Ketika handphone belum dilengkapi dual SIM, banyak orang kerepotan menenteng telepon genggamnya karena kemana-mana harus membawa dua sampai tiga HP.
Kini HP yang lebih dikenal sebagai smartphone umumnya dual SIM. Walau begitu masih saja ada orang yang membawa dua sampai tiga smartphone plus satu power bank. Punya banyak smartphone dan semuanya aktif menunjukkan orang itu banyak urusan. Tapi bisa jadi karena ada sesuatu yang harus disembunyikan. Tidak semua smartphonenya akan digeletakkan di meja rumah, apalagi jika sang empunya sudah bersuami atau beristri.
Banyak smartphone bisa jadi sebuah pertanda ada banyak kebohongan disana.
Jangankan tiga, punya satu smartphone saja bisa membuat kita kerap melakukan kebohongan. Yang paling umum terjadi ialah kebohongan saat bercakap-cakap melalui aplikasi pertukaran pesan.
Ada tiga huruf yang lazim dipakai untuk berbohong yaitu OTW.
OTW adalah singkatan dari On The Way. Mengirim pesan itu berarti kita menyampaikan ke orang lain bahwa kita sudah di jalan, sudah dekat dan sebentar lagi sampai.
Tapi OTW yang kita terima atau kita kirim tidak selalu begitu faktanya. Janjian dengan orang, sudah ditunggu-tunggu walau belum mandi saat ditanya sudah sampai mana, kita berani-beraninya membalas sudah OTW.
OTW memang pendek, tapi tidak sependek kebohongan kita.
Tiga kata itu berakar dalam pada mentalitas kita kebanyakan orang Indonesia yang tidak menghargai waktu, suka ngaret. Juga kebiasaan kita untuk mudah berjanji, obral janji. Kebiasaan itu berawal dari kalangan elit. Dulu kaum bangsawan, kalau sekarang adalah politisi.
Mentalitas hipokrit ini kemudian berkembang luas, diadaptasi oleh masyarakat banyak. Bohong kerap kali jadi pilihan untuk menyelesaikan persoalan dengan cepat. Lebih baik bohong ketimbang harus berterus terang.
Bohong mungkin dalam beberapa hal tidak akan menyakitkan atau merugikan orang lain. Tapi dalam hal-hal tertentu kebohongan bisa berakibat fatal. Ada sesuatu yang penting tidak segera bisa dilaksanakan gara-gara OTW. Ada janji-janji penting kemudian batal hanya gara-gara OTW. Ada sesuatu tak jadi terbeli hanya karena terus menerus menerima pesan OTW. Pendek kata OTW bisa bikin kehidupan orang lain jadi ambyar.
Jadi jangan sepelekan OTW. Mulailah kendalikan jari agar tak gampang memencet tiga huruf itu untuk memberi harapan palsu pada mereka yang sedang menunggu kita. Jangan memberi rasa senang sesaat dengan kata OTW. Jauh lebh baik berterus terang “Sorry, masih di rumah. Tak mandi dulu ya baru kesitu,”.
Berterus terang kalau belum bersiap mungkin akan membuat mereka yang punya janji dengan kita sedikit kecewa, namun kita memberi kepastian. Ketimbang kita mengatakan OTW padahal belum bergerak, sementara yang disana sudah menunggu penuh harap.
Tapi bukan hanya OTW yang sering kali membuat orang frustasi menunggu. Pesan balasan macam ‘Siap segera meluncur’ terkadang sama saja seperti OTW. Mengatakan siap meluncur, padahal ternyata meluncur ke tempat tidur. Kita tertidur di kasur, dia yang menunggu terkantuk-kantuk di bangku warung kopi sendirian.
Dan besok pagi ketika sebuah pesan berisi komplain terbaca, tanpa rasa bersalah dan berdosa, kita balas dengan mantera “Sorry ya bro, tadi malam tertidur,”
kredit foto : Lhor Malytsky – unsplash.com








