.

Soal harga, nampaknya relative lebih murah.  Tapi juga tak murah sekali sebab kopi kekinian umumnya butuh susu segar yang memang harganya tidak juga murah.

Kopi kekinian segera dengan cepat menumbuhkan jemaah baru peminum kopi, sebab kedai-kedai kopi ini umumnya fasih melakukan pemasaran digital. Mereka selalu mempunyai akun-akun media sosial official untuk terus berkomunikasi dengan pelanggannya.

Lewat media sosial mereka akan mengabarkan program-program promosi yang bisa membuat mereka yang tak sedang ingin minum kopi akhirnya membeli, sebab diiming-imingi bayar satu dapat dua, atau harga paketan lainnya yang memungkinkan untuk minum ramai-ramai.

Kopi memang sedang gurih-gurihnya. Ada putaran uang besar dalam dunia kopi yang sedang bertumbuh. Meski untuk memulai bisnis kedai kopi tak selalu butuh uang yang besar, namun nampaknya yang menginvestasikan uang lebih besar punya kesempatan lebih besar pula untuk memenangkan hati pelanggan.

Jadi kopi memang sedang berasa uang.