KESAH.IDKolak, kue lapis, agar-agar, pudding, lumpia, risoles, martabak mini dan aneka es buah segar maupun sirup menjadi lazim sebagai santapan untuk berbuka puasa. Aneka makanan itu menghiasi lapak Pasar Ramadhan yang seolah menjadi pasar wajib di bulan puasa. Setiap daerah punya Pasar Takjil unggulannya masing-masing. Pasar Takjil telah berkembang menjadi salah satu budaya nasional kontemporer di Indonesia.

Hari ini kalau tidak salah hitung sudah memasuki hari ke 19 puasa Ramadhan. Seperti biasanya saya sering ikut berbuka puasa, sebagai wujud toleransi dan silaturahmi yang paling mudah serta menyenangkan.

Sampai dengan dua atau tida tahun lalu setiap kali bulan puasa, saya juga selalu jadi teman untuk ngopi-ngopi siang jika ada kawan yang jebol puasanya. Namun tahun ini seingat saya baru satu orang  yang mengajak ngopi siang-siang, itupun batal karena keburu hujan deras.

Kebiasaan lain yang sering saya lakukan di bulan Ramadhan adalah pergi ke pasar Ramadhan di waktu injury time, saat-saat menjelang berbuka puasa. Pada waktu itu biasanya beberapa jenis takjil yang tidak awet akan dibanting harganya.

Pasar Ramadhan selalu menarik untuk dikunjungi karena sering kali bisa ditemukan makanan-makanan yang tidak selalu ada di hari-hari lainnya. Salah satu yang selalu saya rindukan adalah buntil, semacam pepes yang berisi parutan kelapa berempah yang dibungkus dengan daun talas.

Tapi buntil yang saya temukan di pasar Ramadhan Samarinda, dibungkus dengan dua ketela atau daun pepaya.

Jangankan di Samarinda, di Jawa Tengah saja mencari buntil daun talas sudah susah, seperti menemukan jarum di tumpukan jerami.

Sejak hari pertama puasa, istri saya sudah memberi sinyal untuk pergi ke pasar Ramadhan mencari buntil. Tapi saya malas-malasan karena punya feeling bahwa tak ada lagi yang menjualnya.

Berkali-kali melewati beberapa lokasi pasar Ramadhan yang sebagian sudah mulai ramai selepas tengah hari, dari amatan sekilas atas apa yang ada diatas meja lapak nampaknya yang dijual hampir sama dengan berbagai jenis makanan yang dijual sehari-hari.

Semenjak masa pandemi Covid 19 memang ada kecenderungan bisnis kuliner bertumbuh dengan pesat. Dimana-mana muncul lapak jualan, yang menyajikan makanan dan minuman aneka rupa semenjak dari pagi, siang hingga malam hari.

Beberapa ruas jalan di Kota Samarinda bertumbuh menjadi pusat kulineran mulai dari lapak sederhana hingga berupa bangunan dengan desain yang kekinian, minimalis industrial. Rasanya tak ada bangunan dan tanah kosong yang dibiarkan begitu saja, semua dipakai untuk jualan makanan dan minuman.

Di dekat rumah saya pada lahan yang dipasang papan peringatan oleh BPBD sebagai kawasan rawan longsor, persis di papan pemberitahuan itu beberapa orang tengah giat bekerja mendirikan bangunan. Dari penampakan sekilas bangunan yang memakai atap daun daun nipah itu akan menjadi kedai makan minum.

Warung, kedai, rumah makan atau restoran tak lagi dibangun di ruas-ruas jalan besar, semua sudah merangsek hingga jalan kecil, jalanan permukiman di dalam-dalam gang. Istilah kerennya hidden place atau hidden gems.

Tempat-tempat seperti ini yang justru sering didatangi oleh pengunjung. Makan dan minum disini mungkin sensasinya berbeda, selain itu foto-foto hasil jepretannya bakal lebih menarik jika diposting di media sosial.

BACA JUGA : Tik Tok Komunis

Kembali ke soal takjil, merunut dari makna awalnya berasal dari bahasa Arab ta’jil.  Artinya mereka yang berpuasa sebaiknya segera berbuka {membatalkan puasa} saat magrib tiba dengan menu yang mudah didapatkan. Sesuai tradisi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah segelas air putih dan kurma.

Namun dalam khasanah budaya Nusantara, ta’jil yang artinya menyegerakan berbuka kemudian berkembang maknanya menjadi makanan untuk berbuka puasa.

Tidak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi takjil yang kemudian memunculkan kampung atau pasar Ramadhan, tempat dimana lapak-lapak penjual makanan buka puasa menjadi ciri khas bulan Ramadhan.

