KESAH.ID – Amerika Serikat, negeri kampiun demokrasi ternyata sedang pusing menghadapi Tik Tok. Berupaya membujuk Tik Tok agar menjadi perusahaan Amerika namun gagal. Para wakil rakyat disana kini sedang berupaya untuk membuat kebijakan yang melarang Tik Tok beroperasi di Amerika Serikat. Jika terjadi, ini akan menjadi catatan sejarah dimana ada sebuah aplikasi dilarang operasinya di Amerika Serikat.
Di negeri asalnya Tik Tok justru tidak terkenal, aplikasi berbagi video pendek yang dikenal disana bernama Douyin. Aplikasi kembar ini dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal China, Bytedance.
Sebelum lahir Douyin dan Tik Tok sebenarnya lebih dahulu ada aplikasi serupa yakni musical.ly, namun aplikasi ini kemudian diakuisisi oleh Bytedance dan kemudian diagregasi dengan Tik Tok.
Tik Tok yang diluncurkan sejak tahun 2016 dan mulai terkenal di Indonesia semenjak tahun 2018 kemudian merubah peta persaingan media sosial. Facebook, Instagram, Youtube dan Twitter yang sebelumnya sudah merasa mapan kemudian merasa “Tidak ada yang terlalu besar untuk diruntuhkan”.
Popularitas Tik Tok mulai mengerogoti pertumbuhan pemakai media sosial lainnya. Facebook mulai kehilangan pemakai baru dan twitter juga macet pertumbuhannya.
Facebook dan Instagram yang berada di bawah Meta kemudian meluncurkan fitur baru serupa Tik Tok yakni Reel. Demikian juga dengan Youtube yang kemudian meluncurkan You Tube Short. Sedangkan Twitter kebingungan bahkan ketika diambil oleh Elon Musk malah masa depannya semakin jeblok.
Popularitas Tik Tok tidak bisa dibendung, pertumbuhan aplikasi video pendek ini meroket. Di Indonesia dalam catatan We Are Social dan Hootsuite angka pemakainya telah mencapai 109.9 juta dan terus masih bertumbuh karena generasi tua yang setia dengan Facebook mulai tergoda untuk memakainya.
Per Januari 2023, angka pemakai Tik Tok di tingkat global telah mencapai angka 1,05 milyard. Memang masih separuh dari pemakai Facebook, namun sudah mendekati jumlah pemakai Instagram dan telah melampaui hampir tiga kali lipat pemakai Twitter.
Meski berasal dari negeri yang secara politik, ekonomi dan teknologi menjadi pesaing Amerika Serikat, ternyata pemakai Tik Tok terbesar di dunia justru berasal dari sana. Jumlah pengguna Tik Tok di Amerika Serikat pada awal tahun 2023 ini mencapai 113,25 juta.
Di Indonesia Tik Tok pernah diblokir sementara pada tahun 2018, atas hasil pemantauan dari tim Kominfo dan laporan dari masyarakat dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
Tik Tok diblokir karena dianggap banyak berisi konten negatif terutama untuk anak-anak. Tik Tok saat itu identik dengan video joget-joget dengan gerakan dan menonjolkan bagian tubuh tertentu sehingga dianggap tidak senonoh.
Dan setelah blokir sementara dibuka kembali, Tik Tok kemudian melahirkan kreator-kreator populer hingga kemudian Tik Tok menjadi alat yang ampuh untuk melakukan kampanye, sosialisasi, promosi dan pemasaran. Apa yang viral di Tik Tok kemudian akan viral di media sosial lainnya.
Untuk para pelaku {penjual dan pembelanja} online, Live Commerce Tik Tok amat populer. Belanja menggunakan fitur live streaming di Tik Tok telah mengungguli Shopee, Lazada, Instagram, Facebook dan Youtube.
Di Amerika Serikat para pengguna Tik Tok pernah mengecoh Donald Trump dan tim kampanyenya. Para pengguna Tik Tok disana mem-php Donald Trump dengan ramai-ramai mengisi formulir untuk datang dalam kampanye Trump. Padahal mereka tak berniat datang.
Menjelang hari H kampanye, manajer kampanye Trump terus tersenyum sumringah. Ada 1 juta formulir permohonan untuk hadir. Namun ternyata BOK Centre yang menjadi lokasi kampanye dengan daya tampung hanya 19.000 orang hanya terisi tak sampai separuh. Akibatnya Trump batal memberikan pidatonya.
Trump dan tim kampanyenya dikecoh oleh anak-anak muda Amerika Serikat yang memakai Tik Tok untuk menyampaikan keinginan ramai-ramai datang ke kampanye, padahal mereka memalsukan reservasi.
BACA JUGA : Tanpa Marc Marquez, GP Argentina Jadi Tempat Latihan Murid Rossi
Donald Trump kemudian memusuhi Tik Tok untuk menyatakan hal itu, dia kemudian membuka akun di Triller, aplikasi sejenis Tik Tok yang berasal dari Amerika Serikat.
Upaya untuk menghapus Tik Tok dari Amerika Serikat juga terus dilakukan, termasuk mendorong perusahaan teknologi asal Amerika Serikat untuk membeli atau mengakuisinya.
Propaganda Trump untuk menghapus Tik Tok dari Amerika Serikat nampaknya berhasil mempengaruhi anggota DPR Amerika Serikat. Dalam soal Tik Tok, Fraksi Republik dan Demokrat sama-sama sepakat, setuju kalau Tik Tok dilarang di Amerika Serikat, kecuali Tik Tok mau menjadi perusahaan Amerika Serikat.
Jarang dua fraksi di DPR Amerika satu suara. Namun Tik Tok berhasil menyatukan kepentingan karena alasan keamanan data, demi keamanan masa depan anak-anak Amerika Serikat.
Para wakil rakyat Amerika Serikat mengkhawatirkan keamanan data di Tik Tok. Sebagai perusahaan nasional di Tiongkok, Tik Tok harus tunduk pada kebijakan pemerintahnya yang komunis. Anggota DPR Amerika Serikat yakin pemerintahan komunis dengan mudah akan mematai-matai atau meminta data dari perusahaan nasionalnya.
Namun ditengah koor teriakan setuju untuk melarang Tik Tok di Amerika Serikat ternyata ada satu suara yang berbeda. Alexandria Ocasio Cortez, anggota Fraksi Partai Demokrat yang berasal dari daerah pemilihan New York menyatakan tidak setuju.
“Tidak seharusnya Tik Tok dilarang. Amerika belum pernah melarang satu pun Apps,” ujarnya.
Soal keamanan data, Alexandria mengatakan melarang bukanlah pilihan, yang harus dilakukan adalah mencari cara bagaimana mengamankan data itu.
Di Amerika setiap anggota DPR boleh punya suara berbeda dengan fraksinya. Tak perlu takut berbeda pendapat karena tak akan membuat dirinya dicopot dari jabatannya. Setiap orang boleh punya pendapat masing-masing, bisa membuat koalisi atau grup untuk mengusung atau mengusulkan isu tertentu. Namanya kaukus kepentingan.
Tidak seperti di Indonesia, dimana suara anggota DPR harus sejalan dengan suara fraksinya. Suara yang ditentukan oleh ‘boss’ atau pimpinan partai. Berbeda suara artinya membangkang dari garis partai dan bisa diganti atau di-paw, dengan alasan yang dicari-cari.
Mengikuti garis perintah [pimpinan] partai diungkap gamblang oleh Bambang Pacul saat rapat dengar pendapat dengan Menko Polhukam Mahfud MD.
Mahfud yang meminta anggota DPR untuk segera mengesahkan RUU Penyitaan Aset ditanggapi oleh Bambang Pacul salah alamat. Menurutnya permintaan itu harus disampaikan ke ‘boss’-nya. “Kalau boss setuju kami ya pasti setuju,” begitu katanya.
Andai kemudian Tik Tok dilarang tentu akan membuat perusahaan teknologi Amerika Serikat senang. Facebook dan Instagram sudah punya Reels dan Youtube sudah punya Youtube Short.
Tapi alangkah jenakanya jika sampai Amerika Serikat melarang Tik Tok. Kedudukannya sebagai kampiun demokrasi akan tercoreng. Melarang Tik Tok artinya Amerika Serikat akan sekelas India.
Inggris dan Kanada memang melakukan pelarangan, namun bukan Tik Tok yang dilarang melainkan pemakaiannya oleh pegawai negeri atau instansi pemerintahnya.
Soal data memang sensitif bagi pemerintah Amerika Serikat, karena pemerintah Amerika Serikat tidak bisa menambang data dari aplikasi media sosial di China. Masalahnya pemerintah China melarang penggunaan aplikasi media sosial dari negeri manapun selain negerinya sendiri.
