KESAH.ID – Di Motegi Marc Marquez akhirnya berhasil mengamankan gelar juara dunia Moto GP yang ketujuh kali. Motegi menjadi tempat yang bersejarah untuk Marc Marquez karena 4 gelar juara dunia diklaim disana. Tema perayaan kemenangan Marc adalah bukan sekedar angka, ya Marc tak mau memperdulikan berapa kali juara dunia. Marc hanya ingin membalap dan menang. Dan selama masih menang Marc akan balapan. Bahwa Marc kini telah menyamai prestasi Rossi itu bukan tujuan. Toh Marc justru punya peluang untuk melampauinya. Lagi pula Marc Marquez bukanlah lawan Rossi. Yang pasti kini Marc adalah pembalap terbesar di Moto GP yang masih aktif di lintasan.
Sirkuit Motegi, Jepang genap empat kali menjadi saksi kedigdayaan Marc Marquez sebagai pembalap di kelas utama Moto GP. Gelar pertama Marc Marquez diklaim di Sirkuit Motegi pada tahun 2014, lalu 2016 dan 2018 serta yang keempat di tahun 2025 ini.
Klaim gelar juara dunia Moto GP 2025 bagi Marc Marquez terasa istimewa karena Marc absen mendapatkan trofi tertinggi setelah tahun 2019. Cidera memaksa Marc yang sedang dalam puncak prestasi kehilangan gelar dari tahun 2020 hingga 2024.
Saat itu sebenarnya hampir tak ada yang bisa mengalahkan Marc Marquez. Seperti yang umumnya disebutkan oleh pengamat dan juga lawan-lawannya, yang bisa mengalahkan Marc hanyalah dirinya sendiri. Terbukti hal itu memang benar adanya.
Cideranya Marc Marquez kemudian membuka jalan bagi Joan Mir, Fabio Quartararo dan Pecco Bagnaia meraih gelar juara. Dan kemudian Jorge Martin juga berhasil menjadi juara dunia ketika Marc Mulai come back namun masih menaiki motor tim satelit.
Tahun 2024 menjadi tahun kebangkitan Marc Marquez yang setelah sembuh dari cidera kemudian meninggalkan Honda karena motornya dianggap tidak kompetitif.
Menaiki motor Ducati di tim setelit ternyata berhasil membuat Marc Maequez bangkit. Prestasi Marc kembali mengemuka, Marc menemukan kepercayaan dirinya saat menunggangi motor Ducati. Di tahun pertamanya Marc berhasil mencatatkan kemenangan bersama Gresini Racing, bahkan di akhir seri 2024, Marc Marques berhasil menguguki klasemen ketiga.
Jalan Marc Marquez untuk merebut gelar juara terbuka ketika tim pabrikan Ducati merekrutnya sebagai pembalap resmi pabrikan Ducati.
Tampil sangat menyakinkan dengan GP 2025 bersama tim pabrikan Ducati, Marc memperoleh hasil yang meyakinkan. Rekor kemenangan demi kemenangan dicatat oleh Marc. Nilai yang dikumpulkan oleh Marc dari kemenangan di Sprint Race dan balapan utama juga mencatat rekor tersendiri.
Marc sulit dikejar bahkan oleh rekannya sendiri yang mempunyai motor sama dengan yang dinaiki oleh Marc Marquez. Pecco terlihat kesulitan menahklukkan motornya hingga hasil di balapan sungguh mengecewakan. Pecco baru bangkit kembali setelah mengikuti balapan di Jepang. Sebelum membalap di Motegi, Pecco jauh tertinggal oleh Marc Marquez, Pecco tak bisa mengimbangi penampilan Marc Marquez di lintasan.
Yang menjadi lawan terdekat Marc Marquez untuk meraih gelar juara dunia justru pembalap yang tak disangka-sangka, yakni Alex Marquez adiknya. Sampai dengan paruh musim, Alex masih diperhitungkan sebagai saingan terberat, namun setelah istirahat paruh musim penampilan Alex justru menurun. Marc Marquez dipastikan bakal kembali meraih gelar juara dunia di tahun 2025 tanpa kesulitan yang berarti.
Marc diduga akan memenangkan gelarnya di Misano. Namun sepertinya Marc tak ingin memperkeruh keadaan karena Misano dikenal sebagai sirkuitnya para pembalap Italia termasuk Valentino Rossi yang sejak tanun 2015 dianggap sebagai musuh bebuyutan.
Misano dilewatkan oleh Marc Marquez. Marc bahkan ingin meraih gelar juaranya di Indonesia, sebab dengan meraih gelar di Italia atau di Jepang, dominasi Marc Marquez bakal sangat kelihatan. Marc ingin menjaga perasaan Valentino Rossi dan para pengemarnya terutama yang di italia.
Hanya saja penampilan Alex Marquez di Misano tak terlalu meyakinkan. Jika di balapan Jepang, Alex tak bisa bersaing di depan atau mengalahkan Marc Marquez, perayaan Marc Marquez atas raihan juara dunia Moto GP tak bisa dihindari.
BACA JUGA : IQ Merosot
Di Sirkuit Motegi Jepang yang menggila justru Francesco Bagnaia. Pecco kembali di mode on dan langsung tancap gas untuk memimpin balapan. Pecco yang selama ini kesulitan seperti menemukan jalannya kembali.
Di Jepang, Pecco start paling depan, merebut pole position. Begitu lampu start menyala, Pecco langsung ngacir, tak ada yang mengganggu hingga akhir. Francesco Bagnaia memenangi balapan sprint race dan grand prix dengan mudah. Marc yang start ke empat juga tampil baik. Sehingga dalam dua balapan, Marc selalu finish setelah Pecco.