Dalam catatan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda berjudul De Atjehers, dia mengatakan tradisi takjil ada masyarakat Aceh yang membatalkan puasa dengan menyantap e bu peudah atau bubur pedas di masjid.

Sejarah takjil juga sering dilekatkan dengan Wali Sanga, penyebar ajaran Islam Nusantara. Para Wali dikenal melakukan syiar Islam melalui budaya-budaya lokal. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga yang berdakwah lewat wayang.

Untuk memperkenalkan puasa, para Wali mempopulerkan takjil lewat hidangan lokal. Konon yang dipilih adalah kolak.

Kolak diyakini berasal dari kata Arab khaliq yang artinya pencipta alam semesta atau Tuhan.

Pemaknaan ini didasari atas bahan-bahan pembuat kolak.

Bahan dasar pembuat kolak adalah pisang kepok. Berasal dari kata kapok, yang artinya jera. Maka berpuasa dimaksudkan sebagai cara atau jalan untuk menyatakan jera atau tobat, tidak melakukan lagi kesalahan-kesalahan atau dosa yang dahulu dilakukan.

Selain pisang kepok, bahan lainnya adalah ubi atau telo pendem. Maka laku puasa adalah untuk memendam dalam-dalam segenap kesalahan di masa lalu, dosa-dosa yang telah dilakukan.

Pisang dan ubi kemudian dimasak dengan santan atau santen. Santen berasal dari kata pangaputen atau mohon maaf, meminta ampunan.

Maka membuat dan menyantap kolak di bulan puasa menjadi pertanda dari keinginan atau niat untuk menyatakan pertobatan, membuang cacat cela hidup dengan mengubur dalam-dalam untuk memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.

Tak mengherankan jika kemudian kolak menjadi salah satu takjil yang paling populer hingga saat ini.

Jika tradisi memasak bubur di masjid untuk berbuka bersama sudah menjadi kebiasaan semenjak lama, bukan hanya di Aceh namun juga di daerah lainnya, lalu kapan gelaran jualan takjil yang kemudian dikenal sebagai Pasar Ramadhan bermula?.

Tidak ada catatan yang pasti namun salah satu Pasar Ramadhan yang terkenal di Yogyakarta yakni di Kampung Kauman sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Awalnya yang berjualan hanya dua orang pedagang, bahkan di tahun 1994 masih berkisar empat pedagang, baru memasuki tahun 2000-an kemudian digarap lebih serius oleh pengurus RW-nya.

Salah satu makanan khas yang disajikan di Pasar Ramadhan Kauman adalah kicak, yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa.

Kini masing-masing kota mempunyai Pasar Ramadhan yang terkenal. Di Jakarta ada Pasar Ramadhan Bendungan Hilir atau Benhil yang mulai muncul sejak tahun 1985. Pasar ini digagas oleh Forum Peduli Bendungan Hilir, dimulai dengan 15 pedagang hingga memasuki tahun 2000-an jumlahnya sudah ratusan.

Pasar Ramadhan yang unik ada di Kota Kupang, puluhan pedagang takjil mengelar dagangan di jalanan depan Gereja Katredral Kristus Raja, Kota Kupang.

Tradisi pasar takjil ini selain mempermudah mereka yang menjalankan puasa untuk berbuka, juga memperkuat geliat ekonomi masyarakat, terutama pedagang kecil. Banyak orang kemudian bisa berjualan, memanfaatkan momen bulan puasa untuk meraup rejeki tambahan untuk merayakan lebaran.

BACA JUGA : Tanpa Marc Marquez, GP Argentina Jadi Tempat Latihan Murid Rossi

Pengalaman saya dengan Pasar Ramadhan seperti lazimnya yang ditemukan saat ini terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Pada masa kecil saya di Purworejo Jawa Tengah seingat saya masing-masing rumah biasanya membuat takjil sendiri, yang dijual di pasar atau warung adalah bahan mentah seperti cendol, cincau, kolang kaling dan lainnya. Kalaupun ada yang berjualan takjil biasanya hanya membuka lapak di depan rumah, jumlahnya juga tak banyak.

Tapi di Manado waktu itu sudah berbeda, setiap kali bulan Ramadhan di kampung-kampung yang banyak dihuni oleh warga muslim, selalu ramai dengan orang berjualan. Deretan lapak penjual takjil biasanya ada di sekitar lapangan atau di dekat masjid.