Kalah tadah itu membuat pemerintah dan wakil rakyat di Amerika Serikat menjadi baper.
Namun kalau ditelusuri lebih jauh sebenarnya kekhawatiran itu bukan soal aplikasinya berasal dari negeri lain. Tik Tok kemudian dikhawatirkan lebih karena pemerintahan Tiongkok itu komunis. Dan seperti di Indonesia, di Amerika Serikat sana, komunisme masih tetap dianggap sebagai hantu yang menakutkan.
BACA JUGA : Esuk Dhele, Sore Tempe
Untung saja di Indonesia, Tik Tok tak dikait-kaitkan dengan komunisme apalagi keamanan data sehingga kreator dan penikmat konten Tik Tok bisa bebas mengekspresikan diri, terus terhibur dengan aneka konten jenaka.
Tapi diluar itu larang melarang soal isme-isme di Indonesia sudah biasa. Marxisme yang dulu buku-bukunya dibaca dan dipelajari oleh para pendiri bangsa sudah lama dilarang peredarannya. Pun demikian dengan komunisme, yang dilarang bukan hanya ajarannya tetapi juga materi-materi apapun yang berhubungan dengannya.
Sebenarnya bukan hanya atheisme, komunisme, sosialisme, marxisme yang dilarang melainkan juga religiusisme, lesbianisme, homosekisme dan lain-lain.
Jangankan mengajarkan atau menyebarluaskan, memakai simbol-simbol yang berhubungan dengan hal-hal itu di topi, baju, stiker, poster dan lainnya juga dilarang serta bisa dipidanakan.
Terlebih soal marxisme, yang kemudian dihubungkan dengan atheisme, sosialisme dan komunisme. Pemerintah bahkan merasa perlu membuat berbagai macam kegiatan untuk mengingatkan bahayanya. Dimulai dari orde baru yang membuat film G30S/PKI, film yang kemudian terus menerus diputar di stasiun televisi selama bertahun-tahun, bahkan sampai ada yang menyelenggarakan nonton bareng.
Padahal konon setelah menonton film itu banyak anak-anak kemudian main PKI-PKI-an, soalnya enak bisa memukuli dengan seenaknya. Akibatnya tak ada lagi yang dalam permainan mau berperan sebagai Jenderal, sebab lebih asyik jadi PKI, karena akting menghajar orang paling gampang dilakukan. Semua mau jadi PKI.
Anak-anak hanya menganggap PKI, komunisme jadi mainan. Tapi masih banyak orang dewasa yang menganggap PKI masih menakutkan, akan bangkit lagi.
Padahal dimana-mana yang disebut dengan marxisme, komunisme, baik sebagai paham, ideologi atau praktik politik jaman keemasannya sudah lewat. Para akademisi juga sudah semakin kurang antusias untuk membahasnya. Mungkin masih dipelajari namun sebagai sebuah teori klasik yang wajib dikenali oleh mereka yang hendak mendalami ilmu sosial politik ekonomi dan budaya.
Dan sebagai pelajaran atau banyak bacaan, Marxisme, Komunisme, Islamisme, Zionisme dan lainnya sama saja dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Sama dengan pelajaran menulis, diikuti hampir oleh semua murid tapi hanya segelintir yang benar-benar akan jadi penulis.
Kita memang terbiasa lebay. Seperti sapiens yang pada umumnya heteroseksual namun kemudian terancam dengan munculnya sapiens lain yang homoseksual. Lalu ribut seolah karena mereka dunia terancam, mau kiamat.
Dan untuk memelihara keterancaman yang tidak terlalu beralasan itu kemudian dikarang-karang cerita. Cerita yang sangat sederhana seperti “Manusia akan jadi serigala kalau dipelihara dan dirawat oleh serigala,”.
Padahal yang ada anak manusia itu akan mati kalau dirawat serigala, karena serigala tak punya kemampuan untuk merawat manusia.
Yang punya kemampuan merawat dan memelihara mahkluk lainnya itu manusia. Dan pengalaman saya, yang pernah memelihara ayam, kucing, anjing, kambing, burung dan yang lain-lainnya tak ada satupun dari mereka kemudian jadi manusia seperti saya.
Saya yang malah saya kadang-kadang diteriaki anjing kamu atau babi lu oleh teman saya yang jengkel. Tapi ya sudah, toh biar dianjing-anjingkan atau dibabi-babikan, saya tetap saja manusia.
note : sumber gambar – BBC.COM