Namun dengan hasil ini sudah cukup untuk Marc Marquez mencetak angka yang tak mungkin dikejar lagi oleh Alex Marquez. Balapan Moto GP yang tinggal menyisakan 5 seri hanya bisa menghasilkan point penuh 185. Dengan selisih poin diatas 200 tak mungkin bagi Alex untuk mengejarnya 5 seri yang tersisa.
Menjadi yang kedua di sprint race dan grand prix tak masalah untuk Marc Marquez karena Alex selalu finish di belakangnya. Bahkan di sesi sprint race Alex tidak mendapat poin. Untuk memenangkan gelar Marc Marquez hanya perlu finish di depan Alex Marquez. Dan Marc melakukannya dengan sangat baik.
Francesco Bagnaia boleh memenangi balapan di Sirkuit Motegi, namun Marc memenangkan gelarnya.
Tidak ada aksi yang berlebihan saat Marc melewati garis finish dan gelar juara dunia kembali digenggam olehnya. Marc justru terlihat emosional mengingat cukup lama Marc menunggu untuk kembali meraih gelar juara dunia. 2000 hari lebih, gelar juara jauh dari Marc Maquez.
Maka pantas kalau kemudian Marc Marquez emosional sampai kemudian meluapkannya dengan berteriak saat masih diatas motornya.
Marc yang biasanya tersenyum lebar dan jingkrak-jingkrak, terlihat justru mengusap mata. Air mata jatuh saat Marc melewati garis finish.
Mungkin penderitaannya bertahun-tahun yang kemudian kembali terlintas di benaknya. Apalagi layar besar yang menjadi tempat merayakan gelar memutar kenangan masa lalu, masa kecil hingga masa-masa didera cidera.
Di balik tangisnya pasti ada rasa bahagia. Dan Marc kemudian membagi kegembiraan itu bukan hanya dengan Tim Ducati, Marc juga mendekati Tim Honda untuk merayakan kegembiraannya.
Dengan kemenangan ini Marc kembali menorehkan catatan manis dalam dunia olahraga. Marc tercatat sebagai salah satu olahragawan yang sukses ketika come back. Tidak banyak olahragawan yang berhasil melakukan hal itu, terkecuali mereka memang benar-benar istimewa.
Tak perlu diragukan lagi keistimewaan Marc Marquez. Marc adalah tipikal pembalap yang punya talenta besar, sekaligus piawai dalam menahklukkan motor. Marc juga dikenal sebagai pekerja keras, terus berlatih dan berlatih. Hingga akhirnya motor yang sulit untuk pembalap lain, bisa ditahklukkan oleh Marc Marquez.
Ada pengamat yang mengatakan Marc Marquez adalah jebakan yang berbahaya untuk sebuah tim. Karena keistimewaannya, motor kemudian sering dikembangkan berdasarkan referensi Marc Marquez. Dan seperti Honda, selama Marc membalap di Honda belum ada rekan satu timnya mencatatkan diri sebagai juara dunia.
Ducati dikhawatirkan akan terkena penyakit itu. Walau sampai sekarang tanda-tanda Marc diistimewakan di Ducati belum kelihatan.
BACA JUGA : Tambang Tumbang
Marc menangis di Motegi, mungkin di Italia sana pada saat yang sama juga banyak yang menangis. Banyak yang galau karena prestasi sang pujaan hati mereka ternyata berhasil disamai oleh Marc Marquez.
Ya dengan meraih kembali gelar juara dunia Moto GP, Marc berhasil mengkoleksi 7 gelar di kelas utama atau grand prix, persis sama dengan yang diraih oleh Valentino Rossi.
Yang lebih membuat galau para pendukung Rossi, Marc Marquez masih mungkin menambah pundi-pundi gelarnya karena Marc masih membalap untuk beberapa tahun ke depan.
Dengan semua konsistensi yang ditunjukkan di tahun 2025 ini nampaknya tahun depan yang potensial bisa mengganjal Marc Marquez belum kelihatan. Marco Bezzecchi, Alex Marquez, Pedro Acosta dan Fancesco Bagnaia belum sekonsisten Marc Marquez walau berhasil memberikan perlawanan.
Sementara Jorge Martin yang baru sembuh dari cidera, sudah harus kembali melakukan operasi. Terus didera cidera dikhawatirkan akan menurunkan nyali dalam balapan, walau hal itu tak berlaku untuk Marc Marquez.
Walau mencatatkan diri sebagai salah satu pembalap terbesar di Moto GP, Marc Marquez tak mau jumawa. Marc tak merayakan dengan sangat berlebihan, tak juga mempersoalkan angka menang berapa kali, entah itu 9 atau 7.
Sikap itu ditunjukkan dalam tema perayaan kemenangan, Marc menyatakan ini bukan tentang angka.
Ya menang saja dan menang selalu menyenangkan untuk Marc Marquez. Maka buatnya sebuah balapan yang mengembirakan adalah balapan yang membuatnya keluar sebagai pemenang.
Bahwa kemenangan mencatatkan rekor ini dan itu, biarlah itu menjadi urusan para pencatat. Tugas Marc Marquez sebagai pembalap adalah menjadikan motornya sebagai pemenang.
Marc tak mau terlibat dalam polemik soal angka, termasuk desas-desus tentang Liberti sebagai pemilik baru Moto GP yang akan memaksa Marc Marquez memakai angka 1 di motornya tahun depan.
Bagi Marc 93 atau 1 sama saja selama motor yang dibawanya berhasil menang di lintasan.
Marc bukan lagi pembalap yang muda, berani dan berbahaya, kini Marc telah menjelma menjadi pembalap yang dewasa, bijaksana dan penuh perhitungan. Dan ini yang justru membuat Marc semakin berbahaya untuk lawan-lawannya.
note : sumber gambar – BOLA