Sesekali saya singgah atau mampir di Pasar Ramadhan yang ada di daerah Kampung Ternate, Ketang Baru dan Kampung Arab. Tapi lebih sering saya ikut nongkrong dengan kawan-kawan yang berbuka puasa di Jalan Roda.

Jalan Roda adalah lorong yang terletak di pusat kota Manado yang di kanan-kirinya berderet warung kopi. Di Jalan Roda, pengunjung biasanya akan berbuka puasa dengan menyantap sepiring bubur.

Ketika saya pindah ke Samarinda, ternyata memasuki bulan Ramadhan juga ramai dengan munculnya Pasar Ramadhan, makin tahun makin banyak.  Ada yang bertumbuh secara organik, ada pula yang dikelola oleh ormas, pengurus RT dan lain-lain.

Umumnya Pasar Ramadhan mengambil tempat di sisi kanan kiri jalan, sebagian berada di dekat masjid. Seingat saya salah satu yang ramai berada di jalan Kadrie Oening dan Kusuma Bangsa lalu sekitar tepian Sungai Karang Mumus mulai dari Jalan Tarmidi, Abdul Muthalib hingga Muso Salim. Termasuk Kampung Wadai yang ada di Jalan Biawan.

Namun lama kelamaan yang berada di Jalan Kusuma Bangsa kemudian ditertibkan dan dipusatkan di depan halaman GOR Segiri. Kini Pasar Ramadhan GOR Segiri kemudian menjadi lokasi Pasar Ramadhan resmi dalam versi Pemerintah Kota Samarinda.

Makan tahun makin ramai dan yang dijual bukan hanya makanan pembuka puasa melainkan juga barang-barang lainnya, bahkan dilengkapi dengan panggung hiburan dan arena bermain untuk anak-anak.

Konon selama sebulan pelaksanaan Pasar Ramadhan GOR Segiri, omzet atau uang yang berputar bisa mencapai 5 milyard lebih.

Meski telah dipusatkan di GOR Segiri keberadaan Pasar Ramadhan di titik-titik yang lain juga tidak surut seperti yang ada di sepanjang Jalan KS. Tubun, Jalan SIradj Salman dan juga Jalan Juanda.

Di jalan Juanda bahkan sejak tengah hari ada satu titik penjual takjil yang membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar. Namun tak jauh darinya, sebuah lokasi yang disiapkan oleh Partai Politik yang identik dengan warna biru, kios atau standnya kosong melompong. Dari puluhan stand yang disiapkan hanya terisi dua atau tiga booth saja.

Pasar Ramadhan yang berada di GOR Segiri bisa menampung ratusan pedagang. Tidak semuanya pedagang musiman. Banyak kios yang ditempati oleh kedai, warung atau resto mainstream, nama-namanya telah dikenal oleh publik. Mereka membuat kios di Pasar Ramadhan bisa jadi untuk menutupi penurunan omzet di tempat jualan biasanya.

Dengan semakin bertumbuhnya kawasan dan komunitas urban, nampaknya semakin tahun Pasar Ramadhan akan semakin semarak. Membuat atau mempersiapkan takjil sendiri dirasa menjadi kurang praktis, memakan waktu bahkan mungkin juga biaya, membeli menjadi lebih praktis dan banyak pilihannya.

Pada satu sisi puasa adalah sebuah laku untuk menahan diri, membentengi diri dari aneka nafsu. Namun pada sisi pengeluaran nampaknya pada bulan puasa pengeluaran menjadi semakin banyak.

Secara ekonomi memang biasanya memasuki bulan puasa akan ada kenaikan harga pada komoditas tertentu karena naiknya permintaan. Namun di bulan puasa biasanya juga muncul diskon-diskon atau promo untuk produk tertentu yang membuat orang kemudian tergoda untuk membeli.

Belanja juga meningkat di bulan puasa karena sebagian warga memperoleh Tunjangan Hari Raya.

Namun yang paling membuat masyarakat menjadi boros adalah belanja takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Selain itu banyak juga yang kemudian mengadakan buka puasa bersama. Dan umumnya buka puasa tidak dilakukan di rumah teman, kerabat atau saudara melainkan di café, resto atau tempat komersial lainnya yang tentu saja butuh pengeluaran ekstra.

Pasar Ramadhan kemudian membuat takjil menjadi komoditas yang memberikan berkah pada para pedagang, mendinamisir ekonomi pada bulan puasa. Lepas dari telaah kritis soal konsumerisme dan perilaku boros, Pasar Takjil tak lagi bisa dihindari karena sudah bertumbuh menjadi budaya yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Pasar Takjil telah menjadi budaya nasional Indonesia.

note : sumner gambar – TRIBUNNEWS.COM